5# RUSHPACKER-an KE BALI, BANYUWANGI DAN SURABAYA DENGAN CUTI 3 HARI (BALI-MUSEUM BLANCO, TEGALALANG TERRACE, GEREJA KATEDRAL DENPASAR)

Siang itu, sekitar pukul 1 akhirnya kami sudah kembali di pos pendakian Gunung Batur via Toya Devasya. Seru dan seneng, akhirnya kesampaian juga bisa mendaki Gunung Batur meskipun bukan pas sunrise. Setelah mengucapkan terima kasih ke Beli Komang (guide kami yang baik hati, sabar dan asik di ajak ngobrol) akhirnya kami kembali melaju kendaraan untuk balik ke Kuta. Di tengah jalan, Saya dan Fanni masih terkagum dan keheranan karena baru beberapa jam yang lalu kami ada di atas sana melewati trek yang kini hanya bisa pandang dari jauh (melihat ke Puncak Batur dan bersumpah dalam hati Saya pasti kesini lagi).

DSC_7793.JPG
Gunung Batur dilihat dari jauh

Cuaca Batur sejuk-sejuk bikin menggigil, nggak kebayang bagaimana dinginnya dareah ini disaat malam. Di persimpangan jalan kami sempat dibuat galau mau mampir ke Desa Trunyan apa nggak, soalnya di hadapan kita itu sudah Jalan Trunyan, tinggal mengikuti jalan yang percis bersebelahan dengan Danau Batur sekitar 1 jam, kita bisa mampir melihat pemakaman Desa Trunyan yang unik berkat adanya Pohon Tarumenyan Tapi apa daya, karena hari sudah terlalu siang dan mengingat perjalanan dari Batur ke Kuta jauh banget, alhasil Saya dan Fanni memilih pulang tapi lewat Tegalalang biar bisa mampir sekalian ke terasering sawah yang terkenal di Bali, baru ke Ubud, lanjut pulang ke Kuta.

Tegalalang Terrace

Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam berkendara dari Batur menuju tempat ini. Sebenarnya kalau kalian start-nya dari Kuta, yang penting menuju ke Ubud dulu (sekitar 40 menit). Soalnya kalau mau ke Batur lewat Ubud banyak akses jalan yang bisa kalian lintasi, jadi pas lewat, bisa sekalian mampir ke obyek wisata yang ada di sekitarnya, misal bisa lewat Tegalalang atau Tampaksiring.

IMG20160813174536.jpg
Terasering sawah yang ada di Tegalalang. Untuk menikmati panorama alam ini hanya dikenai biaya parkir kendaraan. Letaknya ada di belakang rumah makan yang berjajar disepanjang obyek wisata ini. karena baru di panen, jadi teraseringnya belum terlihat begitu hijau 

Di Ubud sendiri, banyak banget tempat yang bikin kalian mau mampir, mulai dari butik atau toko dengan disain interiornya yang unik-unik, penjual tas kulit dengan model yang nggak pasaran, pernak pernik lucu dan unik, museum, obyek wisata alam, tempat makan, pura, dan sebagainya. Salah satu tempat menarik yang bisa kalian datangi saat berada di Ubud adalah The Blanco Renaissance Museum.

IMG20160813152300.jpg
Pigura besar yang terdapat di pintu masuk Museum Blanco. Tampak di pigura tersebut adalah sang maestro seni lukis, Don Antonio Maria Blanco
img20160813160330
Asri adalah kesan pertama begitu kalian memasuki museum ini. Captured by Fanni

Begitu sampai di depan gerbang museum ini kesan pertama yang Saya tangkap adalah asri. Tulisan Antonio Blanco yang tertera di gapura pintu masuk memudahkan wisatawan yang mau melihat karya lukis dari seniman keturunan Spanyol dan Amerika tersebut. Di rumah pribadinya, semua karya lukis Blanco di pajang menggunakan figura yang unik dan keren-keren banget.

IMG20160813154738_1.jpg
Salah satu sudut yang ada di Museum Blanco. Tidak semua bagian di museum ini boleh di foto pengunjungnya, seperti di rumah utama dimana hampir sebagian besar hasil lukisannya adalah memperlihatkan keindahan wanita. Captured by Fanni
IMG20160813152241.jpg
Ukiran pintu masuk yang sangat detail dan indah. Nggak cuma di sini aja, kita akan sering melihat ukiran kayu yang ada di pigura, lis pintu atau kaca di setiap sudut museum ini

DSC_7868.JPG
Harga tiket masuk museum ini adalah 30 ribu per-orang, sudah termaksud welcome drink dan bebas foto dengan burung kakak tua yang ada di taman museum. Setelah lelah mengelilingi museum, tukarkan tiket kalian untuk menikmati segelas minuman segar, khas dari Rondji Restaurant 
DSC_7869.JPG
Ini dia penampakan minuman segar yang dibuat dari beberapa rempah-rempah (sutt…Saya lupa apa nama minuman ini). Rasanya itu manis, dan ada wangi harum yang Saya nggak tau dari rempah-rempah apa. Restaurant ini cozy banget, asik buat santai sambil makan atau nyemil

Hari terakhir di Bali, Saya dan Fanni menyempatkan diri untuk berdoa di Gereja Katedral Denpasar. Pondasi bangunan ini hampir seluruhnya dibagun menggunakan batu bata merah. Di dekat altar ada 2 pilar besar dengan relief patung malaikat bergaya Bali. Di atas salib Yesus terlihat relief burung merpati dan malaikat surga yang bersukacita.

DSC_7812_1.JPG
Besar, dan megah. Jadi pingin jalan di tengah altar sambil gandeng tangan cowok #eaaaaa #tersipumalu #doayanggiatbiardapetjodoh #AMIN 🙂
dsc_7813_1
Altar gereja dengan relief malaikat kecil dan burung merpati

Dari Bali, Saya dan Fanni melanjutkan perjalanan menyeberang Selat Bali menuju Rumah Singgah Banyuwangi yang ada di dekat Stasiun Karangasem. Curhat-curhatan di kapal laut, serunya ngompreng biar nggak jalan jauh, sampai baru sadar kalau ternyata pigura Fanni ketinggalan di Bis Margahayu Ladju tujuan Jember. Keseruan Saya rushpacker-an di Bali, Banyuwangi dan Surabaya hampir berakhir. Keep staytune yaa…^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s