8 PENJURU MATA ANGIN DAN NEGERI DI ATAS AWAN

Perjalanan kami berawal dari sini. Pertigaan Yomani merupakan langkah awal yang akan membawa kami ke negeri di atas awan. 8 penjuru akan menginjakkan kaki pertama kalinya di puncak berpasir dengan semburan gas berbahaya.

Imam Kharmain, Slamet Sandi, Gilang Wana, Dimas Setiawan, Muhammad Ichsan, Prasetyo, Fransiska Tutur, dan Janet Swastika. Kami adalah 8 penjuru mata angin yang bertolak dari Jakarta menuju puncak tertinggi kedua di pulau jawa, Gunung Slamet. Seperti hembusan angin utara, pendakian dimulai dengan penuh semangat dan jantung berdebar.

Beberapa teman berangkat dari Jakarta menggunakan bis Dewi Sri jurusan Pasar Minggu – Tegal. Menginap semalam di rumah kerabat dari senior kami – yang terletak tidak jauh dari pos pendaftaran dan pintu masuk Gunung Slamet Jalur Guci – pagi harinya kami mulai mempersiapkan segalanya.

Gw dan ka Debby ditemani oleh pemilik rumah pergi kepasar yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Kami belanja cabai, telur, sayur asam, ikan asin, tahu, dan bahan lain yang memang sudah kami susun sebelumnya.

Selesai berbelanja, kami kembali dan mulai mengemas ke ceril masing-masing dan tidak lupa sarapan agar ada tenang untuk seharian mendaki.

Setelah berpamitan dengan pemilik rumah, kami memulai perjalanan ini. Perjalanan dimulai dengan melintasi rumah penduduk yang lebih sering ditawarkan sebagai home stay – karena letaknya dekat dengan tempat wisata Permandian Air Panas Guci.

Setelah berjalan sekitar 500 meter, jalanan beraspal ini mulai menanjak dengan pohon cemara yang lebat di kanan kiri kami, sebelum mengikuti jalur menanjak berbatu, kami memutuskan untuk mengisi dirigen dengan air, karena sumber air bisa kami dapati dari aliran sungai ini dan kami bisa mendapatkannya kembali nanti di pos 4.

 

1

Setelah semua dirigen air penuh dan kemantaban hati ini sudah bulat, senior kami, Baray memimpin perjalanan. Jalanan menanjak dengan batu batu yang tidak beraturan sangat menyusahkan langkah kami. Di sepanjang jalan itu, kanan kiri kami adalah pepohonan dengan ilalang ilalang tinggi. Sesekali terlihat hamparan ladang penduduk yang dipenuhi oleh sayuran kol. Setelah berjalan sekitar 35 menit, kami sampai di batas perkebunan warga.

2

Jalan di depan kami masih menanjak, kami berjalan perlahan berirama. Sekali nafas terenggal, kami memberhentikan langkah sejenak, keringat mengucur deras karena saat itu matahari sedang bersahabat. Pepohonan mulai rindang dan rapat. Kami hanya melangkahkan kaki ke jalan setapak bertanah, jalanan khas yang di temukan ketika mendaki gunung.

Di pos pertama, kami beristirahat untuk makan. Menu andalan kami disetiap pendakian adalah orek tempe dan kacang teri, yang dimasak oleh neneknya Pras. Tidak ada alasan lain selain simple dan tidak cepat basi. Nasi putih yang kami beli di warung warga gw buka dan gw letakkan di akar pohon cemara. Orek tempe dan kacang teri gw tuangkan di atas nasi. Kami makan berkerubung dengan penuh kenikmatan dan melupakan tata karma makan yang semestinya.

Mendaki gunung ini penuh  kekhawatiran. Di tengah menembus belantara hutan yang masih asri, terbesit mitos-mitos setempat dan ancaman hewan buas, namun tidak menghentikan semangat ini. Bersama dua senior kami, Baray dan Deby, mereka membantu kami melewati setiap rintangan.

3

Perjalanan dari pos satu kepos dua sebenarnya jalannya tidak terlalu menanjak, meskipun menanjak tetapi tidak separah sampai harus mengangkat kaki tinggi tinggi. Pos dua ke pos tiga juga sama, jalanannya tidak terlalu menanjak. Dari pos tiga ke pos empat kami mulai kewalahan, jalanannya mulai menguras tenaga, tanjakan, tanjakan tinggi, sampai akhirnya hari sudah malam, dan kami belum sampai juga di pos 4, meskipun jarak terakhir kali kami beristirahat dengan pos 4 tidak terlalu jauh – tetapi karena ada teman yang sakit akhirnya Sandi memutuskan untuk mencari tempat yang agak lapang untuk membangun tenda.

4

Tempat kami membangun tenda tidak terlalu jauh melipir, masih dekat dengan jalur trecking. Para pria membuat dua tenda, yang satu tempatnya di atas, dan yang satunya lagi agak kebawah. Disebelah tenda ini, sengaja diberi ruang sedikit yang ditutupi oleh plesit agar kami bisa meletakkan ceril dan memasak. Baray membuat api unggu tepat di sebelah tenda ini. Gw selesai ganti baju – (baju bener-bener basah karena keringat), kalau tidak di ganti takut masuk angin – dibantu dengan ican, gw mulai memotong motong bahan makanan.

Nasi tanak, sop, serta telor dadar dan tempe tepung, menjadi makan malam kami. Suara memercik minyak panas ketika di masuki tempe berbalut terigu, suara air kaldu yang mendidih, serta percikan-percikan api unggun yang menimbulkan bunyi khas, menemani sepinya malam kala itu. Tambahan canda tawa kami si-8 penjuru mata angin menambah hangatnya malam.

Selesai makan, kami semua memasang badan untuk tidur.walaupun tanahnya itu tidak rata, karena terhalang oleh akar akar pohon, mau tidak mau gw harus tidur senyaman mungkin. Akhirnya rasa lelah-lah yang mengalahkan gw, sehingga gw tertidur pulas.

Esoknya gw respon terbangun karena mendengar beberapa teman gw sedang berbincang bincang di belakang tenda. Saat keluar dari tenda, ternyata hari sudah pagi. Malam berganti, dan kini saatnya matahari menghangatkan kami kembali. Gw menengadahkan kepala, melihat sekitar, dan kini pandangan gw lebih jelas dibanding tadi malam. Pohon besar dimana mana, jalurnya terlihat padat, ditutupi oleh ilalang. Tenda gw dibangun percis dibawah pohon besar dengan akar yang melintang-lintang. Sunggu seram jika tahu kalau semalam kami tidur disini.

Sinar matahari masuk melalui celah-celah pepohonan.beberapa burung mulai kami dengar kicauannya.Elang Jawa terlihat terbang di atas kami. Baray sempat menunjukkan ke kami suatu pemandangan puncak berpasir, katanya itu adalah puncak bayangan yang harus kita lewati kalau mau sampai ke puncak slamet.

Selesai sarapan dan mengemas barang, kami melanjutkan perjalanan kembali. Baru melangkah, teman gw melihat tanda goresan kuku dari seekor hewan di batang pohon yang kami lintasi, entah hewan apa itu, tapi tentunya hewan itu memiliki kuku tajam. Seram juga membayangkannya kalau sampai harus bertemu dengan hewan ini.

Perjalanan kami lanjutkan.mendaki gunung berapi di musim kemarau mengharuskan kami untuk menggunakan air seefektif mungkin.sumber air hanya kami peroleh di kaki bukit dan pos empat.

Setelah jalan sekitar 30 menit, kami menemukan medan yang lapang, dan ternyata itu adalah pos empat, yang seharusnya kami semalam menginap disana. Keadaan di sekitar pos empat, tanah yang lapang (tidak terlalu luas) datar, ada satu pohon tinggi menjulang, disekitarnya ilalang lebat dan rapat.

Kami tidak beristirahat, kami terus jalan perlahan. Ternyata, medan Gunung Slamet mulai terlihat sulit setelah melewati pos empat. Akar-akar pohon memenuhi jalan setapak, sampai kami harus berjalan jongkok agar bisa melewati terowongan-terowongan akar.jalan menanjak dan terus menanjak, membuat kami harus terus berhenti.mengatur nafas dan membasahi tenggorokan yang cepat sekali keringnya. “satu…dua…tiga…! Hu…uh!!!” Terdengar teriakan dari rekan yang terlebih dahulu dari gw. Teriakan itu penuh maksud. Benar saja, ketika gw menghampiri mereka, medan yang lebih berat ada di depan mata. Itulah salah satu candaan kami. Naik gunung jangan dibawa susah, nikmati saja. Celetukan, candaan, kadang hanya saling terdiam karena kami sama lelahnya.

Ditengah perjalanan kami menemukan gubuk kecil dengan batang pohon melintang,.tempat itu kami jadikan tempat istirahat sejenak sebelum kembali melangkahkan kaki dengan menanjak dan terus menanjak. Hu-uh….

Dihadapan gw terlihat pohon pohon tinggi menjulang dengan tanah tanah padat yang tinggi. Pijakan kami untuk melangkah, ya harus menaiki tanah tanah padat itu satu per satu, mendaki dengan kaki yang lebar, benar benar membuat nafas kami cepat habis. Disaat hampir putus asa, ternyata kami sudah sampai di batas vegetasi atau pos 5. Situasi di pos ini tanah lapang yang tidak terlalu luas, yang diapit oleh jalur berbatu yang akan menuju ke puncak dan sisinya lagi yaitu jalur yang kita lewati tadi. Gw menyender di tanah dan memejamkan mata sebentar. Ngantuk.

Para pria langsung memasang tiga tenda, dan gw langsung mengeluarkan bahan makanan untuk makan malam. Lauk malam ini adalah sayur asem dengan ikan asin cabe ijo.sebenernya nikmat banget sih, tapi gw kebiasaan tidak terlalu banyak makan kalau lagi pendakian. Selesai melangsungkan tanggung jawab, gw langsung masuk ke tenda karena ngantuk berat.sedangkan pria pria yang lainnya masih mengobrol ditemani terang bulan. yang indah.

5

 

 

 

 

Pukul lima pagi hari, dingin sangat menusuk, membuat semangat 8 penjuru mata angin menurun. Dinginnya pagi terus membuai kami untuk tetap berada di sleeping bag.tidak mau terlena oleh dinginnya pagi, Sandi yang saat itu sebagai ketua perjalanan membangunkan kami dengan sabarnya. Setelah semua peelengkapan yang akan dibawa summit telah lengkap, kami berkumpul dan memanjatkan doa.

Bukan pijakan tanah padat yang kali ini kami injak, melainkan pasir dengan batu-batu besar berserakan di sekeliling kami. Dengan kehati-hatian tinggi, kami harus pintar memilih pijakan agar tidak terjadi longsor kecil yang nantinya akan membahayakan orang di bawah kami. Terus menanjak dan menanjak, hanya itu yang kami lakukan, sehingga tubuh tidak bisa lagi berjalan tegak.kemiringan lereng kini begitu terasa.

Ketika mata hanya tertuju ke depan, ada pemandangan yang begitu menakjubkan ketika kita membalikkan badan. Hijau dan biru.hijaunya hamparan hutan, dipadu birunya cakrawala, sungguh membuat hati damai bagi siapa saja yang melihatnya.dari jauh terlihat Puncak Ciremai, menyembul malu diantara gumpalan awan.di sisi sebelah kiri terbentuk bayangan Gunung Slamet bagai fatamorgana.

Puncak bayangan sudah kami lewati, bau belerang mulai begitu terasa. Baunya bisa membuat pusing, mual dan lemas bagi yang menciumnya.namun 8 penjuru mata angin tetap mengobarkan semangatnya. Negeri di atas awan sebentar lagi akan menampakkan wajahnya.

Dengan semangat yang terus bergaung dalam hati, hanya ini satu-satunya yang bisa membuat kami terus melangkah. “Ayo semangat! Sebentar lagi sampai!” Teriak teman yang sudah sampai puncak terlebih dahulu.langkah terus diperlebar, nafas yang tak beraturan tidak kami hiraukan.sampai akhirnya, 8 penjuru mata angin tiba di puncak Gunung Slamet.

Duduk terdiam sejenak, sambil mata terarah ke segala penjuru.angin yang membawa bau belerang meyakinkan kami bahwa kami sudah sampai di negeri di atas awan. Ichan mengeluarkan hp-nya, memberi kabar teman-teman yang ada di Jakarta, “Halo, kami semua sudah sampai puncak!” Ucapnya dengan nada gembira, ya…jangan heran, tersedia sedikit sinyal di sini.

Gumpalan-gumpalan awan putih mewarnai pelupuk mata, sedangkan pemandangan di sisi kiri kami, terbentang birunya langit yang membentuk garis horizon tanpa batas.  Bendera merah putih kami kibarkan di salah satu tiang tertinggi di negeri ini, dan tak lupa kami kibarkan di hati ini. Inilah indonesia, keindahan alamnya sungguh menawan.

6

 

 

 

 

Gunung api yang bisa memberikan kesan berbeda-beda bagi siapa saja yang menjamahnya. Kesan menakutkan atau kesan menakjubkan. Keindahannya sangat memukau, namun kemarahannya menimbulkan murka angkara.

 

Iklan

One Comment Add yours

  1. pendakian yang membutuhkan mental baja, salut banget

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s