6# RUSHPACKER-an KE BALI, BANYUWANGI DAN SURABAYA DENGAN CUTI 3 HARI (RUMAH SINGGAH BANYUWANGI, HOUSE OF SAMPOERNA, PANTAI RIA KENJERAN)

Liburan kami di Pulau Bali telah berakhir, saatnya Saya dan Fanni melanjutkan perjalanan menyeberang ke Banyuwangi via Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang naik bis apapun yang penting jurusannya ke Jawa Timur.

Seharusnya jadwal kami ke Banyuwangi start di pagi hari biar sampai sana nggak terlalu siang, jadi masih bisa mampir ke Kawah Wurung atau Pantai Boom dan obyek wisata yang ada di sekitarnya. Tetapi rencana berubah karena kami baru jalan ke Terminal Ubung jam 6 sore dari tempat terakhir kami menginap di daerah Kuta.

Mengejar waktu biar nggak semakin malam, akhirnya kami memutuskan naik UberCar (dari rencana awal mau naik angkot) ke Terminal Ubung. Mengikuti tips dari beberapa blog yang Saya baca, Saya meminta pak supir untuk menurunkan kami di luar terminal biar nggak kedapetan bis yang lama ngetem. Tapi nyatanya, bis yang kami naikin masih ngetem juga di beberapa titik, jadi total buat cari penumpang aja sekitar 1 jam. Setelah itu perjalanan dari Denpasar ke Gilimanuk sekitar 2 jam, penyeberangannya sendiri ke Ketapang 1 jam. Dari Ketapang ke Stasiun Karangasem masih sekitar 7 km lagi.

DSC_7808_2.JPG
Nggak terlalu ramai, tapi juga nggak sepi. Kalo bosen duduk di dalem, liat-liat pemandangan di luar, tapi awas nanti masuk angin
DSC_7814_2.JPG
Bosen duduk di dalem nggak bisa ngeliat pemandangan, Saya dan Fanni duduk di dek atas. Curhat-curhatan di bawah cerahnya langit dan bulan malam itu. Penyeberangan 1 jam jadi nggak terasa

Rumah Singgah Banyuwangi – Depan St. Karangasem

Pukul 12 malam, finally kembali menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Setelah bertanya ke supir Bus Margahayu Ladju tentang tujuan kita yang sebenarnya, akhirnya Saya dan Fanni diturunin di pinggir Jalan Jaksa Agung Suprapto (deket Stadion Diponegoro Banyuwangi, rute kita waktu ke Stasiun Karangasem). Tengah malam, jalan udah sepi, angkot udah pasti nggak ada, nyari ojek nggak ketemu, pas ngecek Mr. Google Maps ternyata jarak ke St. Karangasem masih sekitar 3KM lagi (lumayan juga). Mau nggak mau akhirnya kita jalan pelan-pelan sambil berharap ada orang yang bisa kita maintain tolong.

Satu dua motor lewat, sesekali mobil juga lewat dengan kecepatan tinggi. Mau minta tolong dengan nyetop mobil juga ragu , soalnya jalan yang kita lewatin waktu itu sepi dan temaram banget lampunya. Tetap PD, jadi jalan aja terus sambil ngobrol ngalor ngidul biar nggak terasa cape (sampai detik itu kita masih belum sadar kalau bingkai foto yang Fanni beli di Ubud seharga 95 ribu, yang kalau udah sampai Jakarta harganya jadi 300-450 ribu ketinggalan di bis).

Nggak lama, Saya dan Fanni melihat mobil bak terbuka melintas. Dalam hati, andai itu mobil bisa nganterin kita ke stasiun. Tapi apa daya, karena mobil itu ngebut, nggak mungkin juga kita ngejar terus teriak-teriak minta di anterin. Sambil jalan kita cuma bisa pasrah ngeliat mobil tersebut semakin jauh dari pandangan. Ya udah…yuk kita jalan lagi. Santai aja…

Ehhhh…..lagi enak-enak jalan, dari kejauhan kita ngeliat mobil bak terbuka yang tadi lewat lagi berenti. Wah, kesempatan. Saya dan Fanni langsung memikirkan hal yang sama. Kata Fanni, “Tur, loe berani nggak minta tebengan ke mobil itu? Tapi kita liat dulu ya orangnya kayak gimana. Kalau kelihatannya baik gw berani minta tolong.” Kami segera mendekati mobil itu.

img-20160908-wa0104
Ekspresi kita begitu dapet tumpangan. Masih happy-happy dan masih belum “ngeh” kalau bingkai foto yang Fanni beli di Ubud, ketinggalan di bis jurusan Jember. Captured by Fanni

Dengan sopan, Saya dan Fanni menyapa bapak yang sedang duduk di kursi penumpang, karena ternyata si supir sedang mengambil uang di ATM. Setelah menjelaskan kalau kami butuh tumpangan ke stasiun dan memastikan jaraknya nggak terlalu jauh, sepertinya bapak tersebut memberikan sinyal positif dan mau menolong kita. Setelah si supir keluar dari ATM, Saya dan Fanni dengan sopan kembali menjelaskan kalau kita lagi butuh tumpangan. Sebenarnya mereka juga nggak tau stasiunnya di mana, tetapi setelah kita pastiin lagi kalau jaraknya nggak jauh, dan kita yang memandu akhirnya mereka mau nganterin kita ke stasiun.

Saya dan Fanni langsung naik ke bak belakang. Yuhuuu…seneng banget karena bisa dapet tumpangan! Nah, pas diunjukin arah sama Fanni ternyata lokasinya itu jauuhhhh ya….(nggak kebayang kalo kita masih tetep harus jalan. Terima kasih Tuhan!!)

IMG-20160807-WA0000[1].jpg
Mas Mayhesa memiliki 2 rumah singgah, rumah pertama letaknya percis di depan Stasiun Karangasem-Banyuwangi. Rumah kedua, letaknya sekitar 50m sebelum Stasiun Karangasem. Foto pribadi milik Mayhesa

13906625_1052189971530670_2319546908801793592_n

Situasi rumah singgah malam itu diramaikan dengan beberapa rombongan yang sedang bersiap ke Kawah Ijen. Saya jadi ngiri, jadi pingin ikut! Coba masih punya bayak waktu di sini…hufftt…! Setelah rombongan tersebut pergi, rumah singgah ini jadi agak sepi, setelah izin ke Mas Hesa, Saya dan Fanni memutuskan untuk tidur karena besok kereta tujuan Surabaya berangkat jam 7 pagi.

DSC_7820_1.JPG
Stasiun ini terletak di Jalan Bakungan, Glagah, Kab Banyuwangi-Jawa Timur. Rumah Singgah Mas Mayhesa strategis banget, karena letaknya nggak terlalu jauh dari beberapa obyek wisata yang ada di banyuwangi, deket stasiun yang menghubungkan ke kota-kota di Jawa Timur. Setelah Karangasem, adalah Stasiun Banyuwangi (stasiun akhir yang dekat dengan Pelabuhan Ketapang)
DSC_7822_1.JPG
Situasi pagi menunggu Kereta Sri Tanjung, tujuan Surabaya Gubeng dengan lama perjalanan sekitar 6 jam (Banyuwangi-Surabaya)

Surabaya,  

Masih tersisa 6 jam sebelum Saya dan Fanni kembali ke rumah masing-masing. Mengandalkan UberCar, kami mampir ke tempat berikut,

IMG20160815152156.jpg
Masuk ke museum ini tidak dikenai biaya. Aroma tembakau dan cengkeh bau khas pabrik rokok langsung menyeruak begitu kalian menginjakkan kaki di ruangan utama museum. Seperti time mechine, saat melihat beberapa koleksi unik dan jadul seperti bungkus korek api, bungkus rokok, beragam bentuk pematik api, alat cetak bungkus rokok, cap merk rokok, foto-foto pekerja pabrik mulai dari memanen cengkeh dan tembakau, proses melinting, hingga pengepakan. Sayang waktu kami sampai sana pekerja pabriknya sudah pada pulang
img20160815163236
Patung Dewi Kwan Im yang ada di Pantai Ria Kenjeran. Masuk ke obyek wisata ini dikenai biaya 15 ribu. Ada banyak fasilitas di sini, seperti permainan anak, kios pernak-pernik, kolam renang, pemancingan, jajanan khas pasar, sampai tempat peribadatan umat Budha (seperti TMII). Tempat Wisata ini berdekatan dengan Jembatan suramadu.
IMG20160815164703.jpg
Patung Buddha empat wajah, dan 8 tangan (masih di komplek Pantai Ria Kenjeran, letaknya percis di depan Klenteng Sanggar Agung). 4 wajahnya menggambarkan murah hati, pengasih, adil dan meditasi. 8 tangan melambangkan kekuatan dari sang Buddha, dengan memegang benda yang berbeda. Patung ini hampir mirip seperti patung Buddha yang ada di Thailand

Tidak mau diburu-buru waktu seperti kejadian berangkatnya, setelah dari Kenjeran kami langsung menuju ke Bandar Udara Internasional Juanda dan lebih memilih untuk duduk duduk santai sambil menunggu penerbangan.

Itinerary (rencana perjalanan) dan list biaya perjalanan Saya selama cuti 3 hari ke Bali, Banyuwangi dan Surabaya, akan Saya share selanjutnya. Di tunggu yaa…^^

IMG20160812174106.jpg
are you ready for the next steps…?
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s