RHYTHM OF SUMMER #6 MENYUSURI BUKIT MENOREH YANG TAK BERUJUNG, SAMPAI FOTO WAJIB DI TENGAH SAWAH

Desa Tingal, Wanurejo – Borobudur adalah kampung halaman yang tidak pernah membosankan. Di kelilingi Perbukitan Menoreh membentang sepanjang Yogyakarta dan Jawa tengah – menjadikan desa ini sedap di pandang.

DSC_0006[1].JPG
Sawah dengan latar belakang Pegunungan Menoreh
Kisah si Bubur Putih

Di awali sarapan bubur di Pasar Borobudur, bubur ini sangat khas dan memiliki cerita spesial di baliknya. Dahulu, sewaktu eyang kakung dan putri masih ada, Saya suka banget sama bubur yang mereka beli. Sewaktu bubur itu di buka, uap panas keluar bersamaan dengan bau khas karena bubur ini di bungkus dengan daun pisang.

Bubur putih yang sedikit encer ini begitu nikmat saat dimakan bareng tempe goreng tepung, apalagi di makan saat bubur masih panas. Sampai sekarang kalau Saya makan bubur ini, pasti ingat mereka sewaktu dulu kita makan bersama di meja makan. Apalagi di tutup dengan minum teh tubruk melati yang juga memiliki aroma khas.

DSC_0674[1].JPG
Buburnya makan di tempat, jadinya nggak di bungkus daun pisang. Selain gorengan, bisa di makan bersama pilihan lauk & sayur lainnya
Bukit Menoreh yang Tak Berujung

Selesai sarapan, Saya masuk ke pasar mencari bunga untuk nyekar. Saya memperhatikan ibu ibu yang belanja di sini, mereka selalu membawa keranjang belanjaan. Sepertinya mereka sudah terbiasa, karena bude-bude Saya kalau ke pasar juga membawa keranjang belanja.

Sudah mendapat bunga untuk nyekar, kami langsung bertolak menyusuri sepanjang jalan Raya Desa Tingal Kulon, menuju ke arah Jogja via Kulon Progo. Menyusuri Desa Candirejo kalian akan disuguhkan pemandangan lahan pekebunan di sisi kanan kiri ditambah gugusan Perbukitan Menoreh. Sepanjang Jalan ini, beraspal tapi tidak terlalu mulus dan di titik tertentu ada jalan yang begelombang.

Motor yang Saya naiki memasuki daerah Pucungan, kemudian menuju Desa Sambeng dan mengantar kami sampai di Bigaran. Samar-samar liukan Sungai Progo yang muncul di balik pepohonan akan membuat kalian takjub karena sungai ini sangat lebar. Kalau lagi musim hujan arusnya bisa sangat deras (dimanfaatkan untuk rafting), tapi saat musim kemarau, yang terlihat hanya batu yang berserakan di sekitarnya, sedangkan lebar air yang mengalir tidak sampai setengah dari lebar sungai.

Sampai di Bigaran, kalian akan menemukan Pasar Jagalan – di sini ada petigaan dengan papan petunjuk mau ke Gao Maria Sendangsono atau ke Puncak Suralaya/Suroloyo. Kami belok kanan ke arah Klagan, setelah mengikuti jalan aspal yang semakin lama semakin mulus, kami terbawa hingga ke daerah Kerug Munggang.

Daerah klagan sampai ke Kerug Munggang, kalian akan menyusuri jalan aspal yang tidak terlalu lebar, di mana rumah penduduk letaknya berjauhan di antara rimbunnya pepohonan. Jalannya selalu menanjak, dan berliuk. Semakin ke atas kalian akan disuguhkan perbukitan hijau nan luas – kalau cuaca cerah kalian juga bisa melihat kokohnya 3 gunung.

DSC_0683.JPG
Hamparan bukit hijau nan luas, yang bisa kalian nikmati selama perjalanan ke tempat ini

Perjalanan kami harus terhenti di depan sebuah tebing batu besar dan sangat tinggi. Karena selama di perjalanan arah pandangan mata sangat luas, jadi kami bisa memantau/melihat pergerakan awan, dan memang saat itu di tempat tertinggi dari bukit ini sudah di tutupi awan kelabu.

Di depan kami masih membentang jalan menurun beraspal yang tidak tahu ujungnya ke mana, tapi kami memutuskan untuk putar arah dan kembali pulang.

Sawah Desa Tingal Wanurejo

Rasa penasaran dengan Bukit Menoreh akhirnya berkurang (belum puas karena perjalanan kami terhenti di sebuah tebing batu yang besar dan tinggi – nggak bisa naik ke puncak tebingnya karena cuaca mendung & penasaran pingin eksplor sampai ke ujung bukit).

Karena sore harinya Saya akan balik ke Jakarta, jadi sisa waktu luang ini Saya gunakan untuk keliling desa pakai sepeda. Saya langsung pergi ke rumah pakde untuk pinjem sepeda. Kayaknya tuh sayang banget kalau setiap pulang ke rumah nggak mampir ke sawah yang dekat Balaidesa Wanurejo.

DSC_0004[1].JPG
Foto di tengah sawah. Sawahnya lagi hijau. Seger lihatnya 🙂

Rute gowes keliling desa, Saya mulai dari Jalan Brojo Macan sampai Brojonalan, Candi Pawon. Ketemu pertigaan jalan raya Balaputradewa belok kiri – lurus aja sampai melihat Candi Borobudur. Sebelum melanjutkan nge-gowes, ada baiknya beli minum dulu di Warung Ranijaya, sambil lihat-lihat kondisi jalanan (lihat lalulalang bis yang membawa wisatawan & fyi, toko sembako Ranijaya ini adalah langganan keluarga, dan setiap gowes, pasti istirahat dan beli minum di sini).

(Video pemandangan sawah Desa Tingal – Borobudur)

https://youtube.be/JTUEYQjLO10

Ngggak jauh dari warung, di sebelahnya ada Jalan Kalangan (patokannya dekat Gereja Santo Petrus Borobudur) yang akan mengantar kalian kembali ke Desa Tingal. Gowes kurang lebih sekitar 1km, di sisi kanan kalian akan melihat pemandangan sawah yang membentang dengan background Bukit Menoreh.

DSC_0008[1].JPG
Jalanan di tengah sawah

Jangan lupa belokin sepeda kalian ke sawah ini. Menyusuri jalan beton yang sudah tidak mulus lagi, kalau ada kendaraan lain, harus ada yang minggir/mengalah biar bisa lewat. Di sana ada parit kecil dan jembatan kecil. Duduk sebentar, menebar pandang, jangan lupa rasakan semilir anginnya.

DSC_0009[1]
Anginnya semilir banget. Paling enak ke sini pagi atau sore hari.

Kalau pas lihat sekeliling dan melihat bangunan di tengah sawah, itu adalah Rumah Dharma, sebuah penginapan yang dibangun di tengah-tengah sawah. Penginapan ini hanya menyediakan sedikit kamar, jadi sangat private.

DSC_0014[1].JPG
Rumah Dharma di tengah sawah. Sangat private.

Melanjutkan gowesnya, areal persawahan akan berubah ke pepohonan rimbun lalu membawa kalian masuk ke sebuah desa sampai di kaki Bukit Menoreh. Jangan heran juga kalau sering lihat plang bertuliskan “Industri Rumahan/ Wisata Rumahan” di rumah rumah warga, karena di setiap rumah yang memiliki home industry akan di jadikan sasaran untuk menarik wisatawan sehingga mau mampir dan penasaran dengan apa yang mereka buat.

Puas foto dan berkeliling, saatnya istirahat di rumah, menikmati alunan lagu di dalam kamar sambil memandang ke luar jendela. Pukul 6 sore nanti, Kereta Gajahwong akan membawa Saya kembali ke Jakarta. Terima kasih atas semua perjalanannya yang berkesan.

“Setiap manusia memiliki permasalahannya, hadapi, jangan menyerah”

Batu – Bromo – Semeru – Borobudur – Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s