PENDAKIAN KARTINI #WANITA WANITA SUPER DI PENDAKIAN TERPANJANG (GEDE-PANGRANGO)

Selesai pendidikan dasar (dikdas), status gw selanjutnya di organisasi penggiat alam adalah menjalani masa bakti. Di masa bakti, caang sudah berhak menggunakan atribut mapala dan juga bisa mengikuti kegiatan mapala. Kegiatan yang gw ikuti dan adakan waktu itu, bersama teman-teman satu angkatan 13 adalah Pendakian Kartini (April-2011)

Gunung Gede-Pangrango adalah gunung pertama yang gw daki. Bersama 50 orang peserta (paling banyak wanita), gw dan panitia bertanggung jawab untuk membawa mereka ke puncak, dan turun kembali, sampai ke rumah dengan selamat.

Ilmu selama pendidikan dasar, sangat banyak gw terapkan di kegiatan perdana ini. Gw bantu me-manage barang bawaan setiap peserta (gw memberitahu mereka bagaimana mengemas barang di carier). Gw belajar manajement waktu, mengaplikasikan rundown acara yang telah dibuat. Memimpin dan menjaga kelompok selama pendakian, serta saling suport satu sama lain.

Setelah peserta di data ulang, kami panitia melakukan meeting terakhir sebelum beranjak ke Pos Pendakian Gede-Pangrango, Jalur Putri. Meskipun ini adalah pendakian pertama, gw diberi “wejangan” oleh senior kalau ada apa-apa di tengah pendakian, gw nggak boleh terlihat panik dan jangan ngerepotin peserta. Waktu itu 1 panitia membawahi 5 peserta, kelompok gw terdiri dari 2 wanita & 3 pria.

B

BB

Kami memulai pendakian lewat Jalur Putri. Bagi yang sudah pernah ke Gede-Pangrango lewat Putri, medannya agak berat karena dari pos satu sampai pos 4 jalannya terus menanjak (tapi waktu tempuh lebih singkat) di banding Jalur Cibodas (yang medannya landai dan panjang).

Pukul 1 dini hari kami semua (peserta & panitia, berjalan beriringan sesuai dengan urutan kelompoknya). Dingin cepat menyergap. Perkebunan warga terlihat tenang. Setelah melewati perkebunan, dan menyeberangi sungai kecil, langkah ini semakin terasa menanjak. Karena mendaki malam hari, kami jadi tidak melihat medan yang ada di depan mata. Yang kami tau, kalau lelah terasa, kami akan berhenti dan beristirahat sejenak.

Heningnya malam sesekali pecah dengan suara percakapan kami. Kami harus terus berbincang, kadang serius, kadang bercanda, atau sesekali berkeluh kesah. Tidak apa asalkan semua merasa enjoy dalam melakukan pendakian ini, karena semakin malam, semakin masuk ke hutan, tidak di pungkiri tenaga kami semakin berkurang.

Setelah melewati pos 3 menuju pos 4, (pos buntut lutung menuju Pos Simpang Maleber), medan yang harus kami lalui adalah tanah padat, juga bebatuan, dihiasi oleh rambatan akar pohon di mana-mana, mereka bersatu membentuk jalur yang harus kami lalui dengan “tenaga super ekstra” (soalnya, tanjakannya tinggi-tinggi. Kami harus nyiapin kuda kuda dulu. Ngelebarin langkah, tangan memegang akar atau batang pohon, terus dorong tubuh!

Dan yup…kaki ini siap naik ke undakan tanah selanjutnya). Lumayan, track-nya begitu terus sampai di ujung pos 4. Setelah melewati “bonus” (jalan setapak yang datar) kami sampai di Alun-alun Suryakencana. Finally…!! Soalnya gw ngerasa perjalanan ini tuh lama banget. Bayangin aja…dari Pos Putri pukul 1 malam, sampai Alun alun Suryakencana sekitar pukul 9 pagi. Sampai di sana kita seneng banget. Akhirnya sampai juga!!! Ya udah, kita istirahat dulu, menikmati pemandangan dan foto foto sepuasnya.

IMG_0148

IMG_0127

Dari alun-alun, kami masih harus jalan lagi, karena posisi mendirikan tenda ada di kaki bukit, yang dekat dengan akses menuju Puncak Gede. Cuaca berubah dengan cepat, kabut turun menghalangi pandangan kami. Sesampainya di camp, tim gw langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda dan gw ke tenda panitia. Saat gw sampai, sekitar pukul 12 siang, masih belum banyak panitia yang sampai.

IMG_0171

IMG_0203

Esok paginya, cuaca cerah, namun angin yang membawa kabut dingin berhasil membuat bulu di tubuh ini berdiri. Kami semua berkumpul di tengah padang lapang. Para wanita terlihat memakai kebaya, yang pria juga memakai baju daerahnya masing-masing. Bendera sudah berdiri tegak. Kami mulai berbaris. Lagu indonesia raya berkumandang. Lagu Ibu Kita Kartini juga di senandungkan.

IMG_0246

Selesai foto-foto, dan makan siang, kami mulai berkemas. Kami semua akan mampir sebentar di Puncak Gede, dan turun melewati Jalur Cibodas. Kami mendaki bukit yang ada di belakang area mendirikan tenda. Di tengah perjalanan, cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi hujan deras. Kami kurang beruntung karena Puncak Gede saat itu di penuhi kabut. Tapi kami tidak kecewa karena sudah berhasil sampai ke tempat ini bersama-sama.

A

IMG_0350

Setelah puas foto foto, perjalanan turun sangat licin karena ada track yang tanahnya itu berupa kerikil kerikil kecil yang gembur. Perjalanan turun seharusnya lebih cepat ya, karena medannya terus menurun dan menurun. Tapi, entah kenapa, kami kok baru sampai di Parkiran Cibodas pukul 12 malam. Kayaknya sih, setelah melewati Kandang Badak perjalanannya itu berubah jadi lama banget. Mungkin karena kondisi tanahnya becek, lumpur dan genangan di mana-mana.

Sampai di pos (pertigaan yang mau ke Curug Cibeureum) udah malem banget. Dari situ kita masih harus tracking menurun, melewati jembatan kayu, dan ratusan anak tangga buatan sampai di pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Dari pintu masuknya, kita masih harus jalan sekitar 300meter, untuk sampai ke parkiran Cibodas. Di sana tronton sudah menunggu kami, anak-anak juga sudah banyak yang sampai di sana. Setelah semua sudah turun, tronton membawa kami balik ke kampus (gw dan yang lain, banyak yang menginap dulu di kampus, baru besok paginya pulang).

Gw nggak tau kenapa perjalanan ini terasa sangat lama. Perjalanan naik lama, perjalanan turunnya lebih lama. Pendakian pertama gw, yang rame banget dan juga panjang banget! Turun turun, gw sampai buat tulisan ini…(terinspirasi dari lamanya perjalanan waktu itu).

SATU TUJUAN BERIBU SEMANGAT

MALAM MENGGANTUNG,
SEMANGAT KAMI MASIH BERKOBAR…
BAGAI TENTARA YANG SIAP MENGHADAPI MEDAN PERANG.

KENCANGKAN SABUK, PERSIAPKAN SENJATA, MENCOBA HADAPI RINTANGAN DI DEPAN KAMI.
BENAR SAJA, SATU RINTANGAN MULAI TAMPAK,
DUA RINTANGAN KAMI LEWATI, TIGA RINTANGAN TETAP KAMI LALUI,,
EMPAT SAMPAI RINTANGAN BERIKUTNYA SEMANGAT KAMILAH YANG BERMAIN.

KATA DEMI KATA TERDENGAR BERBISIK DI ANTARA SESAKNYA NAFAS,,
MENCOBA UNTUK TABAH, WALAU BELUM JELAS SAMPAI KAPAN LANGKAH INI AKAN BERAKHIR.
BERKUTAT KANTUK DAN LELAH, MENCOBA SINKRONKAN DERAP LANGKAH.
LELAH TAK DAPAT DIPUNGKIRI, KANTUK TAK DAPAT DIBOHONGI.

NAMUN SEMANGAT MENDORONG KAMI UNTUK TETAP MELANGKAH.
YA, TUHAN…PERJALANAN INI BEGITU BERAT,,NAMUN KAMI BAHAGIA, KARENA DI SINILAH PERSAUDARAAN KAMI MUNCUL.
KUATNYA GENGGAMAN AKHIRNYA MENGHANTARKAN KAMI KE PADANG  TAK TERBATAS…
DIMANA EMOSI MEMUNCAK AKHIRNYA BISA DILEPASKAN.
BELUM BERAKHIR DISINI KAWAN, SEMANGAT KITA MASIH DIUJI ESOK.
TUK SEJENAK, PEJAMKANLAH MATAMU.
ESOK…KAU AKAN MELIHAT AKHIR DARI PERJALANAN INI. PERJALANAN YANG PENUH CERITA…

6(1)

Gw salut dengan teman-teman wanita yang melakukan pendakian ini. Kami semua adalah wanita perkasa yang akan berjuang melalui karya yang kami punya. Seberat apapun medan yang menghadang, kami terbukti bisa melewatinya dengan sabar dan tetap tangguh.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s