5 HARI UNTUK S’LAMANYA #5 PERJALANAN TIADA AKHIR

Hai pleasure seeker. Kalau kalian sudah membaca “5 hari untuk s’lamanya” tujuan gw menulis kisah ini adalah ingin berbagi pengetahuan mendasar ke kalian tentang hal-hal apa saja yang kita lakukan saat pendidikan dasar, yang merupakan pengaplikasian dari materi yang telah di berikan selama masa pembelajaran. Pengetahuan mendasar ini tidak hanya berguna untuk kalian yang ingin menjadi anggota penggiat alam, tapi menurut gw, kalian semua yang memiliki hobi traveling terutama mendaki gunung atau kemanapun, pengetahuan mendasar ini penting (sebagai bekal), karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada alam, terjadi pada teman atau diri kita sendiri. Tema ini akan gw bahas, tapi sebelumnya, kisah 5 hari untuk s’lamanya #5 masih berlanjut…

Memasuki hari kelima, kami disuruh membongkar bivak yang telah di buat lalu mengemasi barang-barang. Kami menyusuri rute yang sama seperti kemarin, rute ini kembali membawa kami ke perkebunan warga. Di sana terdapat areal yang di padati pohon pisang, dan ternyata, di tempat ini kami akan latihan *SAR lagi (tanpa ada contoh kasus, hanya praktik susur linier, menerobos semua yang ada di depan sampai ke titik yang sudah di tentukan). Di hadapan gw adalah rumput rumput tinggi dan juga pohon pohon pisang yang tumbuh nggak beraturan. Gw menerobos rumput, ranting, batang pohon, sampai harus melipir sedikit karena ada pohon besar.

Langkah gw tiba tiba terhenti saat melihat jalan menurun yang ada di depan mata, di dasarnya ada sungai kecil yang di penuhi oleh batu batu. Gw lagi mikir gimana ya caranya untuk ke bawah, karena di jalur itu tuh bersih dari ranting atau pohon tumbang, tanahnya tuh ketutup rumput hijau. Bersih. Bener bener nggak ada objek yang bisa gw jadikan pegangan. Baru ngebatin gimana cara ke sana, tiba tiba gw kepeleset dan “nyerosok” ke sungai. Ah…! Gw jatuh terduduk. Air terasa merembes ke celana dan sepatu gw, untung bagian punggung sampai kepala terlindungi carrier, jadi batunya nggak mencederai gw.

Oke, sekarang gw udah berhasil turun. Di belakang agan terus meneriaki kita, “semua yang ada di depan loe harus loe lewatin! Lewatin, jangan ada yang melipir!” Pas gw liat medan di depan gw, ternyata cobaan belum sleesai, gw harus berusaha melewati punggungan tanah merah menanjak yang tertutup rumput. Tanahnya sangat licin, tangan gw berusaha menarik apa aja yang ada di situ, tapi akar pun tidak bisa gw jadikan pegangan karena sudah lapuk. Alhasil gw terus terperosok turun dan turun lagi.

Gw berusaha naik lagi, kedua tangan gw mencengkram tanah sekuat kuatnya, dengkul gw manfaatkan untuk penyangga tubuh dan mencoba untuk merangkak, tapi gw merosot lagi karena carrier yang basah menambah berat tubuh gw. Di sini gw pingin nangis, gw udah nyoba naik beberapa kali tapi terus merosot, gw putus asa. Tapi gw coba naik lagi. Gw cengkram semua objek yang bisa membuat gw naik, sepatu, gw tancepin dalam dalam ke tanah untuk membuat pijakan. Dengkul menempel di tanah untuk menahan tubuh gw juga. Perlahan lahan gw merangkak naik. Pokoknya tangan gw harus pegang apa aja biar gw nggak merosot lagi. Akhirnya setelah perjuangan berat, gw menemukan area datar. Di sana gw melihat temen-temen sedang berbaris, gw sampai paling terakhir, dan langsung gabung dengan mereka. Sepatu tergenang air, celana banyak tanah, carrier basah, bener bener jauh dari kenyamanan saat itu.

Di depan kami ada pohon besar dan rindang banget. Di situ kami melanjutkan materi *jumaring. Sambil menunggu agan memasang perlengkapan jumaring, kita di suruh bergantian mengisi dirigen air. Perjalanan ngambil air juga nggak kalah “rese-nya”. Karena habis hujan, tanah merah jadi licin banget, gw dan temen gw harus menuruni tanah itu, kami sampai harus menggunakan webbing untuk turun dan nanti naiknya. Setelah semua kebagian mengambil air dan praktik jumaring, kami melanjutkan perjalanan. Entah kemana kali ini kita akan di bawa, tapi yang pasti kita melewati jalur saat mengambil air tadi. Setelah melewati aliran air, jalur kita menanjak, di persulit dengan padatnya vegetasi, harus melipir dari batang pohon tumbang, sampai akhirnya kita keluar dari hutan dan bertemu dengan perkebunan kol warga. Pemandangannya cukup menghibur mata, meskipun tertutup kabut di tambah angin kencang.

Agan terus membawa kami menyusuri perkebunan itu, kontur tanahnya lama lama menanjak. Huft….posisi gw paling depan (jalan di paling depan nggak enak karena cepat atau lamanya perjalanan ini akan bergantung dari kecepatan gw jalan. Nggak boleh ada yang menyerobot pingin jalan duluan, posisi gw baru akan di ganti kalau agan yang menyuruh). Karena jalan gw lambat, gw jadi sering dapet teriakan dari belakang. Jalan yang kita lewati itu bener bener setapak (ya, selama pendidikan, kita sudah sering melewati jalur seperti ini), licin, menanjak, dan tinggi tinggi banget pijakannya. Tangan gw kembali bekerja ekstra keras untuk menggenggam apapun yang ada di situ untuk membantu gw naik.

Kami sampai di tempat ketiga, tempatnya lebih lumayan dibanding dengan dua tempat sebelumnya. Tanahnya di penuhi rerumputan, karena jarang pohon besar, masalah yang kita hadapi selanjutnya adalah menghadapi kuatnya terpaan angin. Kami langsung disuruh membuat *bivak individu semi natural.

Sehabis makan malam bersama, kami di suruh *tidur kalong, tetapi karena angin malam itu sangat kencang, tidur kalongnya di ganti dengan *tidur pepes, bukan di dalam bivak, tapi di luar. Di bawah bulan purnama dan desiran angin malam, kami berdelapan duduk melingkar dan saling merangkul satu sama lain. Karena duduk bikin pegel, lama kelamaan kita tiduran. Biar anget tidurnya harus miring, terus pelukan, nggak perduli siapa yang di peluk, karena mereka sudah menjadi keluarga gw.

Tengah malam kita semua di bangunin oleh 2 agan, mereka membagi kita menjadi 4 kelompok. Kami menunggu giliran untuk *jurit malam. Ada 3 pos yang harus kita lewati. Pos pertama dijaga oleh ketua penggiat alam, di situ kita di tanya tanya tentang pengetahuan organisasi ini. Pos kedua dijaga oleh 3 agan, membahas tentang ke-solid-an loe kalau sudah masuk di organisasi ini. Pos ketiga di jaga oleh 2 agan, di pos ini kita boleh sharing, curhat apapun yang kita rasakan selama pendidikan.

Ternyata masih ada kejutan di hari esok. Agan bertanya ke kami, “siapa yang masih kuat bertahan satu hari lagi di sini?”. Kami semua tidak ada yang menunjuk, sampai akhirnya satu temen gw mengangkat tangannya, gw pun ikut mengangkat tangan. Klimaks kisah ini akan gw ceritakan kembali di, 5 hari untuk s’lamanya #6 solidaritas yang kuat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s