5 HARI UNTUK S’LAMANYA #1

Memasuki semester ke-5, kehidupan perkuliahan gw lagi hampa-hampanya, gw merasa boring dengan rutinitas yang itu itu aja. Terus gw mikir, masa kalo gw lulus kuliah, gw nggak punya cerita yang bisa gw inget inget & kalau lagi ingat itu, gw bisa ke-gr-an sendiri! Masa kehidupan kuliah gw cuma sama teman-teman yang sama! Nggak ada cerita yang, wah…atau gimana gitu? Boring banget, nggak sih?

Gw cerita-lah ke temen tentang kebosenan gw itu, dan ternyata teman gw juga lagi bosan dengan kuliahnya.ya udah…terus gw bilang gini aja ke dia, “eh, gw pingin deh masuk ke penggiat alam bebas. Gw pingin naik gunung. Gw suka sama kegiatan yang kayak gitu, tapi bingung mau ngajak siapa karena, pasti pada nggak suka dan nggak di bolehin sama orang tuanya,” setelah gw bilang itu, ternyata temen gw pun tertarik masuk ukm yang sama. Ya udah, akhirnya gw dan dia mendaftar masuk ke ukm *penggiat alam bebas di kampus. Setelah mendaftar, ternyata kita telat masuk dan harus mengikuti kelas materi *hutan gunung susulan, agar kita bisa ikut *pendidikan dasar.

Malam harinya, kami semua berkumpul di kampus dengan carrier dan barang bawaan yang harus di bawa (perempuan membawa ukuran 80L & pria bawa 100L). Disitu kami mempraktikkan apa saja yang sudah di ajarkan sebelumnya oleh para senior. Pertama tentang mengemas barang di carrier. Kalau yang udah gw pelajarin, dan selalu gw terapkan kalau mendaki gunung, seperti ini :

  1. Kalau kalian membawa matras, gulung matras itu selebar diameter carrier & trashbag, lalu masukkan matras itu ke carrier.
  2. Di bagian tengan carrier-kan ada ruang, itu untuk menaruh barang bawaan kita. Urutannya di lapisan paling bawah adalah sleeping bag & baju (intinya barang yang paling tidak sering di ambil/gunakan letakkan di paling bawah carrier)
  3. Lapisan selanjutnya diisi oleh bahan makanan yang kalian bawa, dirigen air, sampai kompor portable
  4. Lapisan teratas untuk meletakkan jas hujan, jaket windbreaker, obat obatan, headlamp, atau benda apapun yang akan mudah di raih jika di tengah jalan kita membutuhkannya.

Setelah packing, para senior akan mengecek kepadatan dari setiap carrier yang kita bawa, kalau misalnya list barang masih banyak yang belum masuk, mereka akan memaksa kita untuk mengecek lagi sampai carrier itu benar-benar padat dan semua barang masuk ke tas.

Selain itu kami juga di bekali pengetahuan tentang *catatan perjalanan. Semua kegiatan yang akan dan sedang kami lakukan, harus di catat sedetail mungkin di buku catatan yang kami bawa (catatan tersebut akan di baca setiap malam dan akan di cocokkan dengan catatan anggota yang lain).

Gw tau gambaran atau bagaimana kegiatan malam keakraban unit kegiatan mahasiswa, tapi untuk penggiat alam bebas, bener bener nggak ketebak dan nggak terlintas sedikitpun di otak gw kalau kegiatannya “akan seperti itu”

Sebelum berangkat, kita pemanasan dulu muterin kampus dengan membawa carrier. Setelah muterin kampus 5 kali, kita dibagikan peta (tampilan citra satelit), lalu kami berpamitan dengan yang lain, dan mulai di sinilah mental kita di uji. Bukan dengan tendangan atau teriakkan, melainkan alam indonesia sendiri yang menempa kita.

Hari pertama, perjalanan kita di mulai dari wilayah tugu selatan, gadok. Angkatan gw berdelapan di tambah 3 “agan” menjejakkan langkah *(long march) memasuki perkampungan, menelusuri jalan beraspal yang sudah tidak terlalu mulus, tetapi bisa membawa kami ke pemandangan kebun teh yang sangat memanjakan mata. Agan menyuruh kami untuk beristirahat dan makan sejenak. Setelah makan, agan menyuruh kami jalan lagi. Jalan di depan mata tampak menanjak, belum sampai di ujung jalan, nafas gw sudah terengah-engah, dada sesak, gw nggak kuat jalan. Setelah semangatin diri, akhirnya sampailah gw di ujung jalan. Di jalan datar berkerikil, tiba-tiba kami di suruh “seri” sebanyak 20 kali sambil membawa carriel. Yang gw pikirin saat itu cuma satu, “kalau semua ini ada maksud dan tujuannya.”

Temen gw, di depan sebagai komandan (memimpin perjalanan). Kami menyusuri jalan setapak perkebunan teh yang terus menanjak. Yang kami lihat hanyalah pohon pohon teh di kanan kiri. Cuaca saat itu sedikit mendung, angin hampir menggoyahkan tubuh kami, dan hujan hujan kecil sempat menyentuh kulit ini.

Kami sampai di puncak bukit kebun teh, perjalanan kami memasuki vegetasi pepohonan lebat dengan semak belukar yang rimbun dengan tanah beceknya. Di hari pertama, sepatu dan celana sudah penuh dengan lumpur. Di bawah pohon rindang dengan sedikit area lapang, kami meletakkan carrier dan menyelonjorkan kaki. Tapi tidak berlama lama, karena “agan” menyuruh kami untuk jalan.

Selama berjam jam kami menyusuri punggungan gunung yang kondisi jalannya di penuhi ranting, pohon tumbang, akar berduri, lubang, tanah becek, dan jurang di sebelah kanan, suhu juga mulai terasa dingin, kabut, berangin, serta serangan hewan seperti pacet menambah lengkap perjalanan ini.

Sekitar pukul 3 sore, kami sampai di area tanah lapang berbentuk bundar di mana bagian tengahnya sangat becek berlumpur. Kami di suruh masak air, lalu membuat teh. Setelah menghangatkan diri, agan-agan kembali memberi kami tugas, yaitu membuat *bivak natural untuk tidur berkelompok. Kami di bagi 2 kelompok, jarak antara satu bivak dan yang lainnya lumayan agak jauh. Bivak kelompok 1 letaknya di atas, dan bivak kelompok gw agak melipir ke bawah.

Bivak natural adalah tempat perlindungan yang semua bahan-bahannya berasal dari alam, seperti ranting pohon, dedaunan atau serat kayu sebagai pengganti tali. Hal pertama yang kami lakukan adalah observasi area pembangunan bivak. Misal, memperhatikan aliran air saat hujan turun, berada di area tanah yang padat, tidak berlumpur, perhatikan pepohonan yang ada di sekitarnya, dan pepohonan yang ada di sekitar kami waktu itu adalah pohon pisang.

Bivak kami di bangun di antara pohon pisang, di belakang bivak kami adalah dinding tanah, sedangkan pemandangan di depan adalah semak semak. Setelah mengumpulkan kayu kayu panjang (untuk fondasi bivak) kita mengumpulkan *lembar daun pisang untuk menutupi atap dan sisi sisi bivak yg tidak terlalu lebar tapi harus muat untuk empat orang. Alasnya menggunakan daun kelor. Kami membuat bivak serapat mungkin untuk menghindari hembusan angin dan hujan. Dan kebetulan bivak yang kami buat cukup ampuh dari hujan (kecuali kalau hujannya deres banget ya).

Selesai membangun tenda, agan memanggil kami untuk segera masak makan malam. Di kelompok gw ada yang bisa masak nasi di nesting (kalau yang gw tau, biar berasnya nggak jadi aron, takarannya itu harus pas, satu berbanding dua. Satu cup beras & dua cup air). Lauk yang kami masak adalah sosis. Setelah nasi dan lauk matang, kami makan bersama di tenda utama. Nah, ternyata nasi di kelompok satu itu masih aron, alhasil kami tetap harus menghabisi nasi itu bersama-sama. Biar makannya napsu, agan memberikan kami soto dan rendang. Selesai makan malam, kami di suruh membacakan catatan perjalanan yang telah kami lewati sepanjang hari ini, setelah itu agan mengantarkan kami ke bivak untuk istirahat.

Cuaca malam itu sangat dingin. Bivak yang kami buat ternyata tidak terlalu lebar, di tiduri 3 orang saja sudah sempit, apalagi di tambah satu teman gw (yang saat itu lagi duduk menjaga api lilin dan parafin yang sedang menyala). Seharian berjalan, kaki gw terus mengalami kram. Temen gw yang lagi jaga lilin, bilang “awas kaki loe jangan di lurusin” baru aja dia bilang begitu, gw reflek ngelurusin kaki, dan alhasil ujung sepatu gw kebakar kena api parafin. Untung temen gw sigap, api yang nyala di ujung sepatu gw langsung dia matiin-in (kalau di ingat lagi sampai sekarang, itu kejadian paling lucu selama dikdas).

Setelah api padam, kami mengakali bagaimana biar kita semua kebagian tempat buat tidur. Setelah mencoba berbagai cara, akhirnya kami semua tidur dengan posisi miring (it’s oke asal kita sama-sama kebagian tempat dan bisa tidur dengan tenang). Angin terdengar cukup kencang, kicauan burung sesekali terdengar, hujan rintik terdengar menetes di atap bivak. Gw mulai memejamkan mata, mencoba mengurangi lelah yang tiada kira, tapi di sepanjang malam itu gw nggak bisa tidur, tapi gw mencoba untuk tidur. Malam terasa sangat panjang, sampai sampai langit mulai cerah perlahan dan kami pun telah sukses melewati hari pertama.

Masih ada 4 hari di tempa Alam Indonesia…. Kepanikan saat materi sar dengan teknik linier akan gw kisahkan di “5 hari untuk slamanya #2”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s