RHYTHM OF SUMMER #5 PUNTHUK SETUMBU : SUNRISE DI ANTARA 2 GUNUNG & BOROBUDUR DENGAN SELIMUTNYA

Sejauh apapun suatu perjalan, rumah adalah tempat yang akan selalu di tuju. Melanjutkan perjalanan sebelumnya, saya bertolak dari Malang ke Yogyakarta menggunakan transportasi andalan, kereta api.

Keberangkatan Malioboro Ekspres dari Stasiun Malang pukul 08:25, sedangkan saat jarum jam menunjuk di angka 08:15 saya masih di atas motor, dalam perjalanan ke stasiun.

Hati was-was takut ketinggalan, karena sejak di benahi sistemnya, kereta jadi on time,teratur & manusiawi.

Akhirnya saya sampai di Stasiun Malang pukul 08:20, tidak sempat berlama lama mengucapkan terima kasih ke Fadli (karena selama di Malang dia baik banget mau nemenin saya melihat keindahan Bromo – Semeru lebih dekat) – saya langsung berlari ke peron dan memberikan tiket kereta untuk di periksa.

Setelah saya naik dan selesai meletakkan carier, Kereta Malioboro Ekspres perlahan meninggalkan semua kenangan manis di kota ini. Ada rasa kosong, sepi sesaat ketika kereta mulai menjauh menghilangkan Gunung Arjuno & Welirang dari pandangan.

DSC_0647.JPG
Gunung Welirang & Arjuno dari balik Kereta Malioboro Ekspres

Tempat yang akan saya singgahi selanjutnya adalah, rumah kakek nenek dari bapak & ibu, Mbah Prawoto & Mbah Sudarsono, di Desa Tingal, Wanurejo – Borobudur.

Setelah sampai di rumah, 2 hal yang pasti Saya lakukan adalah nyekar ke Makam keluarga Cikalan dan naik sepeda keliling kampung sampai ke Borobudur.

File1002
Makam keluarga di Cikalan
DSC_0012[1].JPG
Setiap pulang kampung wajib naik sepeda dan foto di sawah ini

Meski sering pulang, tapi Saya belum sempat jalan-jalan ke Bukit Menoreh dan Punthuk Setumbu yang jaraknya deket dengan rumah.

DSC_0001[1]
Sawah dengan warna berbeda di setiap musim panennya

Saudara sepupu sudah menunggu saya di Stasiun Yogyakarta. Untuk sampai Magelang, menggunakan motor dari Yogyakarta menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam melintasi jalan raya Yogyakarta – Magelang. Jalan raya ini sangat ramai di lewati oleh berbagai jenis kendaraan, baik bis malam, truck pasir, angkot, motor, jadi berhati-hati ya.

Paginya sekitar pukul 5, Saya dan sepupu memburu Sunrise sekaligus ingin melihat siluet Candi Borobudur dari bukit bernama Punthuk Setumbu di Jl. Borobudur Ngadiharjo, Magelang. Dari rumah di Tingal hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Berkendara motor di pagi hari melewati jalanan desa menyusuri Jalan Badrawati (disebelah kompleks Candi Borobudur) kearah yang mau ke resort Amanjiwo. Nanti ada perempatan belok kanan ke arah Resort Plataran, ikuti saja jalannya, nanti juga bareng dengan mobil travel yang membawa wisatawan. Ketika sudah melewati tanjakan terjal kalian akan menemukan area lapang untuk parkir.

Karena asli sini, Saya dan sepupu Saya langsung di persilahkan naik. Menemani tracking, nggak ada salahnya beli lontong & gorengan yang di jual ibu-ibu di pintu masuk.

Jalanan tanah berundak-undak dilengkapi dengan pegangan tangan di kedua sisi memudahkan pengunjung yang sudah berumur untuk sampai ke atas. Karena nggak hanya anak muda, ibu ibu, oma opa, banyak juga loh yang datang untuk menikmati udara segar, menikmati sunrise, serta melihat keindahan Candi Borobudur di balik kabut yang menyelimutinya.

DSC_0657
Wisata Alam Punthuk Setumbu

Ternyata kabutnya masih tebal banget. Borobudur sempat terlihat jelas, namun kabut kembali menutupinya. Sedangkan di sisi timur matahari sudah bersinar cerah di antara Gunung Merbabu dan Merapi.

SUNRISE DAN BOROBUDUR YANG MASIH BERSELIMUT KABUT

DSC_0653.JPG
Kalau kabut tidak ada bisa melihat Borobudur dari sini (di sebelah kanan)
DSC_0649[1].JPG
Matahari terbit di antara Gunung Merbabu (kiri) dan Merapi (kanan)

Karena kabut tidak kunjung hilang, pukul setengah 7 kami memutuskan untuk jalan jalan ke desa di sekitaran Borobudur. Akhirnya kami jalan jalan ke Desa Tuksongo. Situasi pagi pedesaan yang bikin kangen, anak-anak berangkat sekolah naik sepeda, lalu lalang motor membawa hasil perkebunan, pak tani sibuk mencangkuli lahan, ibu ibu menyapu halaman. Meskipun sudah pukul 7 ternyata kabutnya masih pekat.

SEMANGAT MENGAYUH SEPEDA KE SEKOLAH

Di daerah Tuksongo, Saya sampai di tempat yang keren banget. Di kanan kiri Saya areal persawahan yang luas banget tapi masih berselimut kabut tipis, dimana sinar matahari keemasan samar-samar seperti ingin menembus kabut itu.

DSC_0668.JPG
Di Desa Tuksongo. Persawahan yang masih tertutup kabut
DSC_0664.JPG
Embun bertemu dengan sinar matahari keemasan
DSC_0673.JPG
Peace in the shadow

Kami putar arah, menuju Resort Amanjiwo dan melintasi rumah kamera. Mentok sampai atas Perbukitan Menorah, akhirnya kami putar arah dan memilih untuk mencari sarapan di Pasar Borobudur sambil mencari bunga untuk nyekar nanti.

DSC_0685
Sejauh mata memandang hanya bukit hijau nan luas

Masih di kampung halaman Saya, Wanurejo Borobudur. Saatnya mengetahui seperti apa panorama Bukit Menoreh yang selalu Saya lihat dari depan rumah. Pergi nyekar, terus naik sepeda keliling kampung sebelum balik ke Jakarta, di RHYTHM OF SUMMER #6 MENYUSURI JALAN TAK BERUJUNG DI BUKIT MENOREH

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s