BADUY #2 : JEMBATAN BAMBU, SURGA KECIL DAN KINCIR ANGIN

Pukul 13.00 WIB : Perjalanan di mulai. Baduy Dalam, kami datang!

Tenaga telah terisi kembali, saatnya kami berkumpul untuk briefing sebentar sebelum melakukan perjalanan menuju Baduy Dalam.

WP_20140104_030

Di sekitar Terminal Ciboleger banyak anak anak penjual tongkat kayu. Satu tongkat mereka hargai 5 ribu. Gw termaksud sasaran mereka, tapi gw selalu menolak karena gw nggak terbiasa menggunakan tongkat di setiap melakukan perjalanan, karena pikir gw tongkat itu malah akan membuat gw ribet dan nggak bebas nantinya.

WP_20140104_032

Pintu masuk yang ingin mengunjungi Baduy bisa melalui Terminal Ciboleger. Tidak jauh dari minimarket, ada sebuah jalan kecil menanjak, dan itulah pintu masuk untuk orang yang akan melakukan kunjungan ke Baduy Luar atau dalam.

WP_20140104_027

Jalan berbeton semen yang kami lewati tidak terlalu lebar di mana kanan kirinya masih di dominasi rumah penduduk. Berjalan menanjak sekitar tujuh menit kita akan menemui plang bertuliskan “Selamat datang di Baduy”. Wow…gw akan memasuki wilayah Baduy. Bagaimana ya keadaan di sini? Penasaran dan bersemangat banget gw saat itu.

WP_20140104_040

WP_20140104_038

Rumah khas Baduy mulai terlihat berjejer. Rumah panggung yang terbuat dari kayu itu berdiri kokoh mengikuti kontur tanahnya. Berjalan santai sambil mengamati kehidupan warga Baduy yang terlihat saat itu. Ada yang sedang duduk duduk, menenun kain, anak-anak bermain, sampai berpas-pasan dengan warga baduy yang membawa hasil panen untuk di jual keluar Baduy.

WP_20140104_043

WP_20140104_068

Sederetan rumah panggung yang familiar di mata berubah menjadi pemandangan pepohonan yang masih sangat asri. Jalur berbatu yang sempat menemani kami berubah perlahan menjadi tanah merah. Track di sini lumayan membuat kaki kram, karena ada track menanjak & menurun yang sama-sama membutuhkan kekuatan kaki. Tahu tracknya akan seperti ini dari awal gw akan pakai sepatu daripada sandal gunung (sepatu lebih nyaman daripada pakai sandal gunung. Apalagi pas tau track pulangnya. Nyesel deh cuma pakai sandal jepit atau sandal gunung. Yang pakai sepatu bukan buat tracking aja nyesel. Karena jalurnya becek, kalau pakai sepatu gunungkan aman, anti air, anti licin, dan solnya kuat 🙂

WP_20140104_048

WP_20140104_051

Satu jam berlalu. Setelah tracking yang lumayan untuk pemanasan kaki, kami sampai di jembatan bambu pertama . Seperti namanya, jembatan ini sebagian besar terbuat dari bambu. Dalam proses pembuatannya warga Baduy membangun jembatan ini secara bergotong royong. Bahan yang mereka gunakan juga berasal dari alam. Dalam menyatukan satu bambo dengan bambo lainnya mereka tidak menggunakan paku, melainkan memakai tali dari serat bambu atau kayu.

WP_20140104_071

WP_20140104_082

WP_20140104_074

Di seberang jembatan kita akan melihat rumah panggung berukuan kecil (lupa istilahnya apa). Eits…itu bukan rumah untuk di tinggali, melainkan tempat untuk menyimpan hasil panen mereka seperti padi, durian, kelapa, pisang, atau lainnya. Kalau nanti kalian mengunjungi Baduy dan melihat rumah kecil ini ada di mana mana dengan jarak yang berjauhan jangan heran ya, karena sebelum letaknya di buat berjauhan, mereka pernah membuatnya berdekatan satu sama lain, sampai suatu ketika terjadi peristiwa kebakaran yang menghanguskan sebagian besar rumah beserta hasil panen di dalamnya. Untuk mengantisipasi hal yang sama mereka membuatnya berjauhan.

WP_20140104_080

Track setelah melewati jembatan bambu pertama mulai nggak “nyantai”. Setelah menyusuri jalan di sepanjang aliran sungai, kita akan bertemu track berbatu yang cukup merumitkan kaki untuk melangkah (di situasi ini gw nyesel nggak beli tongkat kayu, karena kalau ada itu pasti langkah gw terbantu). Di ujung jalan ini kalian akan di hadapi undakan undakan batu yang tinggi serta menguras energi. Tapi kalau kalian berhasil melewati ini, ada “surga kecil” yang menunggu di atas. Penjual air minum!! (hhe…karena emang banyak banget penjual minum di sini). Pas sampai atas, kalian bisa menumpang istirahat di rumah warga, duduk santai sambil menebar pandang. Terus ajak ngobrol deh anak-anak di sana. Eh…ada wanita yang sedang serius menenun kain juga. Terbayarkan lelahnya?

WP_20140104_096

WP_20140104_090

WP_20140104_087

WP_20140104_084

Dari sini jalannya masih akan terus menanjak, menurun, menyusuri perkebunan warga, melintasi ilalang, sampai akhirnya di ujung bukit kami memilih beristirahat lagi sambil menikmati desiran angin dan mendengarkan bunyi-bunyian khas yang dihasilkan baling-baling bambu yang tertiup angin. Sejauh mata memandang hanya perbukitan hijau yang terlihat. Meskipun mataharinya sangat terik, tapi anginnya enak banget di sini. Adem…

WP_20140104_101

WP_20140104_103

WP_20140104_106

Keringat sudah membasahi baju dan kemeja yang gw kenakan. Gw masih belum tahu kapan kami sampai di Baduy dalam. Semakin ke dalam jalur yang kami lalui semakin tidak tertebak. Kadang bertemu dengan rumah penduduk, melewati pepohonan bambu, kadang melewati track ilalang yang padat. Baru akhirnya sekitar pukul 4 sore kami sampai di jembatan bambu kedua. Jembatan ini adalah pembatas wilayah antara Baduy Dalam dan luar. Kalau kita melewati jembatan itu, kita sudah masuk ke wilayah Baduy Dalam, dan sesampainya di seberang segala alat komunikasi & kamera yang di bawa sudah wajib, kudu di non aktifkan!

WP_20140104_110

WP_20140104_111

WP_20140104_124

WP_20140104_117

track ke Baduy Dalam, di lihat dari seberang jembatan bambu
track ke Baduy Dalam, di lihat dari seberang jembatan bambu

Track penyambut di Baduy Dalam sudah di depan mata. Ada apa sajakah di balik bukit itu? Sesuai namanya, Baduy Dalam letaknya memang sangat di dalam. Di kelilingi oleh hutan yang masih asri, serta sungai yang sangat jernih. Di next post. See yaa 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s