BADUY #4 : TRACK PENUTUP DARI TRIP TO BADUY

Asyik bertanya tentang hal apapun mulai dari kebiasaan sampai adat istiadat Suku Baduy, kepala adatnya pun sangat ramah dan terbuka sekali dengan kami. Perbincangan malam itu berjalan dengan santai, semua pertanyaan yang kami lontarkan di jawab satu per satu. Karena hari semakin larut, kepala suku juga ingin beristirahat, kami juga kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Masih cemas karena sandal belum ketemu, akhirnya gw nggak mau terlalu ambil pusing, karena masih ada harapan besok bisa ketemu.

Pintu rumah kami buka perlahan. Sang tuan rumah sudah tidur. Kami tidak mau membangunkan mereka dengan sedikit kegaduhan ini. Tidak ada penerangan listrik, malam ini kami akan tidur di temani temaram lampu minyak.

Kami sudah “pewe” dengan posisinya masing-masing, tidur berjejer memanjang hampir memenuhi area terluas dari rumah itu. Posisi gw tidur percis di depan pintu masuk, dan di belakang gw adalah kamar si pemilik rumah.

Jaket gw rekatkan sampai leher, kepala sudah tertutup dengan rapat, saatnya memejamkan mata. Angin malam yang masuk melalui celah pintu sesekali berhasil membuat tubuh kedinginan.

Tiba-tiba cahaya yang menerangi kami satu-satunya mati. Wow…gelap banget! Padahal mata gw terbuka, tapi gw nggak bisa lihat apa-apa, semuanya hitam pekat. Gw coba mereleks-kan diri. Malam yang begitu hening. Suara jangkrik terdengar samar, diwarnai desiran angin yang kadang masuk malu-malu melalui celah pintu. Akhirnya tubuh ini terlena dan tidur dengan nyenyaknya.

Cahaya pagi masuk melalui celah celah bilik bambu. Gw dan yang lain segera bangun karena si pemilik rumah sudah bangun terlebih dahulu dan terlihat sibuk dengan kompor tungkunya. Kami mengucapkan salam selamat pagi, sedikit berbincang untuk menghangatkan suasana.

Kami kembali berkumpul ke rumah utama, untuk sarapan bubur kacang hijau. Sambil makan, gw mengamati semua sandal yang teman-teman pakai. Di mana sih sandal gw? Setelah di lihat satu per satu mereka pada pakai sandalnya masing-masing. Duh…mana habis makan kita langusung berkemas dan pulang. Gimana nih pulangnya??

Setelah tanya ke temen-temen yang lain, ada satu cowok yang ngizinin gw pakai sandal gunung miliknya. Tapi sandal gunung itu kebesaran banget di kaki gw. Tapi nggak apa lah yang penting pakai sandal.

Sebagai ucapan terima kasih karena mau menerima kami di rumahnya, gw dan teman yang lain meninggalkan beberapa makanan yang kami bawa buat si tuan rumah (seperti beras, crackers, atau kacang hijau).

Track perjalanan pulang ini rencananya akan melewati jembatan akar (jalur berbeda), dan kami tetap di pandu oleh beberapa warga Baduy yang sama saat membawa kami ke sini.

Kegiatan warga di pagi hari sungguh beragam. Ada yang sedang menumbuk padi, menyapu halaman, menenun. Setelah melewati jalan-jalan kecil di Kompleks Baduy, kami bertemu dengan jembatan bambu.

Sepertinya kompleks Baduy Dalam terfokus di suatu area dan di kelilingi oleh sungai. Waktu memasuki perkampungan Baduy Dalam, gw menyeberangi sungai. Saat pulang, gw kembali menyeberangi sungai. Dan benar, saat kami menyeberangi sungai, kami tidak melihat rumah penduduk sampai mendekati jembatan akar.

Di ujung jembatan sudah menunggu track tanah merah yang terjal. Tidak ada pegangan untuk membantu kami naik waktu itu. Ada sih, tapi itupun cuma batang bambu panjang yang tidak terlalu kokoh untuk dijadikan pegangan, karena di sisi kirinya itu langsung jurang yang di penuhi tumbuhan.

Kalian harus pandai memilih pijakan kaki. Karena blok-blok tanah bekas pijakan kakinya itu menyebar, jarang jarang, jadi pelan pelan kalau nggak mau jatuh. Sandal yang gw pakai ini benar-benar nggak nyaman karena kebesaran.

Udah gitu pas sampai ujung track, jalur yang kami lewati di penuhi genangan. Tanahnya becek, jadi jalannya harus melipir biar kaki nggak becek. Tapi karena sandal yang gw pakai ceper, dan kebesaran, sandal gunung yang gw pakai mendem di tanah dan kaki jadi kotor banget.

Ternyata track balik itu lebih ampun-ampunan karena kita banyak ngelewatin tanah yang becek. Kami sempat ngelewatin ilalang yang tingginya sama kayak kita. Terus ada track di hutan yang kalau nggak di pandu sama warga Baduy, kita pasti nyasar. Karena tracknya nggak kelihatan. Di jalur ini jugalah sandal yang gw pakai nggak berfungsi sebagaimana mestinya.

Jadi untuk melewati jalan ini kita harus melewati berbagai macam rambatan akar pohon. Tanah-tanah di sini karena terjebak dengan akar pohon, apalagi di tambah habis turun hujan, jadi seperti genangan tanah berlumpur.

Saking bingungnya cari pijakan dan nggak bisa melipir juga karena sisi kanannya jurang, akhirnya kaki gw terjebak di lumpur sampai-sampai gw susah untuk mengangkat kedua kaki. Ah…karena kesal, percumah juga pakai sandal, toh kaki juga udah kotor banget. Ya udah deh nyeker aja! Gw copot sandal itu terus gw tenteng. Daripada beban pake sandal ‘nyeker’ malah buat langkah kaki enteng dan enak banget lewatin jalur lumpur kayak gini. Empuk. Pas kaki masuk ke dalam lumpur, lumpurnya adem. Hhee…

Tapi ngeri juga, pas jalur menurun itu yang paling susah. Licin banget. Gw aja hampir jatuh beberapa kali, tapi untung di bantu sama teman baru (warga Baduy Dalam) dia selalu pegangin gw, biar gw nggak jatuh tergelincir.

Track tanah becek sudah berlalu, kini saatnya melintasi perkebunan warga dengan kondisi tanah kering berbatu. Harus pintar pintar memilih pijakan, seenggaknya jangan sampai kena batu atau kerikil tajam biar kaki nggak terluka.

WP_20140105_004

WP_20140105_024

Perjalanan untuk sampai di jembatan akar cukup berat dan menghabiskan waktu berjam-jam. Dari Baduy dalam itu kita sekitar pukul 9, dan baru sampai di Jembatan Akar pukul 11:30.

Sampai Jembatan Akar, ternyata banyak warga Baduy sedang berkumpul. Mereka sedang bergotong royong untuk membenarkan jembatan yang waktu itu sedang rusak. Karena tidak bisa lewat dan nggak bisa narsis juga di sana, akhirnya kami memilih untuk menikmati sungai di bawah jembatan. Tapi gw nggak turun, karena terjal banget dan nggak aman jalurnya buat gw yang “nyeker”

WP_20140105_011

WP_20140105_010

WP_20140105_014

WP_20140105_016

WP_20140105_022

Selesai mereka foto-foto di bawah jembatan akar, gw dan beberapa teman yang lain jalan duluan di pandu oleh Warga Baduy. Setelah melewati jembatan ini tracknya beragam. Masih di temui jalan tanah becek, kering, sampai yang paling merepotkan adalah jalan menurun (berundak seperti tangga) yang terbuat dari tumpukan batu-batu kali. Repot banget waktu gw lewat jalan ini. Jalan harus pelan-pelan, terus kaki harus berpijak di batu yang sudah halus. Salah pijak sedikit, duhh…kaki berasa nginjek duri. Umayan sekitar 100 meter track batu ini.

WP_20140105_033

Setelah melewati track berbatu, kita menemukan pemandangan yang bagus banget. bentangan sawah serta bukit bukit yang mengelilinginya. Sejauh mata memandang, hijau semua….

WP_20140105_027

WP_20140105_029

Gerimis mulai turun. Baju sudah mulai lepek. Katanya sih jarak untuk sampai di titik penjemputan mobil nggak jauh lagi. Sebelum hujan makin deras, baju tambah lepek, gw mempercepat langkah. Tiba-tiba di ujung jalan, gw melihat rintangan besar menghadang. Oh my god! Gimana gw bisa melewati jalan ini. Ini nggak mungkin banget bisa gw lalui. Gw banyak berpikir sebelum melewati jalan yang penuh dengan tumpukan pecahan batu kali.

Jalan ini baru mau di cor semen (untuk sekarang jalan ini mungkin sudah bagus dan mobil sudah bisa sampai di titik ini). Sebelum jalan ini jadi, kita harus sampai di perkampungan warga dulu, dan mobil pada menunggu di sana.

Gw ragu untuk lewat jalan berbatu ini, tapi nggak untuk sahabat kecil ini. Lihat aja, dia dengan santainya jalan di atas pecahan-pecahan batu sambil menenteng 2 daypack yang pastinya berat berat.

WP_20140105_032

Sedangkan waktu itu gw lewat mana? Untungnya nggak semua tanah tertutup oleh batu, jadi gw lewat di pinggir-pinggirannya (masih ada space tanah merah. Meskipun becek nggak papa).tapi kegembiraan gw nggak berlangusng lama, karena track tanah merah ini buntu. Kalau gw mau sampai ke tujuan, mau nggak mau gw harus lewat track berbatu tajam ini.

Sambil jalan jinjit gw melewati track ini pelan pelan. Begitu bisa melipir, melipir lah gw. Track di Baduy penuh kejutan….seru!!! Terima kasih semuanya….see you next…

WP_20140105_036

WP_20140105_037

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s