5 HARI UNTUK S’LAMANYA #4 HUJAN MEMBUAT GW PATAH SEMANGAT

Sebelumnya di 5 hari untuk slamanya #3, susah payah melewati medan terjal yang menanjak, pas sampai puncak kita di suruh turun lagi. Medan menurun pun sama sulitnya dengan jalan menanjak. Mendirikan bivak semi natural di punggungan gunung, bingung tidurnya, tapi sangat romantis karena bisa melihat pemandangan lampu lampu kota.

Udara pagi di tempat ini tidak usah di ragukan lagi, karena sama dinginnya dengan tempat sebelumnya. Agan berbaik hati karena semalam kita tidur boleh membawa sarung. Setelah olahraga dan sarapan, agan menyuruh kami untuk berkemas. Sekali lagi, seharusnya barang bawaan gw berkurang, ternyata carrier gw masih terasa berat juga, ditambah carrier yang lembab, padahal malamnya carrier kita semua di bungkus oleh trashbag.

Agan memimpin perjalanan. Di kanan kiri kami hanya ada pepohonan hutan gunung yang menjulang dan sesekali terayun karena tertiup angin. Langkah kami mengikuti kontur tanah yang menurun, kadang menanjak, sampai akhirnya kita terbawa sampai ke perkebunan sawi. Seluas mata memandang, hanya terlihat barisan barisan tumbuhan hijau yang basah karena terkena kabut. Angin saat itu cukup kencang, tubuh gw sempat goyah akibat terhempas angin.

Hujan rintik rintik. Kami masih harus di suruh jalan. Di bawah perkebunan ada sumber air dan gubuk kecil. Kita di suruh kesana. Pas sampai sana gw langsung membasuh wajah dengan air mengalir yang sangat jernih. Airnya dingin banget dan nyejukin wajah gw. Agan menyuruh kami untuk mengisi dirigen air. Tiba tiba hujan bertambah deras, kami semua berlindung di dalam gubuk kecil. Temen gw membuka bungkusan biskuit gandum. Kami makan biskuit itu sambil memandangi hujan. Suara agan yang menyuruh kami untuk mengeluarkan ponco (jas hujan) langsung menyadarkan gw bahwa kita tidak akan lama di sini menunggu hujan reda.

Kami semua sudah memakai jas hujan. Agan menyuruh kami jalan lagi. Menyusuri jalan yang sama seperti tadi (menyusuri perkebunan warga). Hujan ini sungguh membuat gw frustasi, gimana nggak, di pundak gw carrier terasa tambah berat karena ada dirigen airnya. Di perjalanan nanti, pasti melewati jalan menanjak yang licin. Air hujan kadang mengenai wajah, pandangan jadi terganggu, langkah kaki juga tidak leluasa karena jas hujan kalong-nya sedikit menghalangi. Sekali lagi, bukan dari teriakan, tendangan atau pukulan, tapi alam yang menempa kita. Yang terus gw lakukan saat itu adalah memotivasi diri sendiri, untuk menstimultan otak supaya gw terus berjalan.

Sampailah kita di tempat selanjutnya, yaitu area terbuka (area lapang yang bisa di lewati mobil, dengan pemandangan luas terbuka). Di sini kami akan di ajarkan *navigasi darat, mencari titik kordinat di peta, lalu belajar menggunakan kompas bidik. Saat memulai pendidikan ini, kami di bagikan peta topografi oleh agan, dan baru di sesi ini peta tersebut di gunakan. Agan menunjuk tower yang ada di kejauhan, kami disuruh menghitung untuk mengetahui posisi kami sekarang dan objek itu sendiri, menggunakan kompas bidik.

Tidak terasa hari mulai sore, kami kembali ke camp semula. Setelah membongkar isi carrier, kami di persilahkan masak dengan bahan bahan yang istimewa (nasi liwet dengan ikan teri), tapi sebelum bisa menikmati makanan istimewa itu, kami harus membuat bivak individu semi natural dulu. Lokasinya masih di punggungan gunung, tanah yang miring, langsung berbatasan dengan jurang yang di penuhi oleh semak belukar dan ranting pepohonan. Kalau sebelumnya untuk sampai ke bivak kelompok gw harus manjat yang di bantu pakai webbing, kalau sekarang, untuk sampai ke bivak individu, gw harus turun yang di bantu dengan webbing.

Selesai membangun bivak sederhana, gw dan temen gw masak nasi liwet di tambah ikan teri. Setelah jam makan malam berakhir, kami di panggil oleh agan agar ke tenda utama karena di sana kami akan di berikan materi jumaring (simpul menyimpul). Selama materi angin terdengar sangat kencang, saking kencangnya gw mengira kalau itu suara air terjun.

Di bivak yang cuma selebar badan, kondisi juga sangat gelap gulita, gw berusaha untuk memejamkan mata. Setelah di paksa paksa, akhirnya tidur juga walau di tengah malam gw suka bangun buat ngecek posisi karena takut “ngegelinding” karena di sisi kanan gw jurang.

Next di 5 hari untuk slamanya #5, kita latihan sar lagi, tapi kali ini pakai insiden gw tergelincir dan terperosok di sungai kecil berbatu. Untungnya carrier gw melindungi kepala dan tubuh belakang dari antukan batu. Latihan jumaring, sampai tidur pepes di bawah sinar bulan purnama dan malam keakraban.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s