Liburan ke Wonosobo & Temanggung Tanpa Cuti – 1 (Lubang Sewu Erorejo)

Merencanakan liburan ke Wonosobo dan Temanggung ternyata bisa kita lakukan tanpa mengambil cuti. Di Wonosobo kita bisa melihat karya alam yang sudah terjadi selama bertahun-tahun di Lubang Sewu Erorejo. Wisata Dieng Plateau yang memiliki banyak gunung dan kawah. Menikmati indahnya panorama Posong yang terletak di antara Gunung Sumbing dan Sindoro, lantas melihat kolam tadah hujan buatan di Embung Kledung, terakhir lokawisata di Baturraden Purwokerto.

Langkah pertama yang harus di lakukan :

  1. Cari tiket kereta yang berangkat Jumat malam ke Stasiun Purwokerto.
  2. Sewa mobil yang akan mengantar keliling Wonosobo dan Temanggung.
  3. Cari penginapan di sekitar Temanggung

Kereta paling malam yang berhenti di St. Purwokerto adalah Senja Utama Solo yang berangkat pukul 22.00 dan tiba di Purwokerto pukul 3 pagi. Sampai stasiun, sudah langsung di jemput oleh guide kami asal Dieng dan meluncur ke Wonosobo.

Lubang Sewu kawasan Waduk Wadaslintang, Desa Erorejo

Sebelum sampai wilayah ini, kalian akan melintasi 4 kabupaten, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, & Wonosobo yang menghabiskan waktu tempuh sekitar 4 jam.

Screenshot_2016-03-19-23-40-19.png
Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo

Memasuki wilayah Kemiriombo, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, perjalanan menjadi semakin menarik karena bentang alammnya yang mempesona. Jalan berliuk dengan pepohonan pinus yang tinggi, serta pemandangan lembah yang masih tertutup kabut pagi itu.

DSC_1164[1].JPG
Kondisi jalan pagi hari di Wilayah Kemiriombo
IMG_20151121_053928[1].jpg
Pohon Pinusnya tinggi-tinggi

Kami melintasi wilayah ini tepat saat sunrise. Padahal kami tidak tau akan ada tempat sebagus ini yang pas untuk menikmati matahari terbit, akhirnya kami memberhentikan pak supir secara mendadak biar bisa mengabadikan moment tersebut.

DSC_1169[1].JPG
Pasukan pembela ‘tongsis’

Lembah hijau berbukit membentang di hadapan kami, kabut tipis masih menyelimuti tempat itu. sementara sinar mentari keemasan terlihat berpendar di balik awan yang masih pekat.

DSC_1154[1]
Lembah yang masih tertutup kabut bersama mentari yang masih tertutup awan
DSC_1159[1].JPG
Matahari masih mengintip di balik awan

Puas menikmati keindahan tempat ini dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Erorejo. Buat yang gampang mabuk darat, harus siap-siap minum obat karena jalannya akan sangat berliku dan naik turun. Meskipun jalannya bikin nyiksa, tapi pemandangannya bagus banget dan beraspal mulus.

Ada satu panorama di mana sawah hijau membentang dan sungai mengalir di dekatnya, ditambah tebing-tebing gunung tinggi menjulang berdiri kokoh di sekitarnya, rasanya seperti tidak sedang di Wonosobo (sayang nggak sempet foto karena pak supirnya ngebut).

Pintu masuk ke Waduk Wadaslintang ini tidak terlalu lebar dan agak terpencil, masuk di gang sempit yang di padati rumah penduduk. Jalan yang hanya muat satu mobil ini akan membawa kami sampai ke area parkir yang tidak terlalu luas. Karena masih pagi, belum ada tukang parkir ataupun penjual tiket terlihat, kami pun menjadi wisatawan pertama yang datang ke tempat ini.

Sesampainya di Waduk Wadaslintang, kami penasaran di mana letak “Grand Canyon” ala Wonosobo ini. Ternyata kami harus jalan dulu, lewati tanah merah (sekitar 500m) yang langsung pada nempel di sepatu pas diinjek (semakin parah karena semalam habis hujan). Setelah melewati jembatan bambu, batuan yang memiliki guratan guratan khas ini mulai tampak, dan akan semakin terlihat kalau kalian jalan lagi sekitar 500 m.

Kalau menurut Saya (pandangan kaum awam) guratan dan lubang yang ada di batu ini akibat aliran air tanah yang perlahan mengikis batuan bertahun tahun sehingga berlubang dan membuat guratan khas. Kalau diperhatikan, batuan ini seperti terkubur dari dalam tanah, dan di perkirakan jumlahnya masih banyak dan menyebar di sekitar Waduk Wadaslintang.

DSC_1198[1]
Di perkirakan batuan ini masih banyak terkubur di dalam tanah yang tersebar di sekitar waduk
DSC_1246[1].JPG
Guratan guratan yang di bentuk oleh alam
DSC_1240[1]
Celah dan lubang yang terdapat di batu

Kami sangat bersemangat untuk foto-foto, meskipun terlihat kokoh, tapi di beberapa titik ada batuan yang cukup rapuh sehingga kita harus berhati hati memilih pijakan. Perhatikan papan yang dipasang di beberapa titik, jangan menginjak atau foto di bawah batu yang ada tanda peringatannya karena takut roboh.

DSC_1205[1].JPG
Papan peringatan batuan yang rapuh

Di beberapa titik kalau foto dengan background bebatuan ini mirip seperti di Kapadokia Turki atau Mesir dengan patung Sphinx-nya.

DSC_1181[1].JPG
Seperti di Kapadokia versi mini. Sayang ada sampah di mana-mana
DSC_1226[1].JPG
Patung Sphinx hadap samping ala Lubang Sewu Erorejo
DSC_1236[2].JPG
Bebatuannya mulai banyak yang hancur
IMG_20151121_074742[1].jpg
Batu lubang sewu tampak atas
IMG_20151121_080126[1].jpg
Batu lubang sewu tampak dari atas (2)

Matahari semakin terik, kami memutuskan untuk mengakhiri foto-foto dan bersiap untuk ke destinasi selanjutnya, Dieng Plateau.

DSC_1360[1].JPG
Batu Ratapan Angin, Dieng
Iklan

4 Comments Add yours

    1. Makasih ka endah. Aq lagi rajin nulis nih dan akan tetep nulis sampai….. Hmm…wkt yg nggak di tentukan 😀

      Suka

  1. Char Lie berkata:

    Brp orang tuh.. Sewa mobilnya brp rp? Kl cm solo backpacker nyesek jg duit ya sewa mobil.. Hehe

    Suka

    1. Waktu itu kita ber7. Guide kita orang dieng punya teman penyewa mobil, jadi biaya guide+mobil habis 900.Kalo sendiri ngenteng/sewa motor lebih enak

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s