KERETA API – BANYAK DRAMANYA, BANYAK PULA RINDUNYA

Anker alias Anak Kereta, bisa di bilang itu sebutan yang melekat didiri Saya (bayangin aja, dari kelas 6 SD sekitar tahun 1999, beberapa kali Saya pulang sekolah naik transportasi ini, dari Lenteng Agung – Depok). Udah nggak asing lagi di bayangan Saya bagaimana kondisi kereta saat itu, di mana kedua pintu gerbong yang selalu terbuka, orang penuh sesak di dalamnya bercampur dengan tukang jualan dan jambret. Banyak orang yang memilih bergelantungan di depan pintu, nggak sedikit juga yang memilih duduk di atas atau di sambungan kereta. Nggak heran jaman itu banyak berita kematian orang yang jatuh dari kereta atau tersambar listrik.

Sekarang pas udah besar, dapat kerja di daerah Tebet (2013) dimana pilihan transportasi yang paling efisien ya naik kereta. Puji Tuhan banget sampai detik ini bisa jadi saksi dan terus merasakan “transformasi” dari moda transportasi yang satu ini.

Tapi di tulisan kali ini Saya bukan mau nge-detailin lagi pengalaman naik Comutterline, justru di tengah wabah Virus Covid-19 dan adanya himbauan pemerintah agar tidak mudik dulu, semakin membuat Saya kangen dengan suasana di dalam “Kereta Jawa” yang hampir setiap tahun pasti Saya rasakan. Nah, tulisan ini pas banget buat kalian yang lagi #DiRumahAja dan lagi kangen-kangennya naik kereta ke luar kota. Yuk bareng-bareng ingat kejadian seru selama naik “Kereta Jawa” !

2015 Pertama Kalinya Naik Kereta “Jawa”, Solo Traveling ke Malang

Umur 25 tahun adalah pengalaman pertama Saya naik “Kereta Jawa” (sebutan anak kecil kalau liat kereta antar provinsi, hehe…). Karena kereta juga, bisa mengantar Saya ke destinasi impian, yaitu Bromo Tengger Semeru ! Perjalanan tersebut memang sudah Saya persiapkan sebagai hadiah ulang tahun yang ke-25 dan reward setelah lelah bekerja tanpa cuti.

DSC_0628
Ranu Kumbolo di Semeru

Saya berangkat Jam 12 siang, padahal kereta Matarmaja-nya jalan jam 15:15, maksud hati biar nggak drama kejar-kejaran kereta kayak di adegan 5 CM, karena ini pengalaman pertama Saya naik kereta api. Sambil nunggu kereta masuk di jalurnya, Saya udah ngebayangin di dalam nanti pasti banyak cowok gunung yang mau ke Semeru (lumayan, 16 jam perjalanan nggak bakal bosen karena Saya bisa ccp-an alias curi-curi pandang, hehehe….).

Begitu masuk ke gerbong, taro tas keril di rak atas, duduk anteng di kursi, mata mulai menebar pandang. Apa yang Saya lihat?! Ternyata satu gerbong isinya orang tua semua! Pupus sudah harapan Saya. hick hick…

Oke lanjut! Akhirnya Saya sampai juga di Stasiun Malang. Berawal dari stasiun inilah, Saya bisa melihat  panorama Gunung Bromo yang spektakuler dan camping di Ranu Kumbolo, Semeru! Habis dari Malang, Saya lanjut ke Yogyakarta. Saya diantar naik motor ke Stasiun Malang. Nah, pas diadegan ini nih, pertama kali muncul drama, Saya kejar-kejaran waktu keberangkatan kereta api!

DSC_0647
Selamat jalan Kota Malang. Selamat datang Kota Jogja. Tampak panorama Gunung Welirang dan Arjuno dari dalam Kereta Gajah Wong.

Jadi, Gajah Wong tujuan Yogyakarta berangkat jam 9:15 tapi di jam 9:00 Saya masih di atas motor otw ke stasiun! Mau nyuruh temen ngebut takut celaka, akhirnya yang bisa dilakuin cuma berfikir positif, “SAMPE STASIUN KERETA BELUM JALAN! PASTI KEBURU!”.

Sambil baca doa, jam di tangan udah nunjukin 9:10 menit! Kita masih di jalan, tapi di depan mata tulisan Stasiun Malang-nya udah kelihatan, sedikit lagi sampe! Begitu motor di parkir, bilang makasih ke teman, pakai tas keril, langsung lari ke dalam stasiun (untungnya ngeprint tiket sekalian pas berangkat). Ternyata keretanya ada di jalur seberang, waduh ! Saya lari sekencang-kencangnya, turunin anak tangga bawah tanah dengan terburu-buru. Pas sampai di depan kereta & bener itu “Gajah Wong” Saya langsung masuk tanpa banyak tanya. Begitu taro keril ke rak atas, dan duduk, keretanya jalan! Puji Tuhan….!!!!

Di situ Saya baru sadar nggak beli minum dan makan dulu di luar stasiun. Ahh…tapi tenang aja, pramuniaga pasti lewat menawarkan camilan, nasi rames dan minumannya (walaupun saat itu lumayan lama juga datangnya. Mau ke Restorasi kaki masih kedat kedut habis lari). Tapi nggak ada yang bisa ngalahin nikmatnya makan nasi rames sambil lihat pemandangan dari kaca jendela (suasana siang yang cerah, makan nyaman nggak sempit karena kursi di sebelah dan depan Saya kosong). Nikmat mana lagi yang kau dustakan ^^

Jadi Obat Nyamuk, dan Merasa Jomlo Sendiri di Dalam KA Majapahit Tujuan Malang    

Virus perjalanan Saya menjelajah Batu Malang dan Bromo di tahun 2015 ternyata sudah menyebar ke beberapa teman kantor (mereka pingin banget ke sana dan minta tolong Saya jadi EO-nya #aseekkk). Nggak ada salahnya dong membantu merealisasikan keinginan mereka yang ingin melihat Indahnya Bromo dan liburan seru di Kota Batu-Malang?! Akhirnya Saya dipercaya untuk menyusun itinerary dan mengurus transportasi selama cuti di April 2016 lalu.

Kalian tahu siapa teman-teman Saya?! Mereka adalah 2 pasang kekasih, dan Saya seorang diri. Saya ulangi lagi, mereka dua pasang kekasih dan Saya seorang diri. Hick…hick…

DSC_6889
Karena teman-teman Saya sekarang sudah pakai hijab, jadi Saya share foto Saya yang sendirian aja ya ^^

Sampai tiba waktunya disaat Saya merasa agak kasian dan merasa melas dengan diri sendiri, yaitu ketika menentukan posisi duduk di dalam Kereta Majapahit. KA Majapahit tujuan Stasiun Malang, kan kursinya 2-2 hadap-hadapan, ya udah pasti mereka Saya jadiin satu duduknya, sedangkan Saya duduk di seberang mereka. Saya nggak iri dan mempermasalahkan kebahagiaan mereka saat itu. Cuma kok ya, penumpang di depan Saya waktu itu pasangan juga (sedangkan kursi di sebelah kanan Saya kosong)! Lihat kiri ada dua pasang kekasih, lihat depan ada sepasang kekasih, lihat kanan kursi kosong, (aku kudu piye?).

Next! Yang Saya suka disetiap perjalanan ke Malang naik kereta api adalah menunggu mentari pagi menyinari pematang sawah yang masih basah dengan embun (lihat dari tepi jendela, sinar keemasannya terasa hangat menembus kaca. Duuhh, damai banget).

DSC_0481
Foto diambil tahun 2015, di dalam KA Matarmaja jurusan Malang
IMG20181218052312
Foto diambil tahun 2018, perjalanan pulang dari Semarang.

Ter-Epic! Drama Macet Nyaris bin Ketinggalan Kereta Bikin Jantung Cekat-ekit 8 juta Nyaris Melayang !

Jangan bosen ya denger Saya pergi ke Malang dan Bromo terus, karena belum afdol kalau keluarga Saya tidak ikut merasakan indahnya kota tersebut. Di Bulan Juni 2016 sepupu di Malang anaknya Khitan (jadi sekalian mampir ke Batu dan Bromo). Kami pergi berdelapan, Saya, ibu, bapak, kakak, anaknya, suami, ibu mertua dan ayah mertua. Kami semua naik KA Majapahit.

Seperti biasa masalah tiket Saya yang urus, kali ini bukan lewat online, melainkan beli langsung di Stasiun Bekasi (Selain di Senen, dan Gambir, stasiun ini melayani pembelian tiket kereta api). Karena bapak, ibu mertua dan ayah mertua usianya sudah di atas 50 tahun, jadi mereka dapat diskon 20 persen (dengan syarat beli langsung di stasiun dan menunjukkan KTP asli).

Kami jalan tanggal 18 Juni (itu lagi bulan puasa, di hari Sabtu, dan 2 minggu lagi  Lebaran). Kereta kami jalan jam setengah tujuh malam dari Stasiun Senen. Karena banyak orang tua, kakak Ipar Saya menyarankan ke Stasiun Senennya pakai mobil online. Saya sempat menolak karena lebih enak ke Senen naik Commuterline, tapi kakak Ipar Saya tetep kekeh karena pikirnya, kasihan orang tua harus bawa tas pindah-pindah stasiun, belum lagi kalau penuh harus berdiri.

Karena kakak Ipar Saya kekeh, akhirnya kami setuju ke Stasiun Senen pakai mobil online. Jam 3 sore kami berangkat dari Depok menuju Stasiun Senen (rutenya lewat Jalan Ir. H Juanda Depok, lalu masuk Tol Cijago). Dari rumah ke Tol Cijago itu sekitar 15 menitan, tapi karena Hari Sabtu, orang-orang pada ngabuburit, entah kenapa, tumben banget hampir semua jalan di Depok menuju Juanda macet parah, dan kami sudah satu jam terjebak macet di sana. (kami belum sampai di Tol Cijago, masih di Ir. H Juanda).

Sudah jam 4 sore, tapi kakak Ipar masih kekeh ke Senen naik mobil aja, padahal kondisi macetnya waktu itu merayap banget di semua sisinya (buka google maps kondisi tol-nya juga macet). Kami semua galau, di dalam mobil udah pada senewen, karena memungkinkan nggak 2,5 jam dengan kondisi macet seperti itu kami sampai di Stasiun Senen?! Kami harus buat keputusan sebelum mobil masuk tol, karena kalau kejebak di tol kita udah nggak bisa ngapa-ngapain.

Akhirnya kakak kandung Saya buat keputusan, setengah di mobil ini turun duluan, dan naik ojek ke Stasiun Pondok Cina (stasiun terdekat saat itu) sedangkan Kakak dan sisanya turun belakangan, cari posisi enak buat mobil berhenti dan turunin barang-barang).

Saya, ibu Saya, Ibu Mertua dan Bapak Mertua yang turun duluan. Kami bawa tas siapa aja (random) yang waktu itu gampang diraih, karena sisa tasnya ada di bagasi. Kami berempat turun, ternyata nyari ojek susah setengah mati. Saya ingat, di Perumahan Pesona Khayangan Mungil 1 ada pangkalan ojek. Akhirnya kami cari taxi untuk diantar kesana (lumayan rebutan juga cari taxinya, tapi akhirnya dapat). Begitu sampai di perumahan, kami langsung pesan ojek dan di antar ke Stasiun Poncok Cina (jaraknya sekitar 15 menitan).

Kakak Saya telepon, dan kasih tau untuk duluan ke Stasiun Manggarai, nanti kita ketemu di sana. Saya juga kasih info kalau mau dapat ojek ke Perumahan Pesona Khayangan Mungil 1, aja. Akhirnya Saya, ibu, ibu mertua dan bapak mertua sudah di dalam Commuterline. Kami terus memantau posisi masing-masing, dan nggak tau siapa bawa tas siapa, yang penting dibawa ! Setelah dipastikan Kakak dan yang lain sudah turun dari mobil online, dapat ojek dan sudah di dalam Commuterline, hati Saya langsung lega! Tapi agak khawatir di Stasiun Jatinegara nanti, karena kereta tujuan Bogor yang berhenti di Stasiun Senen suka lama datangnya.

Setelah semua kekalutan itu, akhirnya sekitar jam setengah enam sore kami berkumpul kembali di Stasiun Manggarai. Dan Puji Tuhannya, perjalanan dari Manggarai ke Stasiun Senen lancar banget ! (kemarin kereta tujuan Bogor pas lagi ngetem).

Liburan ke Batu Malang dan Bromo bareng keluarga ternyata masih rezeki kami. Saya sekeluarga sampai di Gerbong KA Majapahit sekitar jam 6 sore, tiga puluh menit sebelum waktu keberangkatan. Terima kasih Tuhan! Kalau saja kami tetap memaksa naik mobil, sudah pasti kami ketinggalan kereta dan uang liburan pasti hilang sia-sia.

DSC_7611
Luar biasa mereka bisa jalan sampai sejauh itu.

Langganan ke Restorasi, Makan Minum Sambil Lihat Pemandangan

Selain makan, minum, nyemil, curhat, bercanda, tidur, atau galau-galauan sambil liatin pemandangan dari kaca kereta, salah satu tempat yang nggak luput Saya datangi ketika di dalam kereta adalah Gerbong Restorasinya. Sebelumnya, pesan dulu coklat panas, teh, camilan atau makanan berat ke pramusajinya. Terus duduk di depan kaca, menikmati makanan atau minuman sambil memandangi pematang sawah dengan latar belakang gunung menjulang dan air sungai yang mengalir. Rasanya romantis banget.

IMG20171221162757
Sederhana sih, sambil makan atau nyeruput coklat hangat, terus menebar pandang ke luar jendela.
IMG20180822103502
Jangan di tiru, sebenarnya di situ ada himbauan untuk jangan bawa makanan dari luar. Tapi Saya terlanjur buka bekal terus lanjut makan sambil lihat pemandangan.

Yang bikin candu itu selain makanan dan minumannya, kadang kaca di Gerbong Restorasi lebih lebar, jadi bisa lihat pemandangannya lebih luas. Terus posisi bangkunya juga langsung menghadap ke pemandangan, Saya pribadi betah berlama-lama di sini. Tapi jangan sampai lupa diri, karena kita harus bergantian sama penumpang lainnya.

Terlampau banyak kenangan tertambat saat naik kereta. Puncaknya itu setelah Saya sering merasakan berkali-kali datang nyerempet waktu keberangkatan kereta, akhirnya di Bulan April 2018 lalu, Saya ngerasain juga yang namanya KETINGGALAN KERETA !

Yang anehnya, Saya seperti udah punya feeling dari malamnya. Jadi malam sebelum berangkat itu Saya masih packing (Saya mau ke Ungaran ikut event Eiger Adventure Camp). Selesai packing udah jam 3 pagi, niat hati nggak mau tidur karena takut bangun kesiangan. Ehh…mata nggak kuat juga, akhirnya tidur lah! Padahal udah pasang alarm jam 4 pagi, tapi baru bangun jam 5, padahal kereta jalan jam 7. Karena kebanyakan gimmick, akhirnya pesan ojek dan baru jalan sekitar jam 6 (dalam hati santai, naik motor pasti keburu) ternyata Dari Depok naik motor ke Stasiun Senen jauh banget yaa, ditambah macet banget lagi jalanan!

Akhir kata Saya ketinggalan kereta dan baru sampai stasiun itu sekitar jam 7 lewat (untungnya tiket yang ke Semarang di hari itu masih ada, tapi jalan jam 2 siang. Kenapa Saya tetap memilih pergi, nggak balik aja ke rumah? Karena di event Eiger Adventure Camp saat itu, pesertanya dapet Sepatu Gunung Walton Series yang gw taksir banget !) *blognya menyusul yaa

Oh ia, satu lagi pengalaman tak terlupakan mengenai Kereta Api. Jadi di akhir tahun 2019, PT KAI kan menerapkan pemesanan tiket baru bisa dilakukan di H-30 sebelum keberangkatan. Pengalaman Saya pribadi, Saya jadi nggak bisa hunting tiket murah lagi, karena begitu hari H-nya Saya buka situs KAI dari aplikasi atau desktop, sepagi-paginya Saya buka, waktu itu sekitar jam 8 pagi, kebanyakan harga tiketnya udah 200 keatas, semakin siang harga yang tersisa semakin mahal.

Karena Saya penasaran, dan memang mau beli 7 tiket buat mudik Natal di Desember 2019 lalu, Saya pantengin Aplikasi KAI Access dari hp Saya, jadi begitu udah jam 00:00 Saya buka dan pesan tiket keretanya, apa yang terjadi?! Saya malah salah beli dong! Harusnya buat tanggal 27 Bulan Desember, tapi ternyata Saya beli buat tanggal 27 Bulan November, dan tanggal Saya beli tiket malam itu adalah tanggal 26 November.

Jadi bisa di bilang, tiket yang Saya beli di tengah malam itu adalah tiket untuk keberangkatan besok paginya (mana Saya pilih jam berangkatnya jam 7 pagi lagi, udah gitu Saya baru sadar salah beli tiket pas bangun tidur! Mau di batalin nggak bisa karena keretanya udah keburu jalan). Buang sial ! 1,2 juta melayang gitu aja ! Dan sampai sekarang orang rumah nggak ada yang tau kalau gagal mudik Desember 2019 kemarin gara-gara ini #udahahgakusahdiingetingetlagi

Saya itu kalau pergi pergi sangat pemilih, dan sejauh ini Kereta api adalah tansportasi favorit Saya. Soalnya waktu kecil Saya pernah naik bus yang jalannya ngebut banget. Mulai dari situ sampai detik ini Saya nggak berani naik bus, dan kalaupun “harus” pilihannya cuma dua, Saya harus tau kalau driver bus itu bawa busnya nggak ugal-ugalan atau nggak di sepanjang perjalanan Saya pasti nggak akan tidur, alias melek sambil liatin jalan.

Itu tadi pengalaman Saya dengan kereta api, semoga yang membaca blog ini bisa ikut mengingat kembali keseruan perjalanan yang pernah kalian alami (mau kenangan indah atau pahit) tetap Saja itu sudah menjadi bagian dihidup kalian. Buat Saya pribadi dengan menuliskan semua pengalaman perjalanan Saya, merupakan “mesin waktu” yang kapanpun bisa Saya jelajahi ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s