SOERABI HAMPAS KHAS KADIPATEN, CURUG SAWER MAJALENGKA, DAN GOA SUNYARAGI DI CIREBON

Nggak tau kenapa setiap Saya mendengar kata Majalengka yang terbesit pertama kali diotak itu adalah kalimat “Majalengka digoyaang….!” (ngucapinnya ala biduan dangdut). Padahal waktu Saya dan teman-teman ke sana kami nggak nemuin satupun acara dangdutan. Yang ada, Saya malah kaget ternyata Majalengka memiliki bentang alam pegunungan yang mempesona serta memiliki obyek wisata alam yang menarik.

Memanfaatkan libur Idul Adha di bulan September lalu, Saya, Rora dan Dinda memilih menginap di Kadipaten (kampung halaman Rora), selain itu juga karena jarak dari Kadipaten ke Majalengka tidak terlalu jauh.

Hari pertama di Kadipaten tujuan kami adalah ke air terjun dan Terasering Panyaweuyan, di Kecamatan Argalingga. Banyak alternatif air terjun di Majalengka yang bisa kalian nikmati, dan beberapa diantaranya akan ramai pengunjung karena sudah menjadi favorit wisatawan. Karena waktu itu kami datangnya saat weekend, kami minta pendapat ke sepupu Rora air terjun mana yang bagus dan masih sepi, akhirnya kami memutuskan untuk ke Curug Sawer.

DSC_0043.JPG
Perjalanan menuju Curug Sawer. Melintasi perbukitan dan perkebunan warga di Kecamatan Argapura

 

DSC_0052.JPG
Tidak ada petunjuk arah untuk ke curug ini. Kalau mau ke sini harus sering bertanya ke warga yang kalian lihat. Yang Saya ingat di tengah ladang penduduk ada gubuk dan di seberangnya ada 1 vila (yang katanya sering dipakai oleh tim SAR Gn.Ciremai evakuasi pendaki). Tidak ada tiket masuk, tempat penitipan motor, tidak ada orang sama sekali yang bisa di titipin motor. Tapi begitu kami balik dari curug, ada bapak tua pakai rompi taman nasional mengaku petugas dan meminta biaya parkir dengan harga yang cukup mahal, 5 ribu per motor di tambah biaya seikhlasnya tapi dia minta 10 ribu

DSC_0057.JPG
Jalan menuju curug akan melewati ladang penduduk dan ilalang

DSC_0062.JPG
Papan selamat datang baru ada setelah kita melintasi ladang penduduk dan mulai masuk ke hutan (tracking sesungguhnya menuju curug). Dulu curug ini sempat dibuka untuk umum, tapi sekarang katanya sudah di tutup. Karena itu akses untuk ke curug ini masih alami banget. Track tanah licin, dengan rambatan akar pohon, serta turunan curam yang hanya dibantu pakai tali tambang 

dsc_0075
Ini dia penampakan air terjunnya. Setelah susah payah jalan menurun melewati tanah licin. Saatnya menyegarkan diri di Curug Sawer. Dan benar, tidak ada seorangpun di curug ini

DSC_0070.JPG
Curug ini dikelilingi oleh hutan yang sangat asri

DSC_0096.JPG
Hammock-an dulu sambil nyemil nyemil cantik 🙂

DSC_0113.JPG
Sungai di bawa air terjun tidak terlalu dalam. Jeram air terjun saat itu juga tidak begitu kencang. Tips aman dan asik menikmati air terjun, jangan lupa bawa camilan, bawa hammock, bawa cadangan baju ganti, yang paling penting perhatikan cuaca. Kalau hujan datang stop bermain di bawah jeram air terjun. Ketika jeramnya bertambah deras dan berubah warna kecoklatan segera jauhi dan pergi ke tempat aman  

DSC_0139.JPG
Kabut dan awan di sekitar curug mulai turun. Tandanya kita harus pergi dan melanjutkan ke destinasi selanjutnya

Kabut dan awan hitam tampak menutupi sebagian langit di sekitar Curug Sawer. Setelah puas bermain air kami memutuskan untuk pulang tapi sekalian mampir lewat Argapura, melihat panorama terasering sayur mayur yang menjadi hits setelah foto perbukitan tersebut menyebar di media sosial. Saya merasa beruntung karena dalam perjalanan ke Panyaweuyan langit sore itu cukup teduh, awan mendung lama kelamaan meninggalkan kami.  Yang lebih bersyukurnya lagi pas tiba di sana kami diberi langit sore yang cerah, matahari tampak sedang menyinari bukit bukit Panyaweuyan dengan sinar keemasannya. Seketika kami langsung menghentikan motor, mengeluarkan kamera, berpose beberapa kali, kemudian mulai menikmati golden sunset di antara bukit bukit hijau nan luas.

DSC_0160.JPG
Di kanan kiri perbukitan, serta ladang penduduk. Jalan beraspal mulus ini akan membawa kami ke Lembah Panyaweuyan

WP_20160910_017.jpg
Golden hills di Panyaweuyan Argapura

WP_20160910_019.jpg
Terasering kebun sayur mayur warga

B612_20160910_172050.jpg
Wajib foto di tempat ini

WP_20160910_024.jpg
Bukan hanya Saya, Dinda dan Rora, tapi banyak pengunjung yang datang ke sini terus berfoto ria. Ada beberapa titik dimana pengunjung bisa mendaki sampai ke puncak bukit. Tidak ada tiket masuk ke tempat ini, dan hanya dikenai biaya parkir sebesar 2000 rupiah.

WP_20160910_036.jpg
Matahari sore yang hampir tertutup awan

WP_20160910_029.jpg
Romansa sore 🙂

Goa Lalay adalah salah satu goa yang ada di Majalengka. Seketika kalian tidak akan menyangka akan ada goa di tengah-tengah Desa Sukadana. Pasalnya, tidak seperti bayangan Saya, ketika kita harus melewati jalan setapak menembus hutan untuk sampai ke mulut goa, sedangkan Goa Lalay lokasinya masih di kaki Gunung Ciremai. Area parkir goa ini berada di tengah-tengah perumahan warga,  tidak ada kesan kalau kita akan menuju ke sebuah goa. Ternyata untuk sampai ke Goa Lalay kalian harus melewati jalan setapak yang sudah tersedia di sebelah rumah-rumah tersebut. Jalan tanah itu akan membawa kalian ke sisi belakang rumah, yang sejauh mata memandang adalah perbukitan sayur mayur warga, sedangkan disisi kiri adalah punggungan gunung dengan pohonnya yang rimbun.

IMG-20160913-WA0000.jpg
Setelah di kejutkan dengan sesuatu, Saya bisa melihat ratusan bahkan ribuan kelelawar terbang di atas kepala Saya

Kalian hanya tinggal mengikuti jalan setapak yang telah di siapkan. Sekitar 15 menit berjalan, kalian akan menemuka 1 toilet umum, dan 2 warung yang terbuat dari bambu. Ikuti jalan saja sampai menemukan dinding batu tinggi menjulang. Goa Lalay terletak di dasar tebing yang diapit oleh 2 dinding batu tersebut. Kalian akan menuruni tangga yang terbuat dari bambu, kemudian harus turun lagi melewati susunan batu gamping yang telah di pecah-pecah, dan harus kembali turun melewati undakan-undakan batu gamping.

img-20160913-wa0024
Salah satu dinding goa mulai terlihat dari jalur tracking

IMG-20160913-WA0025.jpg
Dinding batuan lain yang bisa kalian lihat. Di pojok kanan adalah tangga yang terbuat dari potongan bambu

IMG-20160913-WA0020.jpg
Puncak tebing yang dirimbuni pepohonan. Air tanahnya menetes, seperti memberikan efek hujan begitu kita berdiri di dekatnya 

IMG-20160913-WA0045.jpg
Ini adalah dasar Goa Lalay setelah kita menuruni 3 kali anak tangga. Terlihat goa ini diapit oleh dua dinding tebing batu yang sangat tinggi, rimbun, dan juga di penuhi bebatuan. Aliran air di goa ini cukup deras. Jadi jangan menyepelekan alam, apalagi pernah ada kejadian beberapa orang tewas karena kebawa arus

IMG-20160913-WA0019.jpg
Itu adalah tangga terakhir yang harus kita lewati untuk sampai di dasar goa. Susunan batu-batu gamping untuk memudahkan pengunjung sampai ke mulut Goa Lalay

IMG-20160913-WA0004.jpg
Puncak dari kedua dinding tebing batu yang dirimbuni pepohonan

IMG-20160913-WA0016.jpg
Batu batu kali yang besar

IMG-20160913-WA0011.jpg
Untuk sampai ke spot ini, kalian akan melintasi 2 kali aliran sungai. Aliran pertama kalian akan menyeberang sendiri di bantu tali tambang. Aliran kedua ada beberapa penjaga yang siap pegangin kalian selama melintasi aliran air. Kalau mau terjun dari air terjun mini di belakang Saya,  keluarkan kocek 10 ribu untuk sewa pelampung plus guide. Untuk naik ke atas, pijakan batunya itu sangat licin, apalagi tambang yang di sana juga nggak mendukung, cuma tali tambang plastik

IMG-20160913-WA0007.jpg
Setelah berhasil terjun dari air terjun, mari dilanjutkan dengan foto-foto. Dua pria dan wanita berkerudung di sebelah kanan Saya adalah sepupunya Rora yang dengan senang hati mengantar kami berkeliling Majalengka

IMG-20160913-WA0009.jpg
Langit langit goa yang menjadi rumah dari ribuan kelelawar yang menggelantungkan hidupnya 🙂 Tiket masuk ke goa ini sebesar 10 ribu per orang, ditambah biaya parkir 3000. Belum ada tiket masuk resmi. Setiap pengunjung hanya wajib menuliskan nama dan asalnya di buku tamu

Setelah teman-teman Saya selesai Shalat Idul Adha, kami berpamitan mau ke Cirebon karena Kereta Tegal Bahari jurusan Cirebon – Gambir berangkat pukul 4 sore.

IMG-20160912-WA0001.jpg
Naik elf dari Kadipaten menuju Cirebon, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dengan tarif 15-20 ribu

Seperti yang sudah di rencanakan, kami mau mampir ke obyek wisata yang dekat dengan Stasiun Cirebon, seperti Taman Sari Goa Sunyaragi (karena elf yang kami naiki dari Kadipaten jurusan Cirebon melewati taman wisata ini).

img-20160913-wa0029
Elf yang kami naiki ternyata melintasi Taman Sari Goa Sunyaragi. Akhirnya kami turun, terus membeli tiket masuk sebesar 10 ribu per orang. Siang yang cukup terik.

IMG-20160920-WA0002.jpg
Uniknya semua bangunan yang ada di goa ini dilapisi oleh batu karang.

IMG-20160920-WA0010.jpg
Bangunan paling depan yang kalian lihat begitu melintasi gapura bergaya hindu

IMG-20160920-WA0006.jpg
Hendaknya kita memiliki jiwa seperti batu karang, yang tetap kokoh serta berdiri tegak meski ombak selalu datang menerjang 

Setelah bertanya bagaimana akses ke Keraton Kasepuhan dari Taman Sari Goa Sunyaragi, kami mengikuti arahan petugas untuk naik angkot nomer D02 dari lampu merah yang berjarak sekitar 600 meter sebelum Taman Sunyaragi. Bilang aja ke supir angkotnya kita mau ke Keraton kasepuhan, atau patokannya dekat Sekolah Adven, nanti abang angkot akan nurunin kalian di perempatan kecil (seperti perempatan komplek perumahan). Di depan gang ada petunjuk arah mau ke Keraton Kasepuhan, atau ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan. Dari perempatan itu menuju Keraton Kasepuhan tinggal 5 menit berjalan kaki.

Di depan keraton banyak penjual makanan, tapi sebagian besar pada tutup karena hari itu libur Idul Adha. Siang itu matahari cukup terik, kami butuh yang seger-seger sebelum mengeksplore keraton lebih dalam. Kepingin minum Kelapa muda, tapi malah nemuin tukang rujak. Ya sudah, setelah menghabiskan 2,5 potong semangka terus ditambah makan rujak, tenaga dan kesegaran kami sudah terisi kembali, dan kami siap untuk menjelajah Keraton Kasepuhan Cirebon.

IMG-20160915-WA0005.jpg
Gapura bergaya hindu di pelataran Keraton Kasepuhan Cirebon

IMG-20160915-WA0007.jpg
Bersama bapak yang akan menjadi guide kami selama berkeliling keraton. Oh ia biaya masuk keraton ini sebesar 20 ribu per orang. Saat kita melintasi cek in gate, petugas akan bertanya apakah mau menggunakan jasa guide. Biaya guide sendiri adalah seikhlasnya, pihak keraton tidak mentarifkan berapa kita harus membayar
IMG-20160920-WA0017.jpg
Di pelataran depan keraton. Berfoto dengan dua singa putih. Tetap loh di beberapa sudut keraton ini kita bisa melihat tumpukan batu karang, dengan filosofi yang sudah Saya sebut di foto sebelumnya 

Dari keraton kami harus jalan sampai ke pertigaan (nama jalannya Saya lupa), di sana kami harus mencari angkot D05 yang jalur trayeknya melewati Stasiun Cirebon Kota.

Masih tersisa dua jam lagi dan rencananya mau kita manfaatkan untuk kulineran di dekat stasiun. Yah…tapi apa daya, karena Senin itu hari libur Idul Adha jadi sebagian toko yang di dekat stasiun banyak yang tutup. Alhasil, kami cuma bisa nyicipin kuliner khas Cirebon, Empal Gentong. Tokonya nggak jauh dari stasiun, dan tampak cukup ramai di siang itu. Untungnya pas kami datang, kami masih bisa menikmati daging sapinya yang empuk bercampur dengan kuah berwarna coklat mirip seperti kuah rawon. Dagingnya banyak, kuah kaldunya gurih dan cukup ringan, sebanding dengan harga permangkok 22 ribu rupiah.

IMG-20160912-WA0000.jpg
Gunung Ciremai dilihat dari Kecamatan Argapura. Angkot tidak melintas di jalan ini. Makadari itu kalau kalian mau ke obyek wisata yang ada di wilayah ini, bisa diakses pakai ojek

Cara ke Majalengka,

  1. Naik bis dari Terminal Kampung Rambutan jurusan Majalengka. Cuma nggak enaknya bis ini, pemberangkatan terakhirnya cuma sampai sore hari.
  2. Naik bis dari Terminal Kampung Rambutan jurusan Cirebon. Pemberangkatan bis jurusan Cirebon ada sampai malam, maksimal pukul 10 jalan dari terminal (tergantung sudah penuh penumpang atau belum. Biasanya kalau belum penuh bisnya akan muter (keluar-masuk terminal) sampai beberapa kali.
  3. Kalau naik bis jurusan Cirebon, minta di turunin di Kedawung (terus kalian nyeberang), di seberang kalian tunggu elf jurusan Kadipaten – Bandung. Jarak tempuh sekitar 40 menit, dengan tarif 15-20 ribu.
  4. Minta supir elf untuk berhenti di perempatan Jalan Majalengka-Kadipaten (dekat Pasar Kadipaten), didekat pasar banyak angkot atau elf tujuan Majalengka.
  5. Sebagian besar obyek wisata alam di Majalengka terletak di kaki Gunung Ciremai. Setelah naik angkot atau elf yang hanya sampai di Terminal Maja, sambung naik ojek untuk sampai ke Desa Sukadana, Kecamatan Argapura. Di dalam satu area itu terdapat banyak obyek wisata, seperti Air Terjun Embun Pelangi, Goa Lalay, Curug Sawer, Lembah Panyaweuyan, Curug Muara Jaya, sampai ke pos pendakian Apuy, Gunung Ciremai.
  6. Kalau naik Kereta, turun di Stasiun Cirebon Kota atau Prujakan, lanjut cari Elf jurusan Kadipaten
  7. Waktu pulang dari Kadipaten menuju Cirebon, kami menunggu elf jurusan Cirebon dari Jalan Raya Cirebon – Palimanan. Jarak Kadipaten – Cirebon sekitar 1 jam dengan tarif 15-20 ribu. Trayek elf yang kami naiki melewati Taman Sari Goa Sunyaragi, jadi kalian bisa mampir dulu sebelum ke stasiun.
  8. Dari Taman Sari Goa Sunyaragi ke Keraton Kasepuhan Cirebon, bisa kalian akses menggunakan angkot nomer D02 dengan tarif 5 ribu. Kalian harus berjalan sekitar 600 m ke arah lampu merah sebelum Taman Sari Goa Sunyaragi (jadi kalian harus mundur lagi, karena angkot ini nggak melintas di depan Taman Sari Goa Sunyaragi).
  9. Di sekitar Keraton Kasepuhan juga terdapat banyak obyek wisata, seperti Keraton Kacirabonan, Keraton Kasepuhan, Pantai Kejawanan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan, wisata kuliner dan lainnya.
  10. Kalau mau ke Stasiun Cirebon Kota dari Keraton Kasepuhan, kita harus jalan kaki sekitar 5 menit sampai di pertigaan, terus cari angkot nomer D05 yang trayeknya lewat Stasiun Cirebon.

Oh ia, kalian tau Soerabi kan? Kalau yang udah pernah makan pasti kebanyakan dari kita makannya pakai kuah gula merah atau ditambah toping yang manis. Nah, kalau di Kadipaten Soerabinya sedikit berbeda, karena topingnya itu menggunakan sangrai oncom, sambel oncom, kuah sayur lodeh, atau hampas. Apa sih hampas? Karena di Kadipaten banyak pabrik kecap, nah sisa-sisa kedelai nya itu yang banyak dimanfaatkan atau di olah kembali, salah satunya menjadi hampas. Hampas (kedelai sisa proses pembuatan kecap ini berwarna hitam) kemudian ditumis menggunakan bawang merah, putih dan cabai. Rasanya pedas, gurih dan berbau khas seperti bau fermentasi (sepintas tumis hampas mirip tumis oncom).

dsc_7818
Soerabi hampas yang cuma ada di Kadipaten
dsc_7819
Toping berwarna hitam itu adalah hampas, sedangkan berwarna kecoklatan itu adalah oncom. Rasa keduanya gurih dan sedikit pedas

Ada aktifitas yang berbeda dari ibu-ibu warga Putat, Kadipaten. Di pagi hari, berlokasi di depan rumahnya, ibu-ibu ini sudah sibuk duduk di depan perapian, menuangkan adonan tepung beras ke dalam beberapa tungku, membuka tutup tungku memastikan bagian bawah Soerabi tidak gosong, sambil terus memastikan agar bara api tetap menyala.

DSC_7815.JPG
Salah satu ibu penjual Soerabi yang ada di Desa Putat, Kadipaten
dsc_7812
Alat masak dan proses pembakarannya pun sama dengan pembuatan Soerabi lainnya, hanya Soerabi Kadipaten memiliki toping khas dan berbeda dari Soerabi Bandung
DSC_7813.JPG
Selagi hangat, fresh from the oven. Siapa yang penasaran dengan cita rasa Soerabi khas Kadipaten?

Harga sebuah Soerabi (baik rasa original atau dengan hampas) seharga 1000 rupiah. Di makan saat masih hangat terasa nikmat. Rasanya sedikit berbeda karena rasa Soerabi ini pedas, gurih, dan memiliki aroma khas fermentasi dari hampasnya. Soerabinya tebal, makan satu aja sudah buat Saya kenyang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s