RHYTHM OF SUMMER #2 BATU – NONGKOJAJAR – TOSARI

Apa yang terjadi dengan hatiku, ku masih di sini menunggu pagi…

Seakan letih tak menggangguku, ku masih terjaga menunggu pagi…

OST.ALEXANDRIA – NOAH : MENUNGGU PAGI

DSC_0516.JPG

Alun alun Kota Batu hampir membuat kita terlena dan lupa pulang, padahal kami harus packing untuk mempersiapkan perjalanan selanjutnya tepat pukul 12 malam.

Fadli memasukkan tenda, matras, dan semua kebutuhan kemah kita ke carrier 100L setibanya di rumah, sedangkan gw cuma disuruh membawa daypack dan tas kecil. Menunggu sampai tepat pukul 12 malam, Fadli mengajak gw ke bascamp ‘cansabalas’ di dekat rumahnya, wilayah Bumiaji – Kota Batu. Terlihat beberapa temannya sedang berbincang santai di ruang tengah, membahas teman lainnya yang baru turun dari Semeru.

Kopi jahe seduhan Fadli belum habis gw minum. Tapi di tengah cuaca Kota Batu yang dingin, minum susu jahe bisa menambah kehangatan tubuh dan setidaknya menjaga stamina untuk perjalanan yang akan kita mulai sebentar lagi.

Kali ini giliran jaket windbreaker, buff, celana panjang dan sepatu gunung yang berperan untuk melawan dinginnya angin di sepanjang perjalanan menuju Bromo – Semeru.

DSC_0504.JPG

Jam di tangan sudah menunjuk tepat di angka 12, Fadli langusng melontarkan pertanyaan ke gw, “Mau berangkat sekarang?”

“Ya, ayo.” Jawab gw tanpa ragu, karena memang kita telah sepakat sebelumnya.

Fadli meletakkan carier 100l di depan, gw menggendong daypack dan mengalungkan tas kecil di samping.

Udara malam itu dingin banget. Untung semua bagian tubuh sudah tertutup sempurna.

Only hate the road when you’re missing home

Only know you love her when you let her go…

PASSENGER – LET HER GO

Gw seneng banget, bersemangat (menggebu-gebu dalam hati), karena nggak nyangka bisa melakukan perjalanan ini. Ke tempat terindah, tempat impian, naik motor, jadi bisa eksplore ke mana yang gw mau sesuai rundown yang gw buat & nggak terikat waktu. Bebas! Point terakhir, ini nih yang paling penting, ada temen yang mau nemenin gw selama di Malang. Thank you bro Fadli!

Motor matic Fadli melaju mulus di tengah jalanan Kota Batu yang terlihat sepi. Selagi Fadli fokus bawa motor, gw ikut memperhatikan jalan, melihat kanan kiri untuk setidaknya mengetahui kota ini lebih lanjut & mengingatnya siapa tau kalau mampir ke sini lagi jalannya masih inget (semoga).

15 menit berkendara kondisi punggung & kaki gw masih sehat (masih semangat 45, ya kan?) 30 menit duduk di motor bawa daypack, punggung sama paha mulai terasa panas (mulai sering gerak-gerakin kaki dan benerin daypack karena saya mulai pegal). 1,5 jam duduk di motor, dengan kondisi jalan yang menanjak & menurun, paha hampir sering kram karena menahan, punggung & pinggang udah terasa pengkor, pantat agak panas & tepos, pundak udah pegel banget bawa daypack. Nggak tau deh rasanya gimana kalau di inget inget lagi, tapi yang pasti berwarna banget 😦

The milky way upon the heaven, is twinkling just for you

And mr. Moon he came by, to say goodnight to you…

MICHAEL LEARNS TO ROCK – SLEEPING CHILD

Semua derita perjalanan langsung tersingkir karena gw terhibur banget selama perjalanan ini. Kenapa? Karena gw di temani oleh cantiknya bulan purnama dan langit yang supeerr duper ceraaaahhhhhh, bintangnya banyaakkk… Apalagi saat itu Planet Jupiter, Venus & bulan sedang dalam posisi terdekatnya, dan membentuk pola segitiga di langit. Mereka terlihat begitu bersinar, terasa dekat. Hai Jupiter, perkenalkan, saya Venus 🙂

stellarium-017.png

Segitiga Jupiter, Venus dan Bulan. Sumber : Stellarium 2015

Cerahnya bulan purnama, baru bisa gw nikmati ketika memasuki wilayah Nongkojajar di Kecamatan Tutur, karena sudah jauh dari pusat kota.

Kenapa sampe sekarang gw tetap ingat nama ini, karena memang jalanan ini yang paling berkesan buat gw. Cuma di daerah ini doang nih, yang bisa buat gw nggak berhenti nyanyi lagu-lagu rohani.

Kenapa? Karena wilayahnya sumpah, serem banget. Bayangin aja, di kanan kiri jalan, adanya cuma pohon yang tinggi-tinggi dan lebat, nggak ada penerangan, jalan berliuk liuk, sepi, nggak ada rumah sama sekali, karena memang kita ada di area pegunungan.

Mana si fadli sering banget bawa motornya jalan zigzag. Haduh, gw kan jadi parno ya. Gw pikir, namanya Fadli suka naik gunung pasti nggak asing sama hal yang “begituan”. Di jalan yang kayak gini pasti banyak “itunya” kan. Jangan-jangan emang daritadi kita lewat situ ada yang ngikutin kita. Aaaaa…daripada gw bahas, mending gw nyanyi lagu rohani aja deh.

Di balik ketakutan gw, gw ngerasa takjub banget itu ketika gw memberanikan diri untuk melihat ke langit, lalu menebar pandang ke sekitar gw. Gw bisa melihat perbukitan, gw bisa melihat mereka karena cerahnya langit malam itu. Gw bisa melihat puncak bukit yang ada di seberang sana, gw bisa melihat siluet pepohonan yang rindang. Gw terus tersenyum dan menyapa bulan yang sangat cantik malam itu. Nggak lama-lama menebar pandang, gw langusng fokus nyanyi lagu rohani lagi dan berharap semoga motornya nggak mogok.

Masih di temani bulan yang cantik dan langit yang penuh bintang, sekitar pukul setengah dua kita sudah sampai di Kecamatan Tosari. Rindangnya pepohon yang tadi buat gw takut, berubah jadi pemandangan rumah rumah penduduk dan perkebunannya. Sepanjang perjalanan dari Batu sampai Tosari kondisi jalannya itu beraspal mulus. Suka deh 🙂

Di daerah Tosari, dinginnya itu ampun ampunan. Si Fadli nggak pakai sarung tangan selama berkendara, dia juga mulai ngerasain kedinginan dan pantat udah panas (apalagi gw yang juga nahan pegel dari tadi), dia nyaranin untuk istirahat di Pasar Tosari (buat wisatawan yang bawa mobil pribadi, biasanya di parkir di sini, karena tempat ini adalah start-nya mobil jip yang akan mengantar wisatawan ke Bromo – Penanjakan sampai ke lautan pasir).

DSC_0506.JPG

Aahhh legannyaaa…..! Habis berkendara selama 2 jam nonstop akhirnya kaki ini bisa di selonjorin juga.

Sampai di Pasar Tosari, daerahnya nggak terlihat ramai dengan para penjual sayur, yang gw lihat kebanyakan adalah anak-anak muda yang sedang menunggu atau beristirahat sebelum mereka ke penanjakan. Beberapa dari mereka ada yang duduk di depan api unggun. Ada juga sekumpulan wanita duduk berdempetan supaya hangat di depan toko yang masih tutup. Sesekali mobil jip melintas dan memutar di depan kami. Terlihat motor berdatangan kemudian beristirahat juga di sini sebelum ke atas.

Beeerrrr….dingin nembus ke kulit. Liat Fadli ngelakuin perenggangan, gw juga ikut-ikutan. Gw loncat loncat kecil, streching, terus usap usap kedua tangan biar hangat. Fadli mengeluarkan tumbler berisi kopi jahe, lalu di tawarkannya ke gw. Kita duduk di depan toko yang masih tutup. Ngobrol ngobrol ngalor ngidul.

“Sekarang jam 2. Kita istirahat dulu 1 jam di sini. Nanti jam 3 kita baru naik ke atas. Paling sampe penanjakan sekitar jam 4” terang Fadli ke gw. Gw oke oke tanda setuju.

“Loe liat lampu merah yang ada di tower di atas sana?” Fadli nunjuk ke arah perbukitan di depan kita. “Penanjakan ada di sekitar situ. Nanti kita ke sana”

Gw yang lihat dari tempat ini sekarang, nggak nyangka akan ke tempat setinggi itu. Jadi penasaran jalan menuju ke sana seperti apa.

DSC_0519

Kereennnn!!! Pemandangannya indah banget selama perjalanan menuju penanjakan. Gw bisa melihat lautan awan dengan langitnya yang cerah ditaburi bintang bintang. Gw juga bisa lihat pegunungan Welirang dan Arjuno yang ada di kejauhan. Kita terus mengalah dan harus memberikan jalan terlebih dahulu untuk mobil jip. Seruuu….!!! Di RHYTHM OF SUMMER #3 BROMO – SEMERU, AKU DATANG!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s