RHYTHM OF SUMMER #1 JAKARTA – MALANG – BATU

Cause we were raised to see life as a fun and take it if we can

ODE TO MY FAMILY – THE CRANBERRIES.

BROMO,SEMERU DAN PUNTHUK SETUMBU DI PAGI HARI

DSC_0422[1].JPG

Gw selalu memimpikan perjalanan 17 jam ini. Perjalanan yang akan membawa setiap mimpi menjadi nyata.

DSC_0470

Gembira dan cemas adalah 2 hal yang tidak bisa dihindari saat melakukan sebuah perjalanan.

Gembira karena selama 25 tahun, ini adalah kali pertama gw melakukan perjalanan keluar kota naik kereta.

Cemas, akibat terlalu banyak hal yang gw khawatirkan.

Mereka selalu hadir, berkecamuk menemani perjalanan yang manis di musim panas 2015.

Kereta Matarmaja telah tersedia di peron satu begitu gw sampai di Stasiun Senen. Dengan ceril oranye di punggung, telah berhasil menarik beberapa pemuda yang akhirnya bertanya mau naik ke gunung apa?

Ya, seperti itulah persaudaraan sesama pembawa ceril (para backpacker), mereka nggak segan-segan bertegur sapa. Mereka memiliki sifat yang ramah.

Setelah memeriksakan tiket, gw langsung masuk ke gerbong pertama untuk mencari tempat duduk dan berburu bagasi. Beruntungnya gw karena masih ada space kosong untuk gw meletakkan ceril 45L ini.

15:15 wib, KA Matarmaja (St.Senen – St.Malang) perlahan meninggalkan peraduannya. Selamat jalan Jakarta. Kalian nggak tau, kalau ini adalah perjalanan yang sangat spesial, karena setelah bekerja keras nggak pakai libur sampai pertengahan tahun, ini juga hadiah ulang tahun ke-25 plus bisa keluar kota naik kereta, dan bisa mengunjungi tempat impian gw, Bromo & Semeru.

DSC_0524.JPG

DSC_0579.JPG

Selanjutnya hanya masalah waktu, bagaimana menyesuaikan diri di kereta selama belasan jam, yang nggak banyak anak mudanya, padahal Matarmaja itu terkenal dengan penumpangnya yang pada naik gunung. Tapi kemarin yang duduk di sekitar gw adalah ibu-ibu semua.

In the heat of the summer sunshine, i miss you like nobody else

SUMMER SUNSHINE – THE CORRS

DSC_0481.JPG

Selamat pagi semesta. Nggak banyak yang bisa di lakukan kalau pergi malam hari, dan di sisa perjalanan ini, terima kasih karena gw bisa menikmati indahnya matahari terbit, melihat luasnya persawahan, kokohnya gunung, lebatnya hutan, berbagai panorama alam yang bisa gw nikmati sebelum tiba di Stasiun Malang.

DSC_0483.JPG

DSC_0486.JPG

Beberapa jam lagi gw akan sampai di Stasiun Malang, dan akan bertemu dengan seorang teman yang akan membawa gw berkelana, hanya berdua, pakai motor. Tapi…gw belum pernah ketemu orang itu & baru kenal melalui komunikasi aja. Tapi firasat gw mengatakan kalau dia baik, karena gw direkomendasiin dari teman. Temen gw bilang kalau dia baik, karena pernah nolongin waktu mendaki di Semeru.

Matarmaja sebentar lagi mengakhiri perjalanannya, berbanding terbalik karena ini adalah awal keseruan gw selama di Malang. Cemas terkalahkan dengan rasa gembira, dengan mantab gw jalan keluar stasiun menemui Fadli yang sudah menunggu dari jam 8 (keretanya lumayan mengalami keterlambatan).

Di luar stasiun banyak banget orangnya, mereka berhasil buat gw bingung dan susah untuk nemuin Fadli. Tapi sebaliknya, Fadli akan mudah menemukan gw karena gw bawa ceril oranye yang cukup mencolok di antara yang lain.

Belum sempat kebingungan melanda, sesosok cowok kulit putih, bertubuh jangkung mengenakan jaket biru mendekati gw dan langsung mengulurkan tangannya, “Siska ya?” Tanpa ragu gw menjabat tangannya “Oh ia, loe Fadli ya?”

Fadli membawa gw ke motornya. Kita akan ke daerah Batu, karena ternyata rumah Fadli ada di sekitar kaki Gunung Arjuno, yang jaraknya masih 1 jam lagi dari stasiun. Okelah, no problem. Cuss…

Motor berjalan mulus meninggalkan stasiun. Selama perjalanan ke rumahnya, Fadli mengenalkan gw dengan beberapa tempat, seperti alun alun, balai kota, Universitas Negeri Malang (kampusnya luas banget), dan tempat menarik yang lain. Malang sungguh sejuk, kotanya bersih, indah, banyak pohonnya, suka banget deh sama atmosfer kota ini.

Memasuki wilayah Batu, pemandangan berganti menjadi bukit-bukit hijau, perkebunan sayur atau buah nan memanjakan mata. Ohhhh….indahnya pemandangan…dari jauh gw bisa melihat Gunung Panderman, Welirang & Arjuno.

Meskipun punggung pegel nahan ceril yang gede banget, tapi mata gw di manjakan banget dengan pemandangan yang indah. Anginnya seger, bersih, sejuk banget.

Fadli melaju motornya memasuki sebuah gang. Di jalan itu gw bisa melihat kebun buah dengan background Gunung Arjuno yang berdiri kokoh. Haduhh….asri banget sih daerah ini, beberapa rumah yang gw lihat juga punya tanaman buah di pekarangannya, enak banget ya mereka, kalau udah panen tinggal petik terus makan. Kalau malam udaranya sedingin apa ya? Haduhhh….pasti dingin banget…gw kan nggak kuat dingin. Siang hari aja udaranya udah sedingin ini. Nggak terasa motor yang gw tumpangi masuk di garasi sebuah rumah. Ah…ternyata gw sudah sampai di rumah Fadli di Wilayah Bumiaji.

Akhirnya gw bisa selonjorin kaki sama mengembalikan kesegaran tubuh. Revitalisasi badan dulu karena tengah malem nanti gw dan Fadli mau ke Bromo lanjut Semeru, tapi sebelumnya gw minta anterin dia dulu keliling Kota Batu.

Tau ada tamu dari Jakarta, beberapa temannya Fadli dari “Cansabalas” datang ke rumah. Asik deh ngobrol-ngobrol sama mereka. Mereka baik, asik, welcome banget. “Cansabalas” itu adalah persekumpulan anak muda di daerah rumah Fadli, mereka semua pada hobi mendaki gunung, nggak cuma itu mereka aktif bantu SAR, juga aktif di kegiatan karang taruna. Kalau mendaki ke Arjuno tanya dan mampir ke basecamp nya mereka aja. Mereka welcome kok.

Sekitar jam 7 malam, Fadli ngajak gw ke Paralayang Batu, di Jalan Gunung Banyak buat lihat citylight. Kondisi jalan menuju ke Gunung Banyak ini kayak ke Puncak, Bogor. Percis. Berliuk liuk, kanan kiri pepohonan, udaranya dinginnn…berrrr…pas sampai atas kita harus membayar uang masuk & parkir. Sampai atas kabut turun….sedih…tapi nggak lama gw tungguin, kabut terbawa angin dan dengan seketika mata gw melihat kerlipan kerlipan lampu kota yang sangat indah seperti membentuk suatu pola. Ahhh…romantis banget…

DSC_0489.JPG

Habis itu kita turun, nyari makan di alun-alun batu. Jarak dari paralayang ke Alun-alun Batu sekitar 20 menitan berkendara motor. Habis makan soto di dekat masjid, gw ngajak Fadli buat ngantri naik bianglala. Ya….lumayan, meskipun nggak terlalu tinggi dan cuma bayar 3 ribu, tapi bisa melihat pemandangan Batu dari atas. Ahhh….gw malu mengakuinya, pokoknya di umur gw yang ke 25 ini, banyak hal baru yang gw alami, salah satunya naik bianglala.

DSC_0493.JPG

DSC_0501.JPG

DSC_0499.JPG

Coba di Depok atau Jakarta punya alun alun senyaman ini ya. Habis naik bianglala, gw dan Fadli ngobrol-ngobrol di bangku taman dekat bianglala. Ya ampun…enak banget sih. Nggak ada pengamen, pengemis, preman, nggak ada tukang jualan yang ngampar di jalan, pokoknya bersih, nyaman, udaranya adem, apalagi malam itu langitnya lagi bulan purnama. Kurang apa coba, di tambah di puterin alunan musik.

DSC_0511.JPG

Gw betah banget ngobrol di sana. Enak banget sih anak-anak muda di Batu punya tempat yang kayak gitu. Hhee … tapi gw nggak boleh terlena dengan kenyamanan alun-alun ini, karena tepat pukul 12 malam nanti kita akan bertolak ke Bromo lanjut Semeru.

Ahh….jadi nggak sabar ingin melihat keindahan lain yang di tawarkan oleh kota dengan moto “Malang Kucecwara” ini..

Baca RHYTHM OF SUMMER #2 BROMO – RANU KUMBOLO, ya….

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s