BADUY #1 : MELUMERKAN SUASANA DENGAN TEMAN BARU, DI OPEN TRIP PERDANA

Meeting Point di St.Tanah Abang 07:45 wib

Akibat kesiangan, janjian sama TS naik kereta bareng ke Tanah Abang, gagal.

Pagi itu, dengan ransel berbalut drypack biru dengan celana pendek & sandal gunung, gw memasuki gerbong kereta yang lumayan penuh dengan penumpang. Naik kereta pukul 06:30 padahal meeting poin di St. Tanah Abang pukul 07:00. Perjalanan dari stasiun depok ke Tanah Abang di perkirakan sekitar 40 menit. Duh…Semoga nggak terlambat. Harap harap cemas tapi nggak terlalu cemas, karena pikir gw, nggak mungkin TS membuat waktu meeting point berdekatan dengan waktu keberangkatan (Pasti waktunya di sapre beberapa menit/jam).

Gw nggak pernah tau muka TS, (tapi itu nggak masalah karena gw bisa nanya baju yang dia pake saat itu). Pas sampai st. Tanah Abang, karena bersemangat dan terlalu percaya diri, gw langsung nimbrung sama sekumpulan anak muda kece yang pada pake ransel. Pikir gw, mereka pasti grup gw nih yang pada mau ke Baduy. Pas gw nanya ke mereka Teguh yang mana, mereka diem, geleng-geleng kepala nggak tau. Waduh…kayaknya gw salah salah grup nih. Setelah minta maaf gw mencari sekumpulan anak-anak muda lagi, ngelempar pertanyaan yang sama, Teguh yang mana, dan gw masih mendapatkan jawaban yang sama “nggak tau”. Oke, dua kali salah nimbrung, akhirnya gw menghubungi TS. Teguh bilang dia ada di dekat loket pintu masuk St. Tanah Abang. Setelah keluar stasiun dan masuk lagi ke dalam stasiun, akhirnya gw menemukan TS gw dan teman-teman baru penjelajah Baduy.

Nah, giliran udah ngumpul sama temen baru, bingung deh gimana memulai pembicaraannya, maunya sih nggak cuma sekedar pembicaraan di awal ya (basa basi), tapi pembicaraan yang asik untuk di sepanjang perjalanan bahkan sesudah acara ini. Tapi semuanya itu butuh proses. Ngetrip kayak gini emang paling gampang mendekatkan orang yang belum kenal menjadi kenal. Dalam situasi di mana kita tidak saling mengenal, yang penting kita saling menegur (ramah dan murah senyum) 🙂

Setelah semua berkumpul, TS mengabsen sambil membagikan tiket. Total peserta yang ikut trip ini sekitar 50 orang, grup terbanyak dibanding kelompok lain yang gw sasarin tadi. Jam sudah menunjuk ke pukul 8, kereta jurusan Tanah Abang Rangkas Bitung segera melaju. Gw masuk ke gerbong dan duduk sesuai dengan nomer yang tertera di tiket.

WP_20140104_009

Kami memasuki gerbong 5. Menyusuri lorong sempit mencari tempat duduk yang sebagian besar sudah terisi . Tidak lama, gw melihat nomer yang sama seperti yang tercetak di tiket kereta. 20D, dan itu posisinya di dekat jendela (gw langsung sumringah. Perjalanan yang tidak akan membosankan. Beruntungnya gw)

Duduk…nggak ada yang di kenal, tapi pasangan di depan gw sangat ramah. Mereka tanpa segan langsung nawarin gw roti bakar coklat. Gw menolaknya secara halus. Gw liat keadaan lagi. Kursi di sebelah gw masih kosong. Gw mengamati orang orang yang duduk di samping dan belakang gw, ternyata dibelakang ada teman satu rombongan yang merasa asing dengan kesendiriannya, sama seperti gw. Gw panggillah orang itu, lalu kami duduk bebarengan hingga akrablah kami disepanjang perjalanan.

WP_20140104_008

10.30 WIB tiba di St. Rangkas Bitung dan bersiap naik mobil mini

Kereta melambatkan lajunya, sampailah kita di St. Rangkas Bitung. Pergi ke Baduy dan naik kereta Jurusan Rangkas Bitung adalah hal pertama buat gw. Makanya gw penasaran banget bagaimana sih pemandangan selama di perjalanan. Untuk pemandangan sampai di St. Palmerah itu adalah jalan raya utama beserta gedung-gedung perkantorannya (kalau jalur ini sering gw lewatin). Nah, setelah melewati Bintaro lahan kosong bertanah merah yang luas mulai sering terlihat, kadang di selingi pemandangan pepohonan rimbun, terus petakan-petakan sawah yang hijau. “Rangsangan” yang baik untuk memulai perjalanan ini.

Kami semua turun dari kereta dan berkumpul di peron untuk di absen lagi. Semua lengkap, TS memandu kita keluar stasiun dan berjalan ke arah terminal (letaknya tidak jauh, ada di sebelah kiri stasiun dari arah datangnya kereta). Di terminal sudah menunggu beberapa mini bus yang akan kita naiki. Dengan rombongan sebanyak ini, mereka menyewa 3 mobil. Satu mobil cukup memuat beberapa orang karena tas yang kita bawa akan ditaruh di atap.

WP_20140104_020

WP_20140104_019

Mobil jalan beriringan. Untuk TS gw dan temannya, mereka memilih duduk di atap mobil. Nggak kayak di Depok atau Jakarta, mobil ini nggak kena tilang karena ada orang yang duduk di atap mobil, atau mungkin waktu itu lagi nggak ada polisi jadi aman-aman aja ya? Bis kecil ini meninggalkan Terminal Rangkas Bitung, kondisi jalan yang kami lewati masih mulus, dengan wajah kota yang padat dengan bangunan serta jalur transportasinya yang sibuk.

WP_20140104_023

Satu jam kemudian perjalanan ini mulai memasuki jalan yang semakin berliku, menanjak, menurun, dengan pemandangan yang selama ini gw cari, sawah, perbukitan, punggungan gunung, dan lebatnya pepohonan. Terkadang ditemui kondisi jalan dengan aspal berlubang, tidak rata, berkerikil, ditambah kondisi mobil yang gw naiki sudah agak tua, terlihat beberapa karat, membuat gw was was selama di perjalanan. Nggak yakin, apa mobil ini aman membawa kita sampi di Terminal Ciboleger. Tapi gw akui supirnya mahir bawa mobilnya. Jadi, baik itu saat melewati jalanan berlubang, tanjakan, turunan, berpas-pasan dengan kendaraan lainnya, semuanya terkendali, mobilnya nggak ngadat.

12.00 WIB tiba di Ciboleger dengan selamat sentausa

WP_20140104_028

Sangat lega akhirnya kita sampai juga di Terminal Ciboleger. Setelah mendapatkan tasnya masing-masing, kita istirahat siang di warung makan sederhana dulu. Mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan yang katanya memakan waktu sekitar lima jam. Bener nggak sih Baduy dalam sejauh itu? Mau perjalanan jauh, kalau badan fit, medan seperti apapun pasti bisa kita lalui. Ia kan? Untuk itu, gw selalu persiapkan fisik dan semua kebutuhan yang mendukung fisik gw (baik itu obat, baju, makanan, semuanya di kondisikan sesuai kebutuhan).

WP_20140105_006
harus “nyeker” karena sandal hilang. tapi aku nggak takut kotor 🙂

Sempet nyesel nih gw, karena nggak beli tongkat yang di tawarin anak kecil waktu di Terminal Ciboleger. Udah gitu gw shock ternyata track di Baduy “lumayan” menguras nafas juga. Hal yang paling gw rasain sendiri adalah, aura di sana tuh tenang, nyaman, bersahabat. Gw nggak ngerasain takut (energy negatif) selama di Baduy. Apalagi di sana masih banyak kunang-kunang. Semua akan gw ceritain di next postingan ya. Wait yaa^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s