Pertunjukan Seni Jatilan, di Desa Tingal Kulon, Wanurejo, Borobudur

Halo!! Selamat Tahun Baru 2018 untuk kalian semua. Berani Mencoba, Semangat Berjuang, Maju Terus dan SUKSES untuk kalian yang sedang meraih cita-cita! AMIN! #berlakujugabuatdirisendiri

Gimana liburan Natal dan Tahun Barunya kemarin?! (meskipun sudah sangat telat ya) hee…

Setelah 3 bulan sibuk kerja alias jatah cutinya sangat terbatas, akhirnya Saya punya materi lagi yang bisa Saya share untuk kalian semua. Yeyyy…!

Kali ini adalah pengalaman Saya selama cuti 5 hari kemarin, pulang ke kampung halaman di Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur, Magelang.

Saya juga mau ceritain pengalaman Saya Naik travel 16 JAM dari Magelang menuju Malang. Nggak nyesel nginep di Pondok Backpacker Malang, karena lokasinya strategis, bersih, harga bersahabat bagi para backpacker dan dekat dengan Stasiun Malang. Pengalaman paling berkesan di cuti terakhir adalah ke Bukit Kembang Puncak Sari, Probolinggo.

Semua keseruan Saya tersebut, akan berawal dari Seni Pertunjukan Jatilan atau Kuda Lumping yang ada di kampung halaman Saya, Desa Tingal Kulon, Wanurejo, Borobudur, Magelang.

Jatilan atau Kuda Lumping

Karena Jatilan, Saya jadi punya “unforgettable moment” dengan tarian kuda ini. Jadi ada satu fragmen (atau satu adegan) di mana semua prajurit penunggang kudanya kesurupan. Nah, waktu itu Saya dan keluarga nonton di barisan paling depan. Begitu mereka kesurupan, ada satu penari yang lari keluar dari arena, lalu ke arah Saya dan keluarga.

Sontak, kami langsung histeris dan “ngibrit” masuk ke rumah terus ngumpet di kamar. Soalnya penari itu terlalu aktif kesurupannya. Tapi semua kembali terkendali karena yang keseurupan tadi langsung di jemput sama pawangnya.

IMG20171225204804[1]
Jatilan yang digelar di lapangan depan Sanggar Jayawiyatan, Tingal Kulon, Borobudur. Bagi keluarga besar Saya, memanggil pertunjukan Jatilan ke rumah menjadi kebiasaan tersendiri ketika kami memiliki acara besar. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur si pemilik hajat. Kalau kemarin Jatilan di selenggarakan karena ada dua keponakan Saya yang Khitan.
IMG20171225204207[1]
Pemain musik (Drum, Sinden & Gamelan), merupakan salah satu elemen yang tidak bisa dipisahkan dari seni Pertunjukan Jatilan. Karena dari awal hingga akhir pertunjukan, merekalah yang akan mengiringi Ksatria-ksatria kuda berlakon.  
IMG20171225205408[1]
Interior Sanggar Jayawiyatan, yang sudah berumur puluhan tahun. Kusen kayu yang jadul tapi menurut Saya tampak klasik. Bangunan ini masih asli dan kuat, berkat ditopang Kayu Jati. Di langit-langit, di salah satu kusennya, terukir tulisan Jayawiyatan versi ejaan jawanya dan waktu pembuatannya (versi penanggalan jawa). Nggak Saya foto karena nggak nyampe 🙂   
IMG20171225221112[1]
Para pawang sedang menyiapkan kuda-kuda prajuritnya

IMG20171225214943[1]
Adegan pertama Jatilan, di awali dengan pertunjukan tari Prajurit Wanita, bersama pimpinannya (yang paling depan, yang membawa cambuk berwarna merah & kuning). Lihainya mereka menari sembari menunggangi properti kuda. Ciri khas lainnya adalah suara yang dihasilkan dari pecutan cambuk yang mengenai tanah, yang dilayangkan si Pemimpin pasukan.    
IMG20171225221959[1]
Setelah Prajurit Wanita keluar arena, gantian masuk 10 Prajurit pria yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok berkostum merah & hitam. Nantinya di salah satu koreo mereka, pimpinan prajurit akan saling serang dengan menggunakan benda tajam.
IMG20171225222046[1]
Bermula dari prajurit-prajurit ini, kemudian tariannya berubah menjadi adegan kesurupan.

Dan kemarin, Saya kembali memberanikan diri nonton Jatilan di barisan paling depan. Semua masih aman terkendali sampai memasuki fragment yang semua prajurit prianya kesurupan. Dengan santai dan PD-nya Saya merekam setiap pertunjukan mereka di barisan paling depan.

Tiba-tiba satu penari Barong Macan yang kesurupan lari ke arah Saya. Wah, nggak pake liat kanan kiri lagi, Saya langsung balik badan terus lari sampe “nubruk” mas-mas yang juga lagi nonton. Satu penari Barong Macan ini memang paling aktif keserupannya. Soalnya sempet beberapa kali di netralin. Ee…begitu si Barong Macan ini mendengar suara sinden nyanyi, orang itu langsung kesurupan lagi..ck..ck..ck…

Screenshot_2018-01-14-22-38-44-95[1]
Tiba-tiba muncullah seekor Barong. Kemunculannya cukup membuat histeris karena selain tampilannya, gerakan dari penari Barong ini juga sangat lincah & patah-patah. Cara mengendalikan Barong ini tidak cerbeda jauh, seperti memainkan Barongsai. Yang membuat berbeda, pemain Barong ini nantinya akan kesurupan. 
IMG20171225224720[1]
Dua penari Barong ikut menari bersama dengan Prajurit berkuda sebelumnya. Di gambar ini mereka sedang heboh menari tanpa terkendali, karena mereka sudah kesurupan. Kalau kalian lihat, di atas kursi plastik biru itu ada nampah berisi sesajen untuk mereka semua (isinya ada sayur & buah-buahan). Ada juga ember berisi air dicampur bunga. Nah, pas kondisi seperti ini, para pawang sudah berjaga untuk “menyadarkan” mereka kembali.    

IMG20171225231905[1]
Penari Barong ini yang buat Saya lari sampe nubruk-nubruk penonton. Sempat di sadarkan sampai beberapa kali, tapi masih “bandel” nggak sadar sadar juga. Jadi Saya juga baru tau, kalau lagi “nyadarin” pemain yang kesurupan, pemain musiknya itu harus berenti dulu. Karena ada pemain kesurupan, kalau denger Sinden nyanyi atau denger musik gamelan, maunya langsung joged (dan itu susah untuk di kendalikan).
IMG20171225235854[1]
Pertunjukan makan beling, minum air bunga, kesurupan, sampai makan sesajen, semua sudah lewat. Saatnya menikmati penampilan lain dari Prajurit berkuda ini. Kostum dan koreonya keren. Penampilan mereka sangat glowing untuk tampil di malam hari. Gerakannya sangat aktif dan lincah.  Satu pria dengan kuda bewarna merah adalah pimpinannya. Kostumnya sangat colorful, perpaduan warnanya seperti warna kumbang (hitam & kuning). 
IMG20171226000228[1]
Pasukan berkuda tadi di ganggu oleh Setan, yang memancingnya untuk bertarung.
Screenshot_2018-01-14-22-54-23-85[1]
Pertarungan antara Pimpinan Prajurit Berkuda dengan salah satu setan.
Screenshot_2018-01-14-22-56-16-45[1]
Akhirnya setan itupun kalah, lalu prajurit berkuda tersebut dihibur dengan tarian 4 dayang cantik. Penampilan ini menjadi akhir dari pertunjukan Jatilan yang berlangsung selama 2 jam.
Screenshot_2018-01-14-22-22-04-23[1]
Sanggar tari Kuda Lumping tadi bernama Panji Paningal Kudo Sadewo – Tingal Kulon, Wanurejo, Borobudur. Anggotanya terdiri dari berbagai kalangan, ada ibu rumah tangga, pekerja kantoran, anak muda, petani, karyawan swasta, baik masih muda hingga sudah berumur, mereka masih menggeluti dan menjaga seni tradisi dari Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur, Jawa Tengah.   

 Terus tunggu cerita-cerita Saya di tutursiska.com karena Saya mau kasih tau kalau Pematang Sawah Jowahan, di kampung halaman Saya itu lovable banget, dari masa ke masa. See you soon ya…!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s