BADUY #3 :MENCEGAH, MALAH HILANG. KISAH SANDAL GUNUNG BERUJUNG “NYEKER”

Keasrian hutan di wilayah Baduy, serta kelembaban tanahnya terbukti dengan sering di jumpainya kluwing atau kaki seribu yang besar tubuhnya itu segemuk ibu jari. Waktu itu gw sedang fokus berjalan, dan tiba-tiba mata suka menangkap “makhluk gemuk melingkar berwarna cokelat gelap” ini teronggok di pinggiran jalur. Lumayan buat shock-kan ya, karena munculnya tak terduga.

Berjarak sekitar dua jam dari jembatan bambu pertama, akhirnya kami sampai di jembatan bambu kedua. Keadaan sungai ini tidak berbeda jauh dengan sebelumnya, bersih dan jernih. Beberapa teman ada yang memilih untuk duduk di pinggiran sungai, menyegarkan diri sebelum tracking lagi. Gw memilih untuk beristirahat sebentar meneguk air putih yang di bawa. Ion tubuh berkurang banyak sob…mataharinya lagi happy banget soalnya.

WP_20140104_124

WP_20140104_125

track ke Baduy Dalam, di lihat dari seberang jembatan bambu
track ke Baduy Dalam, di lihat dari seberang jembatan bambu

Wah…habis istirahat kaki ini harus siap-siap berjalan lagi nih, soalnya track menanjak tanah merah sudah menunggu di depan mata. Tanjakan tanah merahnya lumayan tinggi, apalagi waktu itu (kurang tahu sekarang) tanahnya belum ada bekas pijakan-pijakan atau di buat seperti tangga, jadi kita harus pilih pijakan yang benar agar tidak terpeleset. Huft…sekali lagi nyesel karena nggak beli tongkat kayu.

Di tengah tanjakan tanah merah ini, nggak gw aja yang ngos-ngosan, temen yang lain juga terlihat kewalahan. Saat lelah, istirahat aja dulu. Nikmatin pemandangan yang terlihat di sana. Nikmatin juga desiran anginnya. Pemandangan yang terlihat adalah pepohonan hijau tanpa batas. Diem dulu, merenung dulu. Lumayankan buat me-recharge tenaga lagi.

Setelah melewati tanjakan ini, kita akan menjumpai perkebunan warga. Di sana terlihat anak-anak Baduy dalam sedang bermain. Gw coba tanya mereka pakai Bahasa Indonesia, “sedang main apa?” Tapi mereka nggak ngerespon gw. Mungkin mereka nggak ngerti dengan perkataan gw. Akhirnya kata yang ucap cuma “punten” karena gw nggak bisa Bahasa Sunda & selain kata itu. Di ladang ini, kita masih bisa melihat kincir angin bambu yang berputar kencang tertiup angin.

Melewati ladang, kita akan masuk perlahan ke dalam hutan. Di temui satu dua rumah di sini, justru yang sering terlihat adalah rumah kecil tempat menyimpan hasil panen, yang jaraknya berjauhan. Menyusuri jalan ini, sekali lagi, nyesel karena nggak beli tongkat kayu, karena tanahnya licin, lembab, dan juga di repotkan karena akar-akar pohon banyak merambat di tanah.

Nggak tau karena hutannya yang lebat, atau memang hari sudah sore, langit saat itu mulai gelap. Tapi untungnya, sebelum hari berganti malam, kami sudah tiba di kompleks perumahan warga Baduy Dalam. Sambil menunggu teman rombongan yang lain, saya istirahat di depan rumah warga bersama beberapa teman. Baju sudah basah banget karena keringat. Rambut juga lepek karena lembab tertutup topi seharian.

Lagi ngadem, ada penjual yang menghampiri kami. Wah, gw semangat banget karena gw memang ngincer tas & gelang yang terbuat dari serat kayu. Akhirnya gw beli 1 tas selempang anyaman serat kayu & 3 gelang serat kayu dengan warna beda-beda.

Saat semua anggota sudah berkumpul, kami langsung dibagikan tempat untuk beristirahat. Satu rumah berisi 7-8 orang, dan saat itu kelompok kami memakai 3 rumah penduduk. Rumah di baduy dalam tidak jauh berbeda dengan yang kalian lihat di Baduy Luar. Rumah panggung yang sebagian besar terbuat dari kayu atau bambu, tersekat-sekat dengan bilik anyaman bambu, serta atapnya tetutup jerami-jerami kering.

Rumah yang gw tempati itu di huni oleh 3 orang, sepasang suami istri dan anak mereka yang masih kecil. Rumahnya cukup besar. Kalau gw istilahkan, ruang tamu mereka memanjang, di area inilah kami tidur. Lalu ada dua kamar yang di sekat anyaman bambu. Satu kamar untuk tuan rumahnya tidur, satunya lagi kami gunakan untuk berganti pakaian. Dapur & tungku masak mereka dekat dengan ruang tamu.

Sore itu dimana langit mulai gelap di tambah hujan turun, kami ke sungai untuk membasuh tubuh. Sungainya lebar. Bebatuan tersebar di sepanjang sungai. Airnya jernih dan dingin. Di sini nih yang anehnya, meskipun sungai itu di kelilingi oleh hutan yang masih asri, apalagi gw ke sungainya langit sudah agak gelap, plus hujan pula. Tapi hawa yang gw rasakan saat itu tenang, damai, nggak menakutkan. Energinya positif. Gw nggak ngerasa takut deh. Pas kita mau balik, eh ada satu kunang-kunang terbang. Pekatnya malam terlihat indah dengan adanya “lampu terbang” berwarna hijau.

Badan sudah bersih, baju juga sudah nyaman. Tapi perut keroncongan karena sekarang kami kelaparan. Untung teman-teman yang di rumah lain sudah memasak buat kita. Walaupun menunya sederhana, tapi ada teman yang membawa makanan lain, jadi bisa saling share. Kita semua di kumpulkan di satu rumah untuk makan. Gw, Mitha, dan teman yang lain ke rumah itu untuk makan bareng. Terus pas sampai (jaraknya dekat karena cuma bersebelahan), gw bilang ke Mitha kalau kita taruh sendal kita di sini aja (kalau anak-anak yang lain taruh sendalnya di depan rumah, gw & Mitha taruh si sebelah rumah). Gw dan Mitha memasukkan sandal kita ke kolong rumah, dengan posisi agak kedalam, dengan tujuan agar sandalnya nggak tertukar dengan yang lain, karena kalau sandal gunung yang gw pakai itu banyak yang pakai, jadi takut tertukar. Aman lah sandal gw, toh yang taruh sandal di situ memang cuma kita berdua.

Selesai makan malam, kami kembali berkumpul ke rumah yang di depannya untuk bertemu dengan ketua adat. Di sana kita bisa bertanya sepuasnya mengenai Baduy dalam. Bisa tentang pernikahan. Kenapa nggak boleh foto atau menggunakan barang elektronik di sini. Kenapa warga Baduy kalau kemana-mana tidak menggunakan kendaraan. Di makam di mana kalau ada warga yang meninggal? Banyak banget pertanyaan yang di lontarkan oleh kami. Tapi pertanyaan terakhir yang paling amazing. Jadi kalau kalian menjelajah Baduy, luar atau dalam, kalian nggak akan menemukan satupun makam dengan nisan seperti yang biasa kita lihat, karena kalau ada warganya meninggal, mereka akan menguburkannya tanpa menandainya. Jadi kita tidak tahu tanah yang kita pijak itu makam atau bukan.

Tidak terasa hari sudah larut. Suasana di sini sangat sunyi, gelap, temaram cahaya lilin terlihat berpendar di sela-sela bilik bambu. Gw dan Mitha mengambil sandal di samping rumah. Saat kaki gw masuk ke dalam kolong, betapa kagetnya gw pas tau sandal gw nggak ada! Sedangkan sandal mitha masih dalam posisinya, nggak berantakan, aman dan tenteram dengan posisinya. Wah duh… dari awal gw feeling sandal gw bakal hilang, makanya gw mengamankan sandal gw di sini. Eh, ternyata sandal gw yang hilang.

Besok paginya gw cari sandal gw, siapa tau ada yang pakai tapi nggak sadar itu bukan sandalnya. Tapi pas di cek, temen gw pada pakai sandalnya masing-masing. Wah duh…gw pulang gimana nih? Mana tracknya “begitu” lagi. (garuk garuk kepala cemas. Mata tetep ngeliatin sandal yang di pakai teman-teman).

Alhasil pas pulang gw boleh minjam sandal gunung teman yang kebesaran buat kaki gw. Ternyata track pulangnya itu lebih parah dari track berangkat. Karena sempat hujan, tanahnya becek dan penuh lumpur tanah merah. Sandal gunung pinjaman menghadapi medan yang seperti itu jadi nggak enak lagi di pakai. Ya udah lah, karena kaki juga udah kotor, akhirnya gw memutuskan untuk “nyeker”. Tapi gw nggak ngerasa “jijik” waktu nyeker. Kenapa? Karena tanah yang gw injak itu tanah yang bersih. Nggak tercemar dengan sampah atau limbah. Masyarakat baduy dalam atau luar itu sangat menjaga lingkungannya. Makanya lingkungannya tetap asri dan bersih.

HAYO, TEBAK...KAKI AKU YANG MANA?
HAYO, TEBAK…KAKI AKU YANG MANA?

WP_20140105_029

Tapi ada satu jalur yang nggak sanggup untuk gw lewatin? Jalur seperti apa itu? Makanya, tunggu post selanjutnya ya ^^

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s