CURUG CIBEUREUM, TRAGEDI NYASAR KE PASAR, SAMPAI OBROLAN SANTAI YANG MENJADI KENYATAAN

Sudah hal biasa ketika melakukan suatu perjalanan, Saya yang menjadi navigasinya (bukan karena Saya yang paling tau jalan, tapi karena Saya yang bisa baca Google Maps dan siap melek selama di jalan). Nah efeknya karena Saya terlalu percaya dengan aplikasi petunjuk arah ini, kendaraan yang Saya tumpangi kadang suka lewat jalan yang tidak terduga #bikinshock! Pengalaman paling gokil sih, waktu Saya mau ke Dieng terus diarahin sama Mr.Google lewat Kabupaten Batang (kalian bisa baca ceritanya di sini – Roadtrip Jakarta – Jogja Via Kab. Batang Banyak Kejutan).

Pengalaman tidak terduga lainnya itu sewaktu Saya mau ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Cibodas, Puncak, Bogor. Niat hati, Saya nggak mau kena jadwal buka tutup Jalur Puncak, akhirnya atas inisiatif sendiri dan petunjuk dari Mr.Google Maps, Saya diarahkan lewat Simpang Ciawi, terus lewat Jalan Raya Pertanian, tembus-tembus di Daerah Megamendung dan jalan keluar rute ini tembusannya itu nggak jauh dari Royal Safari Garden.

Seingatan Saya ketika menyusuri jalan itu, kondisinya beraspal mulus, meskipun dibeberapa titik ada jalan yang rusak, tapi yang bikin deg-degan itu pas di daerah Megamendung, karena kontur jalannya tanjakan curam yang ujungnya nggak keliatan mau belok kanan atau kiri, dan turunan tajam. Udah gitu ada jalan yang nggak terlalu lebar, dua mobil papasan aja ngepres !

Menghadapi jalan yang seperti itu bikin nyali ciut juga, tapi kalau Saya nggak tenang, bikin seisi mobil panik #keepcalm (meskipun dibelakang dua sepupu Saya udah cerewet dan nanya terus, ini bener jalannya?!). Tapi sejauh itu rutenya memang benar dan Saya masih ikuti petunjuk si Google Maps. Kemudian ada situasi dimana Mbah Google menginstruksikan untuk belok kiri, tapi ternyata jalan itu di tutup bambu, nggak bisa dilewatin. Mau putar arah nggak mungkin, akhirnya Google Maps kan cari jalan lain, ternyata belok kanan juga bisa.

Nah pas Saya ikuti jalan itu, taukah kalian kemana jalan itu menuntun kami? Begitu Saya ikuti jalan yang cuma selebar body mobil, di depan kami terlihatlah sebuah keramaian. Petakan-petakan bangunan saling berhadapan yang di dalamnya banyak berbagai jenis dagangan. Tomat, cabai, wortel, dan sayur mayur segar lainnya terjembreng menggoda minta di beli. Semakin ke dalam, semakin becek dan semakin sempit. Udah sempit, pake ada motor yang parkir di depan bangunan itu lagi ! Sebenarnya motornya nggak salah, yang salah itu kami, ngapain mobil masuk ke tengah-tengah Pasar!

Ya…Saya nyasar masuk ke dalam Pasar (suer, waktu itu kami beruntung banget nggak ada mobil atau motor yang lewat selain kami, karena mobil kita lewat waktu itu aja, kanan kirinya udah mepetttt banget sama dagangan pasar #tahannapas ). Minta arahan di mana pintu keluar pasar, begitu mobil kami sampai di portal penjaga, “Pak maaf, kita nggak punya tiket masuk! Tadi nyasar!” Penjaganya nggak komentar. Begitu mobil keluar dari pasar, Saya lihat Plang “Pasar Cisarua” !  Hahahahaha…. #tepokjidat

Meskipun berangkat dari rumah jam 6 pagi, sampai Parkiran Cibodas jam 11 siang juga (nggak ngaruh jadinya mau lewat jalur alternatif atau biasa). Sebenarnya waktu itu Saya mau ajak ketiga sepupu Saya ke Curug Cibereum yang ada di jalur pendakian Gunung Gede Pangrango (semoga mereka nggak protes ya sama trek-nya). Oh ia, dari celetukan kami di tengah hutan, akhirnya malah jadi kenyataan! Apakah itu?

Di bawah ini adalah keseruan kami menuju Curug Cibereum, “Ayo semangat…!”

IMG20190803115404
Wajah-wajah masih semangat untuk memulai perjalanan. Sebelumnya mereka kena zonk lagi karena keputusan Saya, mereka harus jalan agak jauh dari parkiran ke pintu masuk TNGP (Saya kena cerewet lagi deh, hihihi) . Karena ternyata Saya juga baru tau, kalau mobil bisa parkir agak dekat dengan pintu masuk TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Soalnya  kebiasaan mobil jemputan kalau dulu habis turun gunung, parkirnya pasti di paling bawah, dan itu kondisinya udah malam, jadi nggak tau kalau itu parkiran.
IMG20190803105305
Nah, ini parkiran bis, mobil dan tronton yang biasa jemput Saya waktu dulu habis turun dari Gunung Gede. Pas kemarin Saya yang menyarankan untuk parkir di sini, padahal jaraknya masih lumayan untuk sampai ke pintu masuk TNGP. Di depan itu banyak warung makan yang buka sampai tengah malam (untuk para pendaki). Kalau pasarnya cuma sampai Maghrib. Ya ampun, sayur-sayuran, bunga dan buah-buahannya seger-seger banget! Ini juga tempat parkir bagi kalian yang mau ke Kebun Raya Cibodas. Sebelum masuk ke sini, di depan ada gapura (disitu bayar biaya masuk) dan parkir di sini bayar lagi *maaf Saya lupa bayar berapa-berapa aja.
IMG_20190803_163408
Karena rute Saya kalau ke Gunung Gede itu seringnya lewat Putri turun Cibodas, jadi sampai tempat ini selalu malam hari. Jadi Saya nggak punya foto di depan tulisan ini dengan style anak gunung #ciehh (jadi kangen naik gunung lagi nih). Karena parkiran ada di ujung, emang pr banget ketika kita udah cape turun gunung, ketambahan harus jalan lagi untuk sampai parkiran.
IMG20190803120042
Jangan lupa beli tiket masuknya dulu ya. Dari spot foto tadi kita masih harus menaiki anak tangga yang tersusun dari batu untuk sampai ke tempat pembelian karcis. Setelah ini, persiapkan kaki kalian karena jalurnya akan terus mendaki, tapi tenang sudah terbentuk kok jalannya, berupa undakan-undakan batu. Selebihnya biar panca indra yang berbicara #asekkk
IMG20190803120530
Masih di awal perjalanan. Tipsnya sih kalau Saya, dibawa enjoy aja, nikmati perjalanannya. Bawa banyak cemilan, kalau cape ya istirahat, paling nggak berasa sih ya banyakin ngobrol & foto, tapi nyampenya pasti jadi molor. Normalnya untuk sampai ke curugnya 1 jam perjalanan, kemarin kita 2 jam perjalanan.
IMG20190803121826
Istirahat Vol.1 hhhe….Tadi di parkiran sempat beli jeruk, lumayan buat bekal yang seger-seger selama mendaki.
IMG20190803123010
Istirahat Vol.2 (Oh ia, kalau kalian mau istirahat jangan di tengah jalur ya, karena akan mengganggu pejalan) *jangan di contoh ya. Sebenarnya nih yang masih suka Saya terapkan kalau lelah mendaki/jalan jauh, istirahat itu bukan duduk, tapi posisi tetap berdiri lalu membungkuk sambil kedua tangan pegang dengkul. Kalaupun duduk posisi kaki harus lurus dan durasi istirahat jangan terlalu lama, karena nanti otot-otot kaki dingin lagi.
IMG20190803130725
Akhirnya sampai juga di spot ini. Rasanya tuh kalau sudah sampai disini, berasa sebentar lagi sampai di curugnya, padahal nggak juga sih, masih lumayan jauh, apalagi ke Puncak Gede #bedaurusan. Tapi seenggaknya setelah trek ini vegetasinya agak terbuka dan bisa melihat Gunung Gede (kalau nggak tertutup kabut).
IMG20190803132436
Lewat trek ini kaki agak kendor sedikit karena jalannya datar. Nggak jauh lagi kita sampai di persimpangan, yang kalau lurus jalur Pendakian Gede Pangrango, kalau ke kanan menuju Curug Cibereum. Muka udah mulai nggak santai karena nggak nyampe-nyampe. Dukungan semangat Saya buat mereka udah nggak ngaruh karena di awal perjalanan Saya udah buat mereka nyasar ke pasar #nggakdipercaya
IMG20190803133240
Harusnya pas di spot terbuka ini kita bisa lihat View Gunung Gede Pangrango, tapi karena kemarin lumayan berawan jadi gunungnya nggak kelihatan. Waktu ke sana, Saya jadi mengingat-ingat lagi rasanya naik gunung, apalagi rempongnya lewat jalur ini disisa-sisa perjuangan menuju basecamp. Kaki udah gempor, ditambah harus menuruni banyaknya tangga bebatuan. Hati sih udah seneng, wah sebentar lagi sampai, tapi kalau dirasa-rasa masih jauh banget, hhaaa…. #gemeterkakiini
IMG20190803135821
Nah ini dia persimpangan yang Saya maksud (kanan ke curug, jalan ke atas ke Gede Pangrango). Di sini kami berhenti sejenak untuk membeli teh, makan semangka dan melon.
IMG20190803141242
Akhirnya sampai juga kami di Curug Cibereum. Lumayan yaa, setelah 2 jam perjalanan (naiknya aja, kalau turunnya harusnya lebih cepat)
IMG_20190803_141802
Pas kesana Saya baru tahu, kalau Curug Cibereum itu punya 2 air terjun. Kalau ini air terjun yang di sisi kiri (begitu kita sampai).
IMG_20190803_145333
Karena kesana niatnya juga bukan untuk basah-basahan, kami memilih untuk istirahat di atas batu besar yang terletak di antara kedua air terjun. Ahh…releks dan indah pemandangannya. Tengok kanan kiri ada air terjun, sedang di hadapan Saya adalah tebing tinggi. Duduk sebentar, menebar pandang, menghirup segarnya udara, sambil makan roti, udah nikmat banget. Sekitar 1 jam lah kami menikmati air terjun ini. Pikiran releks tapi betis mulai kenceng.
IMG20190803132114
Jadi ada kejadian lucu di saat perjalanan turun kemarin. Selain kaki-kaki kami yang mulai pegal, obrolan yang kami bahas waktu itu adalah, “Nah, begini dong, sekali-sekali kita ngerasain hidup tanpa gadget, tanpa internet, tanpa listrik, benar-benar kembali ke alam, dekat dengan alam.” Waktu itu kami pergi di hari Sabtu, 3 Agustus 2019. Karena kami pekerja semua, dan terbiasa kalau habis negetrip kalau bisa di hari Minggunya pulang jangan terlalu siang, biar ada waktu untuk istirahat. Sampai akhirnya, hari Minggu (4 Agustus) dari Puncak Pas, kami balik jam 4 subuh, dan sampai Depok sekitar jam 6 pagi. Sepupu Saya kan rumahnya ada yang di Manggarai, Bekasi & Tangerang.  Karena masih pagi, jadi mereka tidur dulu di rumah Saya (kaki udah pada sakit, jalan terseok-seok). Nah sekitar jam 12 siang itu, listrik di rumah mati, hp nggak ada sinyal. Pikir Saya, wah kenapa nih jaringan seluler Saya. Ternyata semua hp nggak ada sinyalnya. Ditengah krisis sinyal, sepupu dapat dapat info kalau ada ganguan di PLN yang menyebabkan beberapa kota di Jawa Barat mati listrik. Udah pasti Commuterline nggak beroperasi, lampu lalu lintas mati (jalanan pasti macet), Pom bensin terganggu (mana mobil belum diisi bensin lagi). Nah Saya dan sepupu bingung nih, strategi pulang ke rumah masing-masing gimana, karena terbiasa naik KRL dan Ojek online, tapi nggak berfungsi semua. Akhirnya sepupu Saya pulang ngeteng-ngeteng (Naik bis, angkot) dan yang pasti penuh karena pindah haluan semua. Tau, yang di Tangerang sampai jam berapa? Jam 1 pagi. Ampun ! Untungnya kalau di Depok itu Maghrib lampunya udah nyala. Baru 6 jam tanpa listrik, kami sudah kelimpungan dan  nggak betah. Apalah arti obrolan pas di Cibodas kemarin, hidup tanpa listrik dan gadget ? #angkatbahu

Yah, itu tadi cerita Saya bagaimana menegangkannya ketika mobil berusaha keluar di tengah-tengah sempitnya Pasar Cisarua, sampai obrolan santai yang akhirnya di jabah, 6 jam tanpa sinyal dan listrik ^^

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s