ROADTRIP JAKARTA – JOGJAKARTA (VIA KAB. BATANG) BANYAK KEJUTAN!

Mungkin sedikit dari kalian yang suka bepergian dengan cara Roadtrip. Banyak alasannya, bisa jadi karena kalian sudah lelah bekerja, dan nggak mau repot ngurusin semua printilan perjalanan. Atau mungkin nggak bisa cuti lama-lama karena roadtrip menghabiskan waktu yang cukup panjang. Mungkin juga nggak suka karena ngebosenin, suasananya nggak asik dibanding harus pergi naik kereta atau pesawat. Mau dengan cara roadtrip atau nggak, Saya percaya bahwa setiap perjalanan pasti memiliki ceritanya sendiri.

Ini bukan kali pertama Saya melakukan Roadtrip, karena sebelumnya Saya dan keluarga sering melakukan Roadtrip (alias mudik) ke kampung Saya di Borobudur, Roadtrip Keliling Jawa Barat bersama Portrait of Indonesia (baca di sini keseruannya), atau Roadtrip ke Lampung dan juga ke daerah Oku Selatan.

Yang baru ini terjadi adalah Roadtrip menuju Jogja bersama keempat teman kuliah Saya. (Karena kebiasaan pergi terima jadi langsung sampai tujuan, kemarin Saya dibuat sibuk menjadi navigator yang terus memantau Google Maps).

_20170909_211823[1]

Dan inilah pengalaman tidak terduga selama Saya dan teman-teman Roadtrip dari Jakarta menuju Jogjakarta (Melipir ke Telaga Menjer di Dieng dulu).

1.Melewati Jalur Alternatif Batang – Bandar – Batur – Menuju Dataran Tinggi Dieng

Setelah mata dibuat jenuh dengan pemandangan yang itu-itu Saja saat melintasi Tol Cipali (Cikopo, Purwakarta, Palimanan, Cirebon), jalan pintas menuju Dieng via Batang-Bandar-Batur (atas arahan Google Maps) membawa kami masuk ke Hutan Pinus nan asri di Desa Kembangan, hingga Kembanglangit.

IMG20170831061634[1]

Ac yang terus menyala sejak dari Jakarta langsung dimatikan, diganti dengan udara segar yang masuk melalui jendela.

8248433297_07c66c35e2
Sumber foto : https://kalderaprau.wordpress.com/2012/03/19/review-jalan-bandar-batur/

Waktu itu kami menggunakan mobil crossover, dengan body yang tidak terlalu lebar, sehingga pilihan kami tepat untuk melintasi jalur alternatif ini.

wisata di kembanglangit
Sumber foto : http://www.mbatang.com/2016/09/wisata-kembang-langit-tempat-selfie-baru.html

Kondisi jalan dengan pemandangan di kanan kiri Hutan Pinus ini beraspal mulus, yang akan terus menanjak dan berliku. Di beberapa titik di sepanjang Hutan Pinus ini terdapat wahana alam seperti rumah pohon, gardu pandang, hammock area, curug dan café.

wisata batang
Sumber foto : http://www.mbatang.com/2016/09/wisata-kembang-langit-tempat-selfie-baru.html

2.Melintasi Jembatan Sibiting, dengan Pemandangan Hutan yang Sangat Alami

Masih di Jalur alternatif Batang – Bandar – Batur, panorama selanjutnya setelah melewati Hutan Pinus adalah hutan pegunungan dengan pohon-pohon besar nan rimbun di kanan kiri kami. Jalanannya masih beraspal yang tidak terlalu mulus, karena kadang ada lubang dan aspal sudah mulai terkelupas.

8248175999_f5d5fcce68
Sumber foto : https://kalderaprau.wordpress.com/2012/03/19/review-jalan-bandar-batur/

Waktu itu saat melintasi Jembatan Sibiting, kami melihat sekerumunan orang pada asik foto foto, terus abang-abang jualan juga ada. Jembatan ini cukup terkenal, ramai, bagus untuk foto dan menyegarkan untuk santai sejenak.

Kondisi jalan di jembatan ini masih mulus. Pemandangan di kanan kiri jembatan ini adalah pepohonan hutan rimbun yang alami dan tinggi-tinggi banget (karena dari atas jembatan mata kita sejajar dengan puncak pohonnya). Agak susah melihat dasar jembatan ini karena tertutup rimbunnya pepohonan.

 3.Agak sedikit Off Road Saat Melewati Jalur Perkebunan Teh

Melewati Jembatan Sibiting, kondisi jalan masih akan terus menanjak dan kini giliran pemandangan perkebunan teh yang harus kami lewati. Jalanan sedikit off road, karena jalan berbatu, kadang di temukan papan petunjuk menuju curug atau air terjun.

8246727137_a1758fa6cb
Sumber foto : https://kalderaprau.wordpress.com/2012/03/19/review-jalan-bandar-batur/

Sebelum memasuki Daerah Konservasi Dataran Tinggi Dieng, jalan yang tadinya beraspal berubah menjadi jalan cor beton (yang cuma selebar 1 mobil). Ada kondisi dimana mobil kami harus melewati jalan bertanah merah berbatu, nan menanjak, dan belum ter-cor.

4.Ban Mobil “Selip” di Tikungan Tajam di Daerah Konservasi Dataran tinggi Dieng.

Di penghujung pemandangan hutan pegunungan, mobil kami memasuki area perkebunan sayur warga yang berlapis-lapis. Sejauh mata memandang adalah lapisan-lapisan pegunungan hijau, punggungan tebing hutan, di kombinasikan dengan lahan-lahan perkebunan warga yang ketika itu masih tanah merah karena sedang proses persiapan penanaman.

DSC03150
Sumber foto : http://gerlangbladobatang.blogspot.co.id/

Kondisi jalan cor beton yang tingkat mulusnya tidak merata, kadang masih berbatu, di kombinasi jalanannya yang terus menanjak (melintasi bukit) yang sangat berliku, tapi pemandangannya bagus banget.

S4020023
Sumber foto : http://gerlangbladobatang.blogspot.co.id/

Ada 1 kejadian, saat ban mobil kami “slip” nggak bisa mencengkram cor beton karena tertutup tanah merah, di tambah kondisi jalannya menanjak dan langsung menikung tajam ke kanan. Ada satu teman yang trauma, karena mobil yang Rora naikin pernah meluncur mundur di area pegunungan juga.

Alhasil kami semua panik (dan Saya mencoba untuk tidak panik, tapi kalah dengan kepanikan teman-teman Saya).

Rayen yang membawa mobil terlihat kesusahan karena mobil tidak bisa maju akibat ban “slip”, beruntung banget nggak jauh dari TKP, ada pekerja jalan yang kemudian membantu kami untuk mendorong mobil, (meskipun sebelumnya mereka cuma ngeliatin kita doang, nggak inisiatif membantu). Tapi akhirnya mereka bantuin kami untuk melewati tikungan tajam itu.

FYI, Yang melintasi jalan ini ternyata nggak cuma motor, mobil SUV seperti kami, tapi truck, pick up pembawa hewan kurban, dan Truk Molen melewati jalan yang penuh tikungan tajam, yang cukup untuk 1 mobil ini.

5.Di Sorakin Warga Sekampung Karena Ban Mobil Masuk ke Cor-coran Jalan  

Setelah berhasil melewati tanjakan plus tikungan tajam tadi, teman teman Saya langsung parno dan deg-degan setiap melintasi tanjakan yang masih terbentang di hadapan kami. Ternyata cerita Saya di jalur ini nggak berhenti sampai di situ, karena ada satu AWKWARD MOMENT yaitu disorakin warga sekampung.

Jadi gini ceritanya, kondisi jalan sudah kembali mulus, tapi kami kembali dihadapi dengan tanjakan yang langsung menikung tajam ke kiri.

Si Rayen langsung mengambil ancang-ancang agak kekanan supaya bisa melewati tanjakannya. Nah, begitu sampai di ujung tanjakan kami langsung di sorakin warga sekampung (bapak-bapak dan pemuda semua).

Kita pikir gara-gara kami berhasil lewatin tikungan tajam itu. Tapi, rasanya kok ada yang ganjil ya? Pas buka kaca…Ehh ternyata ban depan yang sebelah kanan “jeblos masuk ke cor-an semen” dan meninggalkan bekas cekungan yang agak dalam.

Alhasil kami langsung terus bilang maaf…maaf…maaf karena dari bawah nggak kelihatan kalau lagi ada pengecoran jalan.

Sumpah, itu pengalaman unpredictable dan paling menakutkan, karena takut di arak-arak atau diamuk warga. Pfuihhh……(sambil terus minta maaf, pelan-pelan mobil kami melengos kabur)…pfuihhh #tariknafaslega

FYI, Memang waktu kami lewat jalur ini proses pengecoran jalan lagi banyak di lakukan.

6.Setelah Beragam Cobaan, Kami Menuruni Bukit Beraspal Mulus Menuju Jalan Raya Batur hingga Dieng

8248449559_07b568eee2
Sumber foto : https://kalderaprau.wordpress.com/2012/03/19/review-jalan-bandar-batur/

Di ujung Desa Konservasi Dieng, mobil kami melewati jalan beraspal mulus banget, dengan pemandangan pegunungan. Jalan mendaki kini berubah menurun. Udara masih sejuk dan dingin karena kabut turun. Bentang alam Dataran Tinggi Dieng mulai terlihat ditandai dengan panorama lahan-lahan perkebunan warga yang sangat luas. Setelah hampir 15 jam perjalanan dari Jakarta – Dieng,  kami memilih beristirahat makan siang di Desa Patakbanteng.

7.Desa Tieng Longsor, Jalan Utama Wonosobo Dieng di Tutup, Mau Ke Magelang Harus Muter dulu Ke Banjarnegara (Jalan Satu-satunya)

Sampai di Desa Patakbanteng, tujuan kami setelah makan siang adalah ke Telaga Menjer, mendaki Bukit Seroja. Pas kami makan, kami baru tahu kalau Jalan Raya Utama Wonosobo Dieng di tutup akibat adanya longsor dan pembangunan jembatan, dan baru di buka 4 hari saat kami tiba.

Setelah berunding, kami membatalkan janji dengan guide yang akan membawa kami mendaki Seroja, dan memilih untuk mengunjungi Kompleks Candi Arjuna dan menikmati kesyahduan sore dari Puncak Batu Ratapan Angin.

IMG20170831164113[1]

Nah, Persoalan lain datang karena dari Dieng kita nggak bisa langung ke Wonosobo, untuk menuju Borobudur akibat jalan yang terputus karena longsor tadi. Jalan satu satunya menuju Borobudur adalah menuju ke Jalan Banjarnegara terlebih dahulu. Kemudian baru melintasi Jalan Purworejo – Wonosobo Magelang – Salaman dan tiba di Borobudur.

Screenshot_2017-09-17-15-52-08[1]

Teman-teman sempat trauma, karena Google Maps mengarahkan kami ke rute yang sama saat kami berangkat tadi. Mereka takut karena jalan di Kabupaten Batang memang minim penerangan, dan jalannya berliku banget.

Tapi sebenarnya rute kami berbeda,  begitu sampai di Pertigaan jalan Raya Wanurejo, Kalibening-Wanayasa, kalau mau ke Arah Batang belok kanan, lewati Jalan Raya Wanayasa – Kajen, sedangkan untuk ke Banjarnegara kami harus belok kiri  (lewati Jalan Raya Wanayasa – Karangkobar). Meskipun kondisi jalannya sama, berliku, naik dan turun perbukitan, minim penerangan, jarang perumahan penduduk, tapi aspalnya mulus.

8.Ketemu Parade dan Bakso Enak di Alun-Alun Banjarnegara

Lelah melibas Jalan Raya Karangkobar yang berliku dan nggak sampai sampai juga di Alun Alun Banjarnegara, justru kami disegarkan karena di jalan dekat alun alun ada parade anak-anak yang sedang memperingati Idul Adha.

Akibatnya banyak jalan di tutup sehingga kami sulit untuk ke alun-alun. Masih mengikuti arahan Google Maps, dan pak polisi yang mengatur jalan, kami diarahkan masuk lewat gang-gang perumahan warga.

Di tengah ketidakyakinan dan keraguan Saya dalam memandu perjalanan harus belok ke gang mana, justru malah membawa kami masuk ke gang yang paling bagus karena di sepanjang jalannya di hias  lampu kelap kelip.

IMG20170831215908[1]

Ujung jalan gang ini ditutup karena digunakan untuk parade, akhirnya kami parkir di gang ini, terus jalan sebentar menuju Alun-Alun Banjarnegara dan makan Bakso yang ada di seberang alun-alun.

Habis makan, mata seger lagi, dan saatnya melanjutkan perjalanan ke Borobudur yang akan menghabiskan waktu selama 2 jam perjalanan. Tapi kenyataannya, lagu udah di puter biar nggak pada ngantuk, tapi rasa kantuk lebih besar dan mengalahkan semuanya. Baru nyetir sekitar 30 menit, Rayen langsung belokin mobil ke pom bensin, dan akhirnya kami semua tertidur pulas selama 4 jam (pukul 2 pagi kami baru bangun, lanjut otw ke Borobudur, sampai sampai di Borobudur itu pukul 4 subuh).

9.Melintasi Jalan Deandels (Jalur Selatan Jawa) di Perjalanan Pulang

Navigator perjalanan pulang kembali ke Saya lagi (selama keliling Jogja dipegang sama yang lain). Kembali memasang rute di aplikasi Google Maps, menuju Gerbang Tol Brebes Timur dari Jogjakarta, kami diarahkan melewati Jalur Deandels (menyisir Pantai Selatan Jawa Tengah).

Screenshot_2017-09-17-15-51-19[1]

Lewat jalan ini asik karena jalannya lurus doang selama puluhan kilometer. Apalagi waktu itu, kami lewat jalan ini pas sore hari, dimana sinar matahari sedang emas-emasnya, ditambah iringan musik dari Sheila On Seven yang nggak putus-putus. (Aselikk “BIGES” bikin gemes banget perjalanannya) HAHAHHAHA….

Jalan Raya Deandels mulus dan lebar, yang lewat ternyata banyak bus dan truk juga. Karena di kanan dan kirinya langsung perumahan warga, jadi harus berhati-hati dengan kendaraan yang keluar masuk (jangan terlena dengan jalannya yang lurus doang, terus keasikan ngebut biar cepet sampe).

Sebelum sampai jajaran pantai yang ada di Kebumen, kami diarahkan belok ke kanan, menuju Kota Kebumen, Purbalingga, dan diarahkan menuju Slawi, sebelum sampai Tegal kami potong arah dan istirahat sebentar makan Sate Klatak (Sate Kambing Muda) sebelum masuk Tol Brebes Timur.

FYI, Sate Klatak enak loh (buat yang suka sama daging kambing). Waktu itu sate yang Saya makan, nggak bau daging kambing, terus dagingnya dan lemaknya empuk dan juicy banget. Dimakan pakai kecap, potongan cabai dan tomat. Segeerrr….!! Potongan dagingnya sedeng, harga per-10 tusuk 50 ribu (tapi harga dan ukuran sate bisa berbeda beda ya disetiap daerah).

Banyak banget kejutan ketika Saya melakukan Roadtrip kemarin. Saya termaksud orang yang terencana ketika melakukan suatu perjalanan, tapi ketika di jalan di hadapkan dengan beragam situasi yang tidak bisa Saya paksakan, Saya pasti akan mundur, dan memilih untuk mengikuti alurnya.

Ternyata, justru disitulah kita akan menemukan banyak moment tidak terduga (baik yang bisa buat loe seneng setengah mati, atau kebalikannya). Kalau Saya melakukan Roadtrip kemarin, yang penting dibawa happy aja, fleksibel bisa tidur di mana aja, banyak minum dan cemilan, ada bantal pinggang, dan sering mampir ke pom untuk ke toilet.

Mungkin next-nya untuk Rora, Dinda, Tata dan Rayen, kita harus nabung dan Roadtrip lagi ke luar Pulau Jawa atau main yang deket-deket aja dulu. Jadi, apa pengalaman menarik kalian selama melakukan Roadtrip?! Pasti seru dan melelahkan, kan? Hayo Jujur…?

IMG20170831063413[1]

 

Iklan

3 Comments Add yours

  1. garayy berkata:

    haha seru ceritanya!!!

    Suka

    1. Makasih. Ia seru bgt. Pengalaman 🙂

      Suka

      1. garayy berkata:

        sekarang jalannya sudah bagus mbak 😀

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s