MAIN KE DESA WISATA, DESA TINGAL, WANUREJO, BOROBUDUR – JAWA TENGAH

Langkah kecil kaki kami terlihat membekas di atas tanah lembab akibat sisa-sisa embun semalam. Pematang Sawah Jowahan yang ada di dekat Balaidesa Wanurejo seakan memanggil, membuat kami tidak sabar untuk segera bermain di sana. Tidak seperti anak-anak di desa ini yang bisa bermain ke sawah setiap hari, Saya hanya memiliki kesempatan satu kali disetiap tahun, karena keluarga besar Saya baru pulang ke kampung halaman setiap satu tahun sekali.

Pematang Sawah dan Debu Abu Gunung Merapi

Pagi itu, Saya dan Teres (sepupu Saya) terlalu asik berlari-lari di tengah pematang sawah. Sampai akhirnya salah satu kaki Teres terperosok masuk ke sawah dan mengakibatkan hampir sebagian tubuh Teres ditutupi oleh lumpur.

Batang-batang padi yang sudah meninggi jadi tumbang karena “ketindih” tubuh Teres waktu terperosok tadi. Untungnya pas kejadian itu lagi nggak ada ibu bapak tani. Kalau sampai tau padinya rusak karena ulah kami, kami pasti akan lari terbirit-birit untuk menghindari amarah mereka.

Melihat tubuhnya yang kotor, Saya dan Teres saling tertawa karena mengingat adegan terpeleset tadi. Karena takut dimarahin pas sampai rumah karena badannya kotor banget, Saya memberi saran supaya Teres membersihkan lumpur yang ada di kaki atau badannya pakai debu abu Gunung Merapi yang waktu itu masih banyak tertinggal dan menumpuk di sepanjang jalan.

Padahal itu hanya saran konyol Saya, tetapi Teres mengikutinya. Akhirnya di sepanjang jalan pulang kami melepas sandal, berjalan “nyeker” sambil Teres sibuk menggosok-gosokkan kakinya pakai debu abu Gunung Merapi, sedangkan Saya ikut memainkan debu itu karena abunya begitu lembut saat tersentuh telapak kaki.

dsc_0001
Sebelum dibeton, dulu jalan di Pematang Sawah Jowahan masih tanah setapak yang tidak selebar seperti sekarang
IMG_6565.JPG
Setiap pulang kampung, Saya selalu mampir ke pematang sawah ini

Pematang sawah dan debu abu Gunung Merapi adalah ciri khas dari desa Saya. Mereka bisa membuat Saya rindu dan ingin selalu pulang ke rumah kakek dan nenek di Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur – Jawa Tengah. Cerita di Pematang Sawah Jowahan merupakan salah satu kenangan yang sudah terjadi belasan tahun, tetapi Saya masih mengingatnya karena Saya selalu excitetd setiap pulang ke kampung asal kedua orangtua Saya.

Meski tidak lahir di desa ini, tetapi kedua orangtua Saya masih menanamkan rasa cintanya terhadap tanah para leluhur yang hingga kini masih tetap diturunkan ke anak cucunya. Dan cerita-cerita inilah yang ingin diturunkan kepada generasi selanjutnya.

“Nyadran” Tradisi Temu Kangen Keluarga dan Leluhur

Salah satu tradisi sebagai sarana untuk berkumpulnya para perantau dan masyarakat Desa Tingal Wanurejo adalah Tradisi Nyadran, yaitu untuk mengenang dan mengunjungi makam leluhur atau keluarga yang diadakan setiap minggu ketiga di Bulan Ruwah (bulan sebelum memasuki Bulan Puasa). Makam Cikalan yang terletak di kaki Pegunungan Menoreh, Desa Tingal merupakan makam keluarga besar Saya, Mbah Suwito Hardjo Prawoto dan Mbah Sudarsono, dan di komplek tersebut terdapat makam Kiyai Wanu, yang merupakan tetua atau leluhur desa yang menjadi cikal bakal nama Desa Wanurejo.

Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur – Jawa tengah

Nama Desa Tingal berasal dari kata “Ketingalan” yang artinya tontonan, makadari itu kebanyakan warisan lelurur yang ada di desa ini berkaitan dengan seni yang dipertontonkan. Desa Tingal merupakan desa wisata terutama bidang budaya dan kesenian. Wisata kesenian yang bisa kalian nikmati di desa ini ada Jatilan atau Kuda Lumping, Ketoprak, Wayang Kulit, Tari Tradisional, Gamelan, Slawatan, yang kesemuanya dipusatkan di Sanggar Joyowiyatan pimpinan Paulus suyanto.

IMG_2748.JPG
Salah satu kesenian Kuda Lumping yang ada di Desa Tingal
IMG_2767.JPG
Tampilan tari kuda lumping
File1094.JPG
Pertunjukan Wayang Kulit yang baru akan di gelar
File808.JPG
Bermain Gamelan

Desa Tingal terletak sekitar 1km di sebelah timur Candi Borobudur, dan sekitar 600m di sebelah selatan Candi Pawon yang ada di Desa Brojonalan. Konon, posisi Candi Pawon ini berdiri tepat disumbu garis lurus antara Candi Borobudur dan Candi Mendut (pas Saya lihat di Google Maps, ternyata ketiga candi ini posisinya sejajar. Candi Pawon berada di tengah-tengah antara Candi Borobudur dan Candi Mendut).

Jadi, kalau kalian ingin menghabiskan liburan bersama keluarga, atau hanya sekedar ingin menikmati suasana pedesaan khas Jawa Tengah, datanglah ke Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur. Jangan bingung untuk masalah penginapan karena di desa ini tersedia banyak homestay, diantaranya adalah Homestay Ciboeng milik Wahyu Cipto yang terletak di Tingal Kulon atau Homestay milik Ibu Ninik yang lokasinya agak dibelakang dari Homestay Ciboeng.

IMG_6605.JPG
Rumah yang ada mobilnya itu adalah Homestay Ibu Ninik, sedangkan di depannya adalah Homestay Ciboeng milik Wahyu Cipto
IMG_6615.JPG
Homestay Ciboeng memiliki fasilitas dapur, kamar mandi di dalam, extra bed plus tambahan kasur di bagian bawah, wastafel, dan rak pakaian
IMG_6588.JPG
Sudut lain dari Homestay Ciboeng

Nah, sekarang Saya mau mengajak kalian untuk berkeliling Desa Tingal. Tapi syaratnya, kalian harus kuat mengayuh sepeda ya. Tapi kalau kalian nggak kuat mengayuh, naik motor juga boleh kok (nggak usah bingung mau sewa sepeda atau motor dimana, kalian tinggal pesan ke pemilik homestay nanti mereka yang cariin).

File977.JPG
Bersepeda keliling kampung

Sunrise dan Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu

Oke, destinasi pertama adalah menikmati sunrise dan melihat Candi Borobudur berselimut embun pagi dari atas bukit bernama Punthuk Setumbu di Jalan Borobudur Ngadiharjo, Magelang. Paling telat jalan dari penginapan adalah pukul setengah 5 pagi. Jangan lupa bawa minum dan makanan ringan (kalau lupa, di dekat loket Punthuk Setumbu ada yang jual makanan dan minuman kok). Jarak dari Desa Tingal ke Punthuk Setumbu membutuhkan waktu sekitar 30 menit bersepeda, atau 15 menit kalau naik motor.

DSC_0657.JPG
Punthuk Setumbu dikelilingi oleh perbukitan hijau yang masih sangat asri
DSC_0653.JPG
Matahari terbit di antara Gunung Merbabu (kiri) dan Merapi (kanan). Kabut di pagi itu masih sangat tebal, kalau tidak terlalu tebal kita bisa melihat siluet Candi Borobudur dari sini (posisinya di sebelah kanan, percis di area yang tertutup kabut pekat)

Udara subuh di desa ini masih terasa dingin dan begitu segar. Susuri Jalan Kalangan sampai menemukan pertigaan Jalan Balaputradewa. Belok kiri kearah Jalan Badrawati (jalannya percis di sebelah kompleks Candi Borobudur), terus arahkan kendaraan kalian menyusuri Jalan Badrawati. Pas ketemu perempatan belok ke kanan ke arah Plataran Borobudur Hotel & Resort. Tinggal ikuti saja jalannya, nanti juga di tengah jalan kalian akan ketemu mobil travel yang mengantar wisatawan. Setelah melewati tanjakan curam, kalian akan melihat sebuah pos dan area parkir yang tidak terlalu besar. Semangat semuanya! Karena untuk menikmati sunrise dan Candi Borobudur dengan selimutnya, kalian harus melewati undakan-undakan tangga yang telah tersedia. Jangan khawatir kehabisan oksigen karena Punthuk Setumbu dikelilingi hutan perbukitan berudara sejuk yang memiliki banyak kandungan oksigen. Semangat!

Berkeliling Melihat Aktivitas Warga di Desa Sekitar Borobudur

Selesai menyaksikan sunrise dan siluet Candi Borobudur, kita lanjut berkeliling desa yang ada di sekitar Borobudur, yuk. Menyusuri kembali Jalan Badrawati hingga ke Desa Tuksongo.

DSC_0669.JPG
Pematang sawah di Desa Tuksongo

Di sepanjang jalan ini kalian bisa melihat beragam aktivitas warga dipagi hari, seperti pak tani yang sedang mencangkul sawah, ibu-ibu menyapu halaman, anak-anak berangkat sekolah naik sepeda atau berjalan kaki, sibuknya lalu lalang warga membawa hasil pertanian, nenek-nenek yang membawa kayu bakar, ada yang baru pulang dari pasar membawa keranjang belanjaan, atau pemandangan turis yang juga sedang berkeliling desa di pagi hari. Oh ia, kita juga bisa mampir ke Rumah Kamera dan melihat Resort Amanjiwo (salah satu resort ter-hits di Borobudur yang sudah terkenal sampai ke luar negeri, pasalnya aktor Amerika Richard Gere pernah menginap disini, dan juga artis Indonesia seperti Rossa pernah menginap disini).

Bubur Putih Polos yang Juga Menyimpan Kenangan di Pasar Borobudur

Lelah ngegowes sepeda dari subuh, perut kalian pasti sudah mulai keroncongan kan. Nah, Saya punya referensi tempat sarapan yang pas selama kalian ada di Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur, yaitu sarapan bubur yang ada di depan Pasar Borobudur. Ngomong-ngomong soal bubur, Saya jadi ingat dulu sewaktu eyang kakung dan putri masih ada, Saya suka banget dengan bubur yang mereka beli. Sewaktu bubur itu dibuka, uap panas langsung keluar bersamaan dengan bau khas karena bubur ini dibungkus dengan daun pisang.

DSC_0674.JPG
Bubur kuah tahu dan kerecek. Ditambah lauk sate lilit dan aneka macam gorengan

Bubur putih polos yang sedikit encer ini (sudah gurih tanpa diberi kuah kaldu atau apapun) begitu nikmat saat dimakan bareng tempe goreng tepung, apalagi di makan selagi bubur masih panas. Versi lainnya, bubur ini bisa dinikmati menggunakan kuah santan sayur tahu dan krecek yang super pedas, ditambah dengan sate lilit plus lauk pauk lainnya. Apalagi diakhiri dengan minum teh tubruk melati yang juga memiliki aroma khas. Kalau kalian masih iseng pingin nyemil yang manis-manis kayak jajanan pasar, tinggal masuk aja ke dalam Pasar Borobudur, disana menjual beraneka macam jajanan manis dan asin dengan harga terjangkau.

Industri Rumahan Pilihan Tepat Membeli Oleh-Oleh

Sambil perjalanan balik ke homestay, Saya ingin mengajak kalian mampir ke sentra industri kuliner rumahan yang tersebar di sekitar Desa Tingal, seperti Rengginan, Nogosari, Kembang Goyang, Kue Clorot, Kupat tahu, Keripik Singkong, Peyek Kacang, Gula Merah, Keripik Tahu, Geblek, Putil, Klanting, hingga ke kerajinan tangan dari gerabah, seni lukis, patung, ukir, dan masih banyak lainnya.

IMG_6130.JPG
Papan petunjuk obyek wisata yang ada di Desa Wanurejo, Borobudur

Sejak gencarnya Visit Jawa Tengah pada tahun 2013, rumah-rumah yang memiliki home industry didata oleh pemerintah, kemudian pemerintah membantu memperkenalkannya ke wisatawan dengan cara memberikan papan informasi home industry di depan rumah mereka. Di beberapa titik jalan, wisatawan juga akan melihat papan petunjuk arah menuju ke rumah-rumah tersebut. Nah, yang mau beli oleh-oleh khas Borobudur bisa membelinya disini. Karena dibeli dari produsennya langsung jadi bisa dibilang kalian akan mendapatkan harga yang bersahabat.

Borobudur Situs Warisan Dunia

Memang kurang lengkap rasanya kalau kalian berlibur ke Desa Tingal tapi nggak mampir untuk melihat salah satu warisan dunia, Candi Borobudur. Sebenarnya selain di Punthuk Setumbu, spot terindah untuk menikmati matahari terbit juga bisa dilihat dari atas candi (pemandangan yang sering diincar oleh wisatawan lokal maupun mancanegara). Setelahnya kita bisa melanjutkan berkeliling komplek candi sebelum matahari berubah menjadi terik. Atau nggak kalian bisa menikmati Candi Borobudur di sore hari ketika langit mulai sedikit teduh.

IMG_3357.JPG
Candi Borobudur tampak begitu megah. Musim terpadat candi ini ketika perayaan Waisak di bulan Mei dan libur panjang anak sekolah

Saat mengunjungi candi ini, wisatawan diwajibkan menggunakan kain batik dan dilarang membawa makanan ke atas candi. Hal tersebut merupakan upaya memperkenalkan dan pelestarian batik, serta pencegahan pelapukan batuan candi yang diakibatkan oleh berkembangnya lumut akibat remah-remah makanan yang dibawa pengunjung, serta faktor lain yang mempercepat proses pelapukan.

IMG_3290.JPG
Setelah membeli tiket, setiap pengunjung harus ke tempat pemakaian sarung Batik
IMG_3316.JPG
Panorama perbukitan di sekitar area candi
IMG_3375.JPG
Naik andong atau becak untuk kembali ke homestay setelah berkeliling Candi Borobudur

Borobudur dikelilingi oleh pemandangan yang memanjakan mata. Di sebelah timur sampai barat terbentang Bukit Menoreh, dengan puncak tertingginya bernama Suroloyo. Di sisi Timur terdapat Gunung Merapi dan Merbabu, serta di sebelah Barat ada Gunung Sindoro dan Sumbing. Selesai mengelilingi dan mengagumi megahnya Candi Borobudur, jalan keluar komplek candi untuk mencari becak atau andong yang siap mengantar kalian kembali ke homestay di Desa Tingal.

Beberapa Obyek Wisata di Sekitar Desa Tingal, Wanurejo : Ketep Pass 

Ketep Pass terletak di antara Kabupaten Magelang dan Boyolali. Tempat ini bisa ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi dari Desa Tingal dengan lama perjalanan sekitar satu jam. Jika melalui Kota Blabak Sawangan, Anda bisa langsung naik ke Ketep, sedangkan dari arah Boyolali bisa melewati Selo dan langsung ke Ketep.

file1248.jpg
Site map Ketep Pass
file1249.jpg
Untuk menonton di teaternya, harus menunggu sampai penontonnya penuh dulu, baru film bisa diputar. Filmnya bercerita tentang sejarah Gunung Merapi
file1246.jpg
Bentuk Puncak Garuda yang selalu menjadi minat pendaki gunung untuk bisa berfoto di atasnya. Setelah erupsi di tahun 2010, Puncak Garuda tampilannya sudah tidak seperti ini lagi.
File1237.JPG
Pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Merapi dilihat dari ketep Pass

Di Ketep Pass kalian bisa melihat pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu. Di tempat ini juga terdapat Museum Gunung Merapi dan Volcano Theatre, dimana kalian bisa melihat foto, data-data gunung api dan video Erupsi Merapi tahun 2010. Hawa sejuk dan pemandangan pegunungan serta perkebunan kubis, kentang dan wortel yang indah membuat pengunjung betah berlama-lama disini, apalagi ditemani dengan jaung bakar, kuliner khas yang diperdagangkan di sekitar museum.

Mengenang 6 Tahun Dasyatnya Erupsi Gunung Merapi (26 Oktober 2010)

Ketika kalian berkunjung ke Ketep Pass dari Desa Tingal, disepanjang jalan kalian akan melihat aliran sungai. 6 tahun lalu sungai itu dipenuhi oleh batu-batu besar. Kali tersebut adalah Kali Pabelan yang mengalirkan air dari Gunung Merapi. Pada saat Erupsi Merapi tahun 2010, lahar dingin menjebolkan Jembatan Tlatar dari kali tersebut.

file1287
Sungai yang dipenuhi oleh material lahar dingin Gunung Merapi
file1271.jpg
Jembatan Tlatar yang putus akibat diterjang lahar dingin Gunung Merapi

Jembatan Tlatar menghubungkan jalan antar Kota Magelang dan Jogjakarta. Derasnya lahar dingin yang membawa material pasir serta batu-batu besar mampu menghancurkan jembatan yang berjarak 3km dari Desa Tingal.

file1296
Jembatan beton yang sangat jauh dari dasar sungai bisa hancur dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Untuk menyeberangi kali ini warga membuat jembatan sementara yang dibuat dari bambu

Jika kalian lihat difoto, jarak antara dasar sungai dengan jembatan begitu tinggi, namun jembatan tersebut bisa hancur diterjang lahar dingin. Bisa dibayangkan betapa besar kekuatan dan berapa banyak material yang ikut hanyut saat terjadi banjir bandang lahar dingin Gunung Merapi? Kali yang tadinya lebar, jadi menyempit karena sebagian besar diisi oleh batu dan pasir.

Watu Gede…

Tanggal 9 Januari 2011 tekan kene, ngorak arek omah sedulurku, njor opo KAREP mu??? Cah Gempol”.

img_3273
Batu besar yang ikut terbawa arus aliran lahar dingin dari lereng Gunung Merapi

Kutipan tersebut bisa kalian lihat dibadan sebuah batu besar yang kini masih bertengger di pinggir Jalan Raya Gempol (tidak berubah posisinya sejak 6 tahun lalu). Batu besar tersebut terbawa bersamaan ketika banjir lahar dingin Merapi menerjang daerah ini. Sewaktu Saya kesana di tahun 2011, salah satu warga disekitar situ memberitahu Saya sebenarnya ada 3 batu besar yang sampai di tempat ini, tapi dua batu lainnya berhasil dipindah kecuali batu yang satu itu. Kata orang “pinter” yang sempat berkunjung, katanya batu ini masih menunggu sodaranya (iihh serem…percaya nggak percaya). Batu tersebut bisa kalian lihat ketika melintas di jalan raya yang menghubungkan antara daerah Magelang dan Yogyakarta, tepatnya di Kali Putih.

file1277.jpg
Jalan Raya Gempol penghubung jalan Yogyakarta Magelang

Kali Putih sebetulnya kali kecil yang mengalirkan air dari Lereng Merapi melalui Kota Muntilan, maka tidak heran begitu terjadi banjir lahar Dingin Merapi yang membawa berton-ton kubik material batuan serta pasir, kali ini tidak bisa menampung muatan hingga menyebabkan kerusakan ratusan rumah yang berada di sekitar kali.

file1317.jpg
Terlihat bekas pondasi dari jembatan Kali Putih, di mana disekelilingnya terlihat tertutup oleh pasir dan batu
file1312.jpg
Lebar Kali Putih tidak sebanding dengan muntahan material yang terbawa hujan ketika banjir lahar dingin Gunung Merapi

Goa Maria Sendangsono

Tempat wisata selanjutnya yang bisa dikunjungi ketika berada di Desa Tingal adalah Goa Maria Sendangsono. Tempat ini merupakan tempat ziarah bagi umat Katolik, namun bagi yang bukan beragama Katolik, alternatif lain yang bisa kalian kunjungi adalah menyusuri Perbukitan Menoreh hingga ke puncaknya bernama Suroloyo. Karena berada dalam satu wilayah yang sama, mendatangi kedua tempat ini hanya memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Desa Tingal.

File1035.JPG
Goa Maria Sendangsono adalah tempat yang tenang untuk berdoa
File1031.JPG
Mata air di Sendangsono

Goa Maria adalah goa yang terdapat sendang (mata air), di mana di pinggir sendang tersebut terdapat sebuah pohon yang sangat besar. Warga di wilayah tersebut menamainya dengan Pohon Sono (sejenis Angsana). Sendangsono ramai dikunjungi pada Bulan Maria, yaitu Mei dan Oktober.

Perbukitan Menoreh dengan Puncaknya Suroloyo

Puncak Suroloyo yang terletak di Perbukitan Menoreh berada di perbatasan Magelang dan DIY. Suroloyo menurut artinya terdiri dari dua kata yang berarti berani (suro) dan mati atau meninggal (loyo), jadi arti keseluruhan kurang lebih berani mati. Jaman dulu banyak orang yang bersemedi di tempat ini, terutama pada Bulan Suro atau satu Muharam.

DSC_0683.JPG
Salah satu pemandangan yang akan terlihat ketika kalian menyusuri Perbukitan Menoreh, sejauh mata memandang hanyalah perbukitan hijau nan luas

Goa Maria Sendangsono dan Perbukitan Menoreh bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, yang disebabkan tidak adanya fasilitas transportasi umum. Jalanan perbukitan yang berliku-liku, menanjak, dan terjal, mewajibkan kalian untuk terus berhati-hati.

Arahkan kendaraan kalian menyusuri sepanjang Jalan Raya Desa Tingal Kulon menuju kearah Jogja via Kulon Progo. Memasuki Desa Candirejo mata kalian akan disuguhi pemandangan lahan perkebunan dan gugusan Perbukitan Menoreh. Arahkan kendaraan kalian ke Pucungan, kemudian menuju Desa Sambeng yang akan mengantar kalian sampai di Bigaran.

Samar-samar liukan Sungai Progo yang ada di balik pepohonan akan membuat kalian takjub karena sungai ini begitu lebar. Saat musim hujan arusnya bisa sangat deras (dimanfaatkan untuk rafting) tapi di musim kemarau yang terlihat hanya batu berserakan hingga menutupi setengah lebar sungai.

Sampai di Bigaran kalian akan menemukan Pasar Jagalan – di sini ada pertigaan dengan petunjuk arah mau ke Goa Maria Sendangsono atau ke Puncak Suralaya/Suroloyo. Kalau mau menyusuri Perbukitan Menoreh hingga ke puncaknya belok kanan kearah Klagan, ikuti jalan beraspal mulus sampai ke daerah Kerug Munggang.

Disaat cuaca cerah dari Puncak Suroloyo kalian bisa melihat hamparan permadani hijau dengan liukan sungai-sungainnya, serta gunung-gunung yang berdiri disekitarnya. Di sebelah Timur Suroloyo terdapat Watu Kendil atau batu ajaib. Watu Kendil adalah gundukan batu kecil yang ditumpangi batu besar, wisata ini terletak di Kelurahan Candirejo, masih di deretan Pegunungan Menoreh.

Wisata Air dan Kuliner di Desa Tingal

Untuk menambah referensi wisata ketika sedang berlibur di Desa Tingal, wisata air di Desa Tingal juga tidak boleh dilewatkan. Di sisi Timur Tingal, terdapat pertemuan antara Sungai Progo dan Elo yang sering digunakan untuk arung jeram. Selain itu, ada kuliner khas yang bahan bakunya hanya bisa didapatkan di Sungai Progo, yaitu Mangut Beong, sejenis sayur bersantan yang dimasukkan potongan-potongan Ikan Beong, ikan yang hanya hidup di kali tersebut. Ada warung Mie Jogja yang terkenal enak dan ramai di Pertigaan Karet dekat Monumen Proklamasi Soekarno – Hatta.  Kupat Tahu makanan khas Jawa Tengah yang terkenal enak ada di Blabak, Sawangan.

Itulah pesona kampung halaman Desa Tingal, Wanurejo, Borobudur – Jawa Tengah. Jadi, kapan kalian main ke kampung halaman Saya?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah) #BlogJateng2016 #JatengGayeng

Iklan

9 Comments Add yours

  1. taufiqprasetya berkata:

    Waduuh 4 tahun di jogja malah belum pernah mampir punthuk setumbu 😂

    Suka

    1. Kalau mau liat Borobudur yg berselimut kabut pagi untung2an mas. Kadang malah candinya nggak keliatan sama sekali, kadang pengunjung dapet timing yg pas.

      Suka

  2. rizkichuk berkata:

    suasana desa sekitar Borobudur emang alami banget. kangen pengen kesana lagi. cocok banget jadi destinasi wisata desa. suka sama alam Borobudur saat pagi hari, kabut2 gitu. hehe. mampir ke blogku ya mba http://rizkichuk.blogspot.co.id/ 🙂

    Suka

    1. Mas Rizky orang Borobudur juga? Saya punya kampung di desa Tingal, 1 km dr Borobudur. Makasih sudah berkunjung ke blog Saya. Saya pasti mampir ke blog mas rizki.

      Suka

  3. Yuliana berkata:

    Mau tanya nomer kontak nya Home Stay Ciboeng dan Homestay Ibu Nunik. Kapasitas brp org dan harga per Malam nya berapa Terimakasih

    Suka

    1. Kalau Homestay ibu ninik ada 3 kamar tidur, dapur, 2 kamar mandi. Kalau ciboeng 1 kamar ada 1 kasur besar ditambah kasur dibawahnya, kamar mandi di dalam, dapur di luar. No kontak mereka nanti saya kasih, bisa mba hubungi sendiri pemiliknya

      Suka

  4. Yuliana berkata:

    Maksdnya Homestay Ibu Ninik

    Suka

    1. Ibu Ninik (ke ibu ninik langsung 081288439262) Homestay ciboeng ke Pak Koko (087711288806)

      Suka

  5. Yuliana berkata:

    Terimakasih mbak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s