5 HARI UNTUK S’LAMANYA #2 “BERTAHAN HIDUP DI ALAM”

Sebelumnya di 5 hari untuk slamanya #1, temen gw ngebatalin ikut pendidikan dasar penggiat alam bebas. Karena udah “kecemplung”, gw membulatkan tekad untuk tetap mengikuti kegiatan ini. Bawa carrier 80l, muterin kampus 5 kali, sampe ujung sepatu kebakar lilin di dalam bivak natural. Malam terasa sangat lambat, namun bumi tetap berputar, akhirnya kita berhasil melewati hari pertama.

Hari kedua. Pagi yang cerah tidak bertahan lama karena setelahnya hujan deras benar benar turun. Materi hari ini adalah *bertahan hidup dengan makan makanan yang ada di alam. Saat itu kami berada di ketinggian kurang lebih 800mdpl, di ketinggian tersebut, pohon pisang dan markisa-lah yang menolong kami untuk bertahan hidup.

Kami berdelapan bergotong royong untuk mengumpulkan makanan. Gw pakai kayu panjang yang di temuin di tanah untuk memetik markisa. Teman gw yang lain, lagi berusaha mengambil jantung pisang dan pisangnya di posisi yang lumayan lebih tinggi.

Setelah makanan terkumpul, kami langsung mengolah jantung pisang & pisangnya. Temen gw membuka kulit luarnya yang berwarna ungu gelap, setelah terlihat isinya, dia memasukkannya ke air mendidih lalu di tambahkannya sedikit garam. Tidak ketinggalan kami juga merebus beberapa buah pisang hijau yang tadi sudah di petik (ternyata jenis pisangnya adalah pisang batu, jadi ketika di makan isinya banyak biji berwarna hitam, dan nggak bisa di konsumsi). Untuk markisa, sebagian besar yang kita ambil masih hijau, ternyata belum matang dan tidak bisa di makan juga.

Agan kembali memanggil kita. Kami di suruh ke tenda utama dan jangan lupa membawa makanan yang sudah di masak. Makan siang kita hari itu adalah apa yang sudah kita kumpulkan dan olah tadi. Jadi, karena materi hari itu adalah bertahan hidup dengan mengumpulkan makanan dari alam, agar kita bisa bertahan hidup dan memiliki sumber energi, kita harus makan makanan tersebut. Tidak bisa menolak, karena pilihannya hanya 2, makan atau tidak makan. Kalau tidak makan, tubuh kita akan kekurangan asupan gula yang akan di proses menjadi energi, sedangkan beberapa hari kedepan masih ada materi materi lainnya yang sangat membutuhkan banyak tenaga.

Selesai makan, agan agan memberikan kami obat dari biji pohon (gw lupa namanya). Bentuk biji itu seperti kuwaci cina yang putih besar-besar, tapi biji ini warna cangkangnya cokelat dan warna biji di dalamnya putih (seperti kacang almon). Setelah di kunyah, rasanya ya ampun, pahit banget. Sampe di kasih makan permen, masih belum nutupin rasa pahitnya. Katanya, obat tadi berfungsi untuk membuat darah kita pahit, sehingga pacet nggak gampang nempel dan menghisap darah kita.

Tenaga sudah terisi, materi *sar sudah menunggu, dan webbing pun sudah di tangan kami masing masing. Menuju ke lokasi berbeda, di sana sudah ada agan yang akan memberikan kasus sar. Kasusnya adalah simulasi mencari orang hilang di gunung, “ada orang hilang dengan ciri ciri pakai baju merah, celana pendek cokelat, bisu, tanda terakhir ia meninggalkan jejak kaleng makanan & bungkus permen”.

Dari tanda tanda yang diberikan, kita harus menemukan orang tersebut lalu mengevakuasinya secepat mungkin. Teknik sar yang di pakai sesuai dengan kondisi di lapangan. Waktu itu kami menggunakan formasi linier (formasi sejajar, dengan menjaga jarak yang sama dengan orang yang ada di kanan-kirinya, kita harus terus jalan ke depan, dengan lurus, menerobos semua yang ada di depan mata, tanpa melipir, kalaupun harus melipir tidak boleh terlalu jauh). Kami di bagi 2 kelompok. Keadaan medan di hadapan kita saat itu jurang punggungan gunung yang di tutupi oleh semak semak, pohon, dan akar merambat. Alat yang kami bawa hanya webbing dan golok. Kelompok 1 dengan anggota 4 orang jalan pertama (membuka jalur), gw kelompok 2 menyusul kelompok pertama dengan cara yang sama. Korban akhirnya di temukan, kondisinya selamat namun sangat lemah. Yang kami pikirkan selanjutnya adalah bagaimana mengevakuasi korban. Dari webbing yang kami bawa, kita memutuskan untuk membuat tandu darurat. Kami mencari batang pohon yang sangat kokoh. Setelah menemukan 2 batang pohon yang sangat kokoh, kami mulai menyimpul webbing itu di kedua batang pohon sehingga terbentuklah tandu. Korban kita naikkan ke tandu. Tubuhnya kita ikat lagi dengan webbing agar tidak jatuh atau berguncang saat proses evakuasi.

Kami berdelapan bergotong royong untuk membawa korban sampai ke atas. Sumpah, disitu gw nggak kuat karena kondisi medan yang miring, menanjak dan nggak karuan. Di situ kami semua “ngeluarin suara” karena takut kalau kenapa-kenapa itu bahaya banget. Dengan segala tenaga dan kerja keras, akhirnya kita & korban sampai di atas (titik awal waktu kita turun). Agan langusng menilai kami. Mereka menilai saat kita mengevakuasi korban belum tenang. Karena, dalam mengevakuasi korban, gimana caranya agar korban yang kita evakuasi merasa nyaman dan tenang. Nah…waktu itu kita ketawan banget paniknya, si korban jadinya juga lebih panik dari kita. Dari materi ini gw belajar, bukan hanya menemukan dan mengevakuasi, di tengah tekanan mental, kita juga harus bisa menenangkan dan meyakinkan korban bahwa dia akan selamat, tanpa terlihat panik.

Selesai sar, kita kembali ke bivak, dan kali ini dan malam ini kita akan tidur di bivak masing-masing, yak..bivak individu! Dengan semangat yang loyo (cape, pegel, dan kondisi badan yang sudah tidak nyaman), gw ngumpulin ranting demi ranting, daun demi daun, sialnya, gw buat bivak yang kegedean buat ukuran gw sendiri. Akhirnya bivak gw lama jadinya, udah gitu banyak bolongnya. Gawat!! Mana hari sudah larut malam. Gw cuma bisa berdoa supaya hujan nggak turun dan angin nggak kencang.

Seperti biasanya, kami berkumpul di tenda utama untuk makan malam (menunya masih ada sayur jantung pisang, cuma di tambah dengan orek tempe dan mie goreng, dan nggak lupa agan memberikan kami buah dan vitamin). Setelah menghabiskan nasi 2 nesting, rasa kantuk benar benar nggak bisa di hindari, tapi kita masih harus melewati 1 materi lagi, yaitu perkenalan diri. Di sini kita lebih ke sharing aja satu sama lain. Agan memanggil kita satu persatu, kita disuruh menjabarkan sifat yang disukai atau tidak atas diri kita. Habis itu, kita di antar ke bivak masing masing dan selamat malam…ternyata doa gw nggak terkabul, angin malam itu cukup kencang dan hujan juga turun. Gw bilang ke agan, kalau gw nggak kuat, dan gw di perbolehkan tidur bersama 2 teman di bivak yang sama.

Masih ada 3 hari di tempa Alam Indonesia…. medan menantang sudah menunggu di depan, dan kami diingatkan untuk selalu menyemangati satu sama lain. Akan gw kisahkan di “5 hari untuk slamanya #3”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s