5 HARI UNTUK S’LAMANYA #6 SOLIDARITAS YANG KUAT (END)

Pagi di hari keenam kami diawali dengan hujan deras. Gw masih meringkuk di dalam bivak, memandangi rumput yang basah terkena hujan. Agan masih belum memanggil, ini kesempatan kami untuk beristirahat lebih lama. Saat hujan mulai reda, agan menyuruh kami untuk berkemas lalu berkumpul di dekat tenda utama.

Carrier sudah di tubuh kami masing-masing, kami disuruh baris memanjang oleh agan. Gw senang karena hari ini kita bisa langsung pulang tanpa ada materi apa apa. Tiba tiba agan bertanya ke kami semua, “siapa yang masih kuat bertahan satu hari lagi di sini?!” Tanyanya dengan suara lantang. Kami semua langusng diam. Tidak ada yang mengangkat tangan saat itu. Agan tersebut mengulang pertanyaannya, “siapa yang masih kuat bertahan satu hari lagi di sini?!”. Temen gw mengangkat tangannya. Agan kembali bertanya, “siapa yang masih sanggup tambah satu hari lagi?” Akhirnya gw angkat tangan. “cuma 2 orang yang pantas jadi anggota! Sisanya kemana? Sisanya cemen!” Ucap agan dengan nada tinggi. Di sini kami berpisah. Gw dan temen gw di bawa oleh agan ke perkebunan kol yang kemarin kita lewatin.

Di bawah jas hujan, kita ngobrol sambil minum susu putih hangat dan sepotong biskuit coklat. Ucapan yang paling gw ingat, yang disampaikan oleh senior gw waktu itu (intinya) adalah, kami (senior) nggak perlu ngelakuin kekerasan, harus menendang, bahkan memukul, karena cukup alam yang menempa kalian. Diri kalianlah yang harus di taklukkan. Setelah berbincang hangat, meskipun saat itu kabut cukup tebal, agan membawa kami ke tempat selanjutnya.

Rute ke tempat selanjutnya melewati area kami nge-camp semalam. Di tengah jalan, gw melihat keenam teman gw sedang di “introgasi” oleh agan. Kami (berdua) sampai di area lapang yang becek. Kami di suruh berdiri di situ. Tidak lama agan menyuruh kami mengikuti dirinya. Kami berpindah dari tanah becek ke tanah berumput. Sambil memandangi pemandangan bukit yang luas, agan mengajak kami ngobrol.

Tiba tiba datang keenam teman kami yang tubuh dan carriernya sudah penuh dengan lumpur. Cuma tubuh gw dan temen gw yang masih agak bersih. Terus kami di tanya oleh agan, “mana rasa kebersamaannya. Liat tuh, temen yang lain badannya udah penuh sama lumpur, tubuh kalian doang yang masih bersih. Tunjukin dong kalau kalian solid. Kalau satu pulang semua pulang, kalau satu bertahan semua bertahan, kalau satu patah semangat semua harus menyemangati. Kalau satu kotor semua harus kotor.” Agan lalu menyuruh mereka untuk mengambil lumpur dan mengusapkannya ke seluruh tubuh gw dan teman gw. Gw mempersilahkan mereka dengan bebas mengusapkan lumpur itu ke tubuh gw. Gw senang karena kita bisa berkumpul dan bersatu lagi.

5 hari untuk slamanya yang menyatukan kami, membentuk kami menjadi seorang yang pantang menyerah. Mau berjuang. Slayer merah ini, adalah lambang semangat kami. Lambang kekeluargaan kami. Yang akan selalu tersemat di jiwa dan raga.

Bukan Puncak Garuda, maupun Puncak Mahameru,

Melainkan puncak dimana ketahanan fisik kita menguji.
Bukan dari pukulan, teriakan, maupun tendangan,

Melainkan alam Indonesia sendiri yang menempa kita.
CATERVA, VICTORIA!! Sekali lagi CATERVA, VICTORIA!!
Dikala lelah melingkupi raga, hanya kata itu yang bisa membakar semangat kami kembali.
Menjauhi kebiasaan, menjauhi modernisasi, tapi mendekatkan pada persaudaraan.
“Ayo teman semua, mari kita berjuang bersama…

Panas dingin terasa kita rasa bersama, CATERVA VICTORIA!”

 PDC 13

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s