5 HARI UNTUK S’LAMANYA #3 PERSAUDARAAN KITA DI UJI

Sebelumnya di 5 hari untuk slamanya #2, materi bertahan hidup membuat kami harus mengumpulkan apa saja yang ada di sekitar untuk diolah. Makan sayur jantung pisang yang cuma di beri garam, merebus pisang yang ternyata pisang batu, sampai buah markisa yang belum matang. Materi sar yang membuat kami panik, sampai memohon agar hujan tidak turun karena bivak yang gw buat kebesaran.

Hari ketiga. Pukul 6. Kami dibangunkan oleh agan untuk berolahraga bersama. Selesai merenggangkan tubuh yang kaku, kami semua di suruh mengambil dirigen air, lalu mengajak kita ke sumber mata air.

Sambil menenteng nenteng dirigen air, kami kembali ke tenda utama. Cuaca pagi itu cukup cerah, dari tempat gw berdiri tampak menyembul puncak gunung pangrango. Kami sarapan bubur kacang hijau + roti dan susu dengan lahap. Selesai sarapan, kami di suruh packing karena kami akan melanjutkan perjalanan. Sebelum perjalanan di mulai, agan berpesan kepada kami, “rute nanti akan lebih berat dibanding rute sebelumnya, jadi tolong untuk saling menolong dan menyemangati teman-temannya” mendenger kalimat itu gw cuma bisa pasrah…gw nggak tau akan separah apa, yang pasti karena gw ada di sini jadi gw harus melewatinya.

Kami melewati jalan tanah becek yang menanjak. Sesekali melewati batang pohon yang tumbang, tangan yang mulai perih terus berpegangan ke pepohonan agar kaki tidak tergelincir. Klimaks perjalanan ini adalah sewaktu kita di hadapkan oleh tanjakan tanah merah yang benar benar curam. Benar saja, di sini hanya semangat dan kerja sama yang di butuhkan. Temen gw perempuan mengalami kesulitan untuk menaiki tanjakan tanjakan itu. Teman yang di depannya siap menjaga dia, tangannya selalu terulur untuk menarik tubuhnya, sedangkan yang di belakang membantu mendorong agar bisa naik. Posisi gw, kedua dari belakang, mengantri untuk gantian naik. Melewati medan seperti ini ada plusnya buat gw, karena bisa banyak beristirahat (istirahat untuk menyiapkan kuda kuda, buat menanjak lagi). Yang gw andalkan saat itu hanyalah akar akar pohon yang menjalar di tanah sebagai pegangan dan pijakan. Dengkulpun nggak jarang gw jadikan kaki, karena “saking” nggak sanggup lagi untuk berdiri. Baju & celana penuh dengan tanah, tangan harus kuat menggenggam batang pohon, ditambah beban berat di pundak yang semakin merepotkan. Di ujung tanjakan ini, kita harus merayap, menerabas lorong akar berduri, yang akhirnya membawa kita sampai di puncak bukit.

Di puncak kita beristirahat sebentar. Minum, foto foto dan makan buah pear. Setelah mengamati keadaan sekitar, agan menyuruh kami untuk bangun lalu melanjutkan perjalanan. Ternyata, setelah bersusah payah sampai di puncak, kita di suruh turun lagi (tapi bukan lewat jalur yang tadi) jalur turunnya itu melipir di punggungan gunung yang sebelah kirinya jurang. Kabut mulai turun udara berubah jadi dingin. Di sini, kaki gw terasa nggak nyaman banget akibat mata kaki yang kegesek gesek leher sepatu (gw pake sepatu pdl kulit yang kokoh. Karena kokoh itu, mata kaki gw jadi sakit).

Setelah tracking menurun selama beberapa jam, kami sampai di pemberhentian berikutnya. Tenda tenda panitia terlihat berdiri di pinggiran jalur setapak. Kami di bagikan kelompok, lalu…untuk beristirahat malam ini kami kembali harus membangun bivak (tapi kali ini *bivaknya semi natural). Pas di tunjukin area mendirikan bivak, gw kaget, karena kami harus membangun bivak di lahan yang miring. Untuk ke area mendirikan bivaknya pun kita harus di bantu webbing untuk naik. Ya udah, akhirnya kita sama-sama ngebersihin semak dan membuat area yang sedikit lapang. Webbing kami ikatkan di antara 2 pohon, lalu jas hujan kalong, kami gantung untuk dijadikan atap (pelindung). Di tempat miring, tidak terlalu lebar, kami memasak untuk mengisi tenaga yang habis terkuras. Malam harinya, kami berkumpul di tenda utama untuk pemberian materi organisasi. Antara sadar nggak sadar, mata gw merem melek, tapi telinga gw ngedengerin dan tangan gw reflek menulis. Pokoknya lelah banget hari itu. Finally, kami disuruh kembali ke bivaknya masing masing. Malam itu, di punggungan gunung, kami bisa melihat city light yang tersamar samar pepohonan. Pemandangannya indah banget. Karena sama-sama lelah, kita semua tidur dalam posisi miring (karena posisi miring lebih hangat, juga efisien tempat).

Hari keempat pendidikan dasar. Pagi pagi bangun untuk berolahraga, dilanjutkan menyusuri perkebunan warga di tengah hujan dan angin kencang. Menggunakan ponco untuk melindungi carrier yang juga membawa satu dirigen air, kami ke area lainnya untuk belajar navigasi menggunakan kompas tembak. 5 hari untuk s’lamanya #4, masih berlanjut…..

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s