JALAN KENANGAN, YOMANI – GUCI – SLAMET

Empat tahun yangg lalu, di bulan yang sama (Juli, 2011) gw memberanikan diri menyusul temen (Gilang) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Posisi gw waktu itu lagi di kampung halaman WISATA KAMPUNG HALAMAN #1 : DESA TINGAL-WANUREJO-BOROBUDUR habis ada acara keluarga besar.

Siang itu sebelum nyusul Gilang di UMS, gw lagi meyakinkan diri, kalau gw nggak akan kesasar dan gw di ijinin sama “bonyok” untuk liburan lagi di Surakarta (padahal gw dan Gilang, kita mau ke Tegal bersama, menyusul temen temen satu angkatan penggiat alam bebas (yang jalan dari Jakarta), karena kita mau langlang buana ke Gunung Slamet).

Seperti biasa, nyokab gw selalu khawatir, dan bokap selalu mendukung apapun yang gw lakukan (karena itu gw lebih sering izin naik gunung ke bokap daripada ke nyokab).

Setelah di beri penjelasan rute dan transportasi oleh pakde gw yang orang Surakarta, gw di anterin bokap ke Terminal Borobudur. Sampe terminal, bokap langsung ketemu sama kernet bis (Borobudur-Yogyakarta), dia nitipin gw supaya gw bener bener di anter sampai tujuan.

Bis berukuran nanggung tersebut akhirnya melaju dan membawa gw melintasi jalan Magelang – Yogyakarta. Kernet bis meminta bayaran, gw memberikan uang 10ribu yang sudah di persiapkan sebelumnya. Selama di perjalanan, gw nggak berani tidur, karena gw takut nggak ngenalin jalan, karena gw tuh bener-bener buta sama akses di sini, jadi setiap bis berhenti di mana, gw catet di hp. Dan gw juga hampir salah turun terminal, karena bisnya beberapa kali masuk terminal. Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya gw sampai di Terminal Yogyakarta.

Kesan pertama melihat terminal ini, rapih, teratur dan tidak terlalu “semrawut” dengan banyaknya pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Bus bus berada di jalurnya masing-masing sesuai rute. Nggak membutuhkan waktu lama, gw tinggal cari papan kota tujuan, dan di dekatnya sudah ada bis yang mengetem. Setelah bertanya apakah bis ini ngelewatin UMS, dan ternyata ngelewatin, gw langusng naik dan memilih duduk agak depan biar bisa mantau jalan, sama sering sering ingetin kenek supaya di turunin di UMS.

Di bis ngantuk tapi nggak mau tidur, karena takut keterusan. Akhirnya cuma bisa perhatiin jalan yang di lalui bus ini. Hampir dua jam gw ada di perjalanan menuju kota Surakarta, memasuki perbatasan Surakarta- Yogyakarta, (seinget gw dari sini UMS nggak jauh lagi karena letaknya masih di perbatasan) gw di suruh siap siap. Gw langsung hubungin Gilang kalau sebentar lagi sampe.

Bis nurunin gw di alamat yang tepat. Di sisi kiri gw ada plang besar bertuliskan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sesuai janji, kalau gw udah turun dari bis, Gilang bakal jemput gw. Karena ternyata kampus ini tuh luas banget. Gw mesti masuk kedalam lagi buat sampai di sekretariat pecinta alam UMS, jurusan psikologi.

Sampai sana Gilang langsung ngenalin gw ke temen-temennya. Mereka ramah ramah banget. Mereka meyambut gw dengan hangat. Sampai sana gw di kasih minum, makan, di siapin tempat buat istirahat (gw tidur di sekrenya mereka). Malam ini gw akan menginap di sini dulu, baru besoknya gw dan Gilang ke Tegal (nyusul temen yang lain).

Malam berlalu, siang berganti. Di tengah hari, gw dan Gilang diantar dua teman menggunakan motor ke pinggir jalan besar untuk menyetop bus jurusan Solo-Yogya. Setelah berpamitan, bis yang kami inginkan muncul. Situasi bus siang itu terbilang padat, beruntung gw dan Gilang masih kebagian tempat duduk di kursi belakang. Perjalanan yang sama kayak gw nyusul Gilang, setelah 2 jam perjalanan akhirnya sampai di Terminal Yogyakarta. Bis yang akan kita naiki selanjutnya adalah jurusan Purwokerto, sebelum akhirnya kita harus nyambung lagi untuk sampai di pertigaan Yomani-Tegal.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Purwokertonya ini nih yang panjang banget. Pegel. Nggak nyempe nyampe. Udah ngobrol, tidur, dengerin musik, liat pemandangan sawah, tidur lagi dan ngobrol, belum sampe juga. Di sini kita berdua juga sama-sama keder nih, antara Purworejo dan Purwokerto. Jadi, bis yang kita naikin itu berhenti di banyak terminal, sebelum akhirnya berhenti di terminal akhir Purwokerto. Akhirnya setiap terminal yang udah kita lewatin gw tandain di belakang karcis (di belakang karcis ada nama-nama terminalnya)

Pukul 9 malam, saat kami sampai di Terminal Purwokerto, dan di situ kami masih harus naik bis untuk sampai di pertigaan Yomani. Huuh…di hitung-hitung, jarak Solo ke Tegal menghabiskan 12 jam perjalanan (itu setara dari Borobudur ke Jakarta. Gilakk!! Kalo gw nggak nyusul Gilang, gw udah sampe Jakarta, kalii!).

Setelah ngetem yang cukup lama, bis nanggung yang kami naiki akhirnya penuh dengan penumpang. Ngobrol lagi, dengerin musik lagi, tidur lagi. Kapan sampenya yaaa…jalanan yang kami lewati cenderung agak redup penerangan jalannya, udah gitu lumayan berkelok lagi medannya. (gw paling nggak suka naik bis yang penuh, dengan kondisi jalan yang berkelok, apalagi kalau supirnya ngebut, sepanjang jalan gw bakal “ngutuk” tuh sopir).

Saat kami hampir sampai di pertigaan Yomani, kondisi bis sudah sepi. Penumpang hanya beberapa yang duduk di depan.tidak lama kenek memberitahu kalau kami sudah sampai di pertigaan Yomani. Turun dari bis, jalanan udah sepi banget. Kata temen gw yang udah nyampe sorenya, kalau dari pertigaan ini ke Guci, bisa naik pickup sayur (habis maghrib pick up sayurnya udah jarang), kalau nggak ojek (tapi kalau lewat jam 12 malem untung-untungan). Waktu itu kita sampai sekitar jam 12. Mending liat ojek, ngeliat orang aja nggak. Mobil pickup sayur sih sesekali lewat, tapi lewatnya ngebut banget (udah gitu berlawanan arah, kita mau ke atas mereka arah turun).

Gw dan Gilang akhirnya memutuskan untuk jalan. Kali aja jalan pelan pelan nggak terasa tau-tau sampai (sambil tetep usaha nyetopin motor dan pickup yang lewat). Kita menyusuri jalan beraspal, dengan minim penerangan, kanan kiri hamparan sawah. Setelah melewati sawah, kita mulai bertemu rumah-rumah, dan di situ Gilang kebelet pub. Kami ngeliat mesjid. Gw dan Gilang memasuki halaman mesjid itu. Keadaan mesjidnya gelap banget. Gilang ke sisi samping masjid, di sana ada anak tangga menurun, dia udah mau sampe ke wc, tapi karena kita sama-sama nggak bawa headlamp, Gilang ngebatalin pub-nya karena sumpah, gelap dan sepi banget waktu itu. Hhhaaa…

Akhirnya kita kembali menyusuri jalan beraspal. Ngeliat pos ronda kita duduk dulu di situ. Sempat terbesit, apa kita tidur di sini dulu ya baru paginya ke Guci. Gilang terus nyetopin pickup yang lewat, dan yeeyy…pickupnya berhenti. Gw dan Gilang nanya-nanya, pak bisa nggak nganterin kita ke Guci, bapaknya tuh sopan banget, menolak kita secara halus, saking halusnya kita malah dibuat ngobrol panjang lebar sama dia. Kaki gilang gw injek aja buat kode biar dia mutusin pembicaraan sama bapak itu.                                                                                                                                                                                                                                         Kita Kita duduk lagi di pos ronda. Gilang kali ini berhasil menyetop motor. Ojek! Pikir gw. Tapi bapak ini kira-kira sanggup nggak ya bawa kita berdua. Ternyata bapaknya mau. Yeee…lega akhirnya. Waktu itu gw dan Gilang bawa daypack. Daypack Gilang taro di depan. Gw di tengah duduknya (waktu itu belum ada istilah cabe-cabean. Hha..) Dan daypack gw Gilang yang bawa. Motor itu cukup kokoh membawa kami, apalagi setelah tau medan yang di lewatin naik turun, berliku liku, kanan kiri kebun tebu, nyeberangin jembatan, dari jauh terlihat siluet Gunung Slamet. Abangnya cerita serem lagi. Gw kan jadi parno. Apa jadinya kalau kita tetep semangat untuk jalan?! Baru sampe besok kali. Dan bener aja, pas gw hitung waktu, perjalanan dari omani ke Guci sekitar 45menitan.

Ojek kita sempat berhenti karena harus membayar biaya masuk ke tempat Wisata Gucin atau wisata Gunung Slametnya, soalnya gelap waktu itu, gw nggak ngeliat tulisan di plangnya. Setelah membayar (5ribu kalau nggak salah) motor kembali di gas, yang akhirnya sampailah kita di rumah-rumah penduduk. Setelah menghubungi teman, Imam muncul dari sebuah gang. Setelah membayar sekitar 25ribu (waktu tahun itu) akhirnya sampai juga di rumah teman, sebelum besok kita mendaki ke Gunung Slamet, gunung tertinggi kedua di pulau jawa.

8 PENJURU MATA ANGIN DAN NEGERI DI ATAS AWAN selanjutnya. Keep fight^^

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s