Liburan ke Wonosobo & Temanggung Tanpa Cuti – 2 (Dataran Tinggi Dieng)

Saya sudah membahas Liburan ke Wonosobo & Temanggung Tanpa Cuti – 1 (Lubang Sewu Erorejo). Masih di satu kabupaten Wonosobo, saatnya keliling Dieng Plateau yang memiliki beragam wisata alam dan budaya, mulai dari Candi Hindu, telaga, kawah, gunung, mata air, museum, theater, gardu pandang, hingga festival budaya.

IMG_20151121_112250.jpg
Selamat datang di Dieng

Dieng Plateau

Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran tinggi terluas yang melingkupi 6 kabupaten (Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Kendal, Batang, dan pekalongan).

DSC_1250[1]
Jalan beraspal mulus dengan pemandangan perbukitan

Jalan menuju Dieng Plateau beraspal mulus dengan pemandangan perbukitan yang sebagaian besar di tanami sayur mayur & kentang. ‘Saking’ luasnya wilayah ini dan mengingat waktu yang terbatas, kami hanya memilih tempat berikut untuk di kunjungi,

Komplek Candi Arjuna di Dieng Kulon, Batur, Kecamatan Banjarnegara

DSC_6334.JPG
Tiket masuk Candi Arjuna & Kawah Sikidang

Di komplek candi ini terdapat Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Setelah membeli tiket seharga 10 ribu (sudah termaksud tiket Kawah Sikidang) – tidak jauh dari loket ada tangga yang langsung terhubung ke jalan conblock di mana kanan kirinya dipenuhi Bunga Kecubung Gunung. Tidak mau melewatkan moment, akhirnya kami foto-foto karena jalan ini terlihat fotogenik.

IMG_20151121_114813.jpg
Asri dan sejuk
DSC_1297[1].JPG
Bunga Kecubung Gunung dengan warna kuningnya yang kontras dengan warna sekitar

Perjalanan ini membuat perut kami sering keroncongan, tapi jangan khawatir karena di sini ada penjual siomai, yang lumayan untuk mengganjal perut.

Mata masih dimanjakan dengan hijaunya pepohonan di kanan kiri jalan, namun hati bertanya tanya, kira kira seperti apa komplek candi yang akan kita lihat nanti?

DSC_1254[1]
Jalan conblock yang hijau di kanan dan kirinya

Di ujung jalan Saya melihat pemandangan unik, 2 badut “Shaun the sheep” sedang duduk di kursi taman seakan sedang menikmati pemandangan dan menyapa setiap pengunjung yang datang. Mereka lucu, pas banget dipadukan dengan panorama alam di sekitar candi (seperti di habitat aslinya) – akhirnya beberapa teman minta foto dengan badut domba itu (jangan lupa kasih tip, ya).

DSC_1253[1]
Pemandangan sekitar candi

Jalan conblock sepanjang kurang lebih 400m akhirnya membawa kami ke areal lapang. Di tengahnya berdiri candi khas Hindu yang menjulang tinggi di kelilingi bukit, pepohonan pinus, dan area rumput hijau. Saya jadi berfikir, kenapa ‘mereka’ memilih membangun candi di sini, dan seperti apa tempat ini dulunya? (coba Saya memiliki kemampuan bisa melihat masa lalu. Pasti seru :P)

DSC_1271[1]
Candi Arjuna
DSC_1255[1]
Ada beberapa bangunan candi yang sedang di pugar
DSC_1272[1]
Komplek candi ini dikelilingi bukit, pepohonan dan area rumput hijau

Tidak jauh dari candi, ada tanah lapang yang disediakan untuk membangun tenda. Areal ini akan ramai dipenuhi wisatawan yang nggak kebagian penginapan dan memilih untuk membangun tenda saat event budaya terbesar Dieng Culture Festival, yang diadakan setahun sekali dipertengahan tahun.

Kawah Sikidang

Biaya masuk kawah ini include dengan tiket masuk Komplek Candi Arjuna (saat pemeriksaan tinggal tunjukin karcis yang sebelumnya). Kalau mau keliling objek wisata yang ada di Dieng enaknya sewa kendaraan, karena objek wisata disana letaknya cukup berjauhan. Nah, jarak dari Candi Arjuna ke Kawah Sikidang sebenarnya tidak terlalu jauh, nggak sampai 10 menit berkendara, cuma kalau harus jalan kaki ya lumayan pegel juga.

DSC_1309[1].JPG
Pintu masuk ke Kawah Sikidang

Mendengar Kawah Sikidang, jujur, sempat nggak tertarik karena, ahh.. mungkin tempatnya cuma begitu aja. Tapi, coba deh kalian masuk, melihat dan merasakan langsung. Selain karena tempat ini luas banget, Saya takjub karena bisa melihat kawah aktif (yang nggak harus capek-capek mendaki ke puncak gunung dulu, karena ternyata Dataran Tinggi Dieng ini seperti Yellowstone atau Dataran Tinggi Tengger yang memiliki aktivitas vulkanis dibawah permukaan tanahnya ) – spesialnya karena kawah ini terletak di area datar.

DSC_1311[1].JPG
Area yang luas. Di sebelah kiri pembangkit listrik, sedangkan di sebelah kanan adalah kawah utama

Potensi panas bumi yang ada di sekitar kawah ini juga begitu besar sehingga di gunakan sebagai pembangkit listrik, yang dikelola oleh perusahaan pemerintah.

Untuk sampai ke kawah utama, wisatawan disarankan melewati track conblock karena tanah di sekitarnya itu ada yang mengeluarkan belerang (buat yang gampang pusing, atau sesak nafas, harus bawa masker yang tebal dan jangan terlalu dekat dengan sumber belerangnya, karena bau belerang di sini sangat menyengat).

DSC_1329[1].JPG
Lihat tongkat yang terpatok itu, disana asap belerang keluar dari dalam tanah

Buat yang nggak mau terlalu dekat ke kawah utama, kalian bisa melihat souvenir yang ditawarkan di sepanjang jalan. Sambil menunggu teman yang mendekat ke kawah, kalian juga bisa beli kentang buat oleh-oleh, jajan kentang goreng rasa rasa, naik kuda atau foto sama burung hantu.

DSC_1336[1]
Kuda putih yang sedang menunggu penumpang
DSC_1339.JPG
Burung hantu-nya bertubuh besar dan cantik cantik banget

Di dekat kawah utama ada jalan mendaki ke atas bukit. Tanah di bukit ini cukup tandus dan harus berhati-hati biar nggak tergelincir karena bukit ini lumayan curam.

IMG_20151121_134738.jpg
Bukit tandus di sebelah kawah utama
IMG_20151121_134909.jpg
Pemandangan dari atas bukit

Dari atas, kalian bisa melihat panorama alam yang ada di sekitar Kawah Sikidang dengan leluasa.

DSC_1344[1]
Pemandangan dari atas bukit (1)
DSC_1343[1]
Pemandangan dari atas bukit (2)

Kawah Sikidang sudah, sekarang saatnya ke next destination, Batu Ratapan Angin.

Menikmati Telaga Warna dari Batu Ratapan Angin di Desa Jojogan-Kejajar-Wonosobo

DSC_6333.JPG
Tiket masuk Ratapan Angin

Menikmati telaga warna dari Batu Ratapan Angin dikenai tiket masuk lagi sebesar 10ribu. Pintu masuk pesona alam ini ada di sebelah Theater Dieng Plateau, berupa undakan tangga batu yang akan membawa kalian masuk ke zaman batu. Kenapa? Ia, karena selama tracking ke batu ratapan angin kalian akan melihat dinding dinding batu besar dimana mana.

IMG_20151121_145552.jpg
Dinding dinding batu tinggi nan besar
IMG_20151121_143132.jpg
Lahan di kawasan ini tetap digunakan untuk perkebunan

Uniknya, tanah yang ada di antara batuan ini tetap dimanfaatkan untuk lahan perkebunan, baik untuk menanam carica, sayuran atau kentang.

IMG_20151121_145510
Kebun warga di antara sela sela tebing batu

DSC_1382[1].JPG
Lahan yang siap di tanami bibit
DSC_1350[1].JPG
Sejauh mata memandang melihat perkebunan warga

Jangan bingung, karena selama menuju ke Batu Ratapan Angin sudah ada jalurnya, kalian hanya tinggal mengikuti undakan-undakan bebatuan.

DSC_1348.JPG
Track berbatu untuk menuju ke Ratapan Angin

Sesampainya di atas, telaga warna yang dikelilingi perbukitan akan terlihat jelas, dari sini kalian juga bisa melihat semburan gas dari Kawah Sikidang.

DSC_1360[2].JPG
Pemandangan dari atas Batu Ratapan Angin. Hati hati karena area sekitarnya langsung berbatasan dengan jurang yang tinggi
DSC_1352[1].JPG
Sudut pandang lain dari Batu Ratapan Angin

Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa

IMG_20151121_155518.jpg
Pintu masuk Desa Sembungan

Hari semakin sore, tempat terakhir yang kami datangi selanjutnya adalah Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Desa ini dikelilingi oleh gunung gunung dan di tengah desa ini ada sebuah telaga.

DSC_1384[1].JPG
Desa yang di kelilingi bukit. Seperti ada unsur magis melihat desa ini tertutup kabut

Kami tidak menjelajah lebih jauh ke dalam desa ini, tapi dari papan petunjuk yang ada, dari sini kalian juga bisa ke Gunung Paku Wojo, Air Terjun Sikarim, Golden Sunrise Bukit Sikunir, Telaga Cebong dan tentunya banyak homestay di sini.

DSC_1392.JPG
Papan petunjuk wisata lain yang bisa di temukan di daerah ini

Tadinya kami mau mendaki Bukit Sikunir, saat dilihat dari jauh, bukitnya lagi tertutup kabut, kondisi sore itu juga gerimis, akhirnya kami hanya foto-foto di sekitaran desa.

DSC_1386[1].JPG
Pemandangan desa dari sudut berbeda
DSC_1395[1].JPG
Di area pintu masuk Desa Sembungan

DSC_1394.JPG
Bukit yang ditanami kentang

Sebelum ke Temanggung, kami mampir ke rumah Pak Didik (guide kami asli Dieng). Selama memandu, beliau sangat ramah dan paling bersemangat untuk foto fotoin kita. Di rumahnya, kami di suguhi teh hangat dan bisa membeli Carica (manisan buah khas Dieng yang di buat sendiri). Buah Carica mirip seperti papaya muda yang berukuran kecil, rasanya manis dan renyah. Minum manisan ini selagi dingin seger dan enak.

Untuk masalah makan, jangan khawatir karena banyak penjal makanan di sekitar Dieng. Selain Mie Ongklok, kalian juga bisa makan di warung nasi (kebanyakan warung nasi di sini, nasi & lauknya kita ambil sendiri, terus harganya juga murah meriah).

Perjalanan ke Jumo – Temanggung melewati perkebunan Teh Tambi, yang terletak di kaki Gunung Sumbing. Lewat jalan ini di malam hari (padahal pemandangan sepanjang jalan ini bagus banget) – nggak ada penerangannya sama sekali, udah gitu jalannya tidak terlalu lebar dan aspalnya berlubang lubang. Setelah beberapa jam berguncang-guncang di dalam mobil, kami bisa melihat lautan cahaya lampu Kota Temanggung yang sangat indah.

‘Temanggung Bersenyum’, semboyannya aja udah ada unsur ‘senyum senyumnya gitu’, apalagi nanti Saya kasih lihat keindahan Posong dan Embung Kledung? Semua keindahannya akan membuat kalian tersenyum… tunggu di postingan selanjutnya ya 🙂

DSC_1437[1].JPG
Posong Im In Love
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s