TIDAK MUDAH MENJADI JUNIOR , NAMUN LEBIH TIDAK MUDAH LAGI MENJADI SENIOR

Dari 5 HARI UNTUK S’LAMANYA #1 gw ingin berbagi tulisan (tulisan yang gw dapat dari senior, ia men-share kisah ini ke facebook organisasi kita). Kurang tau sembernya dari mana, tapi tulisan ini sangat mewakili perasaan kami (para anggota) organisasi penggiat alam. Berikut kisahnya,

Sungguh…

Tidak mudah menjadi junior

Namun lebih tidak mudah lagi menjadi senior

(sebuah kilas balik)

Saya bukan siapa siapa, dan juga bukan apa-apa. Hanya seorang lelaki biasa yang selama 42 tahun berkecimpung di dunia penggiat alam bebas. Sejak sma kelas 2, di umur 17th, tepat di tahun 1971, memutuskan untuk memasuki kelompok pendaki gunung di cimahi.

Tidak mudah untuk menjadi anggota kelompok pencinta alam pendaki gunung saat itu. Umur organisasi yang baru genap 2th (berdiri sejak 1969), belum ada yang cukup mampu untuk dijadikan instruktur beneran, sehingga kami melirik para (rpkad) sekarang kopasus, grup 3 di batujajar untuk melatih kami. Jadilah saya dan teman teman seangkatan dilatih tentara elit itu, di tebing citatah, hutan gunung burangrang, sampai ke barak situ lembang. Gunung hutan selama 2 minggu penuh, 5 hari terakhir melakukan longmarch dalam kondisi survival sepenuhnya.

Saat itu sudah berlalu, seiring waktu angkatan kami semakin dewasa dalam jam terbang. Gantian tugas sebagai instruktur dalam pendidikan dan pelatihan dasar (diklatdas) menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Siswa siswi baru bergantian datang angkatan demi angkatan. Sebagai anggota muda di awal, dan merekapun berproses menjadi dewasa dalam pengembaraan maupun operasi-operasi sar yang kami lakukan.

Sejak awal, perintah komando kami bukan lagi jenis kalimat perintah seperti “tuan tuan push up 2 seri (1 seri 10 kali), tapi “tuan tuan ikuti saya!”, instruktur mengambil posisi lalu push up 20 kali bersama dengan siswa. Begitupula saat senam para, tangan kesamping lalu kipas kipaskan seperti sayap burung ke atas ke bawah sebanyak 1000 kali. Senam kipam di dalam air selama 30 menit merayap, lari pagi, apapun, kata komandonya sama, “tuan tuan ikuti saya!”.

Artinya bukan hanya siswa, namun instrukturlah yang harus selalu memberi contoh dan keteladanan. Saat siswa terlambat masuk kelas, instruktur bersama siswa yang telat pushup 20kali. Jika kemudian muncul lagi siswa lain yang telat, sama di hukum bersama pushup 20kali, jika muncul yang ketiga, keempat, dst. Setiap siswa yang telat hanya pushup 20kali, namun instruktur bisa pushup 40 sampai 100 kali membarengi mereka.

Ketika kami melatih free climbing di tebing 48 m di citatah. Di jaman itu artificial climbing belum populer karena terbatasnya sarana. Para siswa bergelayutan di tebing, semua tegang berdebar, namun yang paling tegang justru sang instruktur. Pernah pada sebuah angkatan, saat siswa masih di tebing, hujan tiba-tiba turun, bersyukur tak terjadi kecelakaan apapun. Saat latihan ini selesai wajah yang paling lega adalah sang instruktur.

Para siswa lulus dari pendidikan dasar, dan dilanjutkan pada tugas pengembaraan, untuk mendapat nomer induk anggota. Mereka di lepas dari sekretariat untuk memulai perjalanan yang telah di rancang jadwalnya. Hari demi hari menunggu berita dari para junior ini. Apakah mereka selamat? Apakah mereka menghadapi hambatan di perjalanan? Apakah mereka tersesat saat pulang atau turun gunung? Waktu itu komunikasi belum seperti sekarang, bahkan telepon rumahpun masih merupakan kemewahan. Maka penantian itu betul betul menguras mental dan emosi.

Sering sekelebat muncul pikiran buruk, jangan jangan para junior ini tersesat di perjalanan dan masuk ke lembah. Lalu kehabisan makanan, sehingga terpaksa survival. Namun jika mereka dalam kondisi basah, maka dengan mudah hiportermia menyergap mereka. Jika gigilan mereka hilang, lalu tertidur, habislah sudah. Mereka akan kembali terbungkus dalam kantung kantung mayat.

Jika situasi yang terburuk itu terjadi, kalimat tanya yang pertama kali keluar adalah “apakah aku telah cukup melatih dan mendidik mereka?” Pertanyaan yang terus menerus menggedor di kepala, bertalu lalu menyakitkan. Pernahkah rasa kasihanku saat latihan membuat mereka lalai dalam belajar dan berlatih? Apakah metodaku terlampau lembek, sehingga mereka menganggap enteng pelajaran tentang cara bertahan hidup? Jika ya, lalu bagaimana pertanggung jawabanku dalam pengadilan di akherat kelak?

Mereka bisa terbunuh di alam sana, bukan kesalahan mereka, tapi akibat rasa “kasihan”. Rasa kasihan sang instruktur yang tidak proporsionallah pembunuhnya. Menolak berkeringat saat berlatih, namun menyebabkan berdarah-darah dalam pengembaraan sebenarnya. Apalagi berujung pada tragedi kematian. Memang kematian merupakan takdir ilahi, namun tanyalah pada setiap instrukur, sebuah pertanyaan yang paling esensial, bagaimana jika ada junior yang mati saat pengembaraan, hanya karena mereka tidak cukup keras dalam berlatih? Hanya karena sang instruktur takut di cap melakukan “penganiayaan” pada siswa. Padahal tau persis bahaya dan risiko yang akan dihadapi sang junior, saat melakukan pengembaraan pertama dan pengembaraan-pengembaraan berikutnya di alam bebas.

Ketika para junior kembali dari pengembaraan, saat sidang usai dilakukan, saat syal dan nomer induk anggota di berikan, mata junior dan instruktur berkaca-kaca, seraya berpelukan dalam tangis bahagia. Selamat datang adik adikku. Sang junior paham, “penganiayaan” yang di alaminya dulu, membuat mereka menjadi tangguh dan siaga. Membuat mereka paham, bahwa berkeringat bahkan kadang berdarah-darah saat menjadi siswa, menjadi bekal berguna ketika berhadapan dengan tantangan alam yang sesungguhnya.

Bahwa kerasnya hardikan, pedasnya tamparan, ribuan pushup, situp, squat jump, merupakan bukti “kasih” agar dalam setiap pengembaraan, mereka masih mampu kembali pulang ke keluarganya masing. Agar mereka pulang tidak dalam bungkusan kantung mayat!

Para junior perlahan tumbuh, berganti menjadi senior dan instruktur instruktur baru untuk angkatan adik adik mereka. Perasaan ketegangan, kegalauan yang pernah dirasakan oleh para senior dulu, kini juga mereka rasakan. Betapa berat memikul arti “pertanggung-jawaban”

Lantas kesadaran itu muncul. Dulu mereka berfikir betapa sulitnya untuk menjadi senior, yang habis disuruh-suruh dan dibentak bentak. Namun mereka kini paham, betapa lebih tidak mudah lagi menjadi seorang senior dan instruktur. Hanya karena seorang instruktur harus mempertanggung-jawabkan semuanya di yaumil akhir, tepat di depan sang khalik kelak. Apakah yang diajarkannya pada para siswa, akan membawa berkah manfaat atau bahkan sebuah musibah?

Sebuah musibah, hanya karena sang instruktur mengumbar rasa kasihan yang tidak pada tempatnya, sehingga berujung pada kedukaan…

Dan juga mudah mudahan

Bukan ketika para instruktur mulai melupakan

Bahwa perintah komando yang paling mujarab adalah

Tuan…ikuti saya!

-Yat Lessie-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s