LOVABLE KIRAN

Cicitan burung gereja menggema di pagi hari, matahari yang tadinya malu-malu menampakkan wajahnya kini tersenyum lebar.

“Bunda? Ayo kita pergi, nanti kesiangan loh!” teriak ku.

“Sabar dong, Kiran. Bunda lagi ngecekin seragam, takut ada yang tertinggal.”

“Kan sudah aku rapihin semalam, Bun.” ucapku sambil mengangkut karung-karung berisi seragam. “Bunda nggak usah khawatir. Semalam tuh udah aku atur, sudah aku cocokin ukuran dengan namanya. Cepat Bunda, nanti keburu anak-anak pulang!” sewotku lagi.

“Oke kalau memang sudah kamu cocokin. Bunda hanya mau mengecek ulang.” Ucapnya sembari mengangkut dua kantong plastik besar berisi seragam.

“Kita kesana naik apa, Bun? Nggak mungkinkan kita bawa barang sebanyak ini naik angkot?”

“Ya, nggak dong. Sana kamu panggil taxi.”

“Oke!” aku segera menuruti perintah Bunda. Setelah beberapa menit menunggu di pinggir jalan, taxi yang aku inginkan tiba.

“Ayo, Bund! Taxinya sudah datang!” semangatku sambil memasukkan kantong-kantong itu ke bagasi.

Setelah semua seragam masuk dan dipastikan tidak ada yang tertinggal, taxi yang ku naiki segera meluncur ke sekolah Pelita Bangsa.

“Maaf ya baru bisa bantu Bunda bikin seragam sekarang-sekarang ini.” ucapku bersalah.

“Nggak apa-apa. Lagipula kamukan sibuk ngerjain tugas liburan, kemarin. Apalagi sekarang kamu sudah kelas tiga, pasti akan sibuk mempersiapkan UAN.” Terangnya pengertian.

Aku langsung memeluk dan mencium pipinya karena aku senang Bunda sangat pengertian denganku. Lalu Bunda membalas dengan mengelus pipiku penuh kelembutan.

“Bun, setahu aku, sekolah Pelita Bangsa itukan sekolahnya orang-orang kaya. Kok Bunda bisa dapet tawaran ngejaitin seragam dari mereka?”

“Kebetulan disana ada teman Bunda, dia bagian kesiswaan. Karena seragam mereka memiliki ciri khas dan nggak mau di buat sembarangan, ya sudah, dia menyerahkan semuanya ke Bunda. Kalau kamu perhatiin, dari TK, SMP, dan SMA seragamnya samakan? Cuma ada ciri khasnya masing-masing. Contohnya, kalau di rok SMP itu ramplenya ada delapan, sedangkan rok SMA beda lagi, cuma motifnya sama. Begitu, gimana? Lumayankan buat nambah-nambah uang jajan?”

Aku mengangguk setuju. Lumayanlah buat nambah-nambah pemasukan, ucapku dalam hati.

Jam sudah menunjuk ke pukul dua belas. Kini taxi yang ku tumpangi sudah berhenti tepat di depan gerbang Pelita Bangsa. Aku langsung membantu Bunda menurunkan barang-barang. Beruntung kelas belum bubar, jadi kami mempunyai waktu untuk merapihkan seragam agar dalam pengambilan nanti tidak repot. Setelah lewat lima menit dari pukul dua belas, bel bubar sekolah berbunyi. Siswa-siswi yang sudah diberitahu bahwa seragam sudah bisa di ambil, langsung menghampiri kami di depan ruang BP. Mereka adalah anak-anak yang akan menginjakkan kakinya di bangku SMP. Mereka mulai berdatangan, ada yang ambil sendiri, ada yang diambilin orang tuanya. Cukup dengan menunjukkan kartu dan menyebutkan nama, seragam itu sudah bisa diambil. Bunda memang hebat, dia menjahit tiga jenis seragam untuk ratusan murid baru. Aku jadi takjub, dan malu tidak membantunya. Tiga puluh menit berlalu, seragam yang belum diambil pun tinggal beberapa pasang.

“Kiran, Bunda tinggal sebentar ya? Bunda mau nemuin bu Astuti. Itu loh, teman Bunda yang tadi di ceritain.”

“Oh, ya udah. Kiran tunggu disini.”

Detik demi detik berjalan, menit pun semakin berlalu.

“Bunda kok lama, ya?” aku mulai bosan menunggu.

Mataku melihat gadis kecil yang sedang duduk di seberang, sepertinya dia baru akan masuk SMP. Wajahnya imut, tetapi tampak raut kekesalan. Sepertinya dia juga sama denganku, lelah menunggu. Aku pun mendekatinya,

“Halo…” sapaku halus. “Kamu kok belum pulang?”

“Belum, lagi nunggu jemputan.”

“Sambil menunggu, kakak temenin ya. Kamu nggak keberatankan?”

“Nggak kok, aku malah senang ditemenin.”

“Oh, ia. Nama kamu siapa?” tanyaku lagi.

“Candy.”

“Lucu banget namanya, imut kayak orangnya.”

“Makasih. Nama kakak siapa?”

“Namaku Kiran,” jawabku imut. “Kamu kelas berapa?”

“Aku baru mau masuk SMP.”

“Kalau begitu kamu sudah ambil seragam?”

“Sudah. Kok belum di jemput juga sih, akukan cape! Kebiasaan nih kak Edgar.” gerutu anak itu. “Kak, aku boleh minta pulsa nggak?”

“Pulsa? Sebentar ya, kakak lihat dulu, masih ada apa nggak ya…” ucapku sambil mengutak-atik hp.

Wah, pas banget. Untung masih bisa di pake buat sms. Ucapku dalam hati.

“Ini!” sodorku.

Anak itu mengambilnya lalu mulai mengetikkan beberapa kata.

Soundtrack Transformer New Divide berbunyi riuh di hp free touch itu.

“Ni pasti, Candy. Dia nggak tahu apa kalau gw abis kena semprot nyokab. Mana jalanan macet, nggak sabaran banget sih tu anak!”

Ia sabar, tunggu aja di situ. Jangan kemana-mana, ya? Bentar lagi kakak sampe.

“Kakakmu ngebales, nih.” ucapku.

“Apa katanya?”

“Kamu disuruh jangan kemana-mana, sebentar lagi dia sampai.”

“Dasar kak Edgar. Males banget sih jadi anak!” omel anak itu.

“Emangnya kakakmu nggak sekolah?”

“Satu sekolahan sama aku. Tapi emang dasarnya aja dia bandel, ngeluyur terus. Jadi jarang sekolah. Tapi aneh, kok dia bisa dapet ranking terus ya?”

“Kak Edgar emang suka ngeluyur kemana?”

“Ke pelosok Indonesia!” jawab Candy mantap.

Ah…heranku. “Ngapain?”

“Dia itu Backpacker sejati. Tapi nggak tau deh bener-bener sejati apa nggak.”

“Oh…” aku tidak bisa berkata-kata lagi.

“Tuh dia mobil kak Edgar!” seru anak itu. Candy menunjuk ke arah mobil Jazz keluaran terbaru berwarna putih susu. Aku lantas mengantarnya menghampiri mobil itu.

“Kurang lama jemputnya!” omel Candy ke kakaknya.

“Bawel banget sih, kakakkan udah sampe disini. Kamu nggak tahu aja, jalanan tuh macet total, mana aku abis kena omelan mama.” terang lelaki itu.

“Emang dasar kakaknya aja bandel. Pantes kena semprot terus…”

“Udah ah, berisik! Ayo masuk.”

Candy lantas masuk ke mobil itu.

“Kak kiran, aku pulang dulu ya!” teriak Candy dari dalam mobil.

“Ia. Hati-hati ya! Sampai ketemu lagi…” salamku dari luar.

“Mm…makasih ya udah jagain ade gw.” ucap cowok itu.

“Sama-sama. Lain kali jangan biarin dia nunggu lama, sekarang lagi banyak penculikan.”

“Ia.” balas lelaki itu lantas memberikan senyumnya kepadaku. Aku pun membalasnya.

“Da…!” aku melambaikan tangan ke mereka. Mobil itu pun semakin jauh dari pandanganku.

“Bunda kok lama, ya?” tanyaku sambil melihat jam di tangan.

“Maaf ya buat Kiran nunggu lama.” suara Bunda tiba-tiba muncul.

Pas aku menoleh Bunda sudah ada disampingku.

“Seragamnya sudah di ambil semua, jadi kita boleh pulang?” harapku.

“Kamu lelah, ya? Ya sudah, sebelum pulang bantu Bunda beres-beres dulu ya.”

Aku segera membereskan kantong-kantong plastik yang berserakan. Setelah mengembalikan kursi panjang ke tempat semula kami pun pulang.

BRUK! Aku langsung merebahkan tubuh setibanya di kamar.

+_+

“Bunda, Kiran berangkat, ya!”

Bunda yang ada di dapur segera menghampiriku ke teras.

“Kamu hati-hati. Pulangnya jangan sore-sore. Nanti mau bantuin Bunda jualankan?”

“Oh ia, hampir aja Kiran lupa. Ya udah, nanti aku pulang cepat. Berangkat dulu ya, nanti Kiran terlambat lagi?”

“Ya, sudah.” ia lalu mencium kedua pipiku.

Setelah berjalan sekitar seratus meter, aku tiba di jalan raya besar dimana angkot yang akan membawaku sekolah sedang mengetem. Setelah penuh diisi penumpang, angkot yang ku naikipun jalan. Tiga puluh menit berlalu, aku segera mengeluarkan uang tiga ribu dari kantong. Ketika angkot ini melintasi SMAN 01, segera ku memberhentikannya. Aku melangkah pelan tapi pasti, sapaan pak satpam ku balas dengan ramah. Sampai di kelas, suasana riuh langsung menyambutku. Aku lekas ke mejaku.

“Bos, nama perempuan itu Kiran. Dia sekolah di SMAN 01 kelas tiga. Hidupnya sederhana, tinggal bersama wanita paruh baya bernama Ratna. Rumahnya terletak di jalan Kebagusan Raya, nomer 5b.”

“Bagus, terus pantau gadis itu!”

“Baik!”

Bel istirahat berbunyi nyaring, aku bersama teman dekatku, Icha dan Dita langsung menuju kantin.

“Dita, Kiran! Nanti mau ga kita nonton BBF bareng di rumah gw?” tanya Icha.

“Ayo, ayo!!!” Dita langsung menerima tawaran Icha dengan cepat. “Loekan tahu gw suka banget sama serial drama korea!” tambahnya.

“Yah…gw nggak bisa ikut,” sesalku. “Gw mau bantuin Bunda jualan. Gw pinjem kasetnya aja deh, gimana?”

“Oke, gw pinjemin kalau kita udah selesai nonton, ya?” jawab Icha.

Kita bertiga maniak banget sama serial drama Korea. Nggak ada alasan lain selain pemainnya yang cakep and cute-cute, bajunya lucu-lucu, seting pemilihan tempatnya oke, dan sountracknya bagus-bagus!

Bel usai sekolah berbunyi, akupun segera pulang karena Bunda pasti sudah menunggu di rumah.

“Cha, Dit! Gw balik duluan, ya?” salamku. “Jangan lupa, kalau udah selesai nonton gw pinjem!” ingatku lagi.

“Beres!” teriak Icha dari mobilnya.

Aku mempercepat langkah, seperti biasa, angkot yang akan membawaku pulang sudah menunggu di seberang jalan.

“Huh…!” aku menghela nafas. “Bt banget sih kalau setiap hari harus seperti ini. Gwkan jadi telat pulang, kasiankan Bunda.” Setelah cukup lama angkot ini mengetem, akhirnya jalan juga.

“Kiran pulang…” salamku lemas. “Maaf Bun, angkotnya kelamaan ngetem.”

“Udah, nggak papa. Cepat kamu ganti baju, abis itu makan, istirahat sebentar, terus kita keliling.”

“Siap.” aku langsung ke kamar ganti baju.

Selesai berganti pakaian, Bunda menemaniku makan.

“Masakan Bunda emang TOP deh! Pantas aja jualannya selalu abis. He..he..” tawaku sambil melahap sayur capcay.

“Kamu itu kebiasaan deh, kalau lagi makan jangan ngobrol, nanti keselek.” ingat Bunda.

Hehe…aku hanya nyengir.

Selesai makan siang, Bunda menyuruhku istirahat sejenak. Setelah cukup istirahat, kami pun berkeliling.

“Bos, target sudah pulang ke rumahnya. Tapi kini dia pergi lagi bersama ibunya sambil membawa keranjang. Sepertinya mereka akan berjualan lauk dan sayur.”

“Pantau terus. Oh ia, sepemantauan kalian hari ini, target menginginkan apa?”

“Kami dengar, target sangat menyukai serial drama Korea. Kalau tidak membantu ibunya jualan hari ini, tadinya ia bersama dua temannya akan nonton.”

“Dasar cewe, suka banget sih sama begituan! Ya udah, cepet beliin dia film yang dimaksud. Ingat, jangan di beri identitas, taruh sebelum mereka kembali.”

“Baik!”

Beru setengah perjalanan, aku dan Bunda sudah di panggil bu Ani, pelanggan tetap Bunda. Dia membeli sayur sop, perkedel, tumisan daun singkong, dan pepes ikan. Bawaan kami pun meringan. Memang nggak salah deh, masakan Bunda tuh memang enak, jadi wajar saja kalau banyak yang membeli. Jam menunjuk ke pukul lima sore, dagangan kami pun sudah habis terjual. Aku dan Bunda memutuskan pulang naik angkot. Karena memang seperti itu sistem kami, berangkat jalan sedangkan pulangnya naik angkot.

“Laris manis!” teriakku setibanya di rumah. Aku tidak langsung masuk ke dalam tetapi istirahat sejenak di teras. Sepoian angin sore menyejukkanku. Tiba-tiba mataku tertuju ke arah kotak pos. Dari kotak itu terlihat benda yang sedikit mencuat keluar. Aku mendekatinya dan…
“Wah…! Ini kaset siapa?” heranku kesenengan. “Tapi…bukannya sekarang Icha sama Dita lagi nonton?” aku berusaha berfikir…”Biarin ah! Nyari pemiliknya besok aja, mending sekarang gw nonton!” ucapku girang sambil ke dalam.

“Beres, bos! Target sudah mendapatkan barangnya. Walaupun sempat bingung, tetapi dia senang.”
“Bagus. Terus pantau!”

“Oh, so sweet banget…! Sweet…keren…cakep. Iri deh!” ucapku berulang-ulang di depan tv.

Bunda yang melihatku, keheran-heranan.

“Kiran, ayo tidur?! Besokkan sekolah. Sudah belajar belum?” tegur Bunda.

“Pr sudah beres, Bun. Belajar? Baru sedikit…”

Keheran-heranan Bunda menjadi-jadi. Ini pertanda kalau anak semata wayangnya itu akan susah disuruh-suruh. Apalagi kalau sudah menonton film kesukaannya. Jam menunjuk ke pukul dua belas. Bunda mengingatkan Kiran lagi kalau dia harus segera tidur. Karena tahu tidak akan menurutinya, Akhirnya Bunda tidur duluan. Sementara Kiran, dia masih betah nonton Boys Before Flowers.            Esok paginya…

“A……!!!” teriakku.

Bunda yang sudah bisa menebaknya hanya tertawa.

“Bunda kenapa nggak bangunin aku? Aku kesiangan nih, aduh…aduh…gimana nih!” sewotku ribet. Bunda yang melihat aksiku hanya diam saja.

“A…! Berarti gw nggak ikut pelajaran tambahan dong!” ingatanku bertambah.

“Semalamkan sudah Bunda ingetin, tidurnya jangan malam-malam. Tapi kamu tetap saja ngeyel. Resiko.”

“Bunda jahat!” Aku segera mandi, cebar-cebur nggak sampe lima menit, pake seragam, langsung berangkat.

“Kiran berangkat!” tidak lupa ku mencium pipi Bunda.

“Hati-hati!”

Huh…huh…huh…nafasku terenggah-enggah.

“Tujuh kurang dua puluh menit?!” teriakku panik. “Aduh, angkotnya mana lagi, lama banget sih, aduh…gw bisa telat nih. Angkot!” cemasku.

Tiba-tiba motor menghampiriku,

“Ojek, neng?”

Tanpa pikir panjang aku langsung menaiki ojek itu.

“SMAN 01, bang! Yang cepet ya, tapi selamet!” suruhku. Motor yang ku naiki melaju kencang. Tanpa membuang waktu, aku sudah tiba di sekolahan.

Huh…! Aku menghela nafas. “Untung…belum bel. Berapa, bang?” sambil mengelus dada.

“Lima ribu.”

“Lima ribu?!” kagetku.

“Kenapa neng, kemahalan? Itu udah paling murah!”

“Ju…justru itu murah banget, bang. Ya udah, nih!” aku langsung membayarnya, dan masuk ke dalam.

Tet…tet…tet!!!!!!

“Thanks God!” aku segera mengatur detak jantung yang sudah tak beraturan.

“Anak itu kesiangan karena menonton film sampai pagi.”

“Kesiangan cuma gara-gara nonton film begituan?! Terus gimana?”

“Kami berpura-pura jadi tukang ojek, seperti yang sudah kami antisipasi.”

“Good. Pantau terus!”

“Baik!”

“Loe kenapa? Pagi-pagi udah ngos-ngosan?” tanya Dita.

“Gw keasikan nonton, bangunnya jadi kesiangan deh. Oh ia…” ingatku. “Kemarin kalian jadi nonton?”

“Jadi. Emang kenapa? Gila, seru banget!!” girang Icha dan Dita kompak.

“Kemarin tuh gw nemu kaset BBF di kotak pos. Gw kira loe yang ngirim. Kalau bukan loe, terus siapa ya?”

“Wah, asik dong!” teriak Icha.

“Ia, kita nggak ngirim ke loe kok. Orang filmnya kita tonton!” tambah Dita.

“Terus siapa, ya?” Tanyaku dalam hati.

“Udah, nggak perlu di pikirin siapa yang naro tu kaset. Yang penting udah nontonkan?”

“Ia, udah. Makanya gw jadi kesiangan. Gila…!” hebohku. “Jun Pyo cakep banget…oh no, keren!”

“Ia, ia..Apalagi si itu tuh, yang imut, siapa?” tanya Dita.

“Gimana sih, katanya fans berat. Masa lupa?” kritik Icha.

“Ia, itu juga lucu. Imut banget! Semuanya cakep-cakep dan imut-imut deh. Perfecto!” tambahku.

“Oh…cakep. Jadi iri…Aaaaaaaaaaa!…Pingin!” kami lalu kompak berkhayal.

“Bos, target seneng banget.”

“Bagus dong. Kalau dia seneng, gw jadi ikut seneng. Tapi gw heran, emang dia nonton film apaan sih?”

“Em…film korea. Apa yah namanya kemarin, bo…boys be…be…fore hours…flowers gitu deh! Saya juga nggak tau.”

“Film apaan tuh?! Gw ga tau film begituan! Ya udah, pantau dia terus. Jagain juga nyokabnya.”

“Bos suka ya sama ni cewe?”

“Udah nggak usah banyak nebak. Terus pantau dan hubungin gw!”

“Baik!”

“Bunda, hehe…” cengirku sampai di rumah. “Tadi aku beruntung, loh. Aku nggak terlambat!” banggaku.

“Kok bisa?” heran Bunda.

“Ia, jadi pas aku lagi nunggu angkot, ada ojek. Ya udah, tanpa banyak basa-basi aku naik. Tahu nggak Bun, ongkosnya murah lagi!”

“Murah?” Bunda tambah heran.

He-eh! Anggukku sambil melahap sayur asem.

“Berapa?”

“Lima ribu!”

“Kalau pagi, di daerah sinikan nggak ada ojek.” terang Bunda.

“Ia ya, Bun. Hm…” aku jadi berfikir. “Nggak apalah,berarti Tuhan masih sayang sama aku. He…”

“Makanya, kalau Bunda ngomong toh ya didengerin. Tidur jangan malem-malem, apalagi sampai pagi, besoknya jadi gerusah-gerusuhkan?”

“Maaf deh.” sesalku.

Seperti biasa, setelah Bunda memberiku waktu istirahat, kami berkeliling.

“Kiran, cepat. Nanti kita kesorean loh!” teriak Bunda dari teras.

“Sebentar Bund, aku lagi ambil payung!” teriakku bergegas menghampirinya.

“Come on!” aku langsung menggandeng tangan Bunda setibanya di teras. Seperti biasa, sore ini kita akan berjualan sayur matang.

“Bun, Bunda sayang Kiran nggak?”

“Kamu kok tanya begitu? Tentu Bunda sayang kamu.”

“Bunda lelah ya begini terus?”

Sepoian angin sore menemani langkah kami.

“Kenapa harus lelah, Bunda senang kok menjalani ini semua. Apalagi ada kamu. Karena kamu Bunda jadi kuat.”

Aku memeluknya erat. Kapan aku bisa membahagiakan mu Bunda? Tanyaku dalam hati. Air mata langsung menggenang di pelupuk mata. Setelah menghampiri rumah-rumah langganan, jualan kami pun habis terjual. Selain berjualan sayur matang, Bunda juga membuka jahitan di rumah. Selesai membantu Bunda menyiangi sayuran, aku ke kamar. Membuka jendela agar sepoian angin malam berhembus masuk. Membuka buku harian, lalu ku tuangkan semua perasaan ke dalamnya.

Aku iba melihat Bunda. Setiap hari harus bekerja, bekerja demi hidup kami. Aku sangat membenci ayah, dia adalah orang yang paling tidak bertanggung jawab di dunia ini. Ayah meninggalkan kami saat aku masih kecil. Begitu yang aku dengar dari Bunda setiap ku bertanya tentangnya. Makanya sekarang aku tidak pernah bertanya lagi, takut melukai perasaan Bunda. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah, bagaimana aku bisa membantu meringankan beban Bunda, walaupun hanya sedikit. Tapi aku bisa berbuat apa?

Ah… gw ada ide! Gimana kalau gw beli sepeda? Jadikan nanti kalau kami jualan nggak cape jalan. Gw tinggal ngeboncengin Bunda. Aku bangkit dan langsung menuju lemari, didalam lemari itu ada celengan yang terbuat dari kaleng bekas bermotif bintang-bintang. Aku mengeluarkan isinya dan segera menghitungnya,

“Seratus, dua ratus, empat ratus, lima ratus…” aku berusaha mengeluarkannya lagi. “Lima ratus ribu? Cuma segini? Nggak ada lagi?” aku menggoyang-goyangkan celengan itu, meyakinkan apakah masih ada uang yang tertinggal.

“Duit segini mana cukup buat beli sepeda, yang second aja nggak dapet. Huh…!” aku menyerah. “Nggak, loe nggak boleh nyerah dulu. Loe aja belum nyari, masa udah bilang nggak mungkin. Besok pasti dapet sepeda yang di maksud. Semangat, percaya aja!” yakinku tiba-tiba.

Sebelum pergi tidur, aku menutup jendela, mematikan lampu dan tidak lupa berdoa mengucap syukur atas semua anugerah pada hari ini.

+_+

“Pagi, Bund!” sapaku ceria.

“Pagi sayang. Sebelum berangkat, minum dulu susunya, terus rotinya dihabiskan ya?”

“Siap!” selesai menuruti semua perintah Bunda, aku pamit berangkat.

Bunda mengantarku sampai teras, sebelum berangkat, ia mencium kedua pipiku.

“Hati-hati.” pesannya.

Aku menganggukkan kepala dan tersenyum. Kemudian tangan-ku lambaikan tanda berpisah.

Tidak seperti biasa, lalu lintas pagi ini lancar, angkutan yang ku naiki juga tidak lama mengetemnya. Akupun tiba di sekolah tepat waktu. Selesai pelajaran tambahan, aku bersama kedua temanku duduk di dekat lapangan basket. Sambil menunggu bel masuk, kami melihat anak-anak yang sedang bermain basket. Lamunanku terhenti ketika bola basket mereka mengarah ke arahku.

“Kiran!” teriak cowok diseberang.

Aku menoleh, Dito memanggilku.

“Bola! Ambilin!” suruhnya.

Aku mengambil bola itu lalu mengopernya.

“Thanks, cantik!” ucapnya.

Aku menyunggingkan senyum kecut. Bel masuk berbunyi, sontak anak-anak berlari meninggalkan kesibukannya.

“Tadi Dito ngomong apa ke loe?” tanya Dita.

“Bilang gw cantik.” jawabku spontan.

“I…h, pede banget loe! Seharusnya kata itukan buat gw.” Dita nggak terima.

“Loe berdua itu sama aja. Dito itukan the one and only khusus punya gw, jadi seharusnya kata itu buat gw.” Icha nggak mau kalah.

“Huek….Mau muntah gw.” ucap Dita.

“Ngomong-ngomong, dia udah punya cewek belum, ya?” tambah Icha.

“Cowok imut, keren, cool, anak low rider, anak basket, ah…lengkap deh, masa belom punya cewek. Tapi kalau fans pasti punya, siapa lagi kalau bukan kita!” jawab Dita.

“Haahaha…ia, ia. Kalau loe fans, gw ceweknya!” spontan Icha.

“Males banget sih.” ucapku.

“Loe nggak boleh gitu, suatu saat nanti loe pasti menyadari kalau Dito itu anak yang cakep dan pantas di jadiin fans!” yakin Icha dan Dita.

Aku mengrenyitkan dahi.

Setelah melewati tujuh jam belajar, bunyi yang paling di tunggu anak-anak berdering juga. Bel usai sekolah mengakhiri perjumpaan kami hari ini. Aku langsung mengemasi buku-buku dan kami bertiga ke parkiran. Disana Icha dan Dita di jemput, mereka berlomba-lomba menawariku tebengan.

“Loe naik mobil gw aja, Kir?” tawar Dita.

“Jangan, mending loe naik mobil gw. Dalemnya luas, ada acnya lagi. Loe mau apa, tinggal bilang langsung tersedia!” Icha nggak mau kalah.

“Mobil gw lebih keren, ada tvnya. Mau nonton apaan aja ada. Loe haus, ada minum, loe kepanasan, ada ac. Apalagi, loe bt? Kita bisa main game!” Dita nggak mau kalah banget.

“Aduh my friends…mobil kalian pada ribet-ribet banget sih. Tapi sebelumnya, makasih atas tawarannya. Gw naik angkot aja.” jawabku.

“Oh…ya udah deh.” kompak mereka memelas.

“Bye…!” aku melambaikan tangan ketika mobil mereka mulai melaju.

“Hari inikan gw mau nyari sepeda.” ingatku.

Aku mulai mengunjungi toko sepeda yang ku ketahui. Disana, aku mencari sepeda yang ku inginkan, ada keranjang dan boncengannya. Nggak perlu baru, second juga nggak apa-apa. Pikirku. Aku menanyai satu per satu sepeda yang menarik perhatian. Rata-rata harganya enam ratus sampai Sembilan ratus ribu, itu aja yang second, apalagi yang baru. Kesalku. Karena di toko ini harga sepedanya mahal-mahal, aku mencari ke toko lainnya. Hasilnya sama. Tidak ada sepeda dengan harga lima ratus ribu ke bawah.

“Gw mesti nyari ke mana lagi?” pikirku putus asa. “Aku pingin banget beliin Bunda sepeda. Tapi duit Kiran nggak cukup. Kenapa sih gw nggak bisa ngeringanin beban Bunda sedikit aja?!” langkahku gontai, air mata sudah menggenang.

“Maaf neng, eneng bisa bantu saya nggak?” tiba-tiba ada yang menegurku. “Saya lagi butuh uang secepatnya. Anak saya sakit, perlu biaya tambahan untuk operasi.”

Aku menoleh, laki-laki itu sudah ada di hadapanku. “Saya bisa bantu apa, pak?”

“Saya mau jual ini.” laki-laki paruh baya itu menunjukkan sepeda kepadaku.

“Memang bapak butuh uang berapa?”

“Enam ratus ribu.”

Aku mengeluarkan uang dari tasku. Setelah aku hitung lagi…

“Tapi…saya cuma punya uang segini.” sambil menunjukkannya.

“Berapa yang kamu punya?”

“Lima ratus lima puluh ribu…” jawabku.

Wajah orang itu berubah,

Setelah di pikir-pikir, “Tidak apa-apalah, neng. Habisnya saya pusing, semua barang sudah saya jual buat berobat anak saya. Tidak apa-apa, saya terima. Habisnya saya buru-buru, bingung mau kemana lagi.”

“Nggak apa-apa pak kurang lima puluh ribu?” tanyaku juga khawatir.

“Tidak apa-apa, neng. Ini!” bapak itu menyodorkan sepedanya.

Aku menerimanya, lalu memberikan uangku.

“Ini. Maaf ya, pak?” maafku.

“Bapak juga minta maaf ya neng kalau sepedanya jelek. Hanya itu yang bapak punya. Saya permisi dulu, saya buru-buru.”

“Tidak apa-apa. Mari…” ijinku.

Aku memperhatikan sepeda yang baru saja ku dapat. Warnanya merah muda, ada keranjang, dan ada boncengannya. Sepeda yang ingin sekali aku miliki. Aku sedikit heran, sepeda ini tidak terlihat seperti sepeda bekas. Bannya masih hitam, kerangkanya pun masih mengkilap tak ada goresan. Bagaimana ini, aku mendapatkan lebih sedangkan laki-laki itu tidak mendapatkan uang yang dia minta. Aku menoleh kebelakang mencari bapak tadi. Tetapi sepi, yang ku lihat hanya barisan pepohonan yang sedang tertiup angin.

“Cepet banget hilangnya?” pikirku. Aku segera pulang, Bunda pasti sudah menungguku.

“Bunda, Bun!!” teriakku setibanya di rumah.

“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya Bunda yang lalu menghampiriku ke teras.

“Kejutan!” seruku saat Bunda tiba di teras. Aku memamerkan sepeda yang ku dapat.

“Sepeda?” heran Bunda.

“Ia. Kejutan!” teriakku lagi.

“Kamu beli sepeda? Duit dari mana?”

“Ya, duitku Bund.”

“Tabungan mu?”

“Ia!”

“Berapa harganya?”

“Lima ratus ribu.”

“Kiran, kalau kamu menginginkan sepeda, kan bisa bilang ke Bunda.”

“Kiran beliin sepeda ini untuk Bunda, bukan buat Kiran.”

“Ya sudah, Bunda gantiin ya uangnya?”

“Nggak usah!” cegahku. “Kiran cuma mau membantu meringankan sedikit beban Bunda. Jadi, di terima ya sepedanya. Kiran udah susah payah mencarinya.”

“Ya sudah kalau tidak mau di ganti. Bunda terima sepeda ini.”

“Makasih!” aku memeluknya. Bunda membalas dengan mencium keningku.

“Kamu cepat ganti baju ya. Habis itu makan, terus kita jualan deh pakai sepeda barunya!”

“Oke!” semangatku.

Aku menuruti semua perintah Bunda. Setelah beristirahat, kami mulai berkeliling. Pertama-tama aku yang ngeboncengin Bunda. Nanti kalau cape, gantian Bunda yang boncengin aku. Semuanya berjalan dengan lancar. Pekerjaan ini jadi lebih ringan, kami bisa pulang lebih cepat dari biasanya.

Seperti kebiasaanku sebelumnya, aku membuka jendela kamar membiarkan angin malam masuk ke dalam. Dan mulai menuangkan semua perasaan di buku harian.

Hari ini gw seneeeeng banget bisa beliin Bunda sepeda. Kayak anak kecil aja ya, hihihi. Jangan di lihat dari nilai dan bentuknya, tetapi lihat maknanya. Meskipun kalian pikir itu hal sepele, coba jadi gw. Loe harus hidup berdua, nggak ada orang yang perduli dengan kondisi loe. Kalau bertanya, kan ada saudara? Entah kemana mereka semua? Seolah mereka tidak perduli dengan kondisi kami. Semakin besar gw semakin sadar, dan semakin benci dengan mereka yang sudah membuat hidup Bunda susah seperti ini. Lihat semangat Bunda, itulah motivasi yang paling aku junjung untuk menyemangati diriku sendiri. Apapun akan aku lakukan agar Bunda merasa bahagia. Masalahnya cuma gw, satu-satunya orang yang dia punya dan yang paling di sayang. Dengan membelikannya sepeda, seenggaknya gw bisa meringankan sedikit beban Bunda. Mulanya gw sempat ragu, gw pikir gw nggak akan dapet sepeda yang harganya lima ratus ribu. Ternyata benar, gw nggak dapet. Tetapi tidak sampai disitu, sampai akhirnya ada bapak-bapak yang nawarin sepedanya ke gw. Dia ngasih harga enam ratus ribu, tapi kerena bapak itu sedang sangat membutuhkan uang, dan gw juga sedang sangat membutuhkan sepeda, akhirnya kita saling barter. Meskipun nggak enak di bapak itu, karena gw cuma punya uang lima ratus lima puluh ribu. Tapi bapak itu menerimanya, dan memberikan sepedanya ke gw. Kalau kalian niat, pasti ada jalan, dan Tuhan akan selalu menyertai. Tujuanku hanya satu, membahagiakan Bunda. Aku rasa wajar seorang anak ingin membahagiakan ibunya. Dia satu-satunya orang yang ku punya. Tuhan, berilah dia kesehatan agar bisa menemaniku sampai tua. Aku menyayanginya. Selalu SEMANGAT Kiran!!

2

Mulai pagi ini aku akan menjalani hari penuh semangat. Selesai memakai seragam, aku menghampiri Bunda di ruang tengah. Ia sedang serius menjahit.

“Bunda lagi ngejait apa?” aku mencium pipinya.

“Bunda lagi buat kebaya untuk bu Tanti, soalnya Sabtu besok ada saudaranya yang mau nikah.”

“Oh….Bunda jangan kecapean ya? Kalau begitu, nanti sore aku aja ya yang ngejualin makanannya? Kan udah ada sepeda.”

“Kamu nggak kecapean?”

“Ya enggaklah, Bun. Ya udah kalau begitu, aku berangkat ya!”

Bunda lalu mengecup keningku.

“Hati-hati!” pesannya.

“Ia!” aku berangkat dengan hati ceria. Matahari pagi ini pun tampak lebih ceria.

“SEMANGAT!” teriakku!

“Pagi!” sapaku ke Icha setibanya di kelas.

“Pagi juga. Ceria banget hari ini?” herannya.

“Harus dong. Hidup itu harus di bawa ceria!”

“Oke-oke, gw setuju!”

“Eh, Cha. Gw pingin cerita deh ke loe.”

“Tentang?” tanyanya sambil serius ngerjain pr.

“Hm…akhir-akhir ini gw ngerasa ada yang beda sama hidup gw,”

“Kok?”

“Ia, kayak ada yang ngikutin gw kemanapun gw pergi. Terus…”

“Tunggu-tunggu. Gw nggak nemu maksud ucapan yang barusan loe omongin, gw nggak mudeng!” protes Icha.

“Iiiiihhhhh…Makanya! Pr tuh dikerjain di rumah. Udahlah, kapan-kapan aja gw ceritanya. Mending loe fokus ngerjain pr sana!” kesalku.

“Kau memang teman yang pengertian. Tau aja kalau gw lagi buru-buru. Maap nih, bukannya nggak mau ngedengerin cerita loe, tapi pr, gurunya galak…”

“Ia, ia!”

“Makasih Kiran, gw kira loe bakalan marah! Loe memang teman yang paaalinggg pengertian plus baik!” ia mencoba menciumku. Sebelum terkena serangannya, dengan cepat aku menghindar.

Huuhh…punya temen aneh semua. Heranku. Aku menghela nafas. Apa yang bisa gw lakukan untuk meringankan beban Bunda? Pikirku. Tapi kalau gw kerja, nanti siapa yang jagain Bunda? Tapi kalau gw kerja, Bundakan nggak perlu jualan sayur lagi. Gw mau nyari kerjaan ah…! Aku melangkah dengan semangat. Tapi…aku menghentikan langkah. Ku lihat jam di tangan dan tiba-tiba teringat sesuatu.

“Setengah tiga?!” kagetku. “Gw mesti cepet-cepet pulang nih. Gwkan janji sama Bunda tuk ngejualin lauk pauk. Wah, Bunda pasti udah nunggu.” panikku yang semakin mempercepat langkah.

“Bunda, Bun-da…!” panggilku setibanya di gerbang.

Suara mesin jahit terdengar sampai ke teras. Suaranya semakin jelas ketika ku tiba di ruang tengah.

Muach…aku mencium kedua pipinya.

“Akukan manggilin Bunda dari tadi, kok nggak di sautin sih?’”

“Kamu manggil Bunda? Kapan? Dimana?”

“Aku teriakin dari depan nggak di jawab-jawab,”

“Maklum, sudah tua. He…he…”

“Sudah makan belum, Bund?” tanyaku sambil membuka tudung saji. Makanannya masih utuh.

“Bund, jangan kecapean dong. Yuk kita makan!” ajakku.

“Tanggung, Kiran. Tinggal pasang kancing.” jawab Bunda masih serius dengan jahitannya.

“Tinggal dulu, Bund. Kiran marah nih!”

“Ia deh. Abis Bunda takut sih kalau Kiran marah, serem…”

“Bunda jahat. Masa anak sendiri dibilang serem.” kini ia sudah bergabung denganku.

“Gimana tadi sekolahnya?”

“Baik. Kenapa, Bund?”

“Kiran?” panggil Bunda lagi.

“Apa?”

“Kamu sudah punya pacar belum? Bunda kenalin dong sama pacar kamu,”

“Bunda ini kenapa, kok tiba-tiba nanya begitu? Aku belum punya pacar.” jawabku jujur.

“Bohong.” ia tetap ngeyel.

“Ah, Bunda. Iseng deh nanya-nanya. Hari ini spesial banget masakannya?”

“Itu pesanan ibu Ita. Karena masih ada sisa, Bunda tinggalin untuk kamu.”

“Enak banget ayam bakarnya. Apalagi sambelnya! Hm…mantab!” aku memakannya dengan lahap.

“Bunda sudah nyiapin yang mau kamu jual nanti. Bisakan bawanya?”

“Tenang, Bund. Kan ada boncengan sama keranjang. Bisalah!”

“Emang siapa aja yang mesen ayam panggang, Bund?”

“Ingat-ingat ya. Bu Ita, ibu Dede, bu Sari, sama ibu Siti.”

“Puji Tuhan ya, tambah laris!” senyumku.

Aku memakan lauk yang ada dihadapanku dengan lahap, lalu mengambil satu cendok nasi lagi untuk menghabiskan sisa ayam di piringku. Karena keasikan makan, aku jadi lupa dengan janjiku. Untung Bunda segera mengingatkan. Dengan cepat aku selesaikan makan siangku, setelah itu bersiap-siap untuk jualan.

“Sudah semua, Bund?” pastiku. “Nggak ada yang ketinggalankan?”

“Nggak ada. Kamu hati-hati, jangan ngebut-ngebut!” pesan Bunda.

“Ia!” aku mulai menjalankan sepeda. “Da…!” lambaiku. “Doain ya biar jualannya habis!” seruku.

Cuaca sore ini agak sedikit mendung. Aku suka cuaca seperti ini. Nggak panas, anginnya sejuk. Sepanjang ku mengayuh sepeda, guguran dedaunan berterbangan dipandangan mataku. Tak lama, aku tiba di rumah pertama. Biasanya di rumah ini pemiliknya membeli banyak sayur dan lauk.

“Tumben nggak sama ibunya?” tanya pekerja rumah itu.

“Bunda lagi ngurusin jahitan. Oh ia, kemarin ibu pesan apa?”

“Ayam bakar tiga, tumis buncis dua, sayur capcay dua, sama perkedel.”

Aku mengambil pesanannya dikeranjang.

“Ini!” sodorku.

Orang itu mengambilnya sambil mengulurkan uang tiga puluh lima ribu. Aku menerimanya lalu menyiapkan sepeda.

“Besok mau pesan apa?” tanyaku”

“Ini!” ibu itu menyodorkan secarik kertas. “Yang saya pesan ada di situ semua.”

“Oh, ya sudah kalau begitu, nanti saya sampaikan ke Bunda. Saya pamit dulu, permisi!” ijinku lalu melanjutkan berkeliling.

Tidak jauh dari rumah bu Ita, kini ku sampai di rumah bu Dede. Dengan cepat aku menyerahkan sayur dan lauk yang mereka pesan lalu meneruskan ke rumah selanjutnya, begitu terus sampai pesanannya habis. Saat ingin menuju rumah terakhir, motor melaju dari gang sebelah kanan. Aku yang sangat terburu-buru tidak menyadari ada motor yang melaju dengan cepat keluar dari gang.

BRUG!!! aku terhempas ke aspal, semua sayur yang akan ku kasih ke rumah terakhir berhempasan ke jalan.

“Aw…!” aku menjerit kesakitan. Lama kelamaan sakitnya teramat sangat. Aku mencari ke sumber luka. Aku menganga, ternyata kaki kananku sudah banyak darah. Aku mencari lagi, terasa perih di kaki sebelah kiri. Aku bangkit dan memperhatikan keadaan sekitar.

“EH!!! Liat-liat dong! Mata taro dimana sih? Tanggung jawab, dagangan gw ancur semua, nih. Rugi, gw! Dan loe juga harus liat, kaki gw penuh luka nih. Gw nggak mau tau, pokoknya loe harus tanggung jawab!!!!” kesalku. “U-UH!!!”

“Loe yang nggak punya mata. Mana gw tau kalau ada sepeda tadi. Eh non, dimana-mana yang kecil nunduk sama yang besar. Saya motor, sedangkan anda sepeda. Kalau rusak masih murahan biaya sepeda daripada motor. Bodo amat, itu urusan loe! Gw nggak mau tau! Wee…!”

“Eh, jelas-jelas disini gw korbannya! Loe nggak liat nih kaki gw darah semua! Jualan gw juga pada ancur! Kalau gini caranya gw rugi berlipat-lipat! Kalau nggak mau ganti, gw bakal teriak sekenceng-kencengnya kalau loe mau jambret gw! Tolong, tolong, ada penjambret!! Tolong, tolongin saya, saya dikejar-kejar, orang ini mau jambret saya!!!!” teriakku sekencang-kencangnya.

Cowok itu langsung menutup mulutku. Baru ingin menutup mulut, dua pria menghampiri kami.

“Ada apa ini rebut-ribut?!” tanya salah satu antara mereka.

“Dia nabrak saya, Pak!” kami saling tunjuk.

“Saya nanya serius!” bentak pria itu.

“Dia, Pak!” jawab kami kompak.

“Ah, sudah, sudah!” geramnya.

“Kamu! Nama?” menunjuk ke pemuda itu.

“Alvin!”

“Kamu?” pria yang satunya lagi menunjukku.

“Kiran.”

“Tolong ceritakan kepada kami apa yang terjadi.”

“Yah, pokoknya saya lagi asik-asik naik sepeda. Tiba-tiba dia nabrak saya!”

“Enak aja gw yang nabrak loe, adanya loe yang nabrak gw!” sangkal pemuda itu.

“Sudah, diam! Gini aja. Logikanya, mana mau sepeda nabrak motor. Emang kamu nggak liat, sepeda perempuan ini rusak parah. Coba saya liat luka di tubuh kamu! Mana? Nggak ada. Sedangkan gadis ini banyak lukanya. Cepat minta maaf dan ganti rugi!”

“Enak aja, dia yang salah pak!”

“Nggak usah ngebantah. Cepat! Lagi pula motor kamukan nggak kenapa-napa.”

“Nggak kenapa-napa tapikan saya nggak mau ganti rugi. Orang saya nggak salah!”

Setelah dipaksa berkali-kali, akhirnya pemuda itu meminta maaf dan memberikan ganti rugi.

“Nih!”

Dengan cepat aku mengambilnya. Kemudian ia pergi begitu saja.

“Mau dibantu?” tawar salah satu lelaki itu.

“Nggak usah, saya masih bisa jalan kok. Lagi pula bengkel sepeda nggak jauh dari sini.”

“Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya!”

“Makasih!” aku memberikan senyum tanda terimakasih.

Aku membereskan sayur yang tercecer. Plastiknya sudah pada pecah, isinya berceceran, dan tidak satupun tersisa utuh. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menuntun sepeda ke bengkel terdekat. Tapi sebelum itu, aku ke rumah bu Kamal untuk memberi tahu kalau sayur dan lauk yang dipesannya hancur semua.

“Tidak apa-apa. Lain kali kamu hati-hati, motor di daerah sini ngebut-ngebut.”

“Syukur deh kalau ibu nggak marah. Maaf, ya? Saya jadi nggak enak.”

“Tidak apa-apa nak Kiran. Justru ibu merasa bersalah sama kamu,”

“Saya nggak apa-apa kok. Ya sudah, saya pulang dulu.” pamitku.

“Hati-hati!” pesan ibu itu lalu membantuku menggeser pintu pagar.

Langkahku terseok-seok. Luka di kakiku semakin perih, dan muncul rasa perih lainnya ditubuhku. Setibanya di bengkel, aku istirahat sejenak menyelonjorkan kaki.

“Rusaknya parah banget, Neng?” heran abang-abang bengkelnya.

“Ia, abis ketabrak motor.”

“Ini sih seminggu baru kelar. Itu juga nggak langsung mulus, masih ada bekasnya?”

Heh? Heranku. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata abang itu sedang memperhatikan luka dikakiku bukan sepedaku.

“Lah abang. Benerin tuh sepeda saya. Malah ngeliatin orang yang lagi kesakitan. Berapa hari kelar?”
“Seminggu.”

“Seminggu? Nggak bisa lebih cepet?” kagetku.

“Lima hari, deh?”

Aduh, gimana ya?

“Itu paling cepet, neng.”

“Ya udah deh. Berapa semuanya?”

“Empat ratus ribu,”

“Apa?!” kagetku.

“Yah eneng. Kaget terus dari tadi. Itu udah paling murah,”

“Murahin lagi, lah?”

“Dibilangin itu udah paling murah. Mau 450 ribu?”

“Ya elah bang. Ya udah deh. Saya mah percaya aja. Dp berapa dulu nih?”

“Terserah, eneng.”

E…aku merogoh kantong celanaku.

95 ribu, tapi inikan duit Bunda. Nggak mungkinlah gw pake duit ini.

Aku mengingat-ingat lagi.

Kayaknya tadi tu orang ngasih uang ganti rugi deh? Tar dulu…aku merogoh kantong lagi. Aku menemukan amplop cokelat. Ku buka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

“Gila! Tadi teriak-teriak nggak mau ganti rugi, tapi kenapa ni duit banyak banget?! Seratus, dua ratus, tiga ratus…lima ratus ribu?” kagetku. “Wow…!!” tanpa banyak berfikir, aku menyerahkan dp dua ratus ribu dulu ke abang sepeda itu.

“Nih, bang! Inget, lima hari ya? Kalau belum selesai, saya minta penurunan harga.”

“Ia, beres deh!”

“Okeh!”

Aku membuka pagar dan melangkah masuk dengan pincang. Di teras, aku langsung memanggil Bunda agar menghampiriku ke depan. Tak lama ia menghampiriku dan keheranan melihat anaknya yang sedang kesakitan.

“Kamu kenapa?” paniknya.

“Jatuh, Bund.”

“Kok bisa?”

“Kesandung batu.”

“Terus mana sepedanya?”

“Di bengkel.”

“Kok sampe dibawa ke bengkel segala? Emangnya rusak parah?”

“Ia.”

“Kok bisa separah itu kalau cuma jatuh?”

Iiiih…banyak banget sih pertanyaannya. Emang nggak bakalan bisa betah bohong deh ke Bunda.

“Kiran ketabrak motor.”

“Apa??” histeris Bunda. “Coba, mana yang luka? Bunda lihat.”

“Kaki kanan Kiran yang parah. Yang lainnya cuma beset-beset aja.”

“kamu tunggu disini ya. Bunda ambil obat dulu,”

Tak lama Bunda keluar dengan membawa kotak P3K. Dengan cepat ia mengeluarkan alkohol dan membasahkannya ke kapas. Kemudian ditempelnya ke kaki kananku.

“Kamu kalau mau teriak, teriak aja. Sekeras-kerasnya juga nggak apa-apa.”

Benar, baru sebentar Bunda meletakkan kapas itu di lukaku, aku sudah menjerit kesakitan.

“Aaaawwwwww! Saaakkkkiiiiittttt!!!!”

Bunda terus membersihkan darah dari lukaku dengan alkohol.

“Tahan sedikit. Kalau infeksi bagaimana? Masalahnya lukamu sudah dari tadi.”

“Aduh Bunda, Kiran udah nggak tahan. Perih!!!!!”

“Dah, sudah sembuh.” setelah diperban, Bunda membantuku masuk ke dalam. Kali ini kakiku benar-benar pincang, sakit banget kalau ketekan.

“Sepedanya benernya kapan?” tanya Bunda.

“Lima hari baru selesai, Bund.”

“Kita kembali seperti semula dong?”

“Ia.”

“Ya sudah. Kamu istirahat aja, biar Bunda yang jualan.”

“Nggak, Kiran aja yang jualan. Paling besok udah sembuh.”

“Kalau begitu kita berdua aja jualannya?”

Aku mengangguk setuju.

+_+

“Kiran berangkat ya, Bund!”

“Kakimu masih sakit?”

“Masih sih sedikit.”

“Tapi masih kuat jalankan?”

“Bunda nggak usah khawatir. Aku berangkat!” salamku sambil menutup pintu gerbang.

“Aw…!” tak sengaja kakiku terantuk pagar yang ku tutup.

“Iiihh…!” geregetku. Aku melangkah pelan-pelan, meski tak sepincang kemarin tapi kaki ini masih nyeri kalau terlalu ketekan.

“Akhirnya…sampe juga di angkot!” syukurku. Kendaraan yang aku naiki pun melaju, meski perlahan.

Oh my God! Perjalanan hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan. Gerutuku.

Aku melewati lorong sambil melihat ke arah lapangan basket. Seperti biasa, selalu ramai dipenuhi anak-anak yang melakukan beragam aktivitas sambil menunggu bel masuk.

“Kiran, kok loe datengnya siang banget sih?” teriak orang dibelakangku.

Icha berjalan di sebelahku.

“Sori deh. Hari ini gw lagi lelet nih jalannya. Udah gw lelet, angkotnya juga ikut lelet lagi. Emang kenapa?”

“Gwkan mau liat pr mtk loe. Emang kenapa tu kaki?”

“Jatoh dari sepeda.”

“Yah, gw kira kenapa. Lebai juga kaki loe.”

“Sialan, ga gw pinjemin nih!” ancamku.

“Nggak asik banget sih gaya loe. Masa baru dikatain gitu aja udah marah?”

“Lah, kenapa jadi loe yang marah? Seharusnya gw yang marah, kenapa jadi loe yang lebih marah ke gw?”

“Aduh, sudahlah! Pusing gw, nggak ngerti. Mending kita nggak usah ngebahas kaki loe lagi ya. Sekarang yang lebih penting gw liat pr loe dulu.” buru Icha dan Dita.

“Kapan sih kalian bisa contoh gw, anak rajin meskipun sibuk ini?” ucapku menyombongkan diri.

“Iih…!” kecut mereka, “Anak nggak bener kayak loe diikutin. Jadi lebih nggak bener lagi gw nanti!” jawab mereka kompak.

Hm, gimana ya. Hm…gw bingung. Tapi…nanti Bunda gimana? Hm…tapi gw pingin banget. Gimana dong baiknya?

“Oi!! Ngelamun aja. Cepet kerjain tugasnya, sebentar lagi dikumpulin.” ingat icha.

“Ah!” sontakku. “Ia, ia. Liat dong punya loe.”

Bel istirahat berbunyi, aku, Icha, dan Dita ke luar kelas dan mulai makan bekal yang kami bawa masing-masing sambil melihat anak-anak yang bermain basket. Tapi bukannya makan, Icha dan Dita malah ngeliatiiiiiiiiiiin Dito yang lagi main basket.

“Se-ma-ngat, se-ma-ngat!! Cayo Ditto! Hu…….!” Sorak mereka kompak.

Diam-diam aku ngambil makanan mereka sedikit demi sedikit.

“Awas, cepet ambil! Shot, shot!” sewot Icha sama Dita.

Aku penasaran, kenapa sih mereka bisa suka sama Dito? Aku memperhatikannya dari tempat dudukku. Hm…cakep, putih tapi manis. Tubuhnya standar anak basketlah, dan yang terpenting, imut.

“Apa??!!!” kaget Icha plus Dita bebarengan.

“Makanan gw kemana?!” tambah mereka lagi.

Mata mereka langsung menuju ke arahku. Aku yang di tatap seperti itu (tatapan yang menuduh) langsung memberikan senyum termanis.

“Abis…kalian sibuk ngeliatin Dito sih…”

“Hahahahahah…Udah, nggak apa-apa. Nggak usah nyesel begitu dong, kitakan jadi nggak enak. Habisin aja makanannya, kita ridho kok. Habisin, habisin!” suruh mereka yang langsung sibuk nyemangatin Dito lagi.

Huft…Hehehe, siapa yang nolak dapet rejeki kayak begini. aku langsung melahapnya.

Sambil makan, mataku mengamati permainan basketnya Dito. Saat itu ia sedang mendribble bola, tak sengaja mata kami saling menatap dan ia memberikan senyum kepadaku.

Bel usai istirahat berbunyi, kami kembali ke kelas yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami duduk sekarang.

“Huhuhuhu…bye-bye, Dito! Kita berpisah deh. Hickhick…” sedih mereka.

“Udah ah jangan terlalu lebay begitu, nanti yang baca novel gw jadi eneg nih!”

“Egois. Nggak mikirin perasaan temen. Kenapa sih kita nggak ditakdirin sekelas sama dia?”

“Aduh, nanti juga kalian ketemu lagi. Heboh! Lagipula, kenapa sih kalian harus suka sama dia? Kan ada Adit, anak futsal. Randy, anak tenis meja. Dandy, anak low rider yang nggak kalah cakep. Kenapa harus Dito??!” tanyaku heran banget.

“Tetep aja gantengan Dito! Selera loe gimana sih? Dito itu kayak punya keseksian yang terpendam!” jawab Dita.

“Maksudnya?” tanyaku tambah heran.

“Loe belum liat dia yang lagi bener-bener main basket, sih. Terus, loe juga belum liat dia saat main dengan low ridernya. Dia bangetnya keluar! Dan yang nggak bikin kita tahan itu adalah gayanya yang cool. Apalagi senyumnya. Oh…bikin melting, wajahnya langsung berubah menjadi imut!”

Icha yang ngedengerin penjelasan Dita lagi bener-bener ngebayangin.

“Oke. Gw ngalah. Kalau udah ngefans emang susah!” tamatku.

Setelah sukses berkutat dengan soal-soal uji coba buat menghadapi UAN, bel usai pelajaran berbunyi. Aku langsung memberesi buku-buku yang menumpuk dihadapanku. Aku, Icha, dan Dita langsung menuju parkiran setelahnya.

“Mau pulang bareng?” tawar Icha dan Dita .

“Nggak usah, gw pulang sendiri aja. Thanks atas tawarannya.”

“Nggak usah gitu kali, kitakan temen. Ya udah deh, gw pulang dulu ya.” pamit Icha.

“Ia, hati-hati!” ku lambaikan tangan ke arah mereka.

Langkahku masih pincang, sambil berjalan pulang, aku mampir ke toko-toko sambil iseng mencari pekerjaan. Aku melihat kedai kue, karena tertarik dan penasaran, aku masuk dan mencoba melamar.

“Permisi,” sapaku ke salah satu karyawan disana. Tetapi dia tetap sibuk dengan pekerjaannya.

“Apa disini sedang membutuhkan karyawan?”

“Maaf, kamu cari ke tempat lain saja. Disini tidak terima karyawan baru!” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

“Oh, ya sudah. Terima kasih.”

Aku berjalan lagi, mencari-cari dan memberanikan diri melamar ke tempat yang menurutku sedang membutuhkan karyawan. Aku menemui kedai kopi, sama seperti sebelumnya, aku masuk dan bertanya apakah menerima karyawan baru.

“Wah, saya kurang tahu. Tapi saya bisa mengantar anda ke pemilik tempat ini.”

“Makasih!” Ia lalu mengantarku.

Tok…tok…tok. Karyawan itu langsung mengetuk pintu setiba di ruang bosnya.

“Ada apa?”

“Ada yang mau melamar kerja disini, pak.”

“Suruh masuk!”

Karyawan itu keluar dari ruangan bosnya lalu menyuruhku masuk. Aku jalan tertatih, entah kenapa luka di kakiku terasa nyeri.

“Silahkan duduk!” suruhnya.

“Kenapa kamu mau kerja disini?” ucapnya lagi.

“Saya tertarik dengan tempat Bapak. Selain itu, saya ingin mendapatkan penghasilan tambahan.”

“Kerjamu sehari-hari apa?” tanyanya sambil bolak-balik file dihadapannya.

“Pelajar dan membantu ibu saya berjualan.”

“ Apa kamu bisa kerja disini?”

“Bisa! Memang kenapa?”

“Kamu jangan asal main jawab “bisa”! Apa kamu tau, tempat saya ini selalu ramai dikunjungi orang. Hampir tidak ada waktu untuk nganggur saat kerja disini. Paling kamu anak manja, mana pincang lagi! Saya jamin kamu nggak bisa kerja cepet deh, paling baru kerja sebentar udah cape, lemes, terus sakit! Lantas nggak masuk. Karyawan seperti itu hanya menyusahkan saya!”

“Tapi saya nggak pincang, pak! Saya habis kecelakaan. Bapak jangan langsung men-judge saya seperti itu dong. Sayakan belum kerja, kasih saya kesempatan!”

“Sudahlah, cari saja di tempat lain! Silahkan keluar!” suruhnya.

“Terima kasih atas waktunya!” aku langsung keluar dari ruangannya.

“Udah sombong, nge-judge orang seenaknya lagi! Huh…!” aku mencari ke tempat lain. Sebelum melanjutkan perjalanan, aku istirahat sejenak. Menoleh ke kanan kiri, sambil mencari tempat yang akan ku kunjungi selanjutnya. Mataku pun tertarik pada sebuah tempat cozy bernama “Soulsation Buzz”. Aku mengunjungi dan melihatnya ke dalam. Pohon-pohon penyejuk berderetan mengikuti jalan setapak yang membawa ku ke tempat utama. Kaca-kaca besar pengganti tembok banyak terlihat disini, sehingga kita bisa bebas memandang keluar. Karena banyak tumbuhan yang di tanam disini dan dengan pot-pot gantungnya, tempat ini begitu asri dan sejuk. Disainnya pun perpaduan antara minimalis dan tradisional, sehingga tempat ini begitu asik dijadikan tempat nongkrong beramai-ramai atau sendirian. Dilantai ini aku melihat ruangan kaca lumayan besar bertuliskan free hot spot. Disisi lain lantai ini, aku melihat rak-rak dvd film dan melihat beberapa pintu bertuliskan mini theater. Akupun semakin penasaran, aku menaiki tangga di pojok ruangan dan sesampainya di atas, aku melihat ruangan kaca lagi yang sejuk dan damai. Banyak rak mengelilingi tempat itu. Aku menghampiri salah satunya. Bertuliskan sastra Indonesia. Aku ke rak lain, di rak ini, aku banyak menemukan ensiklopedi. Aku kesebelahnya dan menemukan buku National Geography. Ternyata dilantai ini kita bisa baca buku apa saja, sepuasnya, termaksud komik dan novel. Aku melihat banyak orang membaca sambil menikmati minuman atau makanan. Aku melihat-lihat lagi, ternyata ada sekat pemisah. Di ruangan itu kita bisa mengerjakan tugas bersama teman-teman.

Tempatnya asik banget! Seruku dalam hati.

Aku kebawah dan menemui salah satu karyawan disana. Aku mendekatinya lalu bertanya apakah tempat ini menerima karyawan lagi. Orang itu lalu membawaku ke sebuah ruangan.

“Tunggu sebentar, ya. Saya panggilin pemilik tempat ini.” ucap pria itu kepadaku.

Tak lama, pemilik tempat ini menghampiriku.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Aku menoleh dan sedikit terkejut.

“Kamu mau kerja disini? Kebetulan, mari masuk!” suruh pemuda itu.

Ya ampun, udah enterpreneur muda, cakep, ramah lagi.

“Nama kamu siapa?” tanyanya.

“Kiran.”

“Kenapa kamu mau kerja disini?”

“Sebenarnya saya baru tahu kalau di daerah sini ada tempat seperti ini. Karena sedang mencari pekerjaan, dan tidak sengaja menemukan tempat ini, akhirnya saya masuk dan melihat-lihat. Ternyata tempatnya asik banget!”

“Memangnya kamu mau kerja apa?”

“Apa saja. Apapun pekerjaannya saya terima,”

“Hm…!” pria itu berfikir sejenak.

“Ayolah Pak, saya mohon! Kerja apa saja saya terima. Plis, saya sedang membutuhkan pekerjaan.” mohonku.

“Oke! Tapi jangan panggil gw, Pak dong. Gwkan baru 23 tahun. Panggil aja gw Ciko.”

“I,,,ia Pak Ciko,”

“Ciko aja, nggak usah pake Pak.” suruhnya lagi.

“Maaf. Saya belum terbiasa,”

“Oke. Kamu masih sekolah? Kelas berapa?”

“Kelas 3 SMA,”

“SMA mana?”

“SMAN 01,”

“Gw punya teman disana. Pelanggan gw juga banyak dari situ.” terangnya.

“Oh…”

“Oke Kalau begitu, loe gw terima disini. Karena kita buka dua puluh empat jam setiap hari, loe kebagian kerja dari pukul tiga sampai sembilan malam. Gimana? Keberatan?”

“Nggak, saya nggak keberatan. Ngomong-ngomong, kerjaan saya apa ya?”

“Hampir gw lupa! Kerjaan kamu, layanin pelanggan yang baru datang, tanya mereka mau baca, nonton, internetan, atau mau kerja kelompok, nanti saya suruh karyawan lain untuk mengajari. Layani pengunjung sampai mereka benar-benar melakukan apa yang mereka mau. Tawari mereka makanan atau minuman. Setelah itu, kamu lap-lapin kaca dan bersih-bersihin setiap ruangan. Letakkan buku dan kaset yang berserakan ke rak yang sudah disediakan sesuai kategorinya. Jangan lupa periksa kelengkapannya. Itu saja.”

“Baik. Kapan saya bisa mulai kerja?”

“Besok!”

“Ya sudah kalau begitu. Saya mau permisi pulang. Makasih banyak ya, pak!” aku lalu menjabat tangan pemuda itu.

“Aduh, dari tadi loe panggil gw bapak terus. Emang loe mau gw jadi bokap loe? Santai aja lagi, semua karyawan disini panggil gw nama kok. Nggak usah terlalu formal, jadinya malah kaku!”

“Maaf, maaf! Saking bersemangatnya saya lupa! Hm…ya udah deh kalau begitu, gw pamit dulu ya?”

“Sip! Besok jangan terlambat ya!” pesannya.

Aku tersenyum dan melangkah keluar.

Huh…..!! aku menghela nafas setibanya di luar.

“Terima kasih Tuhan. Akhirnya dapat pekerjaan juga!” aku berjalan pulang dan sesekali memandangi langit.

“Wah-duh! Kok udah gelap?!” spontan ku lihat jam di tangan.

“Jam ENAM!!!? Gawat, Bunda…maafin Kiran!!!!” aku berlari secepat mungkin, tapi apa daya, kaki tak sanggup.

“Maaf,” aku tertunduk memelas. “Hari inikan Kiran janji yang akan jualan. Aduh, kenapa bisa sampe lupa si!! Gara-gara keasikan di tempat Ciko nih!”

Hos…hos…hos…! Nafasku terengah-engah. AKu buka pintu gerbang sambil menstabilkan nafas.

“Bunda!” panggilku dari teras.

“Bunda maaf. Kiran nggak nepatin janji!” ucapku lagi memasuki ruang tamu.

Aduh…gimana nih?! cemasku.

Ku lihat Bunda sedang menjahit di ruang tengah. Deru mesinnya terdengar sampai ke ruang tamu. Aku mendekat dan memeluknya.

“Bunda, Kiran minta maaf. Ki…Kiran benar-benar…Ki…ran…” aku bingung harus beralasan apa.

“Kamu kenapa, sih? Atur dulu nafasnya sebelum bicara,” suruhnya.

Aku menstabilkan nafas. Ini gara-gara gw lari nggak berenti-berenti. Mana kaki sakit lagi. U-uh! Gerutuku.

“Kiran minta maaf. Tadi pagikan Kiran janji mau gantiin Bunda jualan. Eh, Kirannya malah baru pulang. Bunda nggak marahkan?”

“Udah, sana mandi dulu! Kamu juga pasti belum makankan?”

Aku bangkit dan menuruti perintah Bunda, habis itu kami makan malam bersama.

“Bund…” panggilku.

“Apa sayang? Kalau mau minta maaf nanti saja setelah makan.”

Aku menganggukkan kepala, kemudian kembali makan dengan lahap. Selesai makan malam, aku membantu Bunda menjahit di ruang tengah. Disana mau sekalian minta maaf.

“Tadi kamu mau bicara apa?” tanya Bunda halus.

“Maafin Kiran. Bunda nggak marahkan?” aku mendekapnya. “Kiran nggak nepatin janji. Seharusnya Kiran yang jualan tadi, tapi Kiran malah nambah kerepotan Bunda. Bunda sudah terlalu sibuk mencari nafkah, Kiran mau membantu Bunda. Maafin Kiran ya, Kiran nggak bisa bantu banyak. Sekalinya mau bantu, Kiran malah nggak nepatin janji dan nambah ngerepotin…”

“Suut….! Kamu kok ngomongnya begitu? Kamu itu kado terindah dari Tuhan untuk Bunda. Sudah tanggung jawab Bunda melakukan ini semua, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah. Bunda senang kok memiliki anak seperti kamu. Kamu anak yang baik, pengertian, dan yang paling penting, kamu menyayangi Bunda apa adanya. Sudah, lupain masalah yang terjadi hari ini. Dan kamu jangan merasa kalau Bunda kerepotan ngurusin kamu. Kamu itu anak Bunda dan Bunda sangat menyayangi kamu. Apapun akan Bunda lakukan demi kamu, anak kesayangan Bunda.” ia mencium keningku.

Aku tersenyum bahagia.

“Ya sudah, kamu tidur sana! Besok harus masuk lebih pagikan untuk pelajaran tambahan?”

“Oh, ia! Kiran hampir lupa. Untung Bunda ngingetin. Ya udah, Kiran tidur dulu ya. Bunda jangan terlalu cape. Jangan tidur larut-larut, apalagi sampai pagi. Kalau sakit gimana?”

“Ia bu guru!” ledeknya.

Aku masuk kamar meninggalkan Bunda sendiri di ruang tengah. Membuka jendela kamar, membiarkan sepoian angin malam masuk bebas tanpa aturan. Ku ambil buku harian di laci meja belajar, membuka lembar demi lembar sampai menemui halaman kosong. Kemudian mulai ku tuliskan beberapa kata didalamnya.

Gw SENENG banget!!!!!! Tau nggak, hari ini gw keterima kerja di tempat yang ASIK BANGET! Namanya SOULSATION BUZZ. Kerenkan??? Apalagi tempatnya! Disana kita bisa bebas internetan sambil ditemenin makanan atau minuman kesukaan, liat film dokumenter atau film aksi, dengerin lagu sambil kerja kelompok, dan baca buku saaaaaaammmmpe puas. Mau baca novel, komik, sastra, ensiklopedi, buku pengetahuan alam, buku perfilman, sejarah negara-negara, pokoknya SEMUANYA ADA DEH!!!! Walaupun cuma jadi pelayan dan tukang bersih-bersih, gw TERIMA! Yang penting gw bisa kerja. Bisa kerja di tempat asik dan gaul kayak gitu gw udah bersyukur. Tapi gw bingung…kalau gw kerja, siapa yang bantuin Bunda jualan? Apalagi gw kerja sampe malam. Bisa bener-bener nggak ada waktu buat Bunda, nih. Apa gw harus jujur? Tapi gw takut Bunda nggak ngijinin, apalagi sekarang gw kelas tiga, bentar lagi UAN. Tapi gw udah cinta banget sama tempat itu. Gini aja deh, jalanin dulu beberapa hari, kalau nggak betah gw keluar. Terus sekalian ngeliat reaksi Bunda, kalau ada tanda-tanda ngijinin, gw akan lanjut. Ini udah keputusan gw, apapun yang terjadi dan konsekuensinya akan gw tanggung tanpa MENGELUH!!!

“Semangat PUPU!!!!” teriakku ke tedy bear coklat yang selalu menemaniku setiap belajar ataupun tidur.

“Tapi untuk besok, alasan gw ke Bunda apa ya? Nggak mungkinkan gw langsung nyelonong pulang malam tanpa alasan. Yang ada nanti Bunda khawatir,”

Hm…hm…aku berfikir sejenak.

A-ha…! Belajar kelompok di rumah Icha aja. Bunda pasti setuju. Bundakan tau kalau aku sama Icha berteman baik.

“Doain aku ya, Pupu! Semoga di hari pertamaku bekerja besok berjalan dengan lancar.” aku memasukkan buku harian ke tempatnya. Sebelum tidur, tak lupa ku menutup jendela.

“Gimana? Loe nerima cewek itukan?”

“Tenang aja. Semua permintaan loe udah gw turutin dan laksanain.”

“Thanks. Jadi kapan dia mulai kerja?”

“Besok udah gw suruh masuk. Kerja dari jam tiga sampai sembilan malam,”

“Tega banget! Terus dia loe suruh kerja apaan?”

“Apa ya tadi? Oh…! Ngelayanin tamu yang dateng, beres-beres meja, buku, lap-lapin kaca, bersih-bersih ruangan.”

“Nggak ada kerjaan lain?!”

“Eh, masih mending tu cewe gw terima. Tadinya udah bener-bener nggak ada kerjaan buat dia. Milih mana?”

“Oke-oke. Thanks karena loe udah bantu gw. Nitip dia ya?”

“Nitip?! Nggak salah? Siapa dia? Loe kenapa sih?”

“Udah nggak usah banyak tanya. Pokoknya gw nitip tu cewe.”

“Ia…kalo udah urusan cinta susah perkara. Tapi nggak janji ya, abis tu anak manis juga.”

+_+

“Berangkat, Bunda!” salamku dan segera berlari keluar. “Oh, ia! Gw lupa,” aku masuk lagi kedalam. “Bund, nanti aku pulang larut. Mau belajar kelompok di rumahnya Icha.”

“Ya sudah. Tapi pulangnya jangan malam-malam!” pesannya.

“Ia!” aku lalu mencium kedua pipinya.

Karena mulai sekarang anak-anak kelas tiga masuk jam enam untuk pelajaran tambahan, aku jadi harus bangun lebih pagi dari biasanya. Ternyata lebih enak berangkat pagi, udara masih sejuk dan jalanan masih lenggang. Angkot yang ku naikipun berjalan dengan cepat. Sekolah masih tampak sepi. Wajar, karena jam masuk sesungguhnya baru pukul tujuh lewat lima belas menit.

“Sepi banget!” teriakku setibanya di kelas.

“Ia. Kerajinan juga nih gw dateng pagi-pagi. Nggak tau apa kalau rumah gw jauh.” gerutu Icha.

“Cha?” panggilku. “Hari ini gw berbohong ke Bunda mau kerja kelompok di rumah loe.”

“Bohong sih bohong, tapi kenapa pake bawa-bawa gw segala! Kenapa loe?” tanyanya perhatian.

“Gw kerja,”

“Kerja dimana?”

“Di Soulsation Buzz.”

“Loe kerja disitu?! Itukan tempatnya Ciko. Emang gila tu anak! Masih muda tapi udah punya usaha. Tempatnya asik lagi!”

“Loe aja bisa nilai begitu, apalagi gw. Walaupun cuma kerja sebagai tukang bersih-bersih, tapi dijamin gw betah. Ngomong-ngomong, loe kok tau dia?”

“Cantik-cantik tapi katro! Diakan sering tampil di tv, udah gitu sering di undang ke kampus-kampus lagi. Enterpreneur muda!”

“Hahaha, pantes waktu gw panggil pak dia nggak mau.”

“Terus loe kerja setiap apa?”

“Senin sampai Jumat. Dari jam tiga sampai sembilan malam.”

“Sekolah loe? Nggak keteteran?”

“Karena gw udah berani mengambil keputusan seperti ini, jadi gw harus siap dengan segala konsekuensinya. Lagian gw akan pintar-pintar membagi waktu. Gw lakukan ini juga demi Bunda.”

“Tapi kalau Bunda tau apa dia setuju?”

“Pasti nggak. Tapi mau gimana? Gw pingin banget ngeringanin bebannya. Tapi yang buat gw sedih, gw jadi jarang ketemu sama dia. Dilain pihak, gw udah jatuh cinta banget sama tempat itu.”

“Ya udahlah. Dua-duanya penting buat loe. Pesen gw sih loe bisa seimbang bagi waktu antara kerja sama keluarga.”

“Thanks. Tapi untuk kali ini gw butuh bantuan loe,”

“Apa?”

“Bantu gw berbohong ke Bunda,”

“Alasannya?”

“Belajar kelompok.”

“Loe nggak merasa bersalah?”

“Jangan gitu dong! Sebenernya gw bingung nih. Tapi mau gimana, tadikan loe udah bilang, kalau dua-duanya itu penting. Gw pasti bisa bagi waktu.”

“Oke. Gw bantuin. Semoga loe direstuin ya?”

“Kok loe gitu?”

“Abis loe pake bohong segala, gw jadi nggak yakin. Tapi gw cuma bisa nasihatin loe, sebisa mungkin jangan berbohong. Kalau ada waktu yang pas bilang sejujurnya. Setau gw, Bunda loe itu orangnya pengertian dan baik hati.”

“Akan gw usahakan. Tapi untuk hari ini gw butuh bantuan loe.”

“Ia.”

“Makasih Icha!” aku langsung memeluknya.

Kelas sudah ramai, pelajaran tambahan pagi ini pun akan segera dimulai. Pak Anton guru ekonomi sudah masuk ke kelas kami. Tidak terasa, lima puluh lima menit sudah berlalu dari pukul enam. Sebelum masuk ke pelajaran biasa, kami diberi waktu istirahat sepuluh menitan. Waktu itupun kami gunakan untuk duduk di dekat lapangan basket. Seperti biasa, jagoan Icha dan Dita sedang bermain basket disana. Tiba-tiba bola shotan Dito mengarah ke kami. Aku yang menyadari langsung mengambilnya sebelum mengenai kedua temanku.

“Hati-hati!” ucapku ke Dito sambil menyodorkan bolanya.

“Thanks, Kir!”

Aku mengrenyitkan dahi.

“Loe kerja di tempatnya Ciko, ya? Wah! Loe nggak salah pilih, tempat sama anak-anaknya asik. Ciko juga baik. ”

Belum sempat aku bertanya, Dito sudah meninggalkanku.

“Huh…! Baru satu pelajaran, tapi udah dikasih tugas. Masih ada tiga pelajaran lagi nih, kalau dikasih tugas semuanya, berarti…Huah…banyak banget tugasnya!!! Aku takut tidak sanggup menghadpinya.

“Ayo semangat! Semangat Kiran!! Ini demi impian loe.

Aku berusaha sekuat mungkin menahan kantuk di pelajaran Bahasa Indonesia. Tik…tik…tik…tik…tik…satu…dua…tiga…TET!!! Teriakku dalam hati. Yah, kenapa belum bel sih?! Kesalku.

“Kenapa sih?! Gelisah banget dari tadi?” colek Dita.

“Udah jam satu tapi kok belum bel sih?”

“Kemana aja? Mulai sekarang kita pulang jam dua.”

“Apa?!” kagetku.

“Semangat Kiran! Masa loe udah menyerah. Inget Bunda di rumah, dan inget sama dosa yang udah loe perbuat.” tiba-tiba Icha menyemangatiku. Dia tahu sekali kalau aku sedang butuh spirit.

“Ah, Icha…!” aku langsung memeluknya. “Tapi jangan ngungkit-ungkit dosa gw dong!”

He…

“Makasih ya loe udah ngertiin gw?”

“Itulah fungsinya teman!”

Rasa semangat yang ada didiriku kini muncul. Seperti baterai yang sudah di charge, akupun kembali bersemangat. Karena aku belajar dengan serius, tidak terasa, bel yang dari tadi aku harapkan berbunyi.

“Terima kasih Tuhan!” aku langsung membereskan buku-buku.

“Mau bareng nggak?” tawar Icha. “Searah kok.”

“Boleh-boleh. Nggak keberatan nih?”

“Kenapa mesti keberatan? Ya enggaklah!”

Icha mengantar sampai depan tempatku bekerja.

“Thanks ya. Loe nggak mau mampir dulu?”
“Sama-sama. Nggak, lain kali aja gw mampirnya. Balik, ya?”

“Oke. Bye!” lambaiku. Setelah mobilnya sudah menjauh dari pandangan, aku bersiap masuk.

Huh…semangat!

Rame banget? Heranku setibanya didalam.

“Cepat ganti baju, terus bantuin gw!” ucap salah satu pegawai yang lagi sibuk melayani pengunjung.

Aku tersenyum lebar. Dengan semangat aku keruangan ganti baju. Selesai berganti pakaian, aku langsung melaksanakan pekerjaan pertamaku. Melayani tamu yang datang, menawarkan makanan dan minuman, mengatur buku-buku yang berserakan, lap-lapin kaca, menyapu, bersih-bersih, itu semua pekerjaanku di tempat ini. Tidak terasa, haripun sudah berubah menjadi malam. Jam Sembilan tepat aku menyelesaikan pekerjaan terakhir. Setelah meyakinkan semua tugas sudah dikerjakan, aku langsung berganti pakaian.

“Huh…! Cape juga. Nggak terasa udah malam aja.” Aku beristirahat sebentar sebelum pulang.

“Kerja loe rapih, nggak banyak ngeluh, dan yang pasti, loe melakukannya dengan semangat!”

“Eh, loe!” Ciko ada dibelakangku.

“Nih!” ia nyodorin segelas cappuccino.

“Thanks.” balasku.

“Gimana. Loe betah kerja disini? Pekerjaan yang gw kasih nggak ngeberatin loekan?”

“Nggak sama sekali, gw terima apapun itu pekerjaannya. Gw betah, tempat loe nggak ngebosenin. Gw enjoy ngejalaninnya.”

“Bagus deh!”

“Sori nih, udah malam. Gw harus cepet-cepet pulang!” aku langsung minta izin ke Ciko.

“Oh, ya udah. Hati-hati. Besok jangan telat dateng ya?!”

Aku membalasnya dengan senyuman.

Karena sudah malam, angkutan umun yang melewati rumahku sudah tidak ada, aku pun harus naik ojek. Ojek yang ku naiki melaju cepat, tidak sampai dua puluh menit, aku sudah sampai di depan rumah. Setelah membayar enam ribu, aku langsung ke dalam. Suara mesin jahit terdengar begitu sampai di depan teras. Aku membuka pintu dan melihat Bunda yang sibuk mengurusi jahitannya di ruang tengah. Aku mendekatinya lalu mencium ke dua pipinya.

“Malam!” pelukku.

“Pulangnya larut sekali?”

“Ia.” aku merebahkan diri sejenak di sofa.

“Kamu kenapa? Kelihatannya lelah sekali?”

“Aku nggak apa-apa kok, Bund.”

“Sana mandi, Bunda sudah masakin air. Terus kamu makan, ya?”

“Bunda sudah makan?”

“Sudah.”

“Kiran ke kamar, ya?”

“Ia.”

Aku mencium pipinya lagi.

Brug…! Langsung ku rebahkan tubuhku sesampainya di kamar.

Dret…dret…dret…tiba-tiba hpku bergetar.

“Udah pulang? Inget PR, belum di kerjain tuh! Jangan keasikan kerja, inget, bentar lagi UAN.” Icha mengagetkanku dengan smsnya.

“Ya…gw harus terima konsekuensinya, Cha. Meskipun terasa beraaaat banget! Demi gw dan Bunda, apapun gw lakukan!”

Aku bangkit lalu membuka jendela. Mengerjakan beberapa tugas sambil menikmati sepoian angin malam. Lama-lama mataku mulai terpejam,

TUK!

Semangat, Kiran!!!!

Aku mengerjakan pr lagi.

TUK!

Cepat-cepat ku menyegarkan diri. Merenggangkan semua otot, olahraga kecil-kecilan, setelah kembali segar, aku mengerjakan pr lagi.

Tik…tik…tik…tik..tik…malam begitu sunyi, detik jam pun sampai terdengar olehku. Setelah berkutat ekstra keras dengan pr matematika dan bahasa, akupun menyelesaikannya.

Huah…BRUG!

+_+

Citcitcitciticit, riuh burung gereja mulai memenuhi halaman rumah.

Huah…aku berusaha menyadarkan diri.

“Kok badan gw pegel banget?!” gerutuku. Aku melihat sekelilingku. Aku memandang keluar.

Mataharinya terik banget? Heranku.

“Jam ENAM?!” kagetku. “Oh, no!! berarti gw nggak ikut pelajaran tambahan, dong? Gw lupa pasang alaram. Shit!”

Aku bergegas mandi, setelah itu menemui Bunda di dapur.

“Pagi!” sapaku. Aku meneguk susu hangat yang sudah dibuatnya.

“Kamu sakit? Mukanya kok pucat?” tanyanya prihatin.

“Nggak. Mungkin karena kurang tidur.”

“Ya sudah. Habisin rotinya, biar punya tenaga.”

H-eh…aku mengangguk.

“Berangkat!” tak lupa aku mencium ke dua pipinya.

“Nanti pulang jam berapa?”

E… hm…aku hanya diam.

“Ya sudah. Sana berangkat, hari ini kamu nggak ikut pelajaran tambahan?”

“Akukan kesiangan.”

“Ya sudah, hati-hati.”

Setibanya di sekolah aku tidak langsung ke kelas. Sambil menunggu pelajaran tambahan usai, aku ke kantin makan nasi goreng.

Ayo Kiran. Jangan begini. Loekan udah janji sama diri sendiri. Apapun konsekuensinya, akan dihadapi tanpa mengganggu yang lain.

Nasi goreng yang dipesan sudah ada dihadapanku, tanpa malu-malu langsungku memakannya dengan lahap.

“Gw boleh duduk sini?” tanya seseorang disampingku.

Aku menoleh.

“Dito?!” kagetku. Ia langsung duduk didepanku.

“Loe nggak ikut pelajaran tambahan?” tanyanya.

“Loe sendiri?” tanyaku.

“Kesiangan!” jawab kita kompak.

Aku menyunggingkan senyum.

“Loe kerja di tempatnya Ciko, ya?”

“Tau dari mana?”

“Ciko temen nongkrong gw. Gw sering ke tempatnya. Asikkan tempatnya?”

Aku mengangguk dengan tetap fokus ke nasi goreng.

“Dasar!” tangannya ngacak-ngacakin rambutku.

“Ihh…! Apaan sih?”

“Gw gemes sama loe?”

“Kok? Kenal aja baru!” jawabku.

“Loe cape?” tanya Dito tiba-tiba.

“Kenapa sih?” heranku.

“Ia, gw nanya loe. Loe cape?”

“Cape apa?”

“Cape dengan semuanya.”

“Emang loe tau apa tentang gw?”

“Gw tau!”

“Apa?” geregetanku.

“Gw tau loe kerja di tempat Ciko. Gw tau tadi loe kesiangan, gw juga tau semalem loe ketiduran di meja belajar. Loe masuk jam tiga pulang jam sembilan malam. Pulang karena udah nggak ada angkutan, loe jadi naik ojek.”

“Loh, kok tau?! Tau dari mana? Siapa yang ngasih tau?”

“Dibilangin,gw tuh tau semuanya tentang loe!”

Aku diam.

“Pertanyaan gw nggak dijawab?”

“Pertanyaan yang mana?” kesalku.

“Loe cape?”

“Cape banget dengerin omongan loe!”

“Serius.”

Aku diam.

“Gw tau Kiran, saat ini loe pasti sedang membutuhkan seorang teman. Teman yang selalu siap untuk loe curhatin terus, teman yang selalu ada di saat loe senang ataupun sedih, teman yang bisa nemenin disetiap kesepian loe, teman yang selalu siap untuk di keluh kesahin. Gw tau, dibalik keceriaan loe, tersembunyi rasa kesepian yang mendalam.”

Aku diam mendengar pernyataannya.

“Gw memang cape. Cape banget! Kenapa sih kehidupan keluarga gw begini banget? Gw sedih tau nggak? Bunda, gw kasian sama dia. Dari gw kecil sampe seperti ini, dia kerja sendirian. Kemana keluarga gw yang lain, dimana bokap, kemana mereka semua? Kayaknya gw hidup di dunia ini nggak ada yang perduli. Saat sudah bertumbuh besar, masa gw nggak membalas sedikit saja jasanya. Gw kerja untuk Bunda. Pingin banget melakukan sesuatu yang berguna untuknya. Gw pingin lihat Bunda nggak susah-susah kerja, nggak cape-cape jualan keliling. Biar gw aja yang susah kerja, gw rela! Cuma satu yang gw butuhin, semangat. Semua itu akan membuat gw jadi kuat. Cuma semenjak gw kerja, gw jadi ngerasa jauh sama Bunda. Gw jadi sedih.”

“Nggak usah sedih gitu kali!” Dito mengambil nasi gorengku. “Semua pasti ada jalan keluar.”

“Yang lebih parahnya, Bunda nggak tau kalau gw kerja. Tadi dia nanya gw pulang jam berapa hari ini. Gw diam, nggak bisa jawab. Untung Bunda nggak curiga.”

“Alasannya apa, yah?” Dito membantuku berfikir.

“Ngerjain tugas?!” spontannya.

“Udah gw jadiin alasan.”

“Hm…Ngejenguk temen yang sakit?!” celetuknya lagi.

“Siapa yang sakit?” Pikirku.

“Salah satu dari temen loe aja!”

“Gila apa nyumpahin temen sendiri sakit! Nggak-nggak! Nanti kalau sakit benerankan kasian.”

“Apa, yah?” Dito mulai kehabisan akal. “Nah! Alasannya gini aja. Hari ini nemenin Dita, karena orang tuanya lagi pergi ke luar kota. Kasian dia sendiri di rumah, nanti kalau kenapa-kenapa gimana? So?” tanyanya sambil melahap nasi goreng.

“A…ah! Alasan loe payah semua! Udah deh, nggak usah ribet mikirin gw!”

“Ribetlah gw mikirin loe! Gw tuh salut plus kasian sama loe. Liat tampang loe! Lesu banget! Gw yakin loe kecapean. Loe pasti ngerjain tugas sampe malem, malah sampe pagi. Abis mau kapan lagi? Di tempat kerja? Nggak mungkin, loe tau sendiri disana selalu rame. Di sekolah? Di rumah?”

“Selalu gw yakini dan nggak akan gw sesali. Semua konsekuensi, akan gw hadapi. Ini udah resiko, gw nggak boleh mengeluh. Sejak gw mengambil keputusan ini, gw udah ngeyakinin diri sendiri, loe pasti bisa! Gw selalu punya semangat untuk itu. Lagian gw enjoy, dan sebisa mungkin nggak mengeluh. kalau gw terlihat lesu dan nggak semangat, ini untuk terakhir kalinya. Gw janji! Gw nggak akan memperlihatkan kelelahan gw di depan Bunda. Mungkin karena gw belum terbiasa.”

“Salut!”

“Thanks.”

“Gw mau nambahin semangat loe!”

Aku tidak mengerti.

“Ia. Gw mau membantu loe menghadapi semua ini. Gw akan selalu ada di setiap loe membutuhkan gw.”

“Loe nggak salah ngomong?”

“Serius. Gw mau jadi penyemangat loe. Gw mau jadi tempat semua curahan hati loe. Loe pasti sangat membutuhkannya.”

Aku tidak mengerti ucapannya.

“Serius?” yakinku.

Dito menganggukkan kepalanya.

“Yakin mau selalu ada di setiap gw ngebutuhin loe?”

“Ia!” yakinnya.

“BAYARIN nasi goreng gw!!!” aku langsung meninggalkannya.

“Kiran, Kir! Tunggu! Kiran!”

Ku mempercepat langkah. Sebelum ke kelas, aku menyunggingkan senyum kepadanya. Iapun membalasnya.

“Kiran! Loe kok baru dateng?!” sambut Dita setibanya di kelas.

“Sori-sori. Gw kesiangan. Tadi ngebahas apa?”

“Mtk.”

“Kenapa telat?” tanya Icha.

“Gw baru tidur jam dua. Kemarin Bunda telpon loe?”

“Nggak.”

“Nggak?” heranku.

“Ia. Pulang jam berapa kemarin?”

“Dari sana jam sembilan lewat.”

“Loe nggak kecapean?” Icha mulai mengkhawatirkan ku.

“Loe nggak usah cemasin gw. Ini resiko yang harus gw tanggung. Lagian gw punya cadangan semangat yang baaannyak banget!” seruku.

“Salut!”

“Biasa aja. He…” aku tersenyum ceria.

Aku melewati hari ini dengan penuh semangat. Meski rasa kantuk sering menghampiri, langsung ku tangkis! Sudah dipastikan, mulai detik ini, semua tantangan yang menghambat kerja keras, akan langsung ku lawan. SEMANGAT 45! Seruku.

“Mau bareng lagi nggak?” tawar Icha.

“Nggak deh, loe pulang duluan aja. Gw masih mau disini.”

“Ya udah. Gw duluan ya, bye!” salamnya.

Kakiku melangkah menuju kantin. Disana aku mengerjakan beberapa tugas sambil makan siomai.

“Sibuk bener!” ada seseorang yang memegang kepalaku.

“Ih…siapa sih? Iseng banget?!”

“Halo manusia super!” Dito menampakkan wajahnya.

“Ngapain loe?” bentakku.

“Mau gw bantuin nggak? Kebetulan pr yang lagi loe kerjain udah dibahas di kelas gw?”

Aku langsung berhenti menulis.

“Kenapa ngeliatin gw?!” heran Dito.

“Ng…ng…nggak. Udah ah, males ngeliat loe lagi!” BT ku.

“Marah?”

Aku tidak memperdulikannya.

“Mau minjem nggak? Malu-malu. Nih!” ledeknya.

“Ii-ih…! Sana pergi!”

“Gw tolongin nggak mau. Ya udah.” Dito menjauh.

“Kenapa loe mau nolongin gw?”

“Ya…karena gw mau nolongin loe. Keras kepala banget, sih! Kenapa, mau minjem?”

“Udah sana pergi! Lupain aja. Gw sibuk!” aku meninggalkannya.

“Gw anter ya?”

“Nggak usah!” aku mempercepat langkah.

“Kalo loe naik angkot, gw jamin telat! Loe nggak tau sifat Ciko ya? Dia itu paling nggak suka liat karyawannya dateng telat. Dia itu orang yang sangat disiplin, makanya jadi orang sukses. Loe anak barukan? Masa anak baru udah berani nggak disiplin. Mau dinilai jelek sama dia?” cerocosnya.

“Ia-ia! Kali ini gw terima bantuan loe!” aku langsung naik ke motornya. “Puas?!”

“Nah, gitu dong! Gwkan tulus bantuin loe.”

Dito mengantarku ke tempat tujuan. Beberapa menit kemudian aku sampai di Soulsation Buzz.

“Thanks!”

“Sama-sama. Nih! Nggak usah banyak mikir!” ia memberikan bukunya.

“Loe yang maksa, loh.” aku mengambil bukunya.

“Ia. Gengsi banget sih!”

“Nggak mampir dulu?”

“Lain kali aja. Gw balik ya. Yang rajin kerjanya, pr jangan lupa dikerjain. Oh ia, sama tidur jangan malem-malem. Da…!” Dito ngacakin rambutku lagi.

“Ii-ih. Hus! Sana pergi!” setelah motornya tidak terlihat lagi, aku ke dalam dan berganti pakaian.

“Sore!” sapaku. “Mau baca, nonton atau mau internetan?” tanyaku. “Oh, baik kalau begitu. Mari saya antar. Lewat sini, ruang bacanya ada di lantai atas. Kalian mau pesan apa? Baik, itu saja? Capucino dua, jus mangganya satu. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu. Ini. Silahkan menikmati tempat kami. Saya permisi dulu. Kalau butuh bantuan, panggil saya saja.”

Setelah melayani tamu, aku ke bawah untuk lap-lapin kaca. Setelah itu bersih-bersih ruangan wi-fi, kemudian mini theater. Beres-beresin buku dan meja yang berantakan. Karena tempat ini selalu ramai, jadi membuatku tidak terasa lelah dan bosan karena hampir tidak ada waktu untuk beristirahat. Jam sudah menunjuk ke tepat pukul sembilan. Setelah memastikan pekerjaanku beres, aku langsung berganti pakaian.

“Patricia! Gw balik, ya!” ijinku ke teman baru.

“Ia, Kir! Hati-hati. Da…!”

Seperti malam sebelumnya, aku pulang naik ojek. Abang ojek itu aku jadikan langganan tetap sepulang kerja. Aku sampai di rumah. Saat membuka pagar, aku melihat Bunda sedang duduk sendiri di teras.

“Bunda?” sapaku halus. “Bunda sedang apa?”

“Kamu kenapa jam segini baru pulang? Dari mana? Di telponin nggak nyambung. Bunda cemas, tau!”

“Bund?”

“Kamu tuh kemana saja? Kenapa nggak kasih tau Bunda, minimal telpon biar Bunda nggak khawatir. Lain kali jangan seperti ini ya? Kamu suka lihat Bunda cemas?”

“Maafin Kiran. Kiran habis…habis…jenguk teman di rumah sakit. Hp Kiran low bet. Maaf.” aku tertunduk menyesal.

“Ya sudah. Bunda tahu kamu lelah. Cepat masuk kamar!”

“Ia.” aku langsung ke kamar.

Setelah kembali segar, aku mulai mengerjakan tugas-tugas. Seperti kebiasaanku, jendela kamar ku biarkan terbuka.

“Dasar Dito. Niat banget sih nolongin gw. Ah…anggap aja ini rejeki. Hihihi…” aku bisa mengerjakan pr sejarah dengan lancar tanpa mencari-carinya di buku.

“Udah selesai, sekarang tinggal ngerjain mtk. Aduh…kenapa sih mtk selalu aja ada pr?!” gerutuku.

Kiran, ingat! Jangan mengeluh. Malaikat penolongku berseru.

Drettt…drett…dret…! Tiba-tiba hpku bergetar,

“Heh manusia super! Udah pulang kerja? Nggak usah gengsian deh, gw iklas, ridddhoooo banget minjemin buku ke loe. Itung-itung ngeringanin tugas loe, ia nggak? Jangan tidur malem-malem ya, besok nggak bisa ikut pelajaran tambahan lagi. Da…! Gw tidur duluan ya? Ajib! Dito.”

Dasar! Ngomong-ngomong dia tau nomer gw dari mana? Aku menyunggingkan senyum.

Males ah ngeladenin dia, mending ngerjain pr lagi. Aku kembali fokus ke matematika.

Tik…tik…tik…tik…

Huah…jam berapa nih? aku menyambar jam di hadapanku. “Eh…jam satu? Huah…

Akhirnya selesai juga. Brug…!

+_+

Drettt..dreettt…

“Aduh!!! Siapa sih? Ganggu aja!”

Drett…dreettt…

“Halo?!”

“Bangun manusia super!!!!! Wah, parah! Loe nggak ikut pelajaran tambahan lagi. Cekcekcekcek…”

“Ah, yang bener. Aduuuhhh, gawat! Kiran…loe lupa pasang alaram lagi?!” aku meraih jam didekatku.

“Jam lima?” aku tertegun.

“Hahahahahahaha…lucu banget sih! Untung gw bangunin, coba kalau nggak? Kesiangan lagi deh bangunnya. Mana janji loe yang akan tetap mentingin kepentingan sekolah walaupun sibuk kerja? Bilang makasih ke gw!”

“Ditooooo!!!!! Niat banget sih loe nelpon gw pagi-pagi. Gw mau tidur lagi!” aku memutus telponnya.

“Buset deh ni cewek, kebo juga ya?”

Drettt….dreeetttt…dreetttt…

“Lima menit, gw mau tidur lima menit lagi. Plis…!”

Dreettt…dret…dreettt…

“Ni hp berisik banget sih. Uh…rasain!”

“Eh, dimatiin. Biarin aja, kalau dia telat gw ledekin habis-habisan. Ditolongin nggak mau. Aneh!”

“Hu-uh…gara-gara Dito nih, gw jadi nggak bisa tidur lagi. Sebel!”

“Tumben anak Bunda sudah bangun?”

“Bunda kok gitu?” aku langsung melahap sandwich yang sudah di siapkannya.

“Udah sana cepat mandi. Makannya di terusin nanti aja.”

Selesai memakai seragam, aku menemui Bunda di dapur dan meneruskan makan yang tadi tertunda. Selesai meneguk segelas susu hangat, aku ijin berangkat.

“Ia. Hati-hati. Kalau mau pulang malam kasih tahu Bunda. Biar Bunda nggak khawatir mikirin kamu.”

“Maafin Kiran. Kemarin Kiran sudah buat Bunda khawatir.”

“Ya sudah. Lupakan saja. Bunda sudah maafin kamu kok. Cepat berangkat!”

Tidak lupa ku mencium kedua pipinya. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Udara pagi sungguh menyegarkan. Burung gereja tampak sedang menikmati makanannya. Kicauan burung bersaut-sautan diantara dedaunan.

Pagi yang indah.

Tin!!!! Tin!!!!! Tin!!!!

Klakson mobil mengagetkanku. Tanpa merisaukan, aku langsung menyingkir ke kiri.

Tin!!! Tin!!! Tiiiin!!! Aku menyingkir lagi ke kiri tanpa merisaukannya.

Tinnnnn!! Tiiin!!! Tiiiiiiinnn!!

Aku memutar badan dan menghampiri mobil itu. “Eh mas! Jalanankan luas. Lagian berisik banget sih pagi-pagi! Tat-tit-tat-tit-ta-ttit!” aku melanjutkan perjalananku.

“Seharusnya loe terima kasih ke gw. Loe jadi nggak kesiangankan?” celetuk orang itu.

Aku menoleh,

“E-L-O!” kagetku.

“Hai?”

“Ayo. Nanti kita telat!”

“Apa sih ayo-ayo?”

“Cepet naik!” tangannya mengisyaratkanku untuk masuk. “Lama nih!”

Karena udah nggak sabar, Dito turun dan memaksaku masuk ke mobilnya. lalu ia menjalankan mobilnya.

“Dit. Nanti anak-anak pada kaget dan heran kalau tau gw ditebengin sama loe.”

“Kenapa mesti heran dan kaget kalau cuma ditebengin doang?”

“Aduh! Loe nggak tau sih. Selain anak-anak, dua temen gw itu ngefans banget sama loe. Kalau mereka tahu gw ditebengin sama loe, mereka pasti nggak terima. Mereka bisa sakit hati.”

Ciiitttt…! Dito menghentikan mobilnya.

“Cepet turun!”

“Apa? Turun?”

“Ia. Loe turun. Katanya nggak mau anak-anak tau kalau loe gw tebengin?”

“I…ia. Ya udah.” aku menurutinya. “Heh!!!” marahku baru sadar. “Maksud loe apaan sih?! Tadi maksa, sekarang loe nurunin gw seenaknya! Hu-uh. Kalau mau nurunin gwkan bisa beberapa meter sebelum sekolah. Kalau ini sih sama aja!” dumelku. “Rese!”

Karena hari sabtu dan minggu libur kerja, waktu ini akan aku gunakan untuk lebih dekat dengan Bunda. Itung-itung mengganti kesibukanku kemarin.

“Kiran pulang!”

Bunda yang mengetahuiku sudah pulang langsung menyambutku di ruang tengah.

“Loh?! Anak Bunda sudah pulang, toh?”

Ia mencium keningku.

“Gimana sekolahnya?”

“Baik.”

“Tadi nggak telat ikut pelajaran tambahankan?”

“Enggak dong. Tadikan aku bangun pagi. Oh ia, nanti aku yang jualan sayur boleh nggak?”

“Ia, boleh. Kebetulan, pesanan jahitan Bunda lagi banyak. Ya sudah, kamu makan aja dulu, habis itu istirahat terus jualan.”

“Sip!” aku mengacungkan jempol.

Selesai berganti baju, aku dan Bunda menuju ruang makan.

Udah lama juga gw nggak makan bareng Bunda. Kalau pulang kerja, gw udah males makan. Paginya abis makan roti dan minum susu, langsung pergi. Untung sabtu dan minggu libur. Terima kasih, Tuhan! Selesai beristirahat, aku mulai berkeliling. Sinar matahari sore ini lumayan menyengat. Aku mempercepat langkah. Setelah mengantar sayur dan lauk ke pemesan, aku berkeliling lagi sampai daganganku terjual habis. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu.

Kabar sepeda gw gimana, ya? Aku langsung ke bengkel yang waktu itu.

“Permisi, mas! Masih inget saya nggak? Saya yang nitip sepeda minggu lalu.”

“Oh, Kiran!” sepeda kamu yang ini?” menunjuk ke sepeda warna pink.

“Ia, itu sepeda saya. Gimana, udah bener?”

“Ia. Sudah bisa dibawa pulang.”

Aku memberikan uang sisa pembayaran.

“Makasih banyak, ya!” ucapku sambil menuntun sepeda ke luar.

“Sama-sama. Hati-hati nanti ketabrak lagi. Tapi kalau sepedanya rusak bawa kesini aja.”

“Mas mah, bukannya doain saya selamat malah nyumpahin.”

Langit mulai berganti malam, lampu-lampu jalanan mulai bernyala terang. Dengan santai ku menggoes sepeda. Anginnya sungguh menyegarkan, menghilangkan seluruh peluh di tubuhku.

“Kiran, pulang!” aku menaruh sepeda di pojokan teras.

Bunda kemana sih? Kok nggak nyambut aku? Seperti sudah tahu, aku langsung menghampirinya ke ruang tengah. Benerkan, ternyata Bunda lagi sibuk menjahit.

Muach…! Aku mendaratkan ciuman di pipinya.

“Tuhkan! Kalau udah menjahit lupa semuanya. Sudah makan belum?” tanyaku. “Pasti belum. Ya sudah, sekarang kita makan, yuk!” aku menariknya ke meja makan. “Bunda mulai deh. Udah, ngejahitnya di terusin nanti aja. Kita makan dulu!” Kalau sudah begini ia tidak bisa menolak permintaanku. “Seingatku, hari ini Bunda masakin makanan kesukaan Kirankan? Ayo Bund, kita makan yang banyak.” aku mengambil beberapa sendok nasi ke piringnya.

“Cukup Kiran, kebanyakan. Nanti nggak habis.”

“Nggak! Pokoknya Bunda harus makan yang banyak. Biar kuat! Kiran sedih deh, Bunda kalau sudah kerja jadi lupa makan dan istirahat. Pokoknya kita makan banyak malam ini!” semangatku.

Bunda yang melihat tingkahku hanya senyam senyum.

“Aduh! Pokoknya lakerz banget deh masakan Bunda!” aku melahap sayur capcay ditambah sambel terasi yang sedaaaap banget. Selama makan, tidak henti-hentinya kami bercerita dan senda gurau.

“Ia, Bund. Si Icha sama Dita itu kalau di sekolah penghiburku banget. Mereka berdua nggak pernah akur, tapi itu yang membuat mereka terlihat lucu. Apalagi kalau melihat ekspresi mereka saat bertemu gebetannya. Ah, pokoknya fantastik fans banget deh. Aku sampai heran kenapa mereka bisa sampe segitunya. Haaahahha…”

Suasana malam ini sangat hangat dan ramai. Setelah makan malam, aku membereskan meja makan sebelum akhirnya membantu Bunda dengan jahitannya.

“Bund. Kiran ke kamar dulu, ya?” Ijinku.

“Kamu sudah lelah, ya? Ya sudah, tidur yang nyenyak.” ia mencium keningku.

Di kamar aku langsung membuka jendela dan mulai melamun di meja belajar. Menebarkan pandangan ke langit luas dan keseluruh pandanganku.

Dret..dreettt…ddrettt…! Getaran hp mengagetkanku tiba-tiba.

“Hai manusia super! Gimana tadi, loe nggak telat pelajaran tambahankan?! Hehehehe…ngapain ngelamun aja? Mending keluar, nemenin gw disini.”

“Kenapa sih, dari kemarin Dito selaluuuu…aja buat gw kaget. Apa ini ciri-cirinya kalau dia mau muncul?!” kesalku.

“Eh manusia geledek! Loe tuh ya, bisanya ngagetin orang terus!”

“Udah nggak usah banyak ngedumel. Gw punya kejutan. Sekarang loe liat ke luar jendela.”

Aku melihat ke luar.

“Nggak ada apa-apa.”

“Dideket lampu jalan ada mobil. Terus loe perhatiin di sekitar mobil itu, ya!”

Aku menurutinya. Melihat ke sekelilingnya dan, ada seseorang berdiri disitu. Orang itu melambaikan tangannya.

“Ta-da. Its me!”

Apa!! Dito! Kenapa dia bisa disitu?

“Sini!” ia melambaikan tangannya menyuruhku kesana.

Aku geleng-geleng kepala.

“Kalau loe nggak keluar, gw yang akan masuk.” ancamnya lewat sms.

Ia menjauhi mobilnya dan mulai menghampiri rumahku. Semakin lama semakin dekat dan akhirnya sudah ada di depan pintu gerbang.

“Pilih mana? Loe keluar atau gw pencet bel sekarang?”

“Oke-oke. Gw keluar. Jangan pencet bel. Sabar!”

Aku menurutinya dan keluar dengan mengendap-endap.

“Loe mau apa sih?!” kesalku.

“Sabar dulu dong. Gw mau ngomong sesuatu ke loe.”

“Mau ngomong apa malem-malem gini? Cepetan! Gw udah ngantuk.”

“Sabar dong. Kita ngobrolnya di mobil aja ya. Dingin, lagian kalau di liat orang nggak enak.”

Aku menyetujuinya.

“Cepetan. Loe mau ngomong apa?”

“E…Gini, sebenarnya, gw mau ngomong sesuatu ke loe.”

“Dit. Loe sebenernya mau ngomong apa sih? Ayo dong, gw udah ngantuk nih. Cepetan.” nada dan mukaku memelas.

“Tar dulu dong Kiran. Jangan buru-buru.”

“Gw udah sabar dari tadi.”

“Gini. Sebenernya…gw tertarik sama loe. Mak…maksud gw, gw udah tertarik sama loe sejak pertama kali gw melihat loe. Penilaian sepintas gw, loe itu cewek yang unik dan beda. Pokoknya loe udah maksa gw untuk mengenal loe lebih dekat.”

“Maksudnya?”
“Gw suka sama loe.”

Aku tersenyum kecut.

“Loe memang selalu bisa buat gw kaget, ya?”

“Gw lagi nggak bercanda, Kiran.”

Suasana berubah menjadi sangat hening. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Dito menatapku. Tanpa ku hendaki, ia sudah mencium bibirku.

“Ma…ma-af. Gw nggak bermaksud…” ucapnya terbata-bata.

Aku menampar pipinya dan berlari.

“Kiran tunggu!” Dito meraih tanganku.

“Gw serius. Gw suka sama loe!”

Aku tidak menghiraukannya. Aku berlari dan segera kembali ke rumah. Di kamar aku masih melihat sosoknya. Setelah pukul dua belas, ia baru pergi.

Apa sih yang loe lakukan? Kenapa loe bisa suka sama gw?

Dret…dret…dret…!

“Maafin atas kelancangan tadi. Tapi gw bener-bener serius sama loe. Gw suka dan sayang sama loe. Besok ada acara? Gw jemput jam sepuluh, ya. Kita jalan? Plis…”

Apa sih yang loe mau? Kenapa loe lakukan itu, dan apa maksudnya?

“Oke. Gw tunggu di tempat tadi.”

3

“Kiran pergi dulu, ya!” salamku dan tidak lupa mencium pipinya.

“Jangan malam-malam pulangnya.” pesannya.

“Ia. Da…!”

Aku menghampiri sebuah mobil yang sudah menunggu di tempat kemarin. Dito langsung menyuruhku masuk, ia kemudian menjalankan mobilnya.

“Ini mobil loe?” tanyaku bodoh.

“Ia. Keren nggak?” jawabannya lebih bodoh dari pertanyaanku. “Benda paling gw sayang disamping low rider gw.”

“Oh…Gw baru liat, jarang dibawa sekolah, ya?”

“Ia. Karena kalau sekolah gw lebih suka naik motor. Pakai mobil kalau pas ada kepentingan aja.”

“Kalau boleh tau, loe berapa bersaudara?”

“Oh, jadi udah ada yang mulai penasaran nih. Nggak apa-apa, terang-terangan aja kali.”

“Bukan gitu. Gw cuma…”

“Gw anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertama perempuan, dia udah nikah. Adik gw baru kelas satu SMP.”

“Oh…”

“Kalau loe?”

“Gw anak pertama dan satu-satunya.”

“Loe anak-satu-satunya tapi nggak manja, ya. Malah terlihat dewasa, gw suka.”

“Loe ingat ucapan gw waktu dikantin?”

Aku geleng-geleng kepala.

“Waktu itu gw bilang mau nambahin semangat loe. Gw mau jadi tempat curahan hati loe. Gw bersedia menampung semua keluh kesah dan bahagia loe. Dan gw akan selalu nyediain pundak gw sewaktu-waktu loe membutuhkannya.”

Aku hanya diam.

“Gw tahu loe cuma tinggal dengan Bunda. Gw tahu semua yang loe kerjakan. Saat ini gw yakin, loe pasti merasa kesepian. Loe sedang membutuhkan seseorang yang mau dengerin semua keluh kesah, semua masalah dan beban. Karena gw yakin, loe pasti nggak akan cerita semua itu ke Bunda. Loe kasihan, loe nggak mau nambahin bebannya lagi. Makanya loe terus terlihat bahagia didepannya. Gw bersedia untuk itu, dan gw janji akan selalu semangatin loe. Karena cuma semangat yang loe butuh untuk membuat loe mampu melewati ini semua. Loe nggak sendiri, Kir. Gw tulus mau bantu loe. Gw sayang sama loe.”

Aku menitikkan air mata.

Dito menyeka air mataku. Ia menyenderkan kepalaku ke pundaknya.

“Udah, ya. Loe nggak usah nangis. Kita makan aja, yuk? Gimana? Loe pasti udah laperkan? Habis itu kita nonton?”

Aku tersenyum lalu menganggukkan kepala. Setelah makan, Dito mengajakku nonton di 21 mall itu. setelah setuju memilih film mana yang mau ditonton, kami antri membeli tiket. Setelah tiket didapat, kami masuk ke studio dua. Selesai menonton, Dito mengajakku makan lagi sebelum akhirnya kami pulang.

“Malam.” ucapnya.

“Nite!” balasku.

“Tunggu,” Dito mencegahku turun.

Aku memalingkan badan dan ia sudah memperhatikanku. Tubuhnya kini mendekat, ia mengecupkan bibir manisnya ke bibirku. Tidak seperti kemarin, kali ini aku menikmatinya.

“Malam.” ucapku halus.

“Kiran pulang!” aku menghampiri Bunda di ruang tengah. “Malam!” aku memeluknya dari belakang. “Hayo! Bunda sudah makan belum?”

“Bunda belum makan, habis nungguin kamu nggak pulang-pulang.”

“Ya udah! Sekarang kita makan, yuk!” ajakku semangat.

Aku mengambilkan beberapa sendok nasi ke piringnya.

“Dihabisin, ya?” pintaku.

Selesai makan malam, aku izin untuk ke kamar. Ku buka jendela dan menikmati angin kala itu.

Kenapa ya? Kenapa gw bisa ngerasa nyaman banget didekatnya. Nggak! Masa gw suka sama dia? Tapi, dia perhatian banget sama gw. Dia baik banget, udah gitu sabar lagi hadepin gw. Dito, Dito? Apa gw benar-benar mulai suka sama loe?

Aku melonjak kaget ketika hpku meraung keras.

“Kebiasaan! Ini pasti dia.” aku melihat hp. Benar.

“Manusia super! Jangan bobo malem-malem, ya. Besok kesiangan lagi, bangunnya?”

“Ia manusia geledek. Bentar lagi gw juga tidur. Ngomong-ngomong makasih ya atas hari ini.”

“Sama-sama. Mengenai perasaan gw gimana?”

“Gw mau loe jadi orang yang selalu nyemangatin gw.”

“Bener nih?! Oke kalau gitu, mulai detik ini gw akan ngasih semangat plus plus biar loe selalu bersemangat menjalanin hidup. Ya udah, tidur sana! Besok kesiangan lagi! Bye. Mimpi indah…”
“Nite. Mimpi indah juga!”
tutupku.

+_+

Aku memulai hari ini dengan semangat. Hari yang indah dimulai dari pagi yang semangat.

“Kiran berangkat. Muach!” aku mencium kedua pipinya.

“Hati-hati.”

“Oh ia, Bund. Hari ini aku pulang larut, ada belajar kelomok.”

“Jangan terlalu lelah, sayang. Nanti kalau sakit Bunda juga yang repot.”

“Ia. Kiran bisa jaga diri kok. Bunda juga, kalau sibuk kerja jangan lupa untuk makan dan istirahat.”

“Ia, bu dokter!”

“Ya sudah. Kiran pergi dulu!” aku mencium tangannya.

Tit…tin…tin…tin…!

Klakson kendaraan menyadarkanku untuk menepi.

Tin…tin…tin…!

Aku menepi lagi. Berisik banget sih tu orang! Jelas-jelas jalanan luas. Ribet banget sih, gw buru-buru nih!

“Kiran!” ada orang yang meneriakkan namaku.

Aku menoleh dan melihat Dito dengan motor Suzuki Satria F150nya.

“Gw panggilin dari tadi nggak nengok-nengok. Tuli, ya! Ayo naik, kita udah telat nih!”

“Gwkan punya nama! Kalau dari tadi loe manggil gw, gw juga bakal langsung nengok.”

“Ya udah cepet naik!”

Aku menurutinya. Ia melaju motornya dengan kencang. Tidak sampai dua puluh menit kita tiba di sekolah.

“Sampai nanti, ya!” kami berpisah di persimpangan.

Aku langsung ke kelas. Meskipun sudah telat lima belas menit, aku masih diperbolehkan masuk. Memang rada-rada kelasku ini. Kalau bukan pelajaran tambahan guru kiler, nggak sampe setengahnya yang datang. Kalau sudah begitu, lebih baik direnungkan ke diri kita masing-masing, deh. Aku melewati hari ini dengan gembira. Walaupun tetap, rasa bt dan mood sering menyerang, tetapi sebisa mungkin aku melawannya. Karena memang susah untuk kita melawan rasa malas, bt, dan mood yang tidak menentu. Tetapi kalau kita benar-benar menentang dan melawannya, kita pasti bisa. Masih ada waktu sepuluh menit untuk melanjutkan ke pelajaran selanjutnya. Aku dan kedua temanku memilih duduk di pinggir lapangan basket. Melihat ulah Dito dan tingkah anak-anak lain, kekonyolan, kejailan, membuat kami yang memperhatikannya tertawa geli. Candaan mereka menyegarkan kami di pagi ini.

Mulai detik ini, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu bersemangat dan tersenyum, meski keadaan seburuk apapun. Dan aku juga akan selalu berfikir positif. Dengan selalu berusaha, berdoa, percaya, dan berfikir positif, aku yakin bisa membantu mencapai semua impianku. Semua ini tidak terlepas dari bantuan-Mu, Tuhan. Aku hanya gadis kecil yang lemah tak berdaya. Aku mohon kuatkanlah di setiap langkah dan semangatkanlah aku. Bantu aku menghadapi semua kesulitan di hidup ini, bantu aku agar menjadi lebih dewasa, bantu aku agar lebih bisa memaknai hidup ini.

“SEMANGAT!” teriakku.

“Nah loh. Kenapa loe, Kir?” kedua temanku heran.

Begitu besar energi yang muncul ketika aku mengucapkan kata itu. Saat bekerja pun juga seperti itu. Saat merasa lelah dan suntuk, mulai setres memikirkan semua pr, hanya semangat yang membuatku bangkit.

“Huh…akhirnya beres juga kerjaan. Pulang, deh!”

“Mau pulang?” terdengar suara tiba-tiba.

“Eh loe, Cik. Ngagetin aja. Ia, semua kerjaan udah gw beresin kok.”

“Gw perhatiin, loe kerja keras banget. Selama kerja disini gw nggak pernah liat loe mengeluh.”

“Masa sih? Biasa aja. Gw selalu diajarin, kita dalam menjalankan semua kegiatan itu harus dengan tulus, hati gembira, ikhlas dan tanpa beban.”

“Sadis! Mantab!”

He…

“Oh ia, Kir? Nggak terasa udah sebulan loe kerja disini. Besok loe udah bisa ngambil gajian di ruangan gw.”

“Apa? Gajian?!” kagetku. “Ia, ia. Gw malah nggak sadar. Ya udah kalau begitu. Iiiihhhh…..asik…gajian!” aku senang sekali. “Kalau begitu gw balik dulu ya. Malam! Sampai besok!” pamitku.

“Malam juga.”

Ojek yang ku naiki meluncur cepat. Terpaan angin malam membuatku mengantuk. Rasa lelah yang amat sangat menyerangku tiba-tiba. Tiga puluh lima menit dari pukul sembilan aku sampai di rumah. Ku lihat Bunda tidak seperti biasanya, ia sudah tertidur di kamarnya. Langsung ku cium keningnya dengan penuh rasa sayang, lalu ku rapatkan selimut yang sudah mulai menipis. Raut lelah dan renta tergambar di wajahnya.

Kiran akan selalu mendoakan agar Bunda umur panjang dan sehat selalu.

Aku ke kamar, menyalakan radio dan mulai mengerjakan pr. Aku lelah sekali! Susu hangat pun langsung ku buat untuk mengusir kantuk dan lelah. Jam sudah benar-benar menunjuk ke pukul setengah dua belas, kantukku sudah tak terbendung lagi.

Dret…dret…dret…! Getaran hp membuatku tersentak. Langsung ku raih hp yang tak jauh dari pandangan.

“Tidur dong manusia super. Kamukan bukan robot! Tapi kalau kamu masih mau ngerjain pr, aku semangatin deh. Dan aku jamin kamu udah ngantuk. SEMANGAT! Luv-u!!!!!!!!!!!!!!!”

Tau aja sih kalau aku lagi butuh semangat.

“Luv*u 2!!!!!!!!!!!!!! Aku udah semangat lagi, makasih! Ya udah kalau gitu, aku mau ngerjain pr dulu. Sana tidur, besok nggak bisa bangunin aku, lagi?”

“Bener nih nggak mau ditemenin? Ya udah, aku tidur ya. Tapi aku nggak yakin deh besok bisa bangunin kamu. Nite manusia superku.”

Kamu manusia geledek! Dasar, seenaknya aja ngatain aku manusia super.

“Lumayan jadi nggak ngantuk. Abis udah dikagetin sama smsnya Dito, sih. Nolong juga tu anak.” aku mengerjakan pr lagi. Loe pasti bisa. Berjuang! Jangan nunda-nunda, karena besok belum tentu ada kesempatan sama seperti hari ini. SEMANGAT!

+_+

“Mau bareng?” tawar Icha di parkiran.

“Nggak usah, Cha. Gw berangkatnya nanti, mau ke kantin dulu. Loe duluan aja.”

“Ya udah deh. Kalau gitu gw balik duluan, ya? Da…Kiran. Jangan lupa kalau gajian traktir gw!” serunya.

Aku tersenyum mendengarnya. Langsung ku arahkan langkahku ke kantin. Disana aku melihat Dito bersama teman-temannya. Aku duduk memojok.

“Nih!” Dito nyodorin soft drink ke arahku.

“Eh…!” sentakku. “Makasih.” aku menerimanya.

“Cuaca panas banget. Minum deh! Gw jamin loe bakal lebih fresh.”

Aku meminumnya sampai setengah botol.

“Bener. Seger!” senyumku ke arahnya.

“Kiran, Kiran” ia ngacak-acakin rambutku. “Ada pr?”
“Ada. Tapi dikumpulnya minggu depan.”

“Udah makan belum?”

“Belum.”

“Ya udah, pesen makanan sana. Nanti habis makan aku antar ke tempat Ciko.”

“Tapi kamu juga makan?”

“Ia.”

Akhirnya kami memesan mie ayam. Sambil makan, banyak candaan dan ledekan yang kami lontarkan. Selesai makan Dito mengantarku ke tempat kerja.

“Aku antar sampai sini aja, ya?” ia menurunkanku di parkiran.

“Nggak masuk dulu?”

“Lain kali aja. Sana masuk, udah jam tiga, loh!” ingatnya.

“Ia. Makasih ya. Da…!” aku melambaikan tangan ke arahnya. Motornya sudah benar-benar hilang dari pandanganku.

“Siang, Rin! Gimana hari ini, rame nggak?” tanyaku.

“Lumayan. Ya seperti biasa, paling rame itu setelah jam pulang sekolah sampai tengah malam. Sana ganti baju, terus bantuin gw.”

“Sip! Tunggu sebentar, ya!”

Selesai berganti pakaian aku langsung menyambut pengunjung yang baru berdatangan.

“Selamat siang! Kalian mau nonton, baca buku, internetan, atau mau kerja kelompok? Oh, kerja kelompok? Kalau begitu mari saya antar ke lantai atas. Disana tempatnya nyaman. Banyak referensi-referensi buku yang bisa kalian gunakan untuk membantu mengerjakan tugas. Kalian mau pesan makanan atau minuman? Baik kalau begitu, tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu. Ini, silahkan menikmati. Kalau mau mencari buku, tidak terlalu sulit kok disini. Karena di setiap rak ada tulisan jenis bukunya. Kalau kesulitan bisa panggil saya. Kalau begitu saya pergi dulu, ya. Panggil saya kalau butuh apa-apa.”

Selesai melayani tamu, aku langsung mengerjakan tugas lainnya. Lap-lapin kaca, bersih-bersih, beres-beresin buku dan meja yang berantakan.

“Huh…! Akhirnya selesai juga.” aku meneguk segelas air putih. “Hari berjalan lebih cepat semenjak gw kerja. Seneng banget deh karena tempat ini nggak bikin gw bt dan bosan. Hebat Ciko bisa buat orang nyaman seperti di rumah.”

Tok…tok…tok…! Aku ketuk pintu ruangannya.

“Masuk!”

“Permisi,”

“Duduk.” suruhnya. “Gw udah lihat hasil kerja loe. Rapih, rajin, ramah sama pengunjung, dan tepat waktu.”

“Makasih.” aku tersanjung.

“Dan ini gaji pertama loe.” Ciko memberiku amplop berwarna coklat. Aku menerimanya dengan sangat gembira.

“Makasih, makasih banyak! Hihihi…” senangku.

“Ada bonus tambahan karena loe nggak pernah mengeluh dan selalu ceria.”

“Apa?! Bonus? Wah…Makasih banyak, loe baik banget, Cik. Gw janji akan seperti ini terus. Gw nggak akan ngecewain loe. Janji!”

“Gw pegang janji loe. Ya udah, sana pulang! Udah malem, besok sekolahkan?”

“Ia, ia. Makasih ya. Makasih banyak!” pamitku.

“Bunda!!!” seruku sesampainya di rumah. Aku menghampirinya ke ruang tengah. Ia begitu serius dengan menjahitnya.

“Bunda?!” aku memeluk lalu mencium pipinya. Ia tetap tidak memperdulikanku.

“Bunda kenapa? Aku panggilin kok nggak dijawab?”
Ia tetap diam.

“Bund, Kiran salah?” tanyaku ragu-ragu.

Bunda angkat bicara.

“Bunda tahu kamu sudah kelas tiga. Bunda juga tahu kamu lagi sibuk belajar untuk menghadapi UAN. Tetapi kenapa setiap hari harus pulang malam?! Bunda telponin Icha, Dita, dan teman-teman kamu yang lain pada nggak tahu semua. Sekarang alasan kamu apa? Ngerjain tugas, kerja kelompok, jenguk teman yang sakit?!”

“Bunda marah?”

“Bunda marah sekali sama kamu!”

Air mata yang tadinya hanya menggenang sekarang sudah berjatuhan.

“Maafin Kiran.”

“Maaf, maaf! Kamu hanya bisa bilang maaf!”

“Apa yang bisa Kiran lakukan agar Bunda nggak marah lagi?”

“Sudahlah, Bunda lagi banyak kerjaan. Cepat mandi dan pergi tidur. Jangan lupa makan malam dulu!”

Maafin Kiran. Kiran belum berani mengatakan yang sesungguhnya ke Bunda. Kiran takut, Kiran serba salah. Gimana dong, besok? Kalau gw kerja, Bunda tambah marah. kalau gw nggak masuk, masa baru nerima gaji udah nggak masuk?! Mau dibilang apa nanti sama Ciko? Duh…gw bingung!

“Aaaa…!!!! Gw pusing!!!!!!!!!! Dito, aku harus gimana dong?”

“Kalau menurut aku sih, besok kamu nggak usah kerja. Baikan dulu sama Bunda, terus kalau Bunda sudah tau alasan kamu begitu dan nggak marah lagi, baru kerja. Masalah Ciko gampang, telpon dia aja. Bilang kalau kamu lagi sakit atau ada acara keluarga mendadak.”

“Begitu, ya?”

“Udah, nggak usah terlalu dipusingin. Wajar kalau Bunda marah, kamukan anak satu-satunya, paling disayang lagi. Gimana dia nggak khawatir kalau kamu sering pulang malam. Ambil sisi positifnya aja. Kamu tidur, ya? Besok kesiangan lagi?”

“Makasih ya, hun. Kamu udah mau dengerin keluh kesah aku.”

“Apa?! Barusan kamu panggil aku apa? Namakukan Dito bukan Hun!”

“Iiii-ihhhh…Tau ah!”

“Luv-u. Jangan bt gitu dong,” balas Dito.

“Abis kamu iseng!”

“Aku minta maaf, deh?”

“I luv u, too! Oh, ia Dit! Aku mau balas budi, nih. Karena kamu udah baik banget, besok aku traktir! Yee…!!!!” hebohku.

“Kamu habis gajian, ya? Oke, aku langsung terima tawaran kamu!”

“Ya udah. Sekalian aku mau beli kado untuk Bunda.”

“Sip!!!! Aku akan selalu siap sedia nemenin kamu. Bye, nite!”

“Nite!” aku mengakhiri telponku.

+_+

“Bunda, Kiran berangkat dulu ya.” aku mencium kedua pipinya. Tetapi ia tetap tidak menghiraukanku.

Huh…

“Hei! Pagi-pagi kok udah cemberut?”

“Dito?!” kagetku.

“Ayo, naik! Kita udah kesiangan, nih.”

Sesampainya kami di sekolah, tak satu anakpun yang melepas pandangannya dari kami.

“Belajar yang rajin, ya! Aku ke kelas dulu.” Dito meninggalkanku.

Aku menganggukkan kepala. Di kelas Icha dan Dita menyambutku heboh.

“Kiran! Loe jadian sama Dito, ya?!” tanya mereka kompak. Aku yang melamun tersentak mendengarnya.

“A…apa? Loe kok nanya begitu?” anehku.

“Loe liat nggak sih gimana tampang anak-anak pas ngeliat kalian jalan berdua? Pegangan tangan segala lagi!”

“Apa! Pegangan tangan?!”

“Ye ni anak! Jelas-jelas loe yang jalan sama dia, masa nggak sadar?!” heran Dita.

“Loe punya hubungan apa sih sama dia?” tanya mereka.

“Temen.”

“Cuma temen?” heran mereka.

“Temen.”

“Temen apa temen?” ledek mereka.

“Temen!”

“Tuhkan bener, akhirnya loe suka jugakan sama dia! Apa kita bilang, pesonanya Dito tu sulit buat ditolak!” seru Dita.

Mendengar ocehan mereka aku hanya mengangguk-angguk saja.

Selesai pelajaran tambahan kami langsung ke kantin. Menyerbu gorengan dicampur bumbu siomai yang nikmat.

“Loe kenapa? Kusut banget mukanya?” tanya Icha.

“Bunda marah sama gw.”

“Marah kenapa?”

“Karena gw pulang malem.”

“Belum ngasih tau Bunda kalau loe kerja?”

“Belum. Gw takut.”

“Terus gimana?”

“Gw juga bingung.”

“Loe ngomong, deh. Bunda itukan sayang banget sama loe. Gw yakin kalau Bunda tau loe kerja, dia nggak akan marah. Kalaupun nanti dia nggak ngijinin loe kerja, dia pasti ngasih alasan yang jelas.”

Aku menyunggingkan senyum.

“So?” tegas Icha.

“Masih mikirin Bunda?” tanya Dito.

Aku mengangguk.

“Hari inikan kamu janji mau traktir aku. Lupa, ya?”

“Oh, ia. Ayo!” ajakku.

“Dit?” tanyaku mengganggu makannya.

“Apa?”

“Aku belum izin ke Ciko.”

“Ya udah sana telpon, keburu jam tiga, loh.”

“Nggak apa-apa, nih?” aku ragu-ragu.

“Percaya deh sama aku. Sana telpon dulu, Ciko bakalan ngerti kok.”

“Kalau gitu aku tinggal sebentar, ya?” aku beranjak dari kursiku.

Terdengar nada sambungnya,

“Halo?”

“Benar ini nomernya Ciko?” pastiku.

“Ia. Ini siapa, ya?”

“Ini gw, Kiran.”

“Oh, loe. Kenapa, Kir?”

“Maaf Ciko. Hari ini gw nggak bisa masuk…”

“Kenapa?”

“Mendadak gw ada urusan keluarga. Maaf banget, ya?”

“Berapa hari loe nggak masuk?”

“Hari ini aja, kok. Maaf ya kalau ngasih taunya mendadak?”

“Padahal lagi ramai. Ya udah, tapi besok loe masukkan?”

“Masuk kok.”

“Oke!”

“Makasih banyak, Ciko! Makasih, ya. Selamat siang!”

“Siang juga.” tutupnya.

Baik juga tu anak. Kurang apa coba? heranku memuji Ciko.

“Gimana, Ciko ngijinin kamu?”

“Dia ngijinin aku. Ciko tuh baik banget, ya?”

“Baik gimana?”

“Ia, kalau di tempat kerja dia perhatian sama karyawannya, anaknya terbuka, fair, nggak sombong, baik, pinter, sukses lagi ngejalanin usahanya.” pujiku.

“Anak kayak dia baik? Pinter? Cakep? Yah…nggak ada apa-apanya.”

“Kamu merasa tersaingi atau cemburu, nih?”

“Ya dua-duanya! Lagipula aku juga nggak kalah ganteng dan pinter kok. Iakan?”

“Ia aja deh, biar cepet! Hehehe…” tidak ku perdulikan omongannya, aku langsung melahap makanan yang sudah dianggurin dari tadi.

“Semuanya berapa?” tanya Dito ke pelayan.

“Iii-h, kan aku yang traktir kamu. Udah, biar aku yang bayar!”

“Nggak apa-apa. Mending duitnya kamu simpan buat beli kado untuk Bunda.”

“Aku masih punya uang. Simpan duit kamu! Kalau nggak aku marah, nih!”

“Ia, ia.” mengalahnya.

Setelah membayar, Dito menemaniku mencari kado untuk Bunda. Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit, setengah jam, setelah masuk toko, keluar ke toko yang lain, aku belum menemukan sesuatu yang cocok untuk diberikan ke Bunda.

“Huh…Bingung!”

“Mau es krim?”

“Mau!” teriakku.

“Ya udah, tunggu disini.”

Tak lama Dito kembali dengan es krim blueberi ditangannya.

“Ini!” ia menyodorkannya satu ke arahku.

“Makasih!” aku langsung memakannya. “Oh ia, Dit!” aku ingat sesuatu. “Emang tadi pagi pas jalan di lorong sekolah kita gandengan?!”

“Ia. Emang kenapa?”

“Iiii-ih! Rese banget sih, kamu! Anak-anak jadi tau hubungan kita! Dasar!” aku menjitak kepalanya.

“Harusnya kamu bangga dong punya pacar kayak aku! Idola satu sekolahan, punya banyak fans lagi, termaksud kamu dan dua temanmu. He…”

“PEDE! Pokoknya awas aja kalau berani macam-macam. Inget, kalau di sekolah anggap aja kita nggak ada apa-apanya, cuma teman biasa!”

“Kok gitu, sih?” melasnya.

Aku tersenyum lalu meninggalkannya. Tiba-tiba mataku melihat sweater rajutan yang sangat indah di pajang di butik tak jauh dari tempatku berdiri.

Bunda pasti suka. Aku mendekatinya, melihatnya, lalu menyentuhnya. Indah banget! Bunda pasti suka kalau aku kasih ini. Aku melihat harganya.

Lima ratus ribu?! Kagetku. Aku melihat-lihat yang lain. Bundakan kalau jahit suka sampai larut. Kasian dia nggak punya baju hangat. Aku melihat-lihat lagi. Nggak ada yang cocok. Kalau aku beliin sweater itu, gajianku langsung habis. Nggak apa-apa, lah. Untuk Bunda ini.

“Dit, bagus nggak?” aku mengambil sweater yang tadi.

“Hm…? Bagus. Cocok buat Bunda. Warnanya lembut. Bunda pasti suka.”

“Bener?”

“Yakin!”

“Aku tanya bener kok jawabnya yakin? Ya udah, aku beli yang ini.” aku langsung ke kasir.

“Mau langsung pulang?” tanya Dito.

“Ia.”

“Ya udah kalau gitu, aku antar kamu pulang.”

“Stop, stop, stop…! Aku turun sini aja.” pintaku sebelum motor ini melewati depan rumahku.

“Turun disini?”

“Ia.”

“Tanggung. Didepan juga udah rumah kamu.”

“Nggak apa-apa. Soalnya Bunda belum tau hubungan kita.”

“Oh. Ya udah.” ia mengizinkanku.

“Aku pulang ya. Makasih atas hari ini. Sampai ketemu besok?”

“Kiran, tunggu!” panggilnya.

Aku menoleh.

“Aku sayang kamu!” teriaknya.

Aku membalasnya dengan senyuman. Jam menunjuk ke pukul setengah enam.

“Kok sepi, ya? Apa Bunda lagi keliling?” aku melihat-lihat sekitar. “Bener. Ya udah, sebentar lagi juga pulang.” aku menunggunya di teras. Sepoian angin sore sungguh menyejukkan, mereka hampir saja membuatku tertidur. Saat mataku hampir terpejam, terdengar suara pintu pagar terbuka. Aku melihat Bunda melangkah ke arahku. Aku yang menyadari langsung menyambutnya dan mencium pipinya.

“Bunda. Kiran kangen banget!”

“Kamu sudah dari tadi?”

“Baru aja, kok.”

Ia membuka pintu dan meninggalkanku di luar. Aku mengikutinya masuk sampai ke kamar. Aku mendekatinya lalu memeluknya lagi.

“Maafin Kiran karena sudah membuat Bunda cemas. Maafin kiran juga kalau akhir-akhir ini Kiran suka pulang malam tanpa memberitahu Bunda terlebih dahulu.”

“Bunda maafin kamu. Tapi Bunda butuh alasan, kenapa akhir-akhir ini kamu sering pulang malam.” tangannya membelai wajahku. Matanya menatapku lembut.

“Kiran pulang malam karena Ki…Kiran…” aku tidak melanjutkan pembicaraanku. Aku diam dan tertunduk lama.

“Ya sudah. Apapun itu alasan kamu, Bunda terima. Tetapi akan lebih baik jika kamu berterus terang ke Bunda. Kamukan sudah besar, dan Bunda tidak akan melarang sesuatu hal yang kamu suka, selama itu hal positif.”

Aku tertunduk diam.

“Ya sudah. Bunda sudah tidak marah lagi kok sama kamu.”

“Bener Bunda?!” aku memeluknya erat. “Bunda memang paling menerti aku! Bund?”

“Apa?”

“Kiran punya kejutan untuk Bunda!”

“Kejutan?”

“Ia. Tutup matanya!” suruhku. “Udah, cepet ditutup matanya. Tunggu sini, ya. Jangan dibuka dulu sampai Kiran balik.”

Ia menurutiku dengan baik.

Aku menyodorkan kotak berwarna cream berhias pita merah maron dihadapannya.

“Oke! Sekarang dibuka matanya,”

“Apa ini, Kiran?”

“Dibuka aja.”

Bunda mengambil kado itu lalu membukanya,

“Bagus sekali, sayang. Bunda suka!”

“Bunda suka?!”

“Ia. Sweaternya bagus. Bunda suka. Nomong-ngomong kamu beli pakai uang siapa?”

“Uang Kiran dong Bunda, dari tabungan Kiran. Ini sebagai rasa permintamaafan Kiran, karena sudah buat Bunda cemas.”

Bunda memelukku.

“Bunda bahagia sekali memiliki anak seperti kamu, nak.”

“Kiran juga bahagia punya ibu seperti Bunda. Dipakai terus ya? Bundakan kalau menjahit suka sampai larut.”

“Ia, sayang.”

“Ya udah deh. Kiran mau mandi, habis itu kita makan!”

“Kalau begitu Bunda mau siapin makan malam dulu.”

Selesai mandi, aku membantu Bunda menyiapkan makan malam. Wah, makanannya enak-enak banget. Ada sayur kesukaanku lagi, hihihi. Sudah lama kita tidak seperti ini. Saat makan malampun kami banyak bersenda gurau. Saling bercerita satu sama lain. Kangen saat-saat seperti ini.

Selesai makan malam, aku menemani Bunda menjahit. Selama ia menjahit, aku memijat pundaknya. Kami ngobrol-ngobrol, bercanda, serta sharing. Saat malam semakin larut, aku izin untuk ke kamar. Disana aku membuka jendela dan mulai menulis kejadian hari ini di buku harian.

Kamu tahu, betapa bahagianya aku saat Bunda menerima kado dariku? Aku tidak perduli uang yang ku punya habis, walaupun aku tidak menikmatinya sekalipun. Demi Bunda serta melihat tawanya saja sudah membuatku senang. Aku ingin terus melakukan hal itu. Aku sayang banget sama Bunda. Terima kasih Tuhan karena Engkau sudah memberiku orang tua yang begitu baik. Tidak masalah kami hidup sesusah apapun, ada Bunda disisiku, sudah membuatku nyaman dan kuat. Kemarin aku baru gajian. Seneng banget karena bisa menghaslkan uang sendiri. Karena itu, sebagai rasa sayangku ke Bunda, aku membelikannya sweater. Bunda senang sekali dengan pemberianku itu. kasihan Bunda, selalu saja memikirkanku, padahal dirinya sendiri tidak pernah dipikirkan.

“Gw jadi ingat ucapan Bunda. Apa mungkin dia tau ya kalau gw kerja? Habis ngomongnya begitu.” pikirku. “Besok Bunda marah nggak ya kalau gw pulang malam?”

Dret…dreettttt…dreettt…!

“Tidur, jangan mikirin aku terus, wheehe…! Gimana, Bunda suka sweaternya?”

“Kamu tuh, selalu aja bikin aku kaget! Bunda seneng banget nerima hadiah dariku. Tapi besok gimana, ya? Aku kerja apa nggak? Gimana dong, aku bingung?”

“Jangan bingung gitu dong, say. Besok kamu kerja aja, nggak enak. Soalnya kamukan baru aja gajian. Wah, kamu pasti seneng banget bisa melihat Bunda bahagia. Aku jadi ikutan senang.”

“Aku juga senang bisa melihat kedua orang yang aku sayang bahagia. Dit, makasih ya atas semua kebaikanmu. Kamu udah buat aku tambah semangat ngejalanin ini semua. Aku juga minta maaf kalau selama ini kamu merasa terbebani dengan semua masalah dan keluhku.”

“Kiran, aku tulus melakukannya. Dan aku nggak keberatan atas semua masalah, keluh, dan semua yang kamu certain ke aku. Itu semua sebagai bukti kalau aku benar-benar sayang sama kamu. Udah, sana ngerjain pr! Besok aku jemput ditempat biasa. Jangan lupa bangunin aku, ya?”

“Ia. Sana tidur! Aku mau ngerjain pr dulu. Dit, aku sayang banget sama kamu.”
“Aku juga. Malam. Mimpi indah!”
tutupnya.

Selesai menulis diary dan smsan, aku mulai mengerjakan satu per satu tugasku. SEMANGAT, KIRAN!!!

4

“Aku kira kamu nggak jemput aku.”

“Kemarinkan aku udah janji, mana mungkin aku ingkar. Justru kamu yang nggak nepatin janji. Mana, katanya mau bangunin aku?”

“He…maaf, aku ngerjain pr sampai pagi, jadi lupa pasang alarm. Tapi makasih ya, untung kamu bangunin aku.”

“Sama-sama. Ya udah, ayo naik!”

Udara pagi memang sangat menyejukkan. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Merasakan nikmatnya hari ini, merasakan desiran angin yang lembut, kicauan burung yang merdu, udara yang menenangkan, semua ini adalah hikmah di pagi hari.

“Stop, stop, stop! Aku turun disini aja!”

Dito memberhentikan motornya. “Kenapa?”

“Kemarin-kemarinkan kita juga kayak gini.”

“Mulai hari ini nggak lagi!”

“Maksudnya?” heranku.

“Udah, diem aja!” Dito ngejalanin motornya, ia terus melaju sampai parkiran sekolah.

“Apa sih mau kamu?!”

“Nggak usah marah gitu, dong. Aku cuma nggak mau kita begini terus. Pura-pura nggak kenal padahal udah jadian.”

“Terserah, deh! Lagipula anak-anak udah terlanjur tau.” aku ke kalas dan ninggalin Dito disitu. Ia lalu menyusul dan merangkulku. Sontak anak-anak ngeliatin kami.

“Hai!” sapaku ke Icha dan Dita.

Melihatku yang dirangkul Dito membuat otak mereka diserang pertanyaan-pertanyaan penasaran.

“Kiran…Dito….?!” heran mereka.

Aku hanya cengar cengir.

“Titip cewek gw ya. Kir, aku ke kelas dulu.” Ia lantas meninggalkan kami.

Aku tertunduk diam. Mereka langsung menarikku ke kelas, mengintrogasiku di pojokan.

“Jawab sejujur-jujurnya pertanyaan kita. Bener loe jadian sama Dito?”

Aku mengangguk.

“APA!!!!” kompak mereka. “Kok bisa? Kita yang udah ngefans bertahun-tahun aja nggak jadian-jadian. Nah, E-L-O! Yang katanya nggak tertarik sama sekali sama dia malah jadian.” heran mereka.

“Gw juga nggak tau.”

“Ah, bohong! Gw nggak percaya. Pokoknya loe harus certain semuanya ke kita.” suruh Dita.

“Ia. Awas kalau nggak!” ancam Icha.

“Ceritain nggak, ya? Hm…ceritain nggak ya. Aw, sakit! Kalian penasaran banget sih.” mereka mulai gemes sama aku.

“Kiran, ceritain. Ceritain dong, kita penasaran…” melas mereka.

“Ceritain nggak ya, hm…?” ledekku.

Hari berjalan dengan cepat. Tidak terasa, aku sudah memasuki hari kelima di bulan kedua belas. Sudah lima bulan aku bekerja di Soulsation Buzz. Hubunganku dengan Dito pun berjalan lima bulan. Seharusnya dibulan ini hujan sudah membasahi bumi, tetapi tampaknya akan susah ditebak kapan hujan turun, karena cuaca di pagi ini begitu cerah. Sambil menunggu bel yang kurang sepuluh menit lagi, aku duduk didekat lapangan basket bersama kedua temanku. Kali ini mereka tampak lain, tidak seberisik biasanya.

“Gw masih nggak percaya!” hopeless mereka.

Aku tidak memperdulikan mereka, aku terlalu serius dengan wafer kesukaanku.

“Ceritain dong, Kir!” paksa mereka lagi. “Kiran? Ii-ih…! Temen apaan kayak gitu? Kiran, loe denger kita nggak sih?!” mereka menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Kalian kenapa sih? Penasaran banget?” heranku.

“Tau-ah!” ngambek mereka.

“Ia deh. Oke-oke, gw janji akan certain semuanya ke loe. Lagian gw udah nggak tega ngeliat kalian terus memelas.”
“Seneng ngeliat kami memelas dulu?!” sewot Dita.

“Jangan marah lagi dong, kan gw udah janji bakal certain semuanya ke loe. Tapi, kapan ya ceritanya?”

“Gini aja. Gimana kalau kita ke tempat kerja loe? Nanti disana kita ngobrol-ngobrol!” usul Icha.

“Oke.”
“Nah, gitu kek dari tadi. Kenapa kita mesti melas-melas dulu sih baru loe ngabulin?” heran mereka.

“Ia, ia. Gw cuma nggak percaya aja pacaran sama Dito, padahal dulu gw nggak tertarik sama sekali.”

“Loe aja nggak percaya, apalagi kita?!” kompak mereka.

“Ya udah. Tahan dulu rasa penasaran kalian. Nanti gw bakal certain selengkap-lengkapnya.” janjiku.

Bel masuk berdering, kami harus cepat-cepat ke kelas karena di jam pertama sampai istirahat ada ulangan matematika. Huft…setelah berperang melawan soal-soal matematika ditambah enam jam berkutat dengan pelajaran-pelajaran yang menguras energi, kami pun langsung ke kantin.

“Ah gila! Ulangan mtk tadi susah banget. Otak gw kering! Gimana nih nanti, UAN?” cemas Icha.

“Tenang Cha, loe nggak sendirian. Gw bisa ngerti perasaan loe kok. Kita senasib!” tambah Dita.

“Kiran! Bantuin kita dong!?” mohon mereka.

“Udah, nih minum dulu!” aku nyodorin softdrink ke mereka, mereka langsung mengambilnya dan meminumnya sampai habis.

“Kiran, bantuin kita. Loekan lumayan jago matematika tuh?” mohon Dita.

“Ia, Kir! Kita belajar bareng, yuk? Ajarin kita matematika sampe bener-bener ngelotok!”

“Kalian takut banget. Ia, nanti kita belajar bareng. Gw akan ajarin kalian matematika sampai benar-benar ngerti.”

“Makasih, Kiran!” mereka langsung memelukku.

“Wah, ikutan dong main peluk-pelukannya?!” celetuk Adit tiba-tiba.

Kami kompak menoleh. Dito dan teman-temannya ada di kantin juga.

“Kamu mau berangkat jam berapa?” tanya Dito.

“Sebentar lagi. Kenapa?”

“Aku anterin, ya?”

“Hm…tapi aku mau bareng mereka,” menunjuk kedua temanku.

“Mereka?!”

“Ia. Mereka mau kesana juga.”

“Nggak apa-apa kok Dit, loe nganter Kiran aja. Kir, kita duluan, ya. Da…sampai ketemu disana!” pamit mereka buru-buru.

“Teman kamu ngijinin, tuh. Ya udah, aku anterin kamu tapi sebelumnya kita makan dulu. Mau makan apa?” tawarnya.

“Hm…soto ayam aja!”

“Oke. Sotonya dua, bang! Sambelnya dipisah, ya. Terus banyakin kuahnya!” seru Dito. “Gimana, kamu masih semangatkan ngejalanin sisa hari ini?”

“Nggak tau. Semangatku tinggal satu strip. Ini gara-gara ulangan mtk,”

“Ya udah. Nanti habis makan semangat kamu pasti full teng lagi!”

“Full teng? Emangnya bensin? Hehehe…”

Hahahahaha…Dito tertawa geli, aku pun jadi ikut terhibur.

“Eh, sotonya dateng tuh. Ayo makan dulu!” suruhnya.

“Hm…Enak!”

“Ya udah habisin. Makan yang banyak.”

Aku mengangguk.

Selesai makan Dito menepati janjinya, ia mengantarku ke tempat kerja.

“Nggak mampir dulu?” tawarku.

“Lain kali aja. Sana masuk, Icha sama Dita udah nunggu kamu dari tadi. Kerja yang rajin, ya. Jangan ngegosip, apalagi ngomongin aku.”

“Always pede! Lagian kita mau belajar bareng, kok.”

“Bagus, deh. Ya udah, aku pulang. Da…”

“Tunggu!” tahanku.

“Kenapa?”

“Aku mau ngenalin kamu ke Bunda. Maukan?”

“Hm…Ia. Besok aku jemput. Tapi kali ini aku jemput kamu tepat didepan rumah.”

“Makasih!” girangku lalu ke dalam.

Selesai berganti baju aku langsung menghampiri Icha dan Dita.

“Sori lama. Oh ia, loe mau minum apa?” tawarku.

“strawberi blanded aja dua.”

“Tar dulu, ya. Nggak apa-apakan di tinggal? Gw selesain pekerjaan dulu, habis itu baru cerita.”

“Ia. Tapi jangan lama-lama minumannya. Gw haus nih!”

“Ia bawel!” balasku.

“Pembeli adalah raja, Kiran. Jadi yang cepat ya pelayan, soalnya kita udah haus banget, nih.” ledek Dita.

“Oke. Harap tunggu sebentar.” lunakku.

Beberapa menit kemudian,

“Silahkan diminum. Kalau kalian butuh bantuan panggil saya saja, saya siap membantu.”

“Makasih! Loe bisa kerja lagi sekarang. Sana, hus…! Gw mau baca komik dulu.” mereka kompak ngerjain gw.

“Awas aja. Baca sana sampe tua! Nggak gw certain, sama gw ajarin matematika loh!” ancamku. Mereka tetap sibuk dengan komik Hana Yori Dango yang baru ditemukannya. Aku meninggalkan mereka dan kembali bekerja.

“Mantep juga Ciko bisa bikin tempat seasik ini,” celetuk Icha.

“Ciko?”

“Ia. Loe nggak kenal, sih. Tapi dia sering muncul di tv, kok. Padahal umurnya dua tahun diatas kita.”

“Dua tahun diatas kita?! Keren banget. Lumayanlah Kiran bisa kerja disini meskipun cuma sebagai pelayan.” tambah Dita.

“Ngomong-ngomong Kiran mana, nih? Lama banget, udah sore. Gw juga udah penasaran sama ceritanya.”

“Lagi banyak kerjaan kali. Tunggu sebentar lagi, nanti juga nyamperin kita.”

“Nah, panjang umur! Baru aja diomongin orangnya udah nongol.”

“Sori ya lama, banyak kerjaan soalnya.”

“Nggak apa-apa. Cepet ceritain!” kesabaran Icha kali ini benar-benar habis.

“Nggak nambah minum dulu?” tawarku.

“Hadoh! Kapan mau ceritanya? Udah, nanti aja!” kesel Dita.

“Hm…tar dulu,” intermesoku.

“Apa lagi?!” kompak mereka.

“Kalian tuh lucu, penasaran banget sih kayaknya?”

“menurut loe?!” kompaknya lagi.

“Jadi gini!”

“Akhirnya!” seru mereka.

“Mau dilanjutin nggak?”

“Maulah!”

“Ya udah diem. Serius!” suruhku. “Pertama kali Dito muncul dihadapan gw pas di kantin. Gw lupa hari apa,…”

“Nggak penting!” sahut mereka.

“Motong aja, sih?!” kesalku.

“Hehehe…ma-ap.” cengir mereka.

“Gw lanjut, ya? Jadi waktu itu gw telat dateng pelajaran tambahan. Daripada bt, mending gw makan di kantin. Nah, disitu Dito negor gw, dia gangguin gw terus. BT! Kita ngobrol-ngobrol, dan tiba-tiba dia bilang kalau mau selalu nyemangatin gw, selalu ada disetiap gw membutuhkannya, mau jadi tempat semua curahan hati gw. Karena gw nggak punya pikiran apa-apa ke dia, ya gw nanggepinnya biasa aja,”

“Stupid!”

“Komen terus. Serius mau dengerin nggak, sih?”

“Kita cuma geregetan aja. Lanjut!”

“Sampe keesokan harinya dia sering sms gw, suka bangunin gw biar nggak telat pelajaran tambahan, dan dia selalu semangatin gw. Sejak itu Dito suka muncul setiap gw pergi sekolah. Dia maksa gw untuk ikut, tapi karena dia selalu maksa, akhirnya gw nerima tebengannya. Tapi gw turunnya nggak pas di sekolahan, beberapa meter sebelum sekolah gw turun biar anak-anak termaksud loe nggak tau.”

“Jahat. Hickhickhick…” frustasi Icha. Sedangkan Dita masih serius dengerin cerita gw.

“Puncaknya pas malam-malam. Tiba-tiba Dito datang ke rumah, nyuruh gw keluar karena sepertinya dia mau ngomong sesuatu. Akhirnya gw nemuin dia dan kita ngobrol di mobinya. Diakhir pembicaraan dia…dia…”

“Dito ngapain loe?” penasaran mereka.

“Dia nyium gw,”

“Dimana?!”

“Ya disini,” sambil menunjuk bibir.

“Terus?!”

“Gw tampar!”

“Ah…tega banget sih loe nampar orang yang gw sayang?” Icha nggak terima.

“Terus?” Dita penasaran.

“Tengah malam dia sms gw. Ngajak gw jalan besoknya. Karena penasaran, akhirnya gw nerima ajakannya. Ternyata pas kita jalan, ditto itu bener-bener anak yang baik, pengertian, perhatian, dan peduli sama gw. Habis nonton dia nembak gw,”

“Terus?!”

“Karena gw salut dengan usahanya, dan sepertinya memang serius, ya gw terima.”

“Oh, no!” teriak mereka.

“Gimana? Udah puas belum? Kerjaan gw banyak, nih!”

“Terus?” tambah Icha.

“Ya, yang seperti loe lihat sekarang. Udah ah, gw mau kerja lagi. Nanti kalau ketawan gw ngobrol bisa dimarahin.”

“Nggak seru!” ledek Icha. “Eh, buku disini bisa dipinjem nggak?”

“Bisa. Loe atur aja di kasir. Emang loe mau minjem apaan?”

“Komik Hana Yori Dango. Udah lama juga gw nggak baca. Mau nonstalgia lagi. Nanti gw pinjemin deh!”

“Telat. Gw udah baca.”

“Secara loe kerja disini!”

“Ya udah, kita balik dulu ya. Cha, nanti gw pinjem? Udah lama juga nggak baca tu komik.”

“Ia. Kerja yang bener, Kir! Kalau kerja ya kerja, Jangan ngobrol sama pengunjung! Balik, ya! Sampai ketemu di sekolah!” salam Icha dan Dita.

“Iih dasar. Jelas-jelas pengunjungnya itu loe-loe pada.” gerutuku. Aku kembali bekerja. Saat ada waktu lenggang, aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat buku. Aku mengambil acak dari rak yang ada dihadapanku. Ku peroleh buku dengan gambar tempat wisata seluruh dunia. Aku membuka halamannya dengan asal.

Korea selatan? Aku membacanya, melihat-lihat gambarnya, mencari informasi didalamnya. Aku mengambil lagi di rak sebelahnya. Dengan asal, aku mendapatkan buku yang agak lebih tebal dari sebelumnya. Topografi Korea Selatan? Aku membukanya, melihat dengan seksama setiap gambar dan keterangan yang ditulis buku itu. Aku menghela nafas, menaruh buku itu ditempatnya kemudia kembali bekerja. Tidak terasa sudah pukul setengah sembilan, dengan cepat ku menyelesaikan sisa pekerjaan. Udara malam ini begitu dingin. Apakah akan turun hujan? Akupun menyuruh ojek yang ku naiki melaju cepat. Sesampainya aku bergegas ke dalam. Menemui Bunda lalu memeluknya.

“Bunda kok nggak pakai baju hangat? Udaranya dingin, loh.” tanpa menunggu jawabannya aku langsung ke kamar mengambil sweater pemberianku. Aku menghampirinya lagi kemudian mengenakannya.

“Bunda mau Kiran buatin minum? Atau mau Kiran pijetin?” tawarku.

“Sudah, mending kamu cepat tidur. Besok harus berangkat pagikan?”

“Tapi Bunda juga tidur. Jangan terlalu malam menjahitnya, nanti sakit.”

“Seharusnya kamu yang jangan kelelahan. Kalau sakit Bunda juga yang repot. Sana tidur!”

“Tapi Bunda juga tidur,”

“Ia. Sebentar lagi Bunda selesai.”

“Ya udah kalau begitu, Kiran ke kamar. Malam.” aku mencium keningnya.

Langit mulai menjatuhkan hujannya. Ditemani Pupu boneka beruang, aku mulai menulis buku harian. Sebelumnya, aku membuka laci meja belajar lagi. Mengeluarkan kumpulan-kumpulan dvd yang aku taruh di tempat yang berbentuk seperti bola basket.

Winter Sonata, Chunyang, Sad Love Story, Stairway To Heaven, Full House, A Love To Kill, Love Whitin, Princess Hours, Prince Hours, Endless Love, Brilliant Legacy, Boys Before Flowers. Drama korea semua? Heranku.

“Entah kenapa ya, Pupu. Sejak aku menontonnya, terlebih BBF, aku jadi tertarik dengan dunia perfilman mereka. Terlebih serial dramanya.”

Nggak tau kenapa tiba-tiba gw jadi tertarik dengan drama Korea. Apa karena gw keseringan nonton drama korea? Maybe? Maklumlah! Habis, selain ide ceritanya yang oke, nggak biasa, dan bahkan ceritanya itu sering mengisahkan tentang perusahaan atau cinta segitiga, tetapi mereka pintar mengemasnya, tetap terlihat beda. Pemainnya juga cakep-cakep!!!!! Oh….nggak tahan deh sama kecakepannya. Udah di Korea tempatnya keren-keren, pemainnya cakep-cakep, mukanya imut sama mulus-mulus, bajunya juga lucu-lucu, full deh gw jatuh cinta sama kalian!!!! Andai gw bisa kuliah perfilman disana, gw pingin banget jadi sineas. Gw pingin banget bisa produksi drama Korea sendiri. Yang pasti ceritanya nggak kalah sedih seperti Stairway To Heaven, atau yang bikin iri seperti Boys Before Flowers. Entah mengapa drama remaja disana lebih bagus dan terlihat natural. Gw pingin banget!!!!!!! Gw jatuh cinta sama drama Korea!.

“Aku ingin sekali Pupu. Apa? Mimpiku terlalu tinggi? Jadi kamu ngeremehin aku, nih?! Ah, Pupu. Bukanya semangatin, malah ngeremehin aku. Pupu jahat! Tapi aku percaya, Pupu. Karena apa? Karena aku punya semangat yang banyak untuk mewujudkannya. Tidak ada salahnyakan aku mempunyai mimpi? Semua orang harus bermimpi, masalah terwujud atau tidaknya itu urusan belakangan! Kamu setuju nggak sama aku? Nah, gitu dong! Akukan jadi percaya diri.”

Selesai menulis buku harian, aku mulai mengerjakan pr-pr yang tertunda.

Dret..dret…dret…

“Udah tidur belum manusia superku? Aku tebak sih pasti belum. Paling lagi ngerjain pr ditemenin sama Pupu. Yang semangat!”

“Kamu tau aja. Ngirim mata-mata, ya? Kamu yang tidur, biar besok bisa bangunin aku.”

“Tanpa kamu suruh juga aku mau tidur. Besok aku jemput di tempat biasa, ya?”

“Kamu lupa? Akukan mau ngenalin kamu ke Bunda?”

“Aku nggak lupa. Cuma pura-pura lupa aja.”

“Dasar! Aku doain cepet pikun loh! Sana tidur, aku jadi nggak konsen nih! Heheee…”

“Ia, ia aku tidur. Terus bekerja pantang ngantuk, ya! Hehehe, Enak tenan!”

“Huh, Dasar!”

Tik…tik..tik…tik…tik…

Huah…! Ayo! Nanggung! Jangan tidur dulu Kiran! Semangatku.

+_+

Roti-roti, lezat bergizi. Roti lezat, siapa yang mau beli? Sayur!!! Sayur, bu?!!! Berbagai teriakan abang jualan mengawaliku melewati pagi ini. Selesai makan roti dan minum susu buatan Bunda, aku langsung izin sekolah.

“Kiran pamit! Oh ia, hari ini Kiran mau ngenalin seseorang ke Bunda,” ingatku tiba-tiba. Aku langsung mengajaknya keluar dan berdiri di gerbang depan.

“Siapa yang mau kamu kenalin ke Bunda? Pacar?”

“Ada deh! Bunda tunggu aja, sebentar lagi dia jemput aku.”

Tak lama menunggu, tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan rumah. Pengendara itu melepaskan helmnya lalu turun menghampiri kami.

“Pagi Kiran,” salamnya. “Pagi juga, tante!”

“Jadi dia yang mau kamu kenalin ke Bunda?”

He-eh! Aku menganggukkan kepala.

“Nama saya Dito, tante.” ia memperkenalkan dirinya.

Bunda lalu bertanya-tanya sedikit tentangnya,

“ya udah, Bund. Aku berangkat dulu. Nanti kalau ada waktu aku suruh dia main, deh!”

“Ia. Hati-hati ya nak Dito?” pesan Bunda.

“Dito permisi dulu, tante!” ia lalu menjalankan motornya.

“Ibu kamu baik banget,”

“Siapa dulu, Bunda aku gitu loh! Kapan-kapan main ke rumah, ya? Nanti kamu cobain deh masakannya, dijamin ketagihan!”

“Gimana kalau besok?” sarannya.

“Besok hari apa?” tanyaku.

“Besokkan hari sabtu.”

“Ia, ia. Kebetulan besok aku nggak kerja. Asik!” girangku.

“Oke, sip!” Dito menambahi semangatku.

Hari ini tidak ada alasan untuk ku ber-BT ria, karena semangatku lagi FULL banget! Hm…bangun pagi dengan mood yang bagus ternyata bisa mempengaruhi keseharian kita, ya. Asik banget kalau bisa menjalankan hari-hari dengan hati gembira dan selalu tersenyum. Walaupun sekarang jam tidur gw berkurang, tetapi akan selalu gw usahakan bangun dengan wajah ceria dengan mood bagus. Huh…semoga keadaan seperti ini bertahan sampai kapanpun, Tuhan. Semenjak ada Dito, aku jadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup ini. Menjadi lebih berani menghadapi setiap masalah, dan hari-hariku pun berubah menjadi lebih berwarna dan bahagia. Terima kasih karena Engkau sudah mengirimku orang-orang yang sayang dan perduli denganku.

Mulai hari ini setiap ada waktu luang, aku selalu menyempatkan diri membaca-baca buku mengenai seluk beluk Korea Selatan. Entah mengapa atau karena memang aku suka menonton drama korea, membuatku jatuh cinta terhadap negeri tersebut. Terlebih dibidang perfilmannya. Nggak salah gw kerja disini, Ciko punya banyak buku-buku bagus yang dapat menambah pengetahuanku tentang sejarah dan seluk beluk Korea Selatan. Sejarah perfilmannya, budayanya, semuanya berhasil menarik perhatianku. Terlebih, aku cintaaaaa banget dengan drama remajanya! I love you FULL!!!!

Bunda, sepertinya Kiran sudah menemukan cita-cita Kiran. Dan maaf, ditempat inilah Kiran menemukannya. Ini penting bagi Kiran karena semua yang berhubungan dengan cita-cita Kiran ada disini. Semoga Bunda merestui Kiran bekerja.

Malam ini, selesai makan malam dan membantu Bunda dengan jahitannya, aku pergi ke kamar, membuka jendela lalu menulis diary. Selain Bunda, pupu, dan Dito, sobat yang selalu setia menemaniku adalah diary ini. Kado pertama yang diberikan Bunda saat ulang tahunku yang keenam belas. Selesai menulisnya, aku membuka kembali buku-buku pelajaran dan mulai mengerjakan semua tugas.

Kalian tahu, semua semangat yang diberikan Dito kepadaku cukup mempengaruhiku, loh. Kalian pasti pernah merasakan kekuatan yang begitu besar ketika ada seseorang yang paling kalian sukai atau keluarga yang paling kalian cintai memberimu semangat dan selalu mendukung. Aku bersyukur, meskipun hanya hidup berdua dengan Bunda, tanpa ada harta yang bergelimpangan, bekerja banting tulang untuk menjalani hidup, semangat yang ku punya melebihi semangat ribuan orang. Itulah yang selalu aku pegang dalam hidup ini, selalu bersemangat dan mensyukuri atas apa yang ada. sebelum pergi tidur aku ke kamar Bunda. Mengecup keningnya, lalu memakaikan selimut ke tubuhnya yang mulai renta.

“Selamat malam Tuhan. Terima kasih karena Engkau sudah melindungi orang-orang yang paling aku sayang dalam menjalankan tugasnya hari ini. Lindungilah kami selalu dan curahkanlah berkat-Mu yang tiada tara kepada kami. Amin!” tutupku lalu pergi tidur.

+_+

Weker disebelahku berbunyi riuh. Karena ia berhasil mengagetkanku, akhirnya aku bangun dan langsung menghampiri Bunda di dapur.

“Tumben anak Bunda sudah bangun jam segini?” ia menghampiri lalu menciumku. “Di minum dulu tehnya sebelum kamu mandi.”

Aku yang lagi terduduk lemas hanya mengangguk-angguk saja. Selesai meminum teh hangat aku langsung pergi mandi.

“Oh ia, Bund!” sambil melahap roti bakar. “Hari ini Dito mau main ke rumah. Bolehkan?”

“Temanmu yang waktu itu? Salah, maksud Bunda pacar kamu yang kemarin dikenalin? Ya nggak apa-apalah main kesini, Bunda malah senang. Nanti Bunda masakin.”

“Jadi Bunda ngijinin?! Makasih! Kalau begitu aku pergi dulu, ya? Dito udah nunggu di luar, soalnya.”

“Hati-hati.” ia mencium keningku.

“Pagi!” sapaku setibanya di luar.

“Pagi juga. Ayo naik! Ngomong-ngomong Bunda mana?”

“Dia lagi sibuk masak,”

“Emang ada acara apa? Kok pagi-pagi udah sibuk masak?”

“Nggak ada acara apa-apa. Memang setiap hari Bunda masak untuk dijual sore-sorenya,”

“Oh…jadi kalian jual sayur matang ke tetangga-tetangga. Banyak juga ya usaha kamu?”

“Kalau nggak begini kita nggak dapat penghasilan.”

Dito melaju motornya dengan kencang. Tanpa terasa, aku sampai di sekolah.

“Aku langsung ke kelas, ya?” izinnya.

“Ia. Nanti jadi main kerumahkan?”

“Jadi. Nanti aku ke kelas kamu.” ia meninggalkanku dan langsung kekelasnya. Akupun ke kelas karena pelajaran tambahan sudah dimulai. Hari inipun kulalui dengan sangat cepat. Aku sudah bersama Dito yang akan bersiap main ke rumah. Matahari sungguh menusuk kulit, tetapi semuanya berubah saat kami melewati sederetan pepohonan akasia. Beberapa meter lagi kami akan sampai, dan Dito langsung memperlambat motornya.

“Bunda! Kiran pulang!” aku langsung berlari masuk.

Bunda yang kaget mendengar teriakanku menghampiri ke luar.

“Ada apa sih, Kiran? Pulang-pulang kok teriak-teriak, malukan ada Dito.”

“Siang tante!” salamnya.

“Siang. Ayo masuk, di jalan panas banget ya? Tante buatin minum, ya?”

“Nggak usah repot-repot, tante.”

“Nggak apa-apa. Temenin Dito dulu Kiran, Bunda mau buatin minum.”

Aku menganggukkan kepala.

“Dit. Tunggu disini sebentar, ya? Mau ganti baju dulu. Gerah.” aku meninggalkannya sendiri di ruang tamu.

Beberapa menit kemudian.

“Loh, kok sendirian. Kirannya mana?” tanya Bunda sambil meletakkan orange juice.

“Kirannya lagi ganti baju, tante.”

“Kiran! Temennya kok ditinggal sendiri, sih? Cepat kesini!” serunya.

“Nggak apa-apa, tante.”

“Ayo, diminum nak Dito.”

“Ia, makasih. Maaf kalau ngerepotin.”

“Tante ngggak repot kok. Tante malah senang kalau teman-temannya Kiran main kesin.i”

“Kiran, temannya kok ditinggal sendiri?”

“Akukan ganti baju sebentar, Bund.”

“Ya sudah kalau begitu, Bunda mau ke dapur dulu. Siapin makan siang untuk kalian. Nak Dito, tante tinggal sebentar, ya?”

“Ia.”

“Gimana? Itu Bundaku.” tanyaku.

“Bunda kamu baik banget. Rumah kamu juga enak, adem dan asri. Kamu kalau libur ngapain?”

“Beres-beres rumah, bantuin Bunda masak sama jahit. Terus sorenya keliling jualan sayur matang.”

“Emang kamu bisa jahit?” ledek Dito.

“Ya nggak bisa. Paling cuma nemenin Bunda aja, kalau nggak, ngerjain apa kek yang aku bisa.”

“Kalau masak?” tanya Dito lagi.

“Kamu banyak nanya, deh. Kalau masak aku bisa sedikit-sedikit.”

“Payah! Punya keahlian nanggung-nanggung.” ledeknya.

“Sekarang aku tanya coba. Kamu bisa masak, nggak?”

“Masak? Bisa! Kecil!” jawabnya santai. “Masak mie, masak telor, masak air, masak nasi, masak…”

“Cupu!!! Kamu lebih cupu dari aku tau nggak?!”

“Kiran! Suruh Dito makan, sudah Bunda siapin di meja.”

“Ia, sebentar!” jawabku. “Makan yuk, Dit? Nggak enak sama Bunda. Yuk! Kamu nggak bakalan nyesel, karena masakannya Bunda tuh enak banget!” aku langsung menariknya ke ruang makan.

“Makan yang banyak nak Dito, jangan malu-malu.”

“Ngerepotin deh, tante.”

“Udah, ayo makan! Baru ada kamu nggak akan buat Bunda repot.”

Aku memaksa Dito duduk. Setelah berhasil dibujuk, aku mengambilkan piring dan sendok untuknya.

“Loh, Bunda mau kemana? Ayo makan bareng kita, Bunda pasti belum makankan?” tanyaku.

“Bunda nanti saja makannya. Ngurusin jahitan dulu.”

“Pokoknya Bunda makan. Jahitnya nanti saja!” aku memaksanya. Setelah berhasil dibujuk, aku langsung mengambil beberapa sendok nasi ke piringnya.

“Nah, gitu dong. Mari makan!” aku menyendok sayur capcay ditambah sambel terasi dengan lauk tahu dan tempe. Ini adalah sayur kesukaanku. Uu-hu, enaknya!

“Makan yang banyak, nak Dito.”

“Ia. Makan yang banyak, jangan malu-malu.” tambahku.

Dito masih saja dengan kejaimannya. Lambat laun, ia mulai membuka diri dengan kami. Acara makan kali ini berlangsung penuh tawa dan canda. Selesai makan, Bunda kembali dengan aktifitasnya. Sedangkan aku, selesai beres-beres meja makan, langsung menemui Dito di ruang tamu.

“Sori lama.”

“Nyantai aja. Oh ia, katanya kamu mau jualan?”

“Sebentar lagi. Kamu nggak apa-apakan aku tinggal? Atau malah mau pulang?”

“Aku…aku ikut kamu jualan gimana?”

“Yang bener? Kamu mau nemenin aku jualan?!” kagetku.

“Ia. Kamu nggak keberatankan?”

“Ya enggaklah! Kalau begitu kamu tunggu sini, biar aku siap-siap dulu.”

Tidak lama, aku sudah kembali dengan membawa keranjang dikedua tanganku.

“Ayo!” ajakku.

Sepeda telah siap, Ditopun dengan senang hati membonceng dan bersedia mengantarku kemana saja. setelah pamit ke Bunda, perjalanan kami dimulai. Matahari sore ini cukup meredup, desiran angin juga selalu setia menemani perjalanan kami. Tidak terasa, aku sudah sampai di rumah pertama. Setelah memberi sayur dan lauk yang mereka pesan, aku menuju ke rumah berikutnya. Begitu terus selanjutnya sampai dagangan ini habis terjual.

“kir?!” panggil Dito.

“Ia?”

“Biasanya kamu sendiri seperti ini?”

“Ia. Kalau libur seperti sekarang aku sendiri, sengaja nggak sama Bunda karena dia aku suruh istirahat.”

“Kamu sendiri nggak cape?”

“Kalau ngejalaninnya tanpa beban dan tulus, nggak akan terasa cape. Kenapa? Kamu kok ngeliatin aku kayak gitu? Dit, liat depan dong. Nanti kita nabrak, loh!”

“Nggak, aku cuma salut aja sama kamu. Berarti penilaianku nggak meleset. Ya udah, masih berapa tempat lagi? Aku masih semangat mau bantuin kamu.”

“Tempat nanti yang terakhir, kok. Setelah rumah itu belok kanan, ya?” suruhku.

Selesai memberi sayur dan lauk pesanan di rumah terakhir, aku langsung menyuruh Dito untuk pulang. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba ia menghentikan sepedannya dan menuju ke sebuah warung. Ia membelikanku es krim. Sambil menghabiskan es krim, kami jalan pelan-pelan. Desiran angin sore di tambah guguran dedaunan menghiasi senda gurau kami.

“Kiran?” panggilnya.

“Apa?”

“Kamu unik, deh!”

Aku tidak mengerti.

“Ia. Kamu beda.” tambahnya.

Aku masih tidak mengerti. “Dit. Kamu kok bisa suka sama aku, sih?” tanyaku.

“Karena itu tadi. Kamu unik, kamu beda, kamu dewasa, kamu juga cantik, imut!”

“Serius, Dit!” suruhku.

“Ia. Aku serius.”

“Makasih…! Bohong! Aku nggak percaya. Aku hitung sampai tiga kalau kamu nggak mau ngaku, aku…aku nggak mau…”

“Hayo, mau ngancem apa?”

“Aku nggak mau berangkat sekolah bareng kamu lagi” jawabku spontan. “Satu, dua, tiga! Tet!”

“Dasar curang!” ia merangkulku. Aku tertawa. “Aku suka sama kamu, karena kamu memang beda dan unik. Kalau kata di iklan-iklan, wajahmu mengalihkan duniaku.”

“Gombalisme!” jawabku.

“Serius!”

“Gombal!”

“Terserah! Sekarang aku yang nanya ke kamu. Kenapa kamu bisa suka sama aku?” tanyanya.

“Karena apa, ya?” pikirku.

“Hayo, mau balas dendam, ya?”

“Nggak. Aku cuma lagi mikir kenapa aku bisa sampe suka sama kamu.”

“Jangan kelamaan mikirnya, abangnya keburu pulang!”

“Apa sih, nggak jelas deh kamu.” ledekku.

“Kamu tuh, rese banget sih! Terus karena apa dong kamu suka sama aku. Ah…! Aku tau. Udah Kir, jujur aja sama aku. Tampang aku memang udah begini dari lahir, jadi akuin aja!”

“Maksud kamu? Tampang kamu oke gitu?! Nggak berlaku ya buat aku.”

“Jadi apanya, dong?”

“Aku suka sama yang nggak terlihat dari kamu.”

“Maksud kamu?!” kagetnya.

“Jangan ngeres dulu!” aku menempeleng kepalanya.

“Maksud aku itu kebaikan kamu, perhatiannya kamu, pedulinya kamu sama aku. Itu yang aku suka dari kamu.”

“Oh….! Makannya, kalau ngomong tuh yang jelas, jangan membuat makna ganda.”

“Pikiran kamu aja yang ngeres!”

Aku menghela nafas. “Dit?” panggilku.

“Apa?” jawabnya halus.

“Makasih, ya?”

“Untuk?”

“Karena kamu udah buat aku bahagia. Terima kasih karena kamu bisa menerima aku dan keluargaku apa adanya. Terima kasih dengan semua semangat dan kesediaan kamu mendengarkan semua curhatan aku.”

Dito menatapku. Aku langsung memeluknya.

“Aku sayang kamu, Dit.” ucapku lagi. Ia lalu mencium bibirku.

“Kami pulang!” seruku.

Bunda menghampiri kami ke teras.

“Gimana jualannya?”

“Laris semua, tante.” jawab Dito.

“Bunda gitu, loh! Nggak bakal nyesel deh beli sayur sama lauk di Kiran, masakannya Bundakan enak!”

“Ia, masakan tante enak banget. Saya suka banget!”

“Ya sudah kalau begitu. Dito suruh masuk, Kir. Suruh minum dulu.”

Aku lantas mengajaknya ke ruang tengah.

“Sebentar, ya? Aku ambilin minum dulu.”

Sekembalinya, aku langsung menyodorkan minuman kepadanya. Dito menerimanya dan meminumnya sampai habis.

“Kir, kayaknya aku harus pulang deh. Sudah malam.”

“Nggak makan dulu?” tawarku.

“Nggak usah. Aku makan di rumah aja.”

“Ya udah kalau begitu. Bund! Dito mau pulang, nih!” teriakku.

Bunda yang sedang di dapur menghampiri kami ke ruang tengah.

“Tante, saya pulang dulu.” izinnya.

“Nggak makan dulu, nak Dito?”

“Tuhkan bener. Bunda aja nawarin kamu makan!”

“Nggak tante. Saya makan di rumah aja. Kalau begitu saya pamit dulu.” ia mencium tangan Bunda.

“Sering-seringlah main kesini. Tante nggak keberatan kok!”

“Ia, makasih. Kir, aku balik ya?”

“Ia. Hati-hati. Makasih, ya!”

“Permisi, tante.” ia langsung menjalankan motornya.

“Bunda…” ucapku manja. Aku memeluknya.

“Duh…anak Bunda yang lagi khasmaran. Tau deh yang hatinya sedang berbunga-bunga.”

“Bunda kok malah ngeledekin aku?”

“Nomong-ngomong, kapan jadiannya?”

“Bunda…” Maluku.

“Tuh, muka kamu merah.”

“Udah ah, Bunda ngeledekin aku terus sih!” marahku.

Bunda mengencangkan pelukanku.

“Udah sana mandi. Bau!” ledeknya lagi.

“Tuhkan?!”

“Mandi Kiran, jangan senyam senyum aja!” ledeknya lagi.

“Bunda, ah!”

5

“Siang menjelang sore!” sapaku setibanya di tempat kerja. Hari ini rame banget, hhm…nggak kerasa, udah bulan Februari aja.

“Siang!” sapa seseorang kepadaku.

“Siang!” balasku spontan. “Ciko!!” kagetku. “Gw kira siapa, tadi. Tumben dateng jam segini?”

“Tadi habis hadirin pertemuan. Karena lewat sini, sekalian aja mampir. Oh ia, nanti loe bantuin anak-anak nempelin pamflet dan hias-hiasin ruangan, ya? Soalnya di bulan ini kita lagi ngadain promo. Nggak keberatan, kan?”

“Ya enggaklah. Nanti sambil kerja gw bisa kok ngerjain sedikit demi sedikit.”

“Sebenarnya baru nanti malam kita mau ngerjainnya, tapi nggak apa-apa sih kalau loe mau nyicil-nyicil.”

“Tenang aja, gw akan bantu sampai selesai. Tapi kalau memang bisa sekalian dikerjain kenapa nggak?”

“Oke. Gw percaya sama loe. Nanti setelah ganti baju ke ruangan gw ya, ambil pamfletnya?”

“Siap!” aku mengacungkan kedua jempolku.

Selesai berganti baju, segera ku langkahkan kaki ke ruangan Ciko. Setelah mengambil pamflet, aku kembali bekerja.

Ayo, semangat Kiran!! Semangatku. Nggak kerasa banget ya udah bulan February.

“Selamat siang! Selamat datang di soulsation Buzz. Di bulan ini kami mempunyai banyak promosi, untuk lebih lengkapnya kalian bisa baca di pamflet yang telah kami sediakan. Silahkan dibaca, karena promosi kami sudah berlaku dihari ini. Selamat menikmati!”

Selesai melayani pengunjung, aku melakukan pekerjaan selanjutnya. Bulan ini memang bulan yang penuh cinta. Disana sini penuh dengan hiasan hati dan warna merah jambu. Aku membaca pamflet di tangan. Hm…menarik juga promosi-promosinya. Nonton sebanyak dua kali, gratis nonton satu film. Baca selama satu jam keatas, dapat lollipop cokelat. Internetan selama satu jam keatas, gratis satu cup cappuccino. Seru! Komentarku. Langit mulai menggelapkan dirinya, lampu-lampu kecil yang bertebaran di sekitar Soulsation Buzz menyala indah.

Kayaknya lampu ini baru dipasang deh, gw baru liat. Keren juga. Pikirku.

Saat jam sudah menunjuk ke pukul sembilan, terlihat beberapa karyawan mulai sibuk menempel dan memasang ornament-ornamen berbau valentine. Seperti janjiku ke Ciko, aku ikut membantu mereka. Ciko pun turun tangan. Aku menghampirinya lalu membantu memasang lampion-lampion berwarna merah muda.

“Semua ini ide, loe?” tanyaku.

Ciko yang sedang serius memperhatikan keadaan sekitar sedikit terkejut dengan kedatanganku.

“Eh, loe?”

“Butuh bantuan?” tawarku.

He-eh. Ia menganggukkan kepala.

“Kalo menurut gw, lampion ini cocok di pasang di sepanjang jalan setapak pintu masuk dan di taman belakang. Semua ini ide loe?” tanyaku lagi.

“Ini semua ide gw dicampur ide anak-anak. Kenapa? Aneh, ya? Sedikit norak?”

“Nggak. Idenya 100% seru, kreatif. Nggak norak, malah tempat loe jadi terlihat beda. Lebih menarik.”

“Good! Ya udah, sekarang kita ke taman belakang.”

Kami melangkah ke taman.

“Promosinya juga seru-seru,” komentarku lagi.

“Itu juga ide gw ditambah ide anak-anak.” jawabnya serius sambil memasang tali penopang lampion. “Oh ia, loe belum tau ya? Kita juga belum promosiin sih. Jadi pas hari H, jam delapan sampai jam dua belas malam, di taman ini kita ngadain barbeque-an. Khusus karyawan bayar sepuluh ribu, pengunjung lima belas ribu. Sepuanya, ditambah ada game-game seru plus doorprice yang keren-keren. Gimana?”

“Seru banget! Hanya dengan sepuluh ribu dan lima belas ribu udah bisa nikmatin barbequan sepuanya? Ada games dan doorprice yang keren-keren lagi. Gila! Gw jadi nggak sabar pingin cepat-cepat valentine!” hebohku.

“Pengen cepet-cepet ikut acara gw atau pengen cepet-cepet dapet kado valentine dari pacar?” meledekku.

“Dua-duanya. Hehehe!” jawabku spontan.

Aku merenggangkan semua otot-otot yang meregang.

“Kerjaannya jadi cepat beres, deh. Thanks ya!”

“Sama-sama. Santai aja kali.” aku melengkungkan senyum.

“Di minum dulu. Anggap aja sebagai rasa terima kasih karena udah bantuin gw.” Ciko menawarkan segelas coffee late hangat.

“Thanks!” aku langsung meminumnya.

“Udah malem. Loe nggak pulang?”

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Setengah sebelas. Loe nggak kemaleman?”

“Habis ganti baju gw pulang kok,”

“Emang masih ada mobil?”

“Udah nggak ada sih. Tapi biasanya gw naik ojek.”

“Rumah loe dimana?”

“Di…”

“Bareng aja sama gw!”

Belum selesai ku menjawab pertanyaannya, ia sudah menawariku tumpangan.

“Nggak usah. Ada ojek langganan gw kok di depan.”

“Gw sekalian pulang, kok. Lagian searah ini,”

“Nggak apa-apa, ngerepotin!” aku masih mengelak.

“Gw ikhlas, ridho banget nganterin loe pulang. Lagian searah ini.” yakinnya.

“Oke. Kalau begitu gw ganti baju dulu, ya?”

“Gw tunggu di mobil.”

“Ia. Gw nggak lama kok.”

Cepat-cepat ku berganti pakaian, setelahnya aku menghampiri Ciko di parkiran.

“Sori lama!” maafku sesampainya.

“Loe nggak dimarahin pulang jam segini?” tanyanya yang langsung menjalankan mobil.

“Nggak. Lagian gw udah izin kalau mau pulang jam segini. Oh ia, ngomong-ngomong, sekarang loe semester berapa?”

Ciko tertawa.

“Loh, kok ketawa?” heranku.

“Loe nggak tau apa belum tau?”

“Belum tau apa?” aku tidak mengerti.

“Gw nggak ngelanjutin kuliah.”

“Kenapa?!” kagetku.

“Gw kuliah cuma sampe semester empat,”

“Terus? Loekan entrepreneur muda. Nggak malu apa dikatain orang nggak kuliah? Terus loe belajar semua ini dari siapa?”

“Gw nggak malu, kenapa mesti malu? Gw belajar itu semua dari bokap.”

“Tapi kenapa loe harus berhenti kuliah?”

“Itu membuat gw menjadi tidak fokus.”

“Kok gitu?”

“Loe penasaran banget kayaknya. Ya udah, gw bakal jelasin ke loe. Awal mula gw suka bisnis sejak SMA, dan kebetulan bokap gw seorang bisnisman. Akhirnya gw banyak belajar dari beliau, banyak ilmu yang gw dapet darinya. Gw tertarik dan pingin banget punya usaha yang simple tapi konsepnya beda. Semua impian itu harus gw pendam karena bokap belum ngijinin, karena ilmu dan pengalaman yang gw punya masih sedikit. Setelah nambah ilmu sedikit demi sedikit dari kuliah, setelah gw merasa yakin dan siap, akhirnya gw memutuskan untuk keluar dan fokus ngejalanin usaha yang konsepnya itu udah gw buat dari SMA. Masalah pendidikan, itu memang yang paling penting. Makanya kalau ada rejeki lebih gw akan ngelanjutin studi ke Amerika.”

“Hebat!”

“Nggak usah muji gw sebegitunya. Kadang kalau loe memang mau benar-benar fokus sama hal yang paling disukai, pasti ada sesuatu yang harus di korbanin. Nggak usah takut, yakin aja kalau hal yang loe korbanin itu akan menguntungkan buat loe nantinya.”

“Sama kayak loe!”

“Yup. Gw nggak malu sekarang gw nggak kuliah. Lagipula gw masih bisa belajar dari internet, buku, pengalaman orang-orang, gw masih punya banyak waktu untuk belajar. Cuma sekarang, itu menjadi prioritas kedua. Oh ia, rumah loe dimana?”

“Loe lurus aja. Setelah ngelewatin belokan kedua, itu rumah gw. Nanti gw kasih tau, kok.”

“Mau ngelanjutin kuliah dimana?”

“Nggak tau. Gw masih bingung,”

“Kok gitu?”

“Ia. Soalnya gw masih belum tau bakat yang ada di diri gw.”

“Di seumuran loe kalau masih belum menemukan bakat nggak enak loh. Apalagi nanti pas kuliah atau kerja, dan kita ngambil bidang yang nggak disukai. Bisa kebayang gimana nggak enak dan terpaksanya kita melakukan itu semua. Jadi gw saranin, cepet-cepet deh nemuin bakat loe. karena kalau kita bekerja sesuai dengan bakat, ngejalaninnya juga akan sepenuh hati, waktu berjalan dengan cepat, dan kita pasti merasa senang, jauh dari tekanan.”

“Bener juga, sih. Makasih ya atas masukannya. Ucapan loe barusan akan gw renungin. Eh…stop, stop, stop!” ucapku tiba-tiba. Ciko langsung menghentikan mobilnya.

“Kelewatan, ya?”

“Ia. Tapi nggak jauh kok. Itu rumah gw!” sambil menunjuk ke belakang.

“Oh, ya udah. Hati-hati!”

“Makasih, ya? Loe juga hati-hati. Bye…”

Mobilnya semakin jauh dari pandanganku.

“Sudah larut. Bunda udah tidur belum ya?” pikirku.

Deru mesin jahit yang biasanya terdengar sampai ruang tamu, malam ini tidak terdengar. Aku melangkah pelan, sampai di ruang tengah aku tidak menemui Bunda. Aku ke kamarnya, duduk sebentar didekatnya lalu mencium keningnya.

“Malam. Mimpi indah.” aku meninggalkannya dan langsung ke kamar.

BRUG…!!!

Tumben Dito nggak sms, tadi juga cuma sebentar ketemu dia. Sibuk sama ganknya kali, ya?

“Oh Tuhan! Aku lelah sekali.” Aku menyegarkan diri sejenak sebelum memegang pekerjaan sekolah.

Setelah mandi dan minum susu hangat, aku siap mengerjakan pr. Di temani alunan musik yang sedikit menghentak, lumayanlah mempengaruhiku untuk tidak mengantuk.

Tiga menit, lima menit, lima belas menit, tiga puluh lima menit, lima puluh enam menit, lima puluh Sembilan, Huah…! Aku merenggangkan semua otot. Pr matematika kali ini cukup membuat semua ototku kaku. Jam menunjuk ke pukul setengah dua, lanunan musik sudah berubah menjadi lembut. Aku mengambil buku diary, tepat di tengah halamannya aku menuliskan beberapa kata.

Selamat datang di bulan penuh cinta! Hm…sepertinya aroma-aroma cinta sudah mulai tercium nih di seluruh penjuru dunia. Come on! Hanya di bulan ini loh kalian bisa lebih mengekspresikan rasa sayang atau cinta mu ke orang lain. Jadi nggak sabar, kira-kira Dito ngasih apa ya ke gw?

Oh ia, jadi inget Bunda. Aku ngasih apa ya ke dia?

Aku berfikir sejenak. Baju? Dia nggak terlalu suka. Nanti katanya, aduh Kiran, Bunda tuh jarang pergi-pergi, lagian Bunda udah punya banyak baju kok. Sepatu? Juga sama, dia jarang pergi-pergi. Sweater? Masa itu lagi. Terus gw ngasih apa, dong?

Tiba-tiba ide bagus muncul di pikiranku. “A-ha! Perfect. Bunda pasti….Aha…!” aku melengkungkan senyum.

Aku melanjutkan menulis buku harian.

+_+

Cit…cit…cit…cit…burung gereja menyambutku pagi ini.

“Pagi, Bund!”

“Kiran? Tadi malam kamu pulang jam berapa, kok nggak kayak biasanya? Bunda sampai ketiduran nunggu kamu,”

Aku mematung.

“Maafin kiran.” aku memeluknya, hanya itu yang bisa ku lakukan.

“Bunda nggak apa-apa. Tetapi dari pada kamu begini terus, lebih baik jujur sama Bunda,”

Aku terdiam.

“Ya sudah, sana berangkat. Dito sudah menunggu.”

Bunda mencium keningku, aku membalasnya dengan mencium kedua pipinya.

Sebulan penuh, obrolan tentang valentine selalu menggema saat aku tiba di sekolah. Selesai pelajaran tambahan, aku bersama Icha dan Dita duduk di dekat lapangan basket. Sepanjang perjalanan tidak hanya mereka yang sibuk ngomongin tentang cinta, tetapi semua anak di sekolahan ini sibuk ngurusin valentine yang tinggal menghitung jam.

“Kiran…” ucap Dita memelas. “Loe enak banget sih valentine besok ditemenin sama cowok cakep. Kira-kira dia bakal ngasih kejutan apa ya ke loe?” penasarannya.

“Ia, gw juga jadi penasaran. Apa jangan-jangan loe bakal dansa berdua di tempat yang romantis kayak Edward dan Bella di Twilight?” ikut-ikutan Icha.

“Kalian apa-apaan, sih? Khayalnya terlalu tinggi, tuh. Tapi ngomong-ngomong, gw jadi penasaran…” Aku memasuki dunia khayalku. Belum sempat memasukinya, mereka sudah menyadarkanku.

“Sadar! Ngarep aja, loe!” ledek mereka.

“Eh, gimana? Kalian udah punya cowok belum? Yah, kasian. Masa valentine besok kalian harus ngendok di rumah?”

“Wah…! Pelecehan!” seru mereka.

“Asal loe tau Kir, kita berdua udah bener-bener rela melepas Dito demi loe, orang yang di cintainya.” beber Icha.

“Loe ngomong apaan sih, puitis banget? Gw nggak mudeng.” ungkapku.

“Prinsip kita, mati satu tumbuh dua kali lipat. Kami udah bener-bener ridho ngelepas Dito.” tambah Dita.

“Jadi maksudnya? Kalian bersedia ngejomlo sambil menemukan penggantinya?” aku masih bingung.

“What! Ya enggaklah. Se-enggak punya-nya pacar, paling nggak kita harus mengidolakan seorang cowok!” Dita membantah.

“Ah, gw tambah pusing!”

“Kita udah punya cowok, kali…” girang Icha.

“What?!! Ini nih yang namanya teman? Kapan jadiannya, kok nggak bilang-bilang. Kalian ini, bilang kalau udah punya pacar aja pake muter-muter. Siapa cowok loe, anak mana?”

“Ada deh!” ledek mereka.

“Wah, tiba-tiba gw jadi nggak percaya gini. Jangan-jangan kalian ngobral diri lagi?”

“Maksudnya?!” marah mereka.

“Bu…bukan begitu. Karena sebentar lagi valentine, kalian jadi buru-buru ngedapetin cowok.”

“Melecehkan. Ya enggaklah. Kiran, Kiran.”

“Maap. Gw cuma bercanda. Ya udah, pertanyaan gw tadi nggak di jawab. Anak mana?”

“Gw di tembak Adit satu minggu yang lalu.” terang Icha.

“Ia. Kalau gw dari lima hari yang lalu. Ada deh, dia bukan anak sini.” tambah Dita.

“Jadi loe bokinan sama Adit?!” kagetku.

“Ia. Hehehe…” Icha nyengir.

“Adit ganknya Dito?” yakinku.

“Ia, Kiran.”

“Kok bisa?” heranku muncul lagi.

“Nggak percayaan banget sih! Udah ngatain, banyak nanya lagi!” sewotnya.

“Maaf. Terus kalau loe, Dit? Wah, asik dong! Kalau gitu besok kita rayain valentine di tempat Ciko yuk!?” ajakku.

“Emang ada acara apaan? Seru nggak?” tanya mereka.

“Di jamin seratus persen, seru!” yakinku.

“Ia, tapi ada apa dulu? Kasih tau dong!”

“Jadi gini, besok itu Soulsation Buzz ngadain barbequ-an. Hanya lima belas ribu rupiah, kalian bisa makan sepuasnya, ditambah ada game seru plus doorprice. Serukan? Tempatnya itu di taman belakang, pokoknya seru, romantis dan nggak ngebosenin. Kalian belum pernah ke tamannyakan, besok deh liat, tamannya udah kami sulap menjadi tempat yang super romantis. Dari pada kalian ngabisin malam valentine dengan nonton atau makan, mending dateng ke sana!”

“Boleh, kayaknya seru juga. Nanti deh gw bilang ke Adit.”

“Loe, Ta? Ayo dong ikut, ajak cowok loe juga,”

“Seru juga. Nanti gw tanyain dulu ya?”

“Sip!”

“Valentine besok kamu mau kemana?” tanya Dito di parkiran, seperti biasa, dia mau mengantarku ke tempat kerja.

“Kalau kamu nggak ngajak aku pergi, aku nggak kemana-mana. Oh ia!” seruku. “Valentine besok kita rayain di tempat kerjaku yuk?!”

“Kok disana? Memangnya ada acara apa?”

“Soulsation Buzz ngadain baebequ-an. Nggak hanya itu, ada games dan doorpricenya juga. Serukan?! Aku ngajak Icha sama Dita, dan mereka setuju. Kamu maukan?”

“Hm…gimana ya?”

“Ayo dong. Please…ikut?” ucapku memelas.

“Ia, aku ikut. Tadi aku cuma bercanda kok.”

“Asik!” aku langsung memeluknya.

“Sekarang aku antar kamu ke tempat kerja, ya?” tawarnya lembut.

Hari ini suasana di Soulsation Buzz sedikit berbeda dari biasanya. Semua karyawan terlihat sibuk menyiapkan beberapa perlengkapan untuk menyambut valentine besok. Semua ruangan di tempat ini sudah di sulap sedemikian rupa, dan berbagai promosi telah dibuat untuk merayakan satu hari spesial penuh cinta yang hanya terjadi pada empat belas februari di setiap tahunnya. Di tengah kesibukanku, aku jadi terfikir, kira-kira besok malam Dito akan memberiku kejutan apa, ya? Aku jadi tidak sabar dan ingin hari ini cepat berlalu. Ciko memang keren, banyak pelanggan setia dan pasangan-pasangan lain berdatangan untuk mendaftar. Kali ini saat aku tidak terlalu sibuk seperti tadi, aku menyempatkan diri mencari informasi universitas perfilman di Korea. Tidak sempat lama karena aku sudah di panggil untuk melayani pengunjung yang sedikit demi sedikit berdatangan. Menit ke lima belas dari pukul sembilan, kini saatnya aku berganti pakaian karena batas kerjaku hanya sampai jam sembilan. Selesai berganti pakaian, aku memanggil ojek langganan. Ia mengantarku sampai rumah dengan cepat. Akhir-akhir ini Bunda sering tidur lebih awal, pikirku yang langsung menghampirinya ke kamar. Seperti biasa, aku mencium keningnya sebagai ungkapan sayang dan membenarkan selimut yang tidak sepenuhnya menutupi tubuhnya. Ku letakkan serangkaian bunga mawar dan sepucuk kartu bertuliskan, “Selamat hari kasih sayang” di meja riasnya.

Seperti biasa, selesai mengerjakan beberapa tugas sekolah, aku membuka buku harian lalu menuliskan serangkaian peristiwa yang ku alami hari ini,

Semoga Bunda suka dengan pemberianku ini. Surprice untuk mu, Bund! Selamat hari kasih sayang! Kiran sayaaaang banget sama Bunda!! Terima kasih karena engkau sudah merawatku dengan sepenuh hati, terima kasih atas semua rasa sayang yang Bunda beri ke Kiran selama ini. Oh ia, hampir lupa! Makasih ya, Dito! Kamu baik deh, karena mau nemenin aku beli bunga tadi siang. Makasiiiiihhhhh, luv uuuu!

“Selamat datang hari kasih sayang!!!” seruku dalam hati. Pukul nol-nol lewat sepuluh menit.

Aku langsung menyambar hp yang ada didekatku. Terima kasih atas hidup penuh warna yang sudah kamu beri ke aku selama ini. Terima kasih juga karena kamu mau hadir dalam hidupku, menerima ku dan kehidupanku yang serba apa adanya, menambah keceriaan di setiap harinya, aku yang sekarang penuh warna, selalu bersemangat karena ada kamu yang selalu di sampingku, menyemangatiku. Terima kasih. Selamat hari kasih sayang, cinta pertamaku.

+_+

“Kiran sayang…bangun, sudah pagi,” bangun Bunda halus. “Bangun dong, Kiran. Selamat hari kasih sayang.” bisiknya ke telingaku.

Aku membuka mata dan melihat Bunda sudah ada disampingku.

“Selamat pagi, happy valentine day.” ungkapnya lalu mencium keningku. Aku bangun dan kami saling berpelukan.

“Selamat hari kasih sayang.” balasku juga mencium pipinya.

Kami lalu berpelukan lagi. Cukup lama. Pelukan itu membuat kami saling terbelenggu.

“Bund!! Kiran berangkat, ya?”

“Nanti kamu pulang jam berapa?”

“Oh ia, aku lupa kasih tahu. Nanti pulang larut karena aku sama Dito mau datang ke sebuah acara.”

“Ia deh tau yang mau valentine-an. Bunda jadi nggak laku nih semenjak ada dia.”

“Bunda kok ngomong gitu? Bunda tetap nomer satu kok di hati Kiran. Atau jangan-jangan, Bunda cemburu lagi?!”

“Ih…! Sori ya pake cemburu-cemburuan segala, nggak level. Ya udah sana berangkat, nanti kamu telat pelajaran tambahan lagi?!”

“Ia. Ya udah, aku berangkat!” aku mencium tangannya, lantas pergi.

Tumben Dito nggak jemput aku? Hpnya juga nggak aktif. Ah, paling belum bangun. Dasar males!

“Pagi!!!” salamku ke Icha dan Dita.

“Pagi juga. Happy valentine day!” balas mereka.

“Gimana? Nanti malam pada bisakan?” yakinku.

“Ia, tenang aja. Mulainya jam berapa, gw lupa?” tanya Dita.

“Jam delapan. Pokoknya kalian harus ngenalin gw ke pacar kalian!”

“Ia Kir, tenang aja. Dito loe ajakkan?” tanya Icha.

“Pasti, lah! Bisa kayak orang stupid gw kalau nggak ngajak dia, sementara kalian semua pada sibuk sama pasangannya masing-masing.”

Full of love banget deh hari ini! Semua anak ( terutama kaum hawa ) sibuk mikirin mau pake baju apa untuk melewatkan valentine day bareng pasangannya. Ada yang buat cokelat lalu dibagi-bagikan ke teman-teman dan guru. Ada yang dapat cokelat dan bunga mawar terbanyak, pokoknya seru deh! Coba setiap hari adalah hari kasih sayang, pasti cinta kasih akan selalu terasa dan kedamaian akan lebih terwujud.

Sebelum pulang, kami ngobrol-ngobrol dulu di kantin sambil makan beberapa cemilan. Saat aku sedang bercanda dengan mereka, Dito menghampiriku. Aku lantas meninggalkan mereka dan mendekati Dito.

“Sori tadi pagi aku nggak jemput kamu,” ucapnya membuka pembicaraan sambil mengelus-elus rambutku.

“Kamu juga tumben nggak sms aku tadi malam?”

“Aku minta maaf. Akhir-akhir ini aku sering ngumpul sama komunitas sepedaku. Kemarin itu kami baru ngadain acara. Karena kecapean aku jadi jarang hubungin kamu. Kamu ngertikan? Nggak marahkan sama aku?”

“Hm…aku nggak marah kok, asalkan nanti kamu mau dateng ke acara yang aku bilang kemarin!”

“Ia, aku ingat.” Dito mencium keningku. “Ya udah, sekarang aku antar kamu kerja, ya?”

Aku menganggukkan kepala.

+_+

Suasana di Soulsation Buzz mulai ramai. Semua pasangan yang ingin menghabiskan malam valentinenya sudah berkumpul di taman belakang. Beberapa karyawan terlihat sibuk mondar-mandir mempersiapkan acara yang akan di mulai tiga puluh menit lagi. Icha dan Dita pun sudah datang dan langsung berbaur dengan pasangan-pasangan lain di taman.

Dito mana, ya? Kok belum kelihatan. Aku menyelesaikan sisa pekerjaan sebelum ikut bergabung dengan mereka.

“Dor!!! Kerja terus, cepet gabung sama kita-kita!” Icha menghampiriku. “Dito belum dateng?”

“Ia nih, dia kok belum dateng juga ya? Nanti gw nyusul, tunggu di sana aja. Oh ia, jangan lupa kenalin gw sama cowok loe, ya?”

“Tenang, nanti gw kenalin. Kir, toilet dimana, sih?”

“Dari sini loe lurus aja, di ujung jalan belok kanan, di situ toiletnya.”

“Kalau udah selesai langsung gabung sama kita aja, ya. Kayaknya acaranya bakal seru, nih!”

Jam di tangan masih menunjuk ke pukul sembilan kurang lima. Setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir, aku langsung berganti pakaian dan segera bergabung dengan mereka di taman. Suara MC terdengar bersemangat saat memandu game adu kekompakan. Aku duduk memojok sambil menunggu Dito. Hp di tangan pun masih sepi dengan kabarnya.

“Ciko kok nggak keliatan, ya?” pikirku.

Detik terus melaju, waktu hampir melangkah ke pukul sepuluh malam. Aku masih setia dengan kesendirianku.

U..uh! Dito kemana, sih?

Aku menunggu di depan, berharap ia sudah datang dan sedang menungguku.

“Dis! Gadis tunggu! Kamu kenapa? Aku nggak ngerti. Kasih aku penjelasan dong! Aku buat kamu marah? Tolong jelasin ke aku. Kalau aku buat kamu marah, aku minta maaf. Jangan gini caranya. Kitakan bisa ngomong baik-baik dulu di dalam.”

“Maaf Ciko, aku harus ninggalin kamu. Aku sayang sama kamu, tapi aku nggak bisa ngebohongin kamu terus. Aku merasa bersalah, aku minta maaf. Aku sayang kamu.”

“Kalau kita saling sayang kenapa harus seperti ini? Dis, kitakan bisa bicara baik-baik. Kamu kenapa? Udah bosan sama aku, cerita sama dong, aku akan dengar semua alasan yang membuat kamu ninggalin aku. Jangan tinggalin aku gitu aja, Dis!”

“Maaf, aku harus ninggalin kamu. Aku terlalu jahat buat kamu, aku nggak pantas untuk kamu! Mulai sekarang aku minta kamu lupain aku. Aku udah nggak sayang lagi sama kamu!”

“Dis! Jangan tinggalin aku. Gadis!!!”

Ciko terlihat terpukul saat wanita itu meninggalkannya. Entah apa alasan ia meninggalkan Ciko begitu saja. Mengapa di hari yang penuh cinta ini, ada orang yang tersakiti oleh cintanya? Ingin aku menghampirinya, tetapi…

Tanda-tanda bahwa Dito akan segera hadir sepertinya jauh dari kenyataan. Aku memperhatikan Ciko dari jauh, ia terlihat sedih dan terpukul. Tiba-tiba sebuah mobil datang, aku sangat berharap kalau itu mobilnya Dito. Aku mengamatinya. Dan ternyata, Dito keluar dari mobil itu, aku yang mengetahuinya langsung menghampiri dan memeluknya.

“Kamu kemana aja, sih? Aku udah nunggu kamu lama. Yuk kita masuk, acara sudah di mulai dari tadi, loh!” aku menggandeng tangannya.

“Siapa perempuan ini sayang? Yuk kita masuk!” seorang wanita cantik keluar dari mobilnya.

“Dia? Dia teman aku.” jawab Dito dingin yang langsung melepas tanganku. Mereka lantas masuk dan tidak menoleh sedikitpun ke arahku.

Aku terdiam memaku. Lama-lama, air mataku menetes perlahan.

“Apa maksud semua ini, Dit? Loe kok tega ngelakuin ini ke gw?” air mataku tidak bisa di bendung lagi.

“Kenapa? Siapa perempuan itu? Kenapa tadi loe memperlakukan gw seperti itu? Loe sadar nggak sih, tadi? Loe jahat, loe jahat!”

Tubuhku melemas, aku tidak kuat lagi berdiri. Aku tersungkur, dan menangis sejadi-jadinya.

“Apa maksudnya, Dit? Kenapa begini, kenapa loe lakukan itu di hari ini? Gw bilang apa ke Bunda, bagimana gw jelasin ke Dita dan Icha tentang hal ini?”

Suara MC terdengar redup, suasana yang tadinya ramai berubah sunyi. Alunan musik romantis mendayu-dayu di pukul sebelas saat ini. Aku menyendiri ke lantai dua, duduk memojok sambil memandangi mereka yang berada di taman. Cahaya bulan di tambah terangnya lilin dan lampu-lampu penghias taman membuat acara dansa itu begitu romantis. Aku duduk mematung dan memperhatikan mereka. Tak ada raut penyesalan di wajahnya. Air mataku menetes lagi.

“Loe pasti membutuhkannya,” tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan.

Aku memandang orang tersebut.

“Ciko?”

Ia duduk di hadapanku.

“Ambil.” ia menyuruhku mengambil sapu tangannya.

Aku mengambilnya. Kini kami saling diam. Cukup lama. Ciko membuka pembicaraan.

“Dari tadi loe ngeliatin Dito terus…”

Aku mengangguk.

“Nggak gabung dengan mereka?”

Aku menggeleng.

Ciko terdiam.

“Loe nggak gabung dengan mereka?” kali ini aku yang bertanya.

“Nggak.”

“Kenapa?”

Ia hanya diam.

Kami kembali saling diam. Cukup lama. Sampai tiba-tiba Ciko menarik dan membawa ku ke taman. Ia mengajakku berdansa.

Di mobil kami saling diam.

“Sori gw lancang!” ucapnya.

Aku geleng-geleng kepala. “Loe nggak salah, gw juga minta maaf.”

“Dito cowok loe?”

“Tau dari mana?”

“Karena dari tadi loe ngeliatin dia terus.”

“Nggak! Dia bukan siapa-siapa gw.”

“Terus…hubungan loe sama perempuan itu gimana? Sori gw lancang nanyain ini, gw nggak sengaja liat kalian…”

“Udah, mending kita lupain aja! Loe nggak usah nangisin cowok kayak dia. Gw kenal Dito dan gw tau dia seperti apa. Nite!” pesannya mengelus rambutku.

Aku keluar dari mobilnya, setelah mobilnya menjauh dari pandanganku, aku baru masuk ke dalam. Suasana rumah begitu sunyi. Setelah melihat Bunda di kamarnya, aku ke kamar dan langsung membuka jendela.

14 Februari 08.

MENGAPA HARUS DI HARI INI?!

Huft…! Gw nggak nyangka loe bisa melakukan hal sejahat ini ke gw, Dit! KENAPA? Apa alasannya? Jahat! Gw nggak tau harus berkata apa lagi. Gw bingung menjelaskan masalah ini ke Bunda, gw malu menceritakan kejadian itu ke Icha dan Dita. Gw salah menilai loe, gw terlalu bodoh sampai percaya dengan semua omongan loe!

Angin malam masuk melalui celah jendela. Malam yang cerah, mereka pasti masih menikmati acaranya. Hp di tanganku sepi. Tidak ada lagi sms yang memberiku semangat dan ucapan selamat tidur seperti kemarin.

+_+

“Selamat pagi sayang? Gimana acaranya semalam, seru nggak?” pertanyaan Bunda menyambutku di pagi ini.

“Seru kok, Bund.”

“Loh, anak Bunda kok kayak nggak semangat gini sih?”

“Cuma perasaan Bunda aja.” Jawabku menyangkal.

“Cepat makan rotinya. Dito sudah menunggu di luar.”

Aku mengintip ke luar. Benar, dia sudah menungguku di sana.

“Kiran berangkat, ya?” Bunda lalu menghampiriku ke ruang tengah, disana ia mencium keningku. Selesai mencium kedua pipinya, aku pergi sekolah.

Tanpa menghiraukannya, aku berjalan keluar. Dito yang tahu aku tidak memperdulikannya langsung mengikutiku pelan-pelan dengan motornya sambil memanggil-manggil.

“Kiran! Kamu kenapa, kamu marah?!” teriaknya. “Kiran! Dengerin penjelasanku dulu!” ia terus mengikuti dan memanggilku. “Kamu kenapa? Dengerin aku dulu, kamu cemburu?!”

Mendengar ucapan barusan, aku menoleh lalu menghampirinya.

“Kamu kenapa?”

Par…!! Aku menamparnya. “SINTING!”

“Kiran!?” panggilnya lagi sesampainya di sekolah. Ia langsung menarik tanganku, “Dengerin penjelasanku dulu!” pintanya.

“Apaan sih!” aku menarik tanganku dari genggamannya. “Mau gw maluin loe di depan anak-anak?!” Par…! Aku menamparnya lagi, “Sori. Gw nggak kenal dan nggak akan pernah kenal sama loe!” aku langsung meninggalkannya.

Di kelas Icha dan Dita langsung menenangkanku.

“Sabar ya, Kir. Gw juga nggak nyangka Dito seperti itu,” tenang Icha.

“Ia, pokoknya loe tetap berfikir positif aja. Loe tenang, ya?” tambah Dita.

“Tuhan masih sayang sama loe, dia perduli dengan menunjukkan sifat asli Dito yang seperti itu ke loe.”

“Tapi kenapa harus di malam itu?”

“Udahlah, Kir. Loe nggak pantes nyeselin dan nangisin cowok kayak dia. Gw kenal loe, kok. Gw kenal Kiran yang nggak akan berlarut-larut dalam setiap masalahnya, dia akan terus bangkit karena memiliki motivasi. Hidup adalah pelajaran. Jadi, tersenyumlah! Kiran bukan seperti ini.”

“Bener apa yang di bilang Dita. Loe nggak pantes nangisin cowok kayak dia. Loe itu cewek tegar. Gw yakin loe bisa mengambil hikmah dari semua ini.”

Aku tersenyum. Sebelum mendapat yang terbaik, kita pasti akan jatuh bangun. Benar kata mereka, gw adalah cewek tegar yang nggak akan mudah menangis hanya karena putus cinta. Berfikir positif aja, gw yakin suatu saat nanti dia menyesal karena udah ngebuang gw gitu aja. Aku menghela nafas dalam-dalam lalu melengkungkan senyum ke mereka dan memeluknya.

“Semua itu akan gw anggap sebagai pelangi dalam kehidupan percintaan gw. Sesuatu yang indah tetapi tidak abadi.”

“Gila! Ungkapan loe keren! Tumben?” heran mereka.

He…

Mulai hari ini aku menjalani hari seperti biasa. Bangkit! Tidak terlarut dalam kesedihan. Walaupun tidak dapat di pungkiri, rasa amarah dan sakit hati masih mengendap di hati, tetapi…semua itu bisa hilang seiring berjalannya waktu. Pikirkan saja hal-hal yang positif. Hidup indah kalau kita membawanya dengan indah. Selesai bekerja, aku memanggil ojek yang biasa mengantarku pulang. Selesai membayar, aku segera ke dalam menemui Bunda. Kali ini deru mesin jahit terdengar jelas. Bunda, ia terlihat sibuk dengan jahitannya. Aku memeluknya lalu mencium kedua pipinya. Aku kangen…tidak seperti biasanya.

“Anak Bunda sudah pulang?”

Aku menganggukkan kepala. Aku masih mendekapnya.

“Anak Bunda kenapa, ya? Dari tadi pagi kok aneh, ada sesuatu?”

He-eh. Aku menganggukkan kepala lagi.

“Ada apa? Cerita saja ke Bunda.”

“Aku udah putus sama Dito.”

”Putus? Kenapa?” ia terlihat heran.

“Dia ngeduain aku.”

“Kamu tau dari mana? Siapa tau perempuan itu saudaranya?” terang Bunda untuk jangan cepat mengambil keputusan.

“Di depan mata Kiran dia melakukan itu. Perempuan itu manggil Dito, sayang.”

Bunda terdiam.

“Kemarin aku nunggu dia lama, Bund. Acara di mulai pukul delapan tetapi dia baru datang setengah sebelas. Udah gitu dia bawa cewek, lagi. Yang bikin aku sakit hati, dia bilang kalau aku temannya.”

Bunda mengelus-elus kepalaku.

“Cinta memang seperti itu, nak. Ada rasa sayang, kangen, cemburu, sakit hati, amarah, semua itu adalah warna-warni cinta. Tetapi kamu harus percaya, bahwa akhir dari cinta sejati itu pasti sebuah kebahagiaan.”

“Tapi kenapa harus disakitin?”

“Kalau tidak begitu, kamu pasti tidak akan mengenal yang namanya patah hati. Semua orang pasti pernah merasakan hal serupa. Kamu tahu, sebelum mendapat sesuatu yang indah, kamu harus menderita terlebih dahulu. Sudahlah, anak Bunda pasti tegar menghadapi ini semua. Bunda percaya kalau suatu saat nanti dia akan menyesal karena sudah memperlakukan kamu seperti itu. Ya sudah, sana mandi terus istirahat. Bunda mau menyelesaikan jahitan dulu.”

“Makasih! Kiran sayang banget sama Bunda!” aku mencium pipinya kemudian masuk ke kamar.

Tidak ada lagi yang mengsmsku di setiap malamnya, tidak ada lagi yang membangunkanku setiap pagi, tidak ada lagi orang yang menunggu dengan sabar di depan gerbang setiap pagi. Dito…Dito…Loe terlalu manis, tetapi juga cukup jahat ke gw. Terima kasih karena kamu sudah memberi warna di kehidupan aku.

+_+

Pagi ini aku melihat Bunda agak berbeda. Ia terlihat lelah dan pucat, tubuhnya pun sedikit kurusan.

“Kamu kenapa liatin Bunda seperti itu?”

“Ah…enggak. Cuma Kiran perhatiin akhir-akhir ini, Bunda agak kurusan. Bunda jangan terlalu lelah, ya? Bunda sakit?”

“Bunda nggak kenapa-napa, kamu jangan mikirin Bunda, ya? Bunda hanya kelelahan saja akhir-akhir ini.”

“Pokoknya Bunda jangan lupa makan, sesibuk apapun! Di jaga kesehatannya.” pesanku.

“Ia, bu dokter. Kamu sering nasihatin Bunda seperti itu.”

“Tapi Bunda tetep bandel, nggak pernah nurut omonganku.”

“Kamu tau dari mana? Orang kamu sering pulang malam.”

Aku diam mendengar pernyataannya. Ucapannya begitu mengena. Memang semenjak bekerja, aku jadi sering pulang malam dan tidak punya waktu untuknya. Aku mencium tangannya, setelah pamit, aku pergi sekolah.

Memasuki pertengahan Maret, siswa siswi kelas tiga akan terus di sibukkan dengan pelajaran tambahan, try out, dan segala macam jenis tes untuk menghadapi ujian yang akan diselenggarakan awal Mei. Dalam keadaan seperti itu, sebisa mungkin aku menginvestasikan waktu. Akhir-akhir ini Dita dan Icha sering datang ke tempat kerjaku untuk belajar bareng. Ciko pun mengerti keadaanku, sehingga dia memberi keringanan dalam bekerja. Mulai pertengahan bulan ini sampai selesai UAN, aku pulang jam delapan. Lumayanlah, jadi punya banyak waktu untuk belajar dan bersama Bunda.

Selesai bekerja, aku segera berganti pakaian dan pamit pulang. Di dekat ruangnannya, aku bertemu Ciko yang sedang melamun.

“Hai!” tegurku.

“Eh, loe! Kenapa?” kagetnya.

“Ngelamun aja gw liatin dari tadi. Balik dulu, ya?”

“Ia. Hati-hati!” ia mengelus-elus kepalaku. “Yang rajin belajarnya, Semangat!”

Aku membalasnya dengan senyuman.

Malam ini langit tampak cerah, bulan dan bintang tampak sepenuhnya tanpa dibayang-bayangi kabut gelap. Tidak terasa, bapak yang selalu mengantarku pulang sehabis kerja sudah membawaku ke tempat tujuan. Tanpa berlama-lama, aku langsung memberikan haknya.

Deru mesin jahit terdengar jelas dan lembut. Suara itu semakin terdengar saat aku tiba di ruang tengah. Seseorang yang tidak muda lagi disana, sedang sibuk dengan kain batik berwarna cokelat yang akan dibuatnya menjadi kemeja. Jam menunjuk ke pukul setengah sembilan. Setelah makan malam bersama, aku menemani Bunda menjahit. Sedih dan rindu sekali dengan hal-hal seperti ini. Sederhana dan sepele, tetapi tidak untukku. Tentu saat-saat seperti inilah waktu terasa begitu berharga dan berjalan lambat. Bermacam cerita, ekspresi, perasaan yang melimpah ruah, semuanya menjadi satu.

“Bunda nggak lagi sakitkan?” tanyaku. Ia terlihat pucat dan lelah.

“Bunda lagi sakit flu, sayang.”

“Kita istirahat aja, yuk?” ajakku.

“Sabar ya sayang, tanggung. Sebentar lagi selesai.”

“Huh…paling susah deh nyuruh Bunda istirahat kalau lagi jahit.”

Aku menunggunya dengan sabar sambil belajar bahan-bahan yang akan di UAN-in. Jam setengah dua belas Bunda baru selesai dengan jahitannya. Iapun mengajakku tidur.

“Malam ini aku mau tidur sama Bunda.”

“Ia.” jawabnya halus.

Di kamar,

“Kapan ujiannya, sayang?” tanyanya halus sambil mengelus-elus rambutku.

“Awal Mei, Bund.”

“Ada yang nggak kamu mengerti?”

“Ada, tapi Kiran bisa nanya ke guru, kok.”

“Ia, kamu jangan malu-malu bertanya. Kalau malu malah jadi susah sendiri.”

“Sip! Pokoknya Bunda percaya aja sama Kiran. Kiran nggak akan mengecewakan Bunda! Semangat!”

“Bunda percaya seratus persen sama kamu.”

“Kiran janji, sehabis UAN akan mengajak Bunda jalan-jalan! Bunda mau kemana? Pokoknya kita refreshing, kita bersenang-senang! Aku mau ngemanjain Bunda, sehaaari penuh!”

“Melihat kamu tersenyum saja sudah membuat hati Bunda bahagia, nak. Bunda nggak mau kemana-mana. Di rumah bersama kamu saja sudah membuat Bunda bahagia. Bunda doain, kamu lulus ujian dengan nilai yang memuaskan dan bisa masuk ke universitas impian kamu.”

“Amin! Pokoknya, setuju nggak setuju aku mau ngajak Bunda jalan-jalan!”

“Kiran?” panggil Bunda lembut. Suasana yang semula ramai, berubah agak tegang.

“Ia, Bund?”

“Kamu belajar yang rajin, ya? Jadi anak yang pintar, biar bisa ngebanggain orang tua.”

“Amin!”

“Semangat selalu dalam mengejar cita-cita, jangan mudah putus asa. Bunda doain, semoga Kiran menjadi orang sukses dan semua yang Kiran impikan terwujud. Mudah jodoh dan rezeki.”

“Amin. Bunda juga, semoga Bunda panjang umur, banyak rezeki dan hidup bahagia walau cuma hidup bersama Kiran.”

“Bunda selalu bahagia. Kamu bagai pelita dalam kehidupan Bunda. Bunda sayang sama kamu, Kiran sayang nggak sama Bunda?”

“Kiran sayang banget sama Bunda. Bunda adalah ibu terbaik yang Kiran miliki!”
Satu dini hari. Waktu cepat sekali berlalu. Kami harus tidur, karena hari esok sudah menunggu. Begitu hangat dan nyaman, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Nyaman, dan aku tertidur lelap sekali.

Cit…cit…cit…cit…cicitan burung gereja membangunkanku di pagi ini. Udara pagi yang sejuk langsung menyambut saat ku membuka jendela. Matahari sepertinya tidak serajin diriku di pagi ini. Mawar merah yang sudah layu masih terpajang di pojokan meja rias, di tangkainya masih terikat ucapan selamat hari kasih sayang pemberianku. Disisi lain terlihat beberapa bingkai foto. Tetapi paling banyak fotoku saat kecil dulu. Selesai mandi, aku langsung berpamitan dengan Bunda di dapur. Spirit in the morning! Aku memulai langkah hari ini dengan senyuman ceria. Saat ingin menutup pagar, terdengar suara piring jatuh dari arah dapur. Karena cemas, aku langsung berlari dan melihat apa yang terjadi disana,

“Bunda?” panggilku. “Bunda nggak kenapa-kenapakan?” tanyaku setibanya di dapur. BUNDA!!” teriakku. “Bunda kenapa? Bangun Bund, bangun! Bunda? Jangan buat aku cemas!” ia sudah tergeletak di lantai. “Bunda bangun!” isakku cemas. Dengan cepat aku mencari hp dan menelpon seseorang. “Bund, Bunda kenapa sih? Kenapa nggak bilang Kiran kalau lagi sakit?”

“Halo Ciko! Cik, loe bisa bantu gw nggak? Please, gw mohon, cepat ke rumah gw. Plis, gw mohon sekarang loe ke rumah gw. Plis…!” tangisku.

“Kenapa Kiran? Kenapa loe nangis? Tenang, ceritain semuanya ke gw pelan-pelan biar gw jadi nggak ikutan panik.”

“Bunda pingsan. Tolongin gw bawa di ke rumah sakit, mukanya pucat banget, gw khawatir sama dia. Cepet kesini, tolongin gw. Plis…!”

“Ok, ok! Gw pasti kesana. Loe jangan cemas ya, sebentar lagi gw sampai. Kebetulan gw lagi di jalan. Loe jangan panik, tenangin diri dulu. Sebentar lagi gw nyampe.”

“Makasih, ya? Makasih banget loe udah mau nolongin gw.”

“Sama-sama. Pokoknya tenangin diri loe dulu. Sepuluh menit lagi gw sampe.”

Beberapa menit kemudian Ciko datang dan langsung mengangkat Bunda ke mobil.

“Loe tenang, ya? Jangan nangis terus. Gw yakin Bunda nggak kenapa-napa.” tenangnya.

“Makasih, ya? Semoga Bunda nggak kenapa-napa.” aku lalu memeluknya.

“Percaya sama gw, Bunda pasti nggak kenapa-napa. Mungkin dia terlalu lelah, makanya pingsan.”

Aku terus menangis.

“Udah dong Kiran. Jangan nangis terus, ya? Loe nggak maukan kalau nanti Bunda sadar dia ngeliat loe lagi nangis? Loe nggak maukan nambah beban di pikirannya? Jangan nangis lagi, ya? Jangan buat Bunda khawatir. Oke?”

Aku menghapus air mataku.

Mobilnya sudah memasuki area rumah sakit. Setibanya di loby, Bunda langsung di bawa ke ruangan untuk diperiksa. Karena tidak boleh masuk, aku dan Ciko menunggu di luar.

Air mataku menetes lagi. Bund…Bunda nggak kenapa-kenapa, kan? Bunda jangan tinggalin Kiran. Bunda…

Ciko yang tidak tega melihatku terus-menerus menangis memberi pundaknya dan menenangkanku untuk kesekian kalinya. Akhirnya dokter yang memeriksa Bunda keluar,

“Jangan cemas, Bunda tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja. Sekarang dia sedang istirahat. Jangan menangis lagi, ya?”

Aku menganggukkan kepala.

“Makasih, Dok. Terima kasih banyak.” balasku.

Aku lalu menemuinya. Tubuh renta itu sedang terbujur lemah disana. Aku duduk didekatnya dan menggenggam tangannya.

“Cepat sembuh, ya. Bunda cepat sembuh. Kiran sayang Bunda selalu.” aku mencium keningnya.

“Cik, temenin Bunda dulu ya? Gw mau nelpon sebentar, mau izin sekolah.”

Ia mengangguk. Setelah menelpon Icha memberitahu Bunda masuk rumah sakit, aku kembali kedalam. Duduk disebelah Bunda sambil menunggunya sadar.

“Ciko?”

“Ya?”

“Makasih ya karena loe udah mau nolongin gw. Maaf kalau gw ngerepotin dan ganggu aktivitas loe. Habisnya gw bingung harus telpon ke mana, tadi.”

“Sama-sama. Gw nggak merasa di repotin kok. Oh ia, untuk saat ini sampai Bunda sembuh, loe nggak usah masuk kerja dulu. Loe ngurusin Bunda aja, nanti kalau udah sembuh total baru kerja lagi.”

“Bener?! Loe ngizinin gw? Nggak lagi bercandakan? Makasih ya, loe baik banget!” spontan ku memeluknya.

“Ia, sama-sama. Kir, sori ya gw nggak bisa nemenin loe lama-lama. Hari ini gw ada perlu, tapi kalau udah selesai gw kesini lagi kok.”

“Makasih, ya. Kalau nggak ada loe gw bingung harus minta tolong ke siapa lagi.”

“Ya udah kalau gitu. Gw pergi, ya.”

Hanya aku sendiri menemani Bunda saat ini. Sungguh sepi. Jam baru menunjuk ke pukul setengah satu. Icha dan Dita belum datang menjengukku, mungkin karena mereka belum selesai sekolah. Dengan sabar aku menunggu Bunda siuman. Tidak lepas ku panjatkan doa agar ia cepat sadar dan bisa kembali ke rutinitasnya.

Tok…tok…tok…terdengar suara ketukan. Kali ini jam menunjuk ke pukul dua, Icha dan Dita ada disana saat aku membukakan pintu. Mereka membawa parsel buah sebagai wujud prihatin.

“Loe yang sabar, ya?” Icha menenangiku.

“Ia. Pokoknya loe jangan merasa sendiri karena ada kita yang akan selalu siap dengan semua pertolongan loe.” tambah Dita.

“Makasih, ya. Gw sayang kalian.” aku memeluk mereka.

Saat ini hanya ketegaran dari sahabatlah yang aku butuhkan. Aku sangat beruntung memiliki teman seperti mereka. Sungguh, mereka sungguh berharga dalam kehidupanku. Teman, sampai kapanpun kalian adalah temanku. Apapun yang terjadi dalam pertemanan kita, kalian tetap temanku. Entah aku harus meminta tolong ke siapa lagi selain Tuhan kalau tidak ada kalian. Aku beruntung karena hidup di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku.

Setelah langit berubah menjadi gelap, mereka izin pulang.

“Besok kita kesini lagi. Loe nggak usah khawatir, ya?”

“Ia. Pokoknya kita akan selalu bantuin loe sampai Bunda sembuh. Hati-hati ya, kalau ada apa-apa hubungin kita.” pesan Icha.

Tidak ada ucapan lain yang bisa aku lontarkan selain terima kasih. Aku merangkul mereka kembali lalu melontarkan senyum.

Langit semakin gelap, aku terus terjaga di dekat Bunda. Detik terus melangkah, jam hampir menunjuk ke pukul sembilan.

“Kiran sayang?” terdengar suara lembut.

“Bunda?! Bunda sudah sadar?” kagetku. “Terima kasih Tuhan, Engkau telah mendengar doaku!” aku memeluknya.

“Maafin Bunda sudah membuat kamu khawatir.”

“Bunda kenapa, sih? Kiran takut banget, tau. Bunda kenapa? Kenapa sakit nggak bilang ke Kiran?”

“Bunda minta maaf sudah membuat kamu cemas. Bunda hanya kelelahan. Sekarang jangan khawatir lagi, ya?”
“Pokoknya mulai sekarang Bunda nggak boleh terlalu lelah!”

“Ia deh. Mulai sekarang Bunda akan nurutin semua yang kamu bilang.”

Kami saling melepas rindu, bersenda gurau sampai tidak terasa waktu sudah begitu larut.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini aku bangun lebih pagi dari Bunda dan langsung menuju dapur, menyiapkan makan pagi dan beres-beres rumah.

“Kiran, biar Bunda saja yang ngerjain itu. Kamu sekolah, lagian Bunda udah sembuh kok.”

Aku tidak menghiraukan ucapannya. Aku tetap sibuk dan melakukan kegiatan yang Bunda lakukan setiap harinya.

“Kiran?” panggilnya lagi.

“Kalau nggak begini Bunda tuh nggak ngerti! Bunda jangan egois dong, Kiran itu khawatir banget kemarin. Ngertiin Kiran, Kiran nggak mau Bunda kenapa-kenapa lagi. Kasih kesempatan Kiran untuk melakukan ini semua sampai Bunda sembuh. Dan Bunda harus nurutin Kiran, sekali ini aja. Sekarang Bunda istirahat.”

“Ya sudah.”

“Bunda boleh melakukan apa saja. Tetapi kalau aku suruh istirahat, istirahat.”

Aku benar-benar pusing dengan semua ini. Ku lupakan sejenak urusan sekolah dan kerjaan demi kesehatan Bunda.

Waktu berjalan dengan cepat, akhirnya, waktu makan malam mendekatkan kami lagi.

“Bunda sudah sehat. Besok kamu sekolah, ya?”

“Aku nggak akan sekolah sampai Bunda benar-benar sembuh.”

“Bunda sudah sembuh, sayang. Bunda sudah sehat, percaya deh. Kalau begitu Bunda janj deh ke kamu untuk nggak kerja cape-cape.”

“Aku lega mendengarnya. Kalau begitu, besok aku sekolah. Tapi Bunda janji!”

“Ia. Bunda janji.”

“Kalau begitu habis makan malam Bunda langsung tidur, nggak boleh megang jahitan!”

“Siap, Bu!”

Selesai makan kami kembali ke kamar masing-masing.

Puji Tuhan! Terima kasih karena Engkau memberi kesehatan kepada Bundaku. Aku sungguh khawatir sekali, untung Bunda hanya kelelahan. Beri dia umur panjang dan kesehatan, Tuhan! Aku sangat menyayanginya, aku janji akan lebih meluangkan waktu untuknya.

6

Dua minggu dari peristiwa itu, Bunda masuk rumah sakit lagi. Sungguh sedih hati ini, manakala harus menanggung beban sendirian. Untung ada Icha dan Dita yang selalu datang dan menyemangatiku. Terlebih Ciko, dia sudah baik banget sama aku. Dia nawarin diri untuk membayar biaya rumah sakit, tetapi ku menolak karena masih bisa usaha sendiri untuk membiayai rumah sakit. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah dukungan moril, dan aku mendapatkannya dari orang-orang disekeliling ku yang sayang padaku. Hari ini adalah hari di akhir bulan Maret, keadaan Bunda sama seperti kemarin, belum sadarkan diri. Ciko yang ada disampingku selalu menenangkan dan membantuku. Dialah yang selama ini membantu dan bersedia menolong setiap aku membutuhkan, terlebih di bulan-bulan ini, semenjak Bunda sering masuk rumah sakit. Dia yang menenangkanku, dia yang selalu menjagaku dan Bunda, dia yang selalu menolongku, dia adalah pria yang baik. Menyesal sekali wanita itu meninggalkannya. Malam ini hanya ada aku dan Ciko menemani Bunda. Malam ke tiga ia masih tak sadarkan diri. Suster yang merawat Bunda hanya menjelaskan bahwa ia kelelahan. Sebenarnya Bunda sakit apa? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku bingung sekali memikirkannya.

“Kir? Loe tidur, ya? Percaya deh sama gw, besok Bunda pasti sudah sadar. Udah malam, loe pasti kelelahan, biar gw yang jagain Bunda.”

“Gw nggak ngantuk, Cik. Mending loe aja yang tidur, loekan juga belum istrahat dari kemarin gara-gara nemenin gw. Gw mau nunggu Bunda sampai sadar.”

“Kiran.” ucapnya halus, “Kalau begini terus loe bisa sakit. Ayo dong nurut sama gw, muka loe tuh udah pucet banget,”

Aku geleng-geleng kepala. “Gw nggak akan cape apalagi ngantuk.”

“Gini aja, deh. Gw janji akan bangunin loe secepatnya kalau Bunda sudah sadar. Biar gw yang jagain dia, dan loe tidur. Gw nggak akan tidur dan akan terus jagain Bunda, gimana?”

Aku menganggukkan kepala.

“Nah, gitu dong! Ya udah, tidur yang nyenyak ya? Jangan lupa berdoa.”

Sementara aku tidur di sofa, Ciko tetap terjaga didekat Bunda. Malam semakin larut dan suasana berubah teramat hening, hanya detikan jam yang terdengar sayup malam itu.

“Pagi!” sapaan itu membangunkanku dari tidur.

“Keluar dulu, ya? Biar kami periksa ibu kalian.”

Aku dan Ciko keluar karena dokter akan memeriksa keadaan terkini dari Bunda.

Aku duduk di luar dengan cemas. Seperti biasa, Cikolah yang selalu menenangkanku.

Suster yang membantu memeriksa Bunda keluar,

“Sus, bagaimana keadaan Bunda? Sebenarnya dia sakit apa?”

“Kamu tidak perlu khawatir. Ia hanya terlewat lelah saja, tekanan darahnya turun. Ia sudah sadar, kamu bisa menemuinya sekarang. Tetapi jangan diajak banyak bicara dulu, ya? Karena ia harus banyak istirahat.”

“Baik Sus. Makasih, ya!” aku sangat gembira mendengar Bunda sudah siuman. Aku lantas kedalam, sedangkan Ciko izin pulang karena ada urusan mendadak. Aku masuk perlahan untuk menghindari suara gaduh. Wanita yang sudah lima hari tidak sadarkan diri itu kini membuka matanya. Saat aku semakin dekat ke arahnya, ia melengkungkan senyum. Air mata yang selalu tertahan akhirnya jatuh juga,

“Aku khawatir banget sama Bunda? Bunda sakit apa, sih? Aku nggak mau Bunda begini terus. Apa yang harus Kiran lakukan, apa Kiran harus berhenti sekolah agar bisa membantu Bunda kerja di rumah? Kiran takut kehilangan Bunda, Bunda jangan buat Kiran begini lagi, ya? Bunda jangan buat kiran cemas. Kiran takut!” aku terus menangis di pelukannya.

“Maafin Bunda sayang, maaf kalau Bunda sudah membuat kamu khawatir. Kiran jangan sedih lagi, ya? Bunda sudah tidak apa-apa, kok.” ucapnya renta sambil menghapus air mataku. “Sayang, kamu terlihat lelah sekali. Sekarang kamu tidur, ya? Bunda disini jagain kamu.”

Aku geleng-geleng kepala.

“Kiran curang, ya? Tadi nyuruh Bunda untuk tidak membuat kamu cemas, sekarang malah kamu yang buat Bunda khawatir. Tidur ya, nak? Bunda akan terus disini jagain kamu.”

Aku menganggukkan kepala. Aku langsung memejamkan mata yang sudah begitu berat, seperti janjinya, ia terus menjaga dan menenangkan hatiku.

“Anak Bunda yang cantik, kamu adalah anak yang baik. Bunda akan selalu mendoakan kamu nak, agar sukses dalam meraih cita-cita. Mendapatkan jodoh yang baik, dijauhi dari semua yang jahat, disayangi semua orang. Kiran, kamu adalah anak yang manis, anak yang menghormati dan menyayangi keluarga. Kamu pantas hidup bahagia, nak. Kamu tidak pantas hidup bersama Bunda yang penuh dengan penderitaan, hidup sengsara dan kesedihan. Kamu beruntung sayang, banyak orang disekeliling kamu yang menyayangimu apa adanya. Meskipun akhirnya orang itu menyakitimu, tetapi kamu memaafkannya, tetap baik dan ramah, tidak membencinya, dan Bunda harap kamu terus seperti itu, memaafkan orang yang telah berbuat jahat terhadapmu. Kiran cantik, anak Bunda yang paling di sayang, Bunda bahagia sekali saat kamu hadir di kehidupan Bunda. Hidup Bunda jadi lebih bermakna dan penuh warna, Bunda selalu kuat menghadapi setiap masalah semenjak ada kamu. Tumbuhlah menjadi anak yang pintar, cantik dan dewasa. Suatu saat nanti, bahagiakanlah orang yang kamu sayang, banggakan dia.”

“Bunda?” aku terbangun. “Bunda kenapa, kok liatin Kiran seperti itu? Bunda nggak tidur?”

“Bunda nggak tidur sayang, Bunda nggak ngantuk. Tadi Bundakan sudah janji akan jagain kamu saat kamu tidur. Ayo tidur lagi.”

“Aku udah nggak ngantuk. Sekarang Bunda aja yang tidur, gantian Kiran yang jagain Bunda.”

“Bunda nggak mau tidur, nggak ngantuk.”

“Ya sudah, kalau begitu Kiran akan terus menemani Bunda disini.”

“Kiran?” panggilnya halus. “Kamu menyesal punya ibu seperti Bunda?”

“Bunda kok ngomong gitu?”

“Kamu menyesal hidup kita seperti ini?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Kamu tidak mempunyai ayah, hidup kamu pas-pasan, dari dulu Bunda nggak pernah manjain kamu dengan membelikan mainan seperti anak-anak lainnya. Hidup kamu susah, kamu nggak bisa pergi sama teman-teman karena kasihan Bunda sendiri di rumah, kamu juga belum berani pacaran karena takut akan lebih memperhatikan pacar kamu dari pada Bunda, semua uang yang kamu punya, adalah jerih payah mu dari menabung, tetapi kamu tidak memakainya untuk bersenang-senang dengan teman-teman, kamu malah menggunakannya untuk kebutuhan kita sehari-hari. Kamu menyesal karena Bunda tidak pernah sedikitpun membahagiakan kamu dengan materi? Apa kamu malu dengan hidup yang seperti ini? Setiap sore jualan sayur dan lauk keliling? Masih ingat, waktu SMP kamu jualan gorengan?”

“Kiran sedih, Kiran benci, Kiran kesal dengan hidup Kiran! Kiran sangat membenci ayah, Kiran membenci kehidupan Kiran yang seperti ini, bukan karena tidak memiliki materi, tetapi karena kehilangan anggota keluarga, kehilangan sesosok ayah. Aku nggak pernah tahu ayah dimana dan seperti apa? Dari dulu Bunda hanya menjelaskan kalau ayah itu jahat, tidak bertanggung jawab dengan keluarga. Lupakanlah! Kalau memang keadaan tidak bisa dirubah, mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi, mungkin ini takdir kita! Tetapi satu yang aku junjung tinggi, hidup bersama Bunda, dapat menggantikan semuanya. Harta, kasih sayang, Kiran tidak merasa kekurangan sedikitpun selama hidup dengan Bunda. Jadi, apakah Kiran menyesali kehidupan ini? TIDAK! Tuhan telah mengirim orang terbaik untuk menjaga Kiran, sehingga Kirang tidak perlu menyesali hal-hal yang seperti itu. kiran sayang dan ingin sekali membahagiakan Bunda!”

Bunda meneteskan air matanya, baru kali ini aku melihatnya menangis.

“Bunda akan merasa kehilangan dan rindu sekali kalau harus berpisah dengan mu, nak.”

“Kita akan terus bersama. Kiran nggak mau dan tidak pernah rela kalau harus kehilangan Bunda.”

“Kalau takdir memisahkan kita?”

Aku diam.

“Apakah anak Bunda siap, kalau hal itu terjadi?”

Aku tetap diam, air mataku menetes.

“Jawab sayang,”

Aku masih diam.

“Kalau Kiran seperti ini, Bunda jadi tidak tenang.”

Tangisku menjadi-jadi.

“Kenapa menangis?” ia memelukku.

“Semua orang pasti akan berpisah dengan orang yang di cintainya. Kamu pasti tau, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan,”

Aku tidak memperdulikan omongannya, aku terus menangis.

“Bunda memangnya mau kemana? Bunda nggak berniat ninggalin Kirankan? Kiran bandel ya, Kiran nakal, Kiran suka pulang malam terus? Kalau Kiran jujur ke Bunda, Bunda nggak akan ninggalin kirankan? Maafin Kiran kalau selama ini Kiran berbohong. Selama ini Kiran kerja di tempatnya Ciko, makannya pulang larut terus.”

Bunda tersenyum.

“Bunda tahu kamu kerja, kamu tidak bisa membohongi Bunda. Lain kali jujur ya ke Bunda? Bunda nggak akan marahin kamu, kok. Kalau itu bisa membuat kamu senang dan bahagia, Bunda tidak akan melarang.”

“Maafin Kiran, Kiran sudah berbohong ke Bunda.”

“Bunda lega, akhirnya kamu mau jujur juga.” ia lalu tersenyum.

“Bunda nggak jadi pergikan?”

Ia diam.

“Kamu mau maafin Bunda, nak?”

“Maafin apa?” aku menyeka air mata.

“Kamu mau janji tidak akan marah apalagi membenci Bunda?”

Tiba-tiba nafas Bunda menjadi sesak,

“Bunda?!” teriakku panik.

“Kamu relain Bunda, ya?”

“Nggak! Bunda nggak akan kemana-mana!”

“Ka…mu harus relain Bun…da,” dengan nada yang terengah-engah.

“Nggak!” aku geleng-geleng kepala.

“Kamu harus rela, nak.”

Aku memeluknya, air mataku semakin tak tertahankan.

“Kiran sa…yang, se…be..narnya ka…mu bu..kan anak Bun…da.” tutupnya mengakhiri hidupnya.

“BUNDA!!! DOKTER! Bunda jangan, Bunda jangan tinggalin Kiran! Bunda…..! Nanti Kiran hidup sama siapa? Kiran nggak punya siapa-siapa lagi, hanya Bunda yang Kiran miliki. Dokter!? Tolongin Bunda saya, dokter….” Aku terus mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Bunda…..!?” suster membawaku keluar.

Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksa Bunda keluar dan memberi tahu bahwa Bunda tidak bisa diselamatkan lagi. Penyakit gagal ginjal yang menyebabkan ia meninggal.

“Bunda…!” aku terus menangis di sebelah jasadnya. “Bunda jahat! Jahat! Kenapa seperti ini, kenapa Bunda tega ninggalin Kiran?! Kiran hidup sama siapa, Kiran nggak punya siapa-siapa lagi, siapa yang akan nyemangatin Kiran nanti? Bunda jahat. Bunda…….!” Aku menangis sejadi-jadinya. “Bunda jangan tinggalin Kiran. Jangan tinggalin…aku udah nggak punya siapa-siapa lagi. Aku hidup sama siapa? Kenapa Bunda jahat ninggalin aku sendiri? Bunda jahat, aku benci!!!! Aku mau ikut Bunda aja, aku mau mati!” Tiba-tiba seseorang datang dan berdiri disampingku. Ia memberikan pundaknya untukku menangis, lalu bersedia memberi sapu tangannya untuk menyeka air mataku. Ia membelai rambutku, ia terus menemaniku menangis.

“Maaf kalau gw baru bisa ada di samping loe saat ini.” ia memelukku, aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.

“Kamu harus merelakan semua ini. Semua sudah menjadi kehendak-Nya. Relakan Bunda, relakan kepergiannya agar ia tenang disana. Kita keluar, ya? Biar kamu tenang.”

“Gw mau disini nemenin Bunda.”

“Kalau begitu aku tunggu di luar, ya? Kamu jangan melakukan hal yang macam-macam. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini, aku kenal kamu, dan aku tau kamu seperti apa.”

Lantas ia pergi meninggalkannku.

“Bunda?” air mataku menetes lagi.

“Meskipun Bunda bukan ibu kandung Kiran, tetapi Kiran tetap akan menganggap mu ibu. Engkau tetap Bunda Kiran, bunda yang akan selalu ada di hati Kiran, selamanya tidak akan tergantikan. Aku sangat menyayangimu, Bunda! Hiduplah bahagia disana, Kiran akan selalu memanjatkan doa untukmu. Sertai Kiran selalu Bunda, agar Kiran kuat melewati semua hidup yang kini tanpa mu. Doakan Kiran agar Kiran bisa menjadi anak yang Bunda harapkan. Kiran sayang banget, Kiran bersyukur, Kiran sangat berterima kasih karena Tuhan telah mengirim orang yang begitu menyayangi Kiran. Kiran tidak pernah menyesali sedetik pun hidup bersama Bunda. Terima kasih ibu, terima kasih karena engkau sudah merawatku dengan sepenuh hati, dengan penuh kasih sayang berlimpah, yang mengalahkan dari semua materi. Kiran sayang Bunda, Kiran sayang banget. Pergilah dengan tenang, Kiran sudah ikhlas melepasmu. Ya Tuhan, hapuskanlah semua dosa yang telah dilakukan disepanjang hidupnya, terimalah ia disisi-Mu.” selesai mencium dan memeluknya untuk terakhir kali, aku meninggalkannya.

+_+

Langit di bulan ini sungguh kelabu. Matahari yang selalu setia dengan siang kini tampak enggan. Ia masih setia menemaniku di makam. Dia tahu, sebelum air mataku terjatuh, ia sudah mengulurkan sapu tangannya. Saat aku membutuhkan kekuatan, ia memberikan pelukannya.

“Sudah mau pulang?”

Aku mengangguk.

“Aku bisa mengantar kesini kapanpun kamu mau.”

“Makasih ya karena dari kemarin udah nemenin gw. Ngomong-ngomong loe siapa? Temennya Ciko?”

Ia mengantarku sampai rumah.

“Sori kalau langsung ngenalin diri. Gw Edgar.” ia mengenalkan dirinya.

“Edgar?” aku tidak mengenalnya.

“Lupa ya? Wajar, sih. Soalnya pikiran loe akhir-akhir ini lagi kalut. Kita juga udah lama nggak ketemu. Pertama kita ketemu itu di sekolahannya Candy.” terangnya.

“Candy?”

“Loe masih belum ingat, rupanya? Maaf kalau gw terlalu maksa. Gw tau waktunya nggak tepat, gw salah. Maaf…”

“Sori ya, gw tinggal dulu.”

Edgar mengangguk. Aku melangkahkan kaki ke kamar Bunda. Air mataku menetes untuk ke sekian kalinya. Beberapa foto yang terpampang di meja riasnya mengingatkanku kembali padanya. Bunga mawar pemberianku saat valentine masih pada tempatnya, kartu ucapannya pun masih tergantung di tempat semula. Aku membuka laci. Disana aku menemukan sebuah kalung berbentuk hati. Saat membukanya, aku melihat foto sebuah keluarga, suami istri beserta bayi perempuannya. Tidak jauh dari tempat ku menemukan kalung tersebut, aku menemukan sebuah surat. Tertulis, dari Bunda untuk anakku tersayang, Kiran.

Bunda harap saat kamu membaca surat ini, hati kamu dalam perasaan tenang. Sebelum itu, satu yang harus kamu ketahui, bahwa sampai kapanpun, Bunda tetap akan menganggap mu anak Bunda. Bunda sayang sekali dengan Kiran. Kiran pasti tahu bagaimana perasaan dan kehidupan Bunda sejak ada kamu? Bahagia sekali sayang! Hidup Bunda jadi berwarna. Senyummu, tawamu, tangismu meminta susu, manjamu, bagaikan sebuah pelangi kehidupan yang selalu membahagiakan Bunda. Semua itu masih terekam jelas dalam memori, sayang. Apalagi saat kamu belajar jalan, saat kamu belajar berkata-kata, dan puncak kebahagiaan itu tiba, kamu bisa memanggil bunda. Maaf kalau hidup kamu menjadi seperti ini karena ikut Bunda. Tetapi Bunda selalu bekerja keras agar hidup Kiran tidak sengsara, agar semua kebahagiaan dan cita-cita Kiran bisa terwujud. Kiran bagai batu permata untuk Bunda. Tidak akan rela melepas ataupun membiarkannya walau sekejap. Kiran sayang, sebenarnya Bunda masih ingin lebih lama lagi hidup dengan kamu. Bunda ingin sekali melihat kamu bahagia saat kamu berhasil dalam meraih mimpi-mimpimu. Bunda ingin mendampingimu saat kamu menikah nanti. Maaf kalau Bunda tidak bisa menepati semua itu, Bunda minta maaf sekali. Tetapi kamu tidak perlu khawatir, karena masih banyak orang-orang disekeliling kamu yang perduli dan menyayangi kamu apa adanya. Kamu masih memiliki keluarga sayang, Anggun Nasution adalah ibu kandungmu. Foto yang ada di kalung itu, merekalah keluargamu, bayi yang di gendong itu adalah kamu saat berumur satu bulan. Kiran sayang, carilah mereka, kembalilah ke pelukan mereka. Bunda yakin, mereka pasti sangat merindukamu. Bagaimanapun juga, mereka adalah keluargamu. Kembalilah kepelukannya, bagaimanapun juga ia yang telah mengandung mu selama sembilan bulan. Jangan menangis, ya. Bunda yakin, kamu adalah anak yang kuat, kamu adalah anak yang tegar, setegar mamamu. Ingat pesan Bunda ya sayang, Kiran harus mencari dan menemui mama, karena bukan tanpa alasan mereka meninggalkanmu sayang. Sebenarnya mereka sangat menyayangi kamu. Beruntung sekali mereka memilikimu sayang. Jangan dulu membencinya, dengarkan semua penjelasannya. Bunda mohon, kamu jangan menyalahkan mereka, jangan membencinya, Bunda yakin mereka pasti juga terluka, sama sepertimu. Lagi pula ibu mana yang mau dipisahkan dari anaknya? Sekali lagi, kamu adalah anak yang beruntung sayang. Maafkanlah mereka, jangan membencinya dan terimalah permintamaafannya, sesakit apapun itu alasannya. Selamat tinggal anakku. Bunda doakan selalu yang terbaik untukmu. Jangan bersedih lagi ya? Jangan membenci Bunda, apalagi membenci mamamu.

Mata ini terus menangis, dan mulut ini terus menyebut-nyebut namanya, “Bunda…jangan tinggalin Kiran. Kiran nggak kuat.”

Tidak tahu kapan ia masuk, tiba-tiba Edgar sudah ada di dekatku. Ia merelakan pundaknya untukku menangis.

“Kenapa? Kenapa hidup gw seperti ini? Kenapa?! Apa ini sebuah karma? Gw nggak kuat, nggak kuat!” aku terus menangis sejadi-jadinya. “Nggak kuat! Gw mau mati aja!”

Edgar terus menenangiku.

“Semua jahat! Kenapa Bunda ngerahasiain ini dari Kiran? Gw bingung, gw bingung harus nyalahin siapa?! Kenapa sih, kenapa hidup gw seperti ini?! Kenapa masalah terus aja datang bertubi-tubi?! Dulu gw selalu kuat menghadapi masalah. Tapi sekarang nggak lagi, udah nggak ada lagi orang yang bisa nyemangatin gw, nguatin gw kayak dulu. Semua udah nggak ada, nggak ada lagi yang perduli sama gw!” aku melempar kalung itu jauh-jauh.

“Loe salah. Masih ada gw. Gw yang akan membuat loe tersenyum seperti dulu. Gw janji, ini adalah terakhir kalinya gw melihat loe menangis. Gw sangat perduli terhadap loe.”

“Bohong! Paling loe sama kayak Dito yang cuma mainin perasaan gw, atau Ciko??!”

“Loe salah. Gw nggak kayak mereka. Gw akan membuktikannya ke loe. Gw akan bantu nemuin ibu kandung loe.”

Air mataku sedikit mereda.

“Bener loe mau bantuin gw?”

“Ia. Gw akan berusaha membuat loe tersenyum seperti dulu.”

Aku menghapus air mataku.

“Kalau gitu gw pulang dulu, ya? Besok gw akan bantu nyari ibu kandung loe, sampai ketemu! Udah ya, jangan nangis terus. Tapi kalau loe mau tetep nangis sih nggak apa-apa, masih ada gw ini yang selalu siap membuat loe tersenyum!”

“Apaan sih? Gombal!” ledekku lalu menyunggingkan senyum.

“Nah, gitu dong! Senyum!” ucapnya mengelus-elus kepalaku.

Aku mengantarnya sampai pintu gerbang.

“Tidur yang nyenyak, ya. Jangan nangis lagi, kalau loe terus-terusan sedih gw jadi bingung. Besok pagi, sebelum loe membuka mata gw udah ada disini, lagi duduk sambil nunggu loe bangun. Da…anak manja!” pamitnya mengelus-elus kepalaku lagi. “Ingat! Jangan nangis lagi. Besok gw akan bantu loe nyari. TIDUR YANG NYENYAK!” teriaknya yang sosoknya tidak terlihat lagi tertutup gelap malam. Sebuah kartu ucapan yang sedikit mencuat dari kotak pos mengalihkan pandanganku. Aku membuka dan menemui setangkai mawar putih yang sudah layu. Kartu ucapan itu tertulis, Happy valentine and happy b’day 🙂 from Edgar.

+_+

Edgar benar-benar menepati janjinya. Ia datang saat aku belum membuka mata. Dengan sabar ia menungguku bangun.

“Pagi.” salamnya saat aku sadar. “Tidur loe lama juga. Nggak biasa bangun pagi, ya? Dasar males!”

“Enak aja! Pagi-pagi udah nyari ribut! Asal loe tau ya, setiap hari tuh gw selalu tidur diatas jam dua belas dan harus bangun setengah lima. Sekarang juga baru jam berapa?”

Edgar mengambil jam di dekatnya.

“DELAPAN LEWAT LIMA?!” kagetku.

He-eh! Tegasnya.

“Cepet bangun. Gw udah lama nih nunggu loe! Sarapannya udah dingin, deh.”

“Emang loe kesini jam berapa?”

“Jam enam. Ya udah sana mandi! Gw tunggu di meja makan, habis itu kita nyari nyokab loe.”

“Ia, ia!”

Selesai mandi aku langsung menghampirinya di meja makan.

“Cepet makan. Abisin, ya. Soalnya kita mau jalan jauh.”

“Jalan jauh?” heranku. “Kemana? Emang loe udah tau nyokab gw dimana?”

“Ya nggak tau, kita cari-cari aja. Udah sih cepet makannya, nanti keburu siang. Makan yang banyak, habisin!”

“ia, ia! Sabar. Ini semua loe yang nyiapin?”

“Bukan.”

“Terus siapa?”

“Ada deh! Nanti loe heran lagi. Udah, makan yang banyak. Nanti kalau loe tiba-tiba laper di jalan gw nggak mau beliin. Mahal! Gw lagi ngirit soalnya.”

“Iiihhh…” cibirku kesal. Aku meneguk susu cokelat yang sudah tidak hangat lagi.

Dret…dret…dret…

“Sebentar, ya?” pamitnya lalu meninggalkanku.

“Ia, bagaimana pak? Sudah ada hasilnya?”

“Oke-oke. Baik, terima kasih.” tutupnya.

“Siapa?” tanyaku sekembalinya.

“Editor gw. Dia ngasih kabar tentang buku gw yang mau diterbitin.”

“Oh…Ga?” panggilku halus, “Loe yang ngirim mawar putih itu?”

Suasana berubah hening.

“Ia. Loe baru tau?”

“Sori.”

“Nggak apa-apa, gw tau keadaan loe.”

“Loe marah?” tanyaku.

“Nggak. Gw nggak marah.”

“Makasih, ya. Loe tau nggak?”

“Apa?”

“Loe adalah orang pertama yang ngucapin gw selamat ulang tahun.”

“Oh ia?”

“Ia. karena sibuk dengan jahitannya, Bunda lupa dan nggak ngucapin selamat ulang tahun ke gw. Sedih ya?”

“Kir?”

“Ya?” jawabku halus.

“Semoga loe nggak marah kalau gw ngucapin ini. Tapi menurut gw, ini adalah waktu yang tepat.”

“Ada apa, Ga?”

“Gw sayang sama loe.”

“…Secepat ini?”

“Loe salah, gw suka sama loe dari dulu. Sejak perjumpaan kita yang pertama,”

Aku terdiam.

“Loe ingat?” tanya Edgar.

“Ia, gw ingat. Perjumpaan kita yang pertama itu di sekolah Pelita Bangsa. Sampai sekarang?”

“Sampai detik ini dan detik-detik berikutnya.”

“Kenapa?”

“Karena loe beda. Loe punya ketertarikan yang nggak bisa semua orang miliki.”

“Dito juga bilang begitu.”

“Gw suka loe pada pandangan pertama, dan sampai kapanpun kesan itu tidak akan pernah hilang dari diri loe.”

Aku tersenyum. “Kenapa baru sekarang?”

“Ceritanya panjang,”

“Terus, tau semua tentang gw dari mana?”

“Jangan marah, ya? Gw ngirim mata-mata buat nyelidikin loe.”

“Nyelidikin gw?”

“Ia. Gw ngirim mereka untuk ngejagain loe sama Bunda.”

Aku terpana.

“Mereka juga yang selalu nolong loe disaat kesusahan,…”

“Termaksud saat gw membutuhkan sepeda? Ngirimin kaset BBF? Jadi ojek dadakan? Bantuin saat gw ditabrak?” aku menebak maksudnya.

“Ia…Itu semua gw yang lakuin.”

“Jadi semua itu ulah loe?”

“Bukan ulah, tapi perbuatan. Maaf kalau merasa risih dan ngggak suka dengan semua cara gw. Gw cuma mau nolong loe doang.”

“Gw nggak marah. justru terharu. Tapi kenapa loe lakuin itu semua?”

“Karena gw sayang. Gw mau selalu ngelindungin dan ngebahagiain loe. Itu semua gw lakukan karena gw cinta dan sayang sama loe.”

Aku tersenyum terharu. “Mungkin bagi loe ini terlalu cepat. Tetapi gw juga suka sama loe sejak pertemuan kita yang pertama, mungkin inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama. Makasih ya karena loe mau dateng dan nemenin gw disaat seperti ini.”

“Itulah fungsi gw! Hehehe…” matanya menyipit saat ia tertawa, padahal tidak ada darah oriental di tubuhnya.

Aku pun ikut tertawa.

“Aku senang kamu udah nggak sedih lagi. Sekarang aku sudah siap nganter kamu mencari ibu kandungmu!”

Kami menuju ke Honda jazz berwarna putih susu yang di parkir tak jauh dari depan rumah. sepanjang perjalanan, kami saling mengobrol, membicarakan semua hal yang membuat kami semakin dekat.

“Kamu curang udah tau semua hal tentang aku!”

“Ya udah, sekarang tugas kamu dong cari tau semua tentang aku.”

“Gimana caranya? Akukan nggak punya mata-mata kayak kamu.”

“Terserah gimana caranya! Ah…kamu payah.” ledeknya.

Berada disekatnya selalu terasa nyaman dan penuh tawa. Ia bisa membuatku tersenyum dalam keadaan seperti ini, ia bisa membuatku nyaman saat hatiku sedang gundah dan khawatir. Sampai akhirnya kami saling terdiam karena kehabisan kata-kata. Kini bukan ucapan lagi yang terlontar untuk menunjukkan rasa sayang, tetapi perbuatan. Selama di perjalanan, tangan kirinya selalu menggenggam tanganku. Tak pernah ia lepaskan, erat genggamannya.

“Entah kenapa, gw merasa nyaman sekali berada didekat loe. Gw sayang loe, Ga.” ucapku dalam hati.

“Ga?” panggilku.

“Ya?”

“Aku sayang kamu.”

Ia tersenyum manis ke arahku. “Aku juga sayang kamu. Jangan sedih lagi, ya?”

Aku mengangguk.

Ia memperlambat laju kendaraannya. Lama-lama mobil yang ku tumpangi berhenti. Tak ada kata yang saling kami ucapkan. Hujan pun turun dari langit. Ia masih menggenggam tanganku. Kami saling memandang kedepan.

“Maaf kalau selama ini aku nyakitin perasaan kamu,” ucapku.

“Semua bukan salah kamu. Wajar kalau banyak orang yang suka sama kamu, akupun mengerti.”

“Kamu pasti kecewa saat tau aku jadian dengan seseorang?”

“Nggak, aku bahagia.”

“Kamu pasti senang saat tau aku di putusin?”

“Nggak, aku sedih.”

“Kenapa kamu peduli sama aku?”

“Karena aku sayang, dan ingin membuat kamu bahagia.”

“Kamu janji nggak akan ngecewain dan buat aku sedih lagi?”

Edgar terdiam.

Genggamannya merenggang, ia lalu menatapku.

“Aku janji nggak akan buat kamu kecewa, aku juga janji akan membuat kamu selalu tersenyum.”

Aku tersenyum ceria, Edgar lalu memelukku.

“Kir…Apapun yang terjadi, kamu harus percaya sama aku. Kamu bisa ngandelin aku.”

Aku menganggukkan kepala.

Ia lantas menjalankan mobilnya. Hujan kini sedikit mereda, rintikannya membuat siang ini menjadi sejuk. Mobilnya kini memasuki kompleks perumahan, setelah belokan kedua, mobilnya berhenti tepat didepan rumah mewah bergaya minimalis.

“Kita dimana, Ga?”

“Sebentar ya, ada sesuatu yang ketinggalan.”

“Itu rumah kamu?”

“Ia.”

“Aku tunggu disini aja, ya?”

“Kamu ikut turun, biar sekalian aku kenalin ke mama. Kamu udah lama jugakan nggak liat Candy?”

“Oh ia, gimana kabarnya, ya?”

“Baik. Tapi kalau jam segini dia…, “ melihat jam ditangannya, “Candy belum pulang.”

Aku mengikuti langkahnya. Melewati jalan setapak yang berada di tengah-tengah taman kecil sebelum sampai ke ruang tamu. Kesan minimalis begitu terasa di rumah ini.

“Kamu tunggu sebentar, ya?” ucap Edgar yang lantas kedalam.

Aku mengamati keadaan sekitar. Saat sedang memperhatikan sekelilingku, Edgar datang bersama mamanya.

“Ma, tolong certain ke aku!” ucap Edgar dengan nada marah.

Aku dan perempuan paruh baya itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Edgar.

“Kamu kenapa? Mama nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba marah?”

“Alah! Jangan sok nggak tau deh! Aku tuh tau semuanya. Mama adalah orang terjahat yang aku kenal selama ini!”

PAR! Mama menampar pipi Edgar.

“Kalau ngomong sama orang tua itu yang sopan!”

“Ga, ada apa sih? Aku pulang aja, ya?”

“Nggak! Kamu tetap disini!” Edgar menahanku pergi.

“Dia!” sambil menunjuk ke arahku, “Adalah anak yang mama kasih dulu ke tante Rima!”

“Kamu ngomong apa?! Mama nggak ngerti.” bentaknya.

“Maksudnya apa sih, Ga?” aku semakin tidak mengerti.

“Oke! Aku akan jelasin semuanya. Dan mama, dengerin penjelasan Edgar! Dia, Kiran. Dia itu anak mama, yang mama kasih ke tante Rima demi menikah dengan papa! Mama ingat?!”

“Nggak, itu nggak mungkin!”

“Edgar?” panggilku.

“Ma? Aku tau semuanya, tapi aku harap semua itu tidak benar! Cepat Ma, certain semuanya ke kami. Kasihan Kiran, dia sudah di tinggal pergi oleh tante Rima. Dia Meninggal!” terang Edgar lagi. Ia kini diam, wajahnya tampak raut kekesalan, benci, bimbang dan amarah. “Kiran…dia adalah ibu kandung kamu.”

“Ga?”

“Aku nggak bohong. Coba kamu tanya, suruh dia cerita!”

“Edgar benar.” Mama mulai berbicara.

“Nggak, nggak mungkin!” aku tidak mempercayainya. “Aku mau pergi. Jangan cegah aku!”

Tapi Edgar menahanku dan menyuruhku duduk.

“Ma. Asal mama tau, tante Rima meninggal karena gagal ginjal! Dan Mama tau bagaimana pengorbanannya membesarkan Kiran sendiri? Mama dimana, kemana selama ini? Kenapa biarin mereka terlantar? Tante Rima kasian, ma. Di sudah tua tetapi harus terus berjuang untuk ngebesarin dan menghidupi keluarga. Mama tau, untuk menghidupi seluruh keperluan hidupnya, mereka harus berjualan sayur dan lauk keliling setiap sore, dan membuka jahitan di rumahnya. Tapi mana tanggung jawab mama? Sekarang tante Rima sudah meninggal. Kiran sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Mama jahat kalau tetap tidak mengakuinya!”

Air mataku menetes. Aku tidak mengerti arti semua ini.

“Saya menemukan ini di kamar Bunda,” aku menunjukkan kalung berbentuk hati.

Wanita itu meneteskan air matanya. “Kamu benar anak mama, Kiran.” wanita itu langsung memelukku. “Maafin mama sayang, maaf karena sudah menelantarkan kamu begitu saja.”

“Lepasin! Anda bukan ibu saya!” aku tidak mempercayainya.

“Ini benar mama, nak. Ibu yang di kalung itu mama.”

“Nggak! Anda bukan mama saya!”

“Kiran harus percaya sama mama, Kiran harus yakin. Maafin mama, nak. Maaf.”

Aku melepas pelukannya dan berlari keluar.

“Kiran! Kamu mau kemana, nak? Mama rindu sekali dengan mu! Maafin mama, sayang!” tangisnya semakin terisak. “Cepat kejar Kiran, Ga!”

Edgar mengejarku.

“Lepasin!”

“Nggak! Masuk ke mobil!” suruh Edgar.

“Nggak mau! Gw benci loe!!!”

“Hujan Kiran. Cepat masuk ke mobil, nanti kamu sakit.”

Ia memaksaku masuk ke mobilnya.

“Loe jahat, loe jahat, loe jahat!!!!! Gw benci sama loe! Sejak kapan loe tau?” marahku di mobil. “Kenapa nggak pernah kasih tau gw?” aku terus memukulinya. “Loe jahat!”

Edgar menenangkanku, ia memelukku.

“Lepasin! Gw benci loe! Lepasin gw!”

Edgar terus memeluk dan menenangkanku.

“Gw benci! Loe udah ngebohongin gw. Loe bohong. Loe sama kayak mereka! Lepasin! Kita putus!” aku keluar.

“Kiran?! Kiran tunggu! Aku nggak bohong sama kamu. Aku juga baru tau tadi pagi. Kiran? Sungguh, aku nggak ngebohongin kamu. Kamu jangan begitu dong. Seharusnya kamu juga ngerti perasaan aku. Gimana perasaan aku saat tau mama yang melakukan itu semua, gimana perasaan aku tau mama jahat banget sama anaknya sendiri. Aku juga nggak mempercayainya, tapi mau gimana lagi? Semuanya sudah terjadi dan begini adanya.” Edgar mendekatiku. “Aku bingung…”

Aku berbalik lalu memeluknya.

“Aku juga bingung. Aku nggak tau, hatiku mati rasa…”

“Aku pulang dulu.”

“Aku antar,”

“Aku lagi mau sendiri.”

“Nanti aku ke rumah.”

“Bagaimana Ga? Kiran mana? Dia mau maafin mama?”

“Biarin Kiran tenang dulu, dia butuh waktu.”

“Anterin mama ke rumahnya sayang. Mama benar-benar menyesal, mama mau minta maaf, mama kangen sama dia.”

“Mama tenang aja, nanti aku yang ngomong ke dia. Ega ke atas dulu, ya? Aku juga pusing!”

+_+

“Kir? Bukain pintunya dong? Kiran, kamu tega buat aku nunggu lama di luar malam-malam gini. Kir…Kiran?”

Aku tidak perduli dengan ketukan itu.

“Kalau kamu tetap nggak mau bukain pintunya, aku akan terus disini sampai kamu membukakannya.”

Ketukannya tidak terdengar lagi.

“Dasar keras kepala!” aku memperhatikan wajahnya yang sedang tertidur pulas.

Saat ingin menyentuh wajahnya, ia terbangun.

“Kamu tega ya biarin aku tidur di teras semalaman.”

“Siapa suruh?”

“Sekarang aku udah boleh masuk belum?”

Aku menganggukkan kepala.

“Aku buatin susu hangat dulu, ya? Takut kamu masuk angin.”

Ia duduk mematung di meja makan.

“Ini, diminum, ya? Habisin!”

Ia langsung meminumnya sampai habis. “Ada yang aneh dari aku? Kok ngeliatinnya begitu?”

Aku tersentak kaget, “Nggak.” aku geleng-geleng kepala.

“Kamu nggak tidur ya semalam?”

“Aku tidur, kok.”

“Bohong. Aku terus merhatiin kamu, loh.”

“Kamu juga nggak tidur.” balasku.

“Aku nanya kamu.”

“Ia. Aku nggak bisa tidur. Terus kenapa kamu juga nggak tidur?”

“Aku nggak bisa tidur karena khawatir takut terjadi apa-apa sama kamu.”

Suasana berubah hening,

“Ga? Bantuin aku. Aku benar-benar bingung. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membencinya, atau memaafkannya?”

“Aku juga bingung.” Edgar terdiam. Suasana kembali hening. “Tapi bagaimana pun juga dia tetap ibumu, ibu yang sudah mengandung selama sembilan bulan, ibu yang rela meyerahkan jiwa dan raga agar kamu bisa hidup di dunia ini. Kamu harus memberinya kesempatan, dengarkan dulu alasannya.”

“Aku nggak kuat. Aku takut. Aku terlalu membencinya, Ga. Dia yang menyebabkan Bunda meninggal. Dia jahat karena sudah ngebuang aku. Dia jahat sama aku dan Bunda. Dia nggak pernah perduli dan menganggap ku dan Bunda ada setelah menikah dengan laki-laki berengsek itu!”

“Maaf…” ucapku menyesal.

“Nggak apa-apa, aku ngerti. Kir? Mama kangen sama kamu.”

“Aku belum siap.”

“Sampai kapan? Sebentar lagi kita ujian.”

Aku terdiam, masalah yang satu itu hampir saja terlupakan.

“Aku janji akan selalu ada disamping kamu, aku juga akan membantu kamu dalam menyelesaikan semua masalah satu per satu. Aku adalah orang yang akan selalu nguatin kamu.”

“Aku takut nggak bisa maafin mama.”

“Kamu harus percaya kamu bisa. Mana Kiran yang selalu berpikir positif? Mana Kiran yang selalu memaafkan orang lain, mana Kiran yang dulu?!”

Aku diam, “Semua itu udah nggak ada lagi. Selama ini aku hanya berpura-pura, aku pura-pura tegar biar terlihat kuat didepan Bunda. Padahal dibalik semua itu,…”

“Aku tau, tapi aku lebih tau. Kamu itu wanita yang kuat, kamu tegar, sebenarnya aku tau, kamu rindu sama mama, begitu pula sebaliknya, mama kangen sama kamu. Maafin mama, Kiran. Dengerin semua penjelasannya dulu. Kamu ingat pesan Bunda? Kamu nggak mau mengecewakannyakan?”

“Aku mau menerima dan maafin mama demi almarhum Bunda. Tapi untuk aku pribadi, aku masih butuh waktu.”

“Aku nggak maksa. Aku antar setelah kamu makan.”

“Aku nggak mau makan.”

“Aku akan tunggu sampai kamu mau makan.”

“Aku nggak nafsu makan.”

“Kamu buat aku tambah pusing!”

“Kok kamu malah bentak aku? Kalau nggak mau di repotin ya udah, sana pergi! Aku nggak butuh bantuan kamu!”

Edgar bangkit dan pergi begitu saja.

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Satu menit, lima menit, tujuh menit, satu jam, dua jam, aku terdiam. Pukul empat sore. Cuaca sore ini di penuhi desiran angin yang melambai-lambaikan dedaunan, sungguh menenangkan hati ini. Aku melangkah pergi. Tiba-tiba Edgar keluar dari mobilnya dan mencegahku.

“Maaf. Tadi aku emosi”

“Aku juga minta maaf.” akuku. “Dari tadi kamu disini?”

Edgar menganggukkan kepala.

“Aku antar, kamu mau kemana?”

Aku menerima tawarannya.

“Aku minta maaf ya? Pikiranku lagi benar-benar kacau.” maafku kembali.

“Ia, aku ngerti.”

“Maaf kalau aku nggak bisa ngertiin kamu, maaf kalau aku egois.”

Ia tersenyum lalu mengelus-elus kepalaku, kebiasaan yang disukainya. Kini, mobilnya sudah berhenti di rumah kemarin.

“Ayo. Kamu pasti bisa.” Edgar mengajakku turun.

Aku melewati undukan tangga yang kemarin ku lewati.

“Tunggu disini ya, aku panggilin mama dulu. Kamu pasti bisa, apapun alasannya, kamu harus memaafkannya.”

Ia memelukku. Pelukannya sungguh menguatkan dan menenangkanku. Edgar kedalam memanggil mamanya. Beberapa menit kemudian, perempuan yang kemarin aku temui muncul kembali di hadapanku. Ia mendekati lalu memelukku dengan erat. Air matanya berjatuhan. Maaf, maaf, dan maaf. Kata itu mudah sekali di ucapkannya. Maaf, menyesal, dan kalau tidak, ia menangis. Ungkapan yang paling mudah untuk menyesal dan meminta maaf.

“Kamu harus mendengar penjelasan mama dulu.”

Aku diam.

“Kiran masih marah dengan mama?” tanyanya.

Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam.

“Bicara dong, nak. Mama jadi semakin bersalah sama kamu. Sayang, apapun akan mama lakukan agar kamu bisa memaafkan mama.”

Diam adalah kebimbanganku, kemarahanku, dan kebencianku.

“Baik kalau ini yang kamu mau. Mama akan lakukan segala cara agar kamu bisa memaafkan mama!”

Ia memecahkan sesuatu dari kaca, lalu diarahkan ke nadi tangannya.

“Ma? Mama mau ngapain?!”

“Biarin mama, Kiran! Biar mama mati! Mama sedih, mama benar-benar minta maaf. Mama sedih anak mama tidak mau memaafkan kesalahan orang tuanya. Hati mama juga sakit! Tolong, dengerin penjelasan mama dulu. Mama stress, mama marah, mama juga benci! Kamu ngerti dong. Kasih kesempatan mama bicara.” ia terus ingin menyileti tangannya, tetapi aku tahan. “Biarin! Kiran nggak usah kenal sama mama, anggap saja mama bukan siapa-siapa kamu. Nggak usah cegah mama, nggak usah sok perduli. Kamu bencikan sama mama, kamu nggak mau maafin mamakan? Jadi biarin mama pergi, biarin mama mati, toh kamu juga nggak akan menyesal kalau mama nggak ada!”

“Baik! Aku akan dengerin semua penjelasan mama. Tapi janji, jangan lakuin itu?” aku mengambil beling dari tangannya. “Sekarang mama boleh jelasin semuanya ke Kiran. Kiran akan disini dan dengerin semua cerita mama.”

“Tapi kamu janji, jangan pergi sebelum mama selesai bicara.”

“Aku janji.”

“Kiran sayang. Sebelumnya maafin segala kesalahan mama, ya? Mama tau, Kiran adalah anak pemaaf. Mama juga tau, kamu akan sulit menerima dan memaafkan mama dalam kehidupan kamu. Tapi ada baiknya kalau kamu tau semua alasan mama melakukan itu semua. Kamu pasti tau bagaimana perasaan seorang ibu yang harus berpisah dari anaknya? Sakit dan sedih sekali, sayang. Dulu, mama berpacaran dengan seorang lelaki. Dia pria yang sederhana, panyayang, lelaki yang selalu melindungi mama, pekerja keras dan sabar. Kami pacaran backstreet, karena takut ketawan sama ibu mama, nenek kamu, karena beliau tidak setuju mama berpacaran dengan orang yang statusnya di bawah mama. Sampai suatu ketika akibat dari hubungan itu, mama hamil. Karena kami saling mencintai, ayah kamu mau bertanggung jawab dan memutuskan untuk menikahi mama. Tetapi ibu tidak merestui dan mengizinkan kami. Ternyata ia mempunyai sebuah rencana, menjodohkan mama dengan seseorang yang sekarang menjadi papanya Edgar. Dia seorang pengusaha kaya, berbeda jauh dengan kehidupan ayahmu. Meskipun ayah sudah melakukan semua cara agar ibu percaya dan mengizinkan mama menikah dengannya, tetapi beliau tetap tidak setuju. Ia benci sekali dengan ayah, seolah-olah ayah adalah kutukan didalam kehidupannya. Karena tidak ada jalan lain dan atas keputusan bersama, akhirnya kami berpisah. Dan kami berjanji untuk saling melupakan dan tidak akan masuk ke dalam kehidupan masing-masing. Saat itu ibu memberi tiga persyaratan untuk mama, gugurkan kandungan itu, lahirkan dan beri ke orang lain lalu menikah dengan orang pilihan ibu atau lahirkan bayi itu tetapi mama tidak lagi dianggap sebagai anak. Mama memilih poin kedua, maka dari itu mama memberimu ke tante Rima. Dia adalah teman mama yang kehidupan keluarganya hancur akibat tidak bisa memberikan keturunan. Ia di tinggal suami dan di tinggal pergi keluarganya.”

Hatiku miris mendengar semua ceritanya.

“Lalu, kenapa mama biarin Bunda kerja sendirian? Mama tau, Bunda meninggal karena gagal ginjal! Mama kemana waktu Bunda butuh bantuan? Mama dimana waktu Bunda lagi kesusahan cari biaya untuk sekolahin Kiran? Mama kemana aja! Kalau begitu mama sama aja nggak mengharapkan Kiran. Mama lupa sama keluarga Kiran, kenapa?! Karena UANG?! Uang yang membuat mama lupa sama anak sendiri?!”

“Stop! Tutup mulut kamu!” mama menamparku. “Kamu nggak boleh menuduh mama seperti itu. kalau boleh mama memilih waktu itu, mama lebih baik menderita dengan ayah dan kamu daripada seumur hidup harus kehilangan kamu. Kamu sangat berarti untuk mama. Kamu boleh bertanya ke semua ibu, kasih tau mama ibu mana yang bisa hidup tanpa anaknya? Jangankan manusia, hewan saja bisa marah kalau anaknya diganggu.”

“Tapi mama kemana? Kenapa biarin Bunda hidup sendiri? Mama tau, saat kami sedang kesusahan, nggak ada satu keluarga pun yang datang menghampiri kami, jangankan untuk saling bertanya kabar, sekedar mengucap salam saja nggak ada. Bunda berjuang sendiri. Ia membuka jahitan, menerima jahitan sekolahnya Candy, jualan sayur dan lauk matang setiap sore, sampai-sampai Kiran harus berbohong ke Bunda kalau Kiran kerja. Kiran sedih. Kasian. Di usia yang tidak lagi muda ia masih terus berjuang demi Kiran. Apalagi saat Bunda masuk rumah sakit, nggak ada yang perduli dengan Kiran. Kiran sedih, Kiran merasa sendiri, nggak ada yang nguatin Kiran. Mama kemana?! Kenapa mama nggak nyari Kiran? Kalau Bunda nggak meninggal, mama pasti nggak akan nyari Kiran, kan? Malah mama merasa nggak pernah punya anak seperti aku!” air mataku terus mengalir.

“Maafin mama, nak. Mama akui, mama salah. Mama sudah menelantarkan kamu dan Bunda. Jujur, di tahun-tahun pertama sampai ketiga mama terus mengirim uang untuk biaya kamu, tapi di tahun berikutnya berhenti karena nenek kamu mengetahuinya. Tadinya di tahun kelima mama mau melakukannya lagi. Tetapi kamu benar, mama egois, karena punya kehidupan yang baru… mama jadi lupa sama kamu. Maaf sayang, maafin mama.”

“Mama jahat, jahat…!”

“Maaf sayang. Maaf…mama tau, tidak semudah itu kamu memaafkan mama, tetapi terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan penjelasan mama. Sekarang semua terserah kamu. Mama benar-benar mengakui mama salah, mama berdosa sama kamu dan Bunda, mama jahat, mama egois, semuanya! Mama memang tidak pantas memiliki kamu. Mama memang mama terjahat yang pernah ada di dunia ini!”

Nafasku sesak, sesak sekali, air mataku mengalir begitu deras kali ini. Terasa terhimpit, sesak sekali.

“Maafin mama. Maaf…” kata maaf yang bersumber dari hati.

Aku masih mengatur nafaku.

“Mama terlalu jahat! Bagaimana Kiran bisa maafin mama. Tapi Bunda berpesan agar Kiran memaafkan mama. Ini yang Kiran takutkan, Kiran takut nggak bisa memaafkan mama. Kiran bingung…”

“Mama tahu sayang, mama tahu. Mama memang terlalu jahat untuk kamu. Sekarang mama nggak akan memaksa kamu lagi untuk memaafkan mama. Apapun keputusan kamu, mama terima, mama nggak akan memaksa kamu dan rela melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan mama. Mama akan menerima semua akibatnya, mama akan menunggu sampai kamu benar-benar memaafkan mama.” ia mencium pipi dan keningku, lalu memelukku lama. Kemudian ia meninggalkanku di ruang tamu, tak lama, Edgar datang dan duduk disebelahku. Ia senantiasa memberikan pundaknya untukku menangis.

“Mama terlalu jahat, Ga. Aku nggak bisa memaafkannya, ketakutanku terjadi. Aku bingung, aku rindu, kangen, ingin sekali memaafkan lalu memeluknya sebagai ibu dan anak yang sudah lama berpisah. Tapi nggak bisa. Sakit Ga, terlalu sakit. Aku butuh waktu…”

“Aku tau. Aku ngerti.” Edgar menenangkanku. “Sekarang aku antar kamu pulang, ya?”

Aku menganggukkan kepala. Selama di perjalanan kami saling diam. Tiba-tiba Edgar menggenggam tanaganku. Genggaman yang saling menguatkan. Kami diam, tepaku di tempatnya masing-masing. Terdengar hembusan nafas dari mulutnya, “SEMANGAT!” ucapnya menggebu-gebu. “Kir. Kamu sadar nggak sih? Ujian tinggal dua minggu lagi, loh! Ya udah sana masuk! Tenangin diri sebentar, segarkan otak dan pikiran, setelah tenang, nanti aku kesini lagi mau belajar bareng kamu. Kamu pinter matematikakan? Ya udah, siap-siap ajarin aku, ya?!” ia terlihat begitu bersemangat.

Aku tersenyum lalu mengangguk setuju.

“Ia, nanti aku ajarin kamu matematika.”

“Ya udah, sana masuk. Jangan lupa makan!”

“Kamu juga! Aku tau dari kemarin kamu belum makan. Da…hati-hati ya nyetirnya?”

Edgar tersenyum mendengarnya, “Love you.”

7

Sejak saat itu Edgar selalu datang untuk mengantar dan menjemputku sekolah, ia juga menjemput selesainya ku bekerja. Sampai satu hari menjelasng ujian umum, kami belajar bersama. Setiap hari bolak balik ke rumah dan pulang larut hanya untuk menemani dan belajar bareng. Edgar begitu baik, ia selalu sabar menghadapiku. Ia juga selalu memberiku semangat. Saat moodku benar-benar hilang, dia yang selalu mensuportku, dia sabar menghadapiku sampai semangatku muncul kembali.

“Kir, aku percaya, kita pasti bisa melewati tiga hari itu. Yakin seratus persen! Kita pasti diberi kemudahan saat mengerjakannya. Percaya aja, YAKIN!” semangat Edgar.

Aku mengangguk setuju.

“Ia, aku juga percaya. Selama inikan kita udah belajar bareng, berdoa bareng, ngasih semangat sama-sama, dan selalu berfikir positif. Aku percaya karena aku bersemangat dan yakin.” aku tersenyum.

“Nah…gitu dong, ceria! Gimana kalau sisa waktu ini kita gunain untuk jalan-jalan?”

“Jalan-jalan kemana?”

“Kemana aja. Yang penting kita senang-senang.”

“Ayo! Siapa takut?”

“Sip, let’s go!”

Ada didekatnya selalu bisa membuatku tersenyum. Dia bisa membantuku mengatasi semua masalah dan melupakan kesedihanku selama ini. Mobil berhenti di dekat sebuah taman. Edgar mengajakku turun dan menunjukkan sebuah tempat yang indah. Disana ada sesuatu yang paling aku suka dan ia mengetahuinya. Di sederetan pohon-pohon itu, ada bangku taman. Edgar mengajakku kesana. Sambil makan ice cream kami duduk dan bersenda gurau. Angin di sore ini memperlengkap suasana, guguran dedaunan yang menguning sungguh membuatku bahagia. Tempat ini membuatku nyaman, aku senang sekali! Aku suka banget dengan pemandangan ini!

“Makasih!” aku memeluk Edgar erat.

“Sama-sama.” ia tersenyum puas. “Yuk kita pulang?”

“Yah! Jangan pulang dulu, dong. Kitakan baru dateng. Plis…plis…jangan pulang dulu!” mohonku.

“Ia, ia. Aku cuma bercanda, kok!”

“Iiih…dasar!” aku memukulnya dan memeluknya lagi.

“Mau sampe dua setengah bulan disini aku akan tetap nunggu kamu, kok.”

“Gombal!”

“Hehehehehe…tau aja. Lagian ngapain juga lama-lama di tempat kayak gini? Nggak ada asik-asiknya, heran?!”

“Huh! Dasar!”

Aku terus memperhatikan guguran demi guguran dedaunan yang terbang tertiup angin. Romantis banget! Hati gw damai.

Edgar masih disampingku, ia terus memperhatikanku yang begitu terkesima dengan pohon yang indah saat menggugurkan daunnya.

“Gw sayang dan akan selalu buat loe bahagia…” ucap Edgar dalam hati.

+_+

Semangat! Kita pasti bisa! Sms Edgar pagi ini mempengaruhi semangat yang bergejolak di tubuh ini. Ujian pertama pun di mulai, soal matematika sudah ada di depan mata. Selama dua jam aku terus berkutat dengan soal-soalnya. Tenang, calm down, berfikir jernih, itu yang aku lakukan agar bisa memfokuskan diri mengerjakan soal mtk. SEMANGAT! Semangat! Semangat! Semangat! Hanya satu kata, SEMANGAT! Satu kata yang penuh gelora, penuh energi positif bagi yang mengucapkannya. Setelah istirahat tiga puluh menit, soal-soal bahasa Indonesia yang kali ini harus ku kerjakan. Begitu terus selama tiga hari, sampai semua pelajaran yang di ujikan selesai. Sampai akhirnya, aku dapat melewati tiga hari yang penuh ketegangan dengan perasaan yang sedikit lega.

“Bisa ngerjain soal-soalnya?” tanya Edgar, ia menjemputku.

“Bisa. Kamu?”

“Aku? Jangan di tanya. Saking semangatnya ngerjain, kertasku sampai bolong karena terlalu semangat hitaminnya.”

“Kamu bisa aja.” tawaku.

“Sekarang kita mau kemana?”

“Terserah kamu. Kamu tau nggak, hari ini aku lagi seneng banget loh!”

“Seneng? Kenapa? Karena ada aku, ya?” pede Edgar.

“GR! Tapi ada sedikir benernya juga sih. Makasih ya, aku nggak tau kalau kemarin-kemarin nggak ada kamu. Aku nggak tau, apakah aku bisa melewatkan semua masa sulit ini. Tapi semenjak ada kamu, aku bisa melewatkan ini semua, kamu yang selalu nyadarin aku, kamu yang selalu semangatin aku, selalu ngasih aku solusi, kamu sabar hadepin aku, dan yang pasti, kamu selalu bisa buat hatiku tenang dan tersenyum. Makasih ya, berkat kamu aku kuat!”

“Kalau itu sih nggak sedikit. Hehehe…” Edgar mengelus-elus rambutku.

Heee…aku nyengir.

“Bagus deh kalau kamu senang, aku juga ikut senang. Bayarannya mana?”

“Bayaran?” heranku.

“Kamu kira aku ngelakuin ini gratis? Nggak ada yang gratis di dunia ini, jeng.”

“Hu…dasar perhitungan!” muach…aku mencium pipinya. Wajah Edgar memerah.

“Kurang! Masa cuma begini. Lagi dong!”

“Iiiiihhhh, dasar!” aku mencubit pipinya. “Kamunya keenakan!”

Ia mengajakku jalan-jalan, kali ini kita full bersenang-senang. Nonton, makan, jalan, pokoknya kita senang-senang, deh!

“Lepaskan semua ketegangan dan lupakan sejenak semua masalah yang ada!” teriak Edgar. Ia setengah gila rupanya hari ini.

“Ga? Aku mau maafin mama…”

Ia terkejut, “Bener kamu mau maafin mama?!”

“Ia. Aku ingat pesan Bunda dan ucapan kamu. Bagaimana pun dia ibu kandung aku, aku harus memaafkannya. Aku kangen, Ga. Kangen. Aku fikir, aku masih termaksud orang yang beruntung walau kehidupanku seperti ini. Bagaimana pun juga aku bersyukur dan beruntung, karena memiliki orang-orang yang begitu perduli denganku, seperti kalian, aku sangat beruntung dan mensyukurinya. Aku berfikir, Tuhan pasti tidak akan memberi masalah yang melebihi dari kesanggupan kita, dan aku selalu berfikir, bahwa di semua cobaan ini pasti ada kebahagiaan di baliknya. Aku selalu berfikir seperti itu, Tuhan baik terhadapku, ia baik padaku, ia tidak jahat, ia tidak pernah jahat terhadap umatnya, Tuhan sayang kepada hamba-hambanya. Jadi sekarang, aku akan memaafkan mama, lambat laun rasa sakit hati ini akan hilang seiring bertambahnya rasa sayang yang mama berikan kepadaku.”

“Kamu tau, kenapa dari dulu aku suka sama kamu? Karena ada sesuatu, sekecil apapun itu yang bisa membuatku jatuh hati sama kamu. Lovable Kiran, itulah sebutan yang cocok untukmu.”

Ia mengajakku turun, tak lama menunggu mama datang dan duduk di sebelahku. Ia tidak terlihat seperti kemarin yang meminta-minta maaf. Kami saling terdiam.

“Ma…” aku membuka pembicaraan.

“Ada apa sayang? Ada yang mau kamu omongin ke mama? Kalau memang Kiran tidak bisa memaafkan mama, mama akan terus menunggu dan akan melakukan apapun agar kamu bisa memaafkan mama.”

“Jujur, Kiran belum bisa memaafkan mama sepenuhnya. Tetapi Kiran mau agar mama bisa menyembuhkan sakit hati Kiran ini. Kiran harap dengan rasa sayang yang mama kasih ke Kiran nanti, benar-benar bisa menyembuhkan sakit ini. Kiran memaafkan mama, maaf kalau Kiran sudah membuat mama sedih selama ini. Kiran kangen sama mama.”

Mama langsung memelukku, ia menciumiku, ciuman penuh kasih sayang, penuh kerinduan yang mendalam, rindu yang tak pernah bisa di ungkapkan.

“Maafin mama sayang, maafin mama. Mama janji akan membayar semua rasa sayang yang belum sempat mama kasih ke kamu. Mama janji akan memberikan apapun agar kamu bahagia, mama harap sakit hati yang kamu alami hilang, yang pada akhirnya kamu bisa menerima dan memaafkan mama sepenuhnya.”

Aku melengkungkan senyum. Ia mencium keningku kemudian memelukku.

“Mama sudah menyiapkan kamar untuk kamu. Mulai sekarang tinggal disini, ya?”

“Tapi aku belum mengambil barang-barang di rumah sana.”

“Besok mama akan membantu kamu mengambilnya.”

“Tapi aku nggak punya baju, Ma.”

“Kamu tenang aja, mama sudah siapin semuanya. Mama panggil Edgar ya, biar dia yang nganter kamu ke kamar?”

Aku mengangguk.

“Ini kamar kamu, dan di depan kamar kamu kamar aku.” Edgar membuka pintu kamar yang kini dinyatakan milikku. “Mama yang nyiapin dan mengatur ini semua. Dia harap kamu suka dengan disainnya.”

Aku memasuki ruangan itu, terlihat dinding kamar ini dilapisi wallpaper bermotif guguran dedaunan berwarna kuning ke cokelatan. Ia tau kesukaanku. Di sisi sebelah kanan ada meja beserta pernak-pernik lucu yang langsung menghadap jendela. Ia juga tau kebiasaanku yang satu ini. Di samping meja itu ada single bad yang di lengkapi badcover berwarna putih bermotif polkadot. Di sudut ruangan terdapat lemari pakaian, dan di sudut satunya lagi, mama menyediakan space khusus untukku bersantai sambil membaca buku atau bermain laptop. Semua itu tampak selaras. Sungguh lucu, berbeda sekali dengan kamarku disana.

“Kamar kamu dimana?” tanyaku setelah melihat-lihat.

Ia membuka pintu di belakangnya.

Poster menara Eiffel berukuran besar langsung terlihat saat ia membuka pintu kamarnya. Di dominasi warna hitam dan cokelat, kamar yang tidak terlalu besar itu banyak di hiasi oleh foto-fotonya bersama teman-teman di berbagai tempat. Ada salah satu foto yang menarik perhatianku,

“Ini di mana?”

“Oh itu? di Sumba. Heran,ya? Kayak di luar negeri, kan?”

“Itu masih di Indonesia?”

“Ia. Kamu nggak percaya?”

“Tempatnya keren banget. Nggak nyangka di pulau itu ada tempat yang seperti ini. Jalan yang di apit oleh padang gersang yang hanya di tumbuhi semak belukar dengan garis pantai yang dekat dengan jalan. Kamu suka jalan-jalan, ya?”

“Yup! Im backpacker sejati! Semua tempat di Indonesia sudah pernah aku kunjungi. Gimana foto-foto tempatnya, nggak kalah dengan tempat-tempat wisata di luar negerikan?”

“Ia! Sejak kapan kamu suka jalan-jalan?”

“Sejak masuk SMP. Awalnya itu aku ikut ekstrakulikuler pencinta alam. Terus waktu SMA aku sama teman yang juga suka jiwa petualang iseng-iseng pergi ke suatu tempat yang masih jauh dari sorotan tapi punya daya tarik. Awalnya sih tempat yang dekat-dekat dulu, lama kelamaan setelah punya modal sendiri dan setelah berunding ke teman-teman yang otaknya pada gokil-gokil, akhirnya kita nyoba ke tempat wisata yang tersebar diseluruh Indonesia. Tetapi semua itu kita lakukan dengan harga murah, bila perlu semurah-murahnya, bagaimanapun caranya.”

“Seru banget! Pantesan kamu sering di marahin mama dan hampir nggak naik kelas karena suka nggak masuk. Tapi aku heran, kenapa kamu pinter, ya?”

“Eits…! Itulah kehebatanku yang lain.”

“Tapi semua itu pake uang siapa? Uang mama, ya?”

“Biaya sendirilah. Enak aja, gini-gini aku nabung tau!”

Kami mengobrol di balkon. Sambil berbincang-bincang, tangan Edgar iseng memetikkan nada-nada di gitarnya.

“Oh ia Ga, kamu mau kuliah dimana?”

“Hm…jujur, sampai sekarang aku masih bingung mau kuliah di mana dan ngambil jurusan apa. Kayaknya aku mau fokus ke hobiku dulu, deh.”

“Kamu tuh, pikirin dong masa depan. Emang hobi bisa menghasilkan?”

“Wah! Menghina, ngerendahin aku, ya?! Kamu nggak tau sih, mama juga belum tau sih kalau aku lagi buat buku kumpulan wisata dari hasil backpackerku sama teman-teman. Isinya pasti udah bisa ditebak dong, kumpulan wisata di Indonesia beserta panduannya dengan biaya terjangkau. Buku itu hasil dokumenter perjalananan dan pengalaman ku sama teman-teman menjelajah Indonesia dari SMP sampai sekarang.”

“Hebat! Aku nggak nyangka kamu punya otak bisnis juga. Aku suka! Aku doain deh, supaya bukunya cepet jadi dan banyak yang beli.”

“Amin! Kalau kamu?”

“Aku? Aku mau kemana, ya? Kamu tau nggak cita-citaku apa?”

“Hm…sebentar ya, aku inget-inget dulu. Oh ia, kamu mau jadi sineas!”

“Kok tau sih? Oh ia aku lupa, kamukan ngirim mata-mata.”

“Terus kenapa?”

“Kamu pasti juga tau kebiasaan yang yang paling aku suka apa,”

“Hm…apa ya? Pertanyaan yang cukup sulit, hm…..? Ah! Ngupil!”

“Hus! Enak aja, ngaco kamu. Mengarang dot kom!” aku menjitak kepalanya.

“Oh…aku inget, kamu suka banget nonton drama korea.”

“Ih…kok tau semua sih? Hebat banget mata-matanya!” pujiku.

“Aku kira kamu mau muji aku…” melasnya. “Terus?”

“Negara mana yang paling mau aku kunjungin?”

“Kamu banyak nanya deh. Tau ah! Aku cape. Abisnya dari tadi bukannya muji aku malah mata-mata ku terus yang kamu puji. Itu semuakan juga hasil kerja kerasku.”

“Ia deh, kalau jawaban kamu benar kali ini, aku akan memuji kamu sekali-kali.”

“Kiran…Kiran…kamu mau mancing-mancing aku? Aku tuh tau semuanya tentang kamu, kamu pasti mau ke Afrika-kan?”

Hah! “Iiiiihhhhhhhh…..Edgar!!!!!!” aku mencubit pinggangnya.

“Ia ampun, ampun, ampun…..! Kamu tau aja tempat sensitifku dimana.” Aku berhenti menyubitnya. “Oke, oke. Negara yang pingin banget kamu kunjungin adalah Korea Selatan!”

“Wah, Edgar hebat banget bisa baca pikiranku.”

“Udah?! Gitu doang mujinya?”

“Ia.”

Huh!

“Jadi intinya apa?” tanyaku lagi.

“Kamu mau kuliah di sana ngambil jurusan cinematografi.”

“Yup!”

“Bagus! Teruslah berusaha agar kamu bisa kuliah disana. Aku akan selalu doain kamu.”

“PASTI! Bulan depan aku kesana.”

“APA?! Secepat ini?”

“Ia. Udah lama aku nyari informasi itu lewat internet. Dan ternyata, semua usaha yang aku lakukan nggak sia-sia! Aku seneng banget! Setiap kerja aku selalu luangin waktu untuk belajar dan nyari informasi tentang universitas yang mendukung cita-citaku. Setelah coba ikut ujian masuknya, ternyata aku lulus! Seneng banget, Ga! Kamu adalah orang pertama yang mengetahuinya!” aku memeluknya.

“Kamu hebat! Aku bangga sama kamu.”

“Ini cita-citaku, Ga. Aku selalu berdoa dan bekerja keras setiap hari untuk mewujudnya.”

“Itu poin kedua kenapa aku suka sama kamu.”

“Rencana kamu setelah lulus apa?” aku balik bertanya.

“Setelah buku ku jadi dan di terbitin, aku…aku…aku? Mau ngapain, ya?”

“Ah, kelamaan mikir! Masa depan yang suram!” ejekku.

“Sok! Tau deh yang dapet beasiswa di Korea!”

Aku tertawa mendengarnya.

“Kamu tau? Sebenarnya aku mau jadi menteri pariwisata.”

“Keberatan!” ejekku lagi.

“Dukung aku kek sekali-kali! Hu-uh…!” dia marah-marah.

“Ia, ia. Hahahahaa…Tapi tetep aja sih, nggak mungkin!” aku segera berlari ke kamar.

“Kiran!!!! Awas ya! Aku nggak akan ngajak kamu liat pohon Metasequoia di musim gugur!” teriakknya. Seperti kebiasaanku sebelumnya, ku buka jendela itu lebar-lebar agar sayupan angin malam masuk. Bintang terlihat bersinar terang, langit malam ini terlihat cerah. Cahaya bulan cukup terang untuk menerangi gelapnya malam ini. Aku melamun sambil memandangi semua itu,

Aku sudah menuruti semua perintah Bunda, aku sudah memaafkan mama. Tapi Bunda jangan khawatir karena Bunda tetap ibu Kiran. Sampai kapanpun Bunda adalah ibu Kiran. Terima kasih karena Bunda sudah membesarkan Kiran dengan penuh rasa sayang, telah membentuk Kiran menjadi anak yang seperti ini. Kiran yakin, Tuhan pasti menerima Bunda disisi-Nya. Kiran bahagia karena bisa memberi kebahagiaan didalam kehidupan Bunda. Kiran bangga menjadi anak Bunda, Kiran tidak pernah menyesal sedikit pun hidup bersama Bunda. Terima kasih, karena sekarang Kiran bisa menemukan ibu, ibu yang sudah lama berpisah, yang sangat Kiran rindukan. Kiran sudah bisa memaafkan kesalahan mama, karena…disitulah sebenarnya kebahagiaan Kiran.

+_+

“Kiran, Edgar! Mama bangga terhadap kalian. Kiran, mama salut sekali dengan kamu, meskipun keadaan kamu saat itu sedang terguncang, tetapi kamu bisa memperoleh nilai tertinggi di ujian ini sayang! Edgar, mama juga bangga dengan kamu. Meskipun kamu suka bolos karena ngeluyur terus, tapi kamu bisa meyakinkan mama dengan memperoleh posisi pertama nilai tertinggi di ujian, sama seperti Kiran. Kalian adalah anak-anak mama yang hebat!” mama merangkul kami.

Suasana siang itu begitu hangat, kami berkumpul di ruang keluarga sambil merayakan kelulusan kami dengan pesta kecil-kecilan.

“Ma, ada yang mau Kiran bicarain,”

“Ada apa sayang? Bilang saja ke mama, mama pasti dengerin kamu.”

“Ma, Kiran mau minta izin ke mama. Akhir bulan ini Kiran mau ke Seoul, ngurusin study perfilman Kiran di sana. Mama izinin Kiran ke sanakan?”

“Sayang? Kenapa secepat ini, kitakan baru saja bersama? Mama masih rindu sekali dengan kamu, nak. Mama tidak mengizinkan kamu pergi.”

“Tapi ma! Ini cita-cita Kiran, Kiran sudah susah payah usaha agar Kiran bisa mendapatkan itu semua. Kiran mohon, mama izinin Kiran pergi, karena itu berarti banget buat aku. Itu impian aku, ma? Plis…”

“Ya sudah, mama izinin. Kalau itu yang bisa membuatmu bahagia, mengapa tidak? Mama akan bantu kamu mengurus semuanya.”

“Mama izinin aku? Serius?! Wah…! Makasih ya, ma! Aku sayang banget sama mama!”

“Mama juga sayang kamu, kalau begitu mama bantu beres-beres, ya?”

Aku mengangguk setuju.

Mama lalu membantuku berkemas-kemas. Di kamar kami terus bersenda gurau, ternyata kami bisa secepat ini dekatnya, di luar perkiraanku.

“Mama ikut kamu ke sana deh? Mamakan mau bantu ngurus-ngurusin kuliah kamu.”

“Aku bisa sendiri kok, ma. Akukan bukan anak kecil lagi. Pokoknya mama tenang aja, selama masih bisa ditanganin, aku bisa urus sendiri. Tapi kalau nggak bisa, aku akan hubungin mama.”

“Ya sudah, mama percaya seratus persen sama kamu. Mama bantu keuangan saja. Oh ia, ngomong-ngomong kamu mau tinggal dimana selama kuliah disana?”

“Tenang aja, ma. Semua sudah Kiran pikirin, karena Kiran sudah mencanakan ini sejak beberapa bulan yang lalu. Pokoknya mama dukung Kiran aja, Kiran pasti semangat mengejar cita-cita.”

“Ia. Mama akan selalu doain dan support kamu. Jangan lupa sering-sering hubungi kami disini?”

“Ia. Kiran pasti hubungin mama setelah Kiran sampai sana.”

“Ya sudah. Hari sudah menjelang malam, cepat kamu mandi setelah itu turun ke bawah. Kita makan bersama.” Ia meninggalkanku.

Selesai makan malam, mama langsung menyuruhku tidur karena besok aku harus ke bandara pagi-pagi.

Tok…tok…! Terdengar ketukan pintu.

“Siapa?” aku membukakan pintu, “Edgar? Kenapa?” ia langsung menarikku kekamarnya. “Aduh, pelan-pelan dong! Kenapa sih?”

“Nggak apa-apa…”

“Kenapa? Takut di tinggal sama aku, ya?!”

Setelah mematikan lampu kamar, ia mengajakku ke balkon. Tangannya mulai memetikkan nada-nada yang indah. Hanya ada bintang dan bulan yang menemani kami malam itu, cahaya mereka sedikit memberi terang di gelapnya malam ini. Edgar terlihat serius memainkan gitarnya. Melodi-melodi indah terdengar dari petikan-petikannya. Ia diam, tampak serius memainkan gitarnya. Aku jadi ikut terhanyut olehnya, aku terlalu serius mendengar nada-nada indah yang dihasilkan oleh petikannya. Kami saling diam. Aku memperhatikan Edgar yang sedang bermain gitar, sedangkan dia terlihat serius dengan keasikannya. Ia berhenti memainkan gitarnya, tangannya tak lagi memetikkan melodi-melodi indah. Ia menatapku, aku memberi senyum termanisku. Ia terus menatapku, dan kami semakin dekat. Edgar mencium bibirkuku dengan lembut, penuh perasaan. Setelah mencium, ia menyeka bibirku dengan tangannya.

“Aku sayang kamu…” ucapnya lembut.

Aku terdiam.

“Ma…maaf, seharusnya aku nggak lancang. Ya udah, sana tidur, besok aku anter kamu ke bandara!” ia mengantarku sampai depan kamar. Setelah memberikan sebuah senyuman, aku menutup pintu dan segera tidur.

“Aku tau kebimbangan kamu, Ga.” ucapku dalam hati yang langsung memejamkan mata.

+_+

“Maaf ya sayang, mama nggak bisa antar kamu ke bandara. Mama ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal.”

“Nggak apa-apa kok, kan ada Edgar.”

“Kamu baik-baik ya disana. Kalau sudah sampai cepat hubungi kami, kalau ada apa-apa bilang ke mama, mama pasti bantu.”

“Ia,” jawabku lembut. “Ya sudah, Edgar udah nunggu aku di mobil. Kiran berangkat ya! Doain aku ya, ma? Salam buat Candy!”

Mama mendaratkan ciumannya ke keningku.

“Ia. Semoga sukses ya sayang. Mama selalu mendoakan kamu. Hati-hati!” pesannya.

“Ga?” panggilku sampainya di mobil. “Kamu kenapa sih dari semalem aneh banget?”

”Nggak kenapa-kenapa.”

Aku menggenggam tangannya. “Aku tau apa yang kamu pikirin,”

“Apa?”

“Kamu tau? Aku sama sekali nggak keberatan waktu kamu melakukan itu semalam.”

Edgar tersenyum, “Aku tau.”

Aku tersipu malu, “Ga? Kamu doain aku, ya?”

“Pasti, aku pasti doain kamu. Oh ia, disana kamu berapa lama?”

“Tiga sampai empat tahunan.”

“Lama juga, ya? Jangan kangen ya sama aku!”

Cih…aku tersenyum kecut. “Adanya kamu yang jangan kangen sama aku!”

Sesampainya di bandara,

“Kayaknya aku udah harus pergi, deh?”

“Oke. Hati-hati. Jaga diri!” ia memelukku. Begitu erat dan lama, terasa sedikit rasa tak rela dalam dirinya.

“Good luck ya dengan cita-citanya!”

“Ia. Kamu juga, sukses dengan cita-citanya!”

Aku melambaikan tangan ke arahnya, dan memberi senyum termanisku ke arahnya. Ia pun membalasnya.

“Selamat datang cita-cita!” batinku bersemangat. Aku sungguh tidak sabar ingin cepat-cepat sampai kesana! Perjalanan selama sepuluh jam tidak terasa karena aku begitu excited sampai-sampai tidak bisa tidur dan terus melontarkan senyum!

+_+

Musim gugur di awal Oktober. WOW! I LOVE KOREA! Kamu tau, aku seneng banget bisa tinggal dan kuliah perfilman disini. Excited banget! Bagaikan mimpi aku bisa ke sini. Seneng, seneng, seneng, seneng! Nggak ada kata-kata lain, deh! Bunda, aku berhasil mengejar cita-citaku. Terima kasih atas doa mu, Bunda. Yang lebih senangnya lagi, kemarin aku di beri kepercayaan menjadi salah satu kru, dan kalian tau, kami sedang menggarap serial drama remaja. Aku beruntung banget, itu cita-citaku! Terima kasih Tuhan, terima kasih sekali karena Engkau selalu menyertaiku dalam mengejari cita-cita. Aku janji akan giat belajar supaya bisa menjadi seorang sutradara handal. Oh ia, kalian belum tau, ya? Aku tinggal di sebuah lofthouse, atau yang lebih di kenal rumah loteng. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Hampir terlewatkan, pemandangan malam di kota Insadong sangat indah loh. Penuh dengan lampu-lampu kota, nggak jauh deh dengan rumah loteng yang di tinggalin Gem Jan Di dalam serial drama BBF. Oh Pupu boneka beruangku, aku nggak nyangka banget bisa study di sini. Aku tinggal di Insadong, salah satu pemukiman di kota Seoul. Di jalur utama ini, terdapat tempat belanja dan toko-toko yang menjual barang-barang seni tradisional khas Korea, dan aku bekerja paruh waktu di salah satu toko penjual barang-barang seni tersebut.

Huah…..! “Dingin Pupu, yuk kita masuk. Sudah malam.” Aku lantas turun dari ayunan, masuk ke dalam, kemudian menggelar kasur lalu pergi tidur. Gw kangen Edgar! Miss you so much!

­+_+

Aku menikmati mie instant sambil menghirup udara pagi di teras. Cuaca kayak gini enakan makan mie hangat-hangat. Shrulp…ah!

“Annyeonghaseyo!” terdengar suara dari anak tangga.

Suara itu terdengar jelas. Tapi aku tidak perduli, aku tetap menikmati mie instan di tangan.

“Johgun-yo! Nan dangsin-I geuliwoyo.” tiba-tiba sesosok pria bergaya bagai seorang backpacker lengkap dengan ranselnya sudah berdiri di sampingku.

“Nuguya? Jom seong-ga!” aku menoleh dan, “Edgar?!” a…aku bingung apakah ekspresiku harus keheranan atau senang setengah mati. “Kok loe bisa ada disini?!”

“Nan dangsin-I geuliwoyo!”

Aku langsung memeluknya. “Gw juga kangen banget sama loe!” ku peluknya erat. “Kok bisa tau aku ada disini?”

“Edgar!” ia membanggakan dirinya.

“Oh ia, aku lupa. Kamu pasti ngirim mata-mata untuk nyelidikin aku?”

“Aku udah nggak butuh mereka lagi. Kali ini adalah murni usahaku sendiri.” Bangganya sekali lagi.

“Oke. Tapi bagi seorang backpacker, kayaknya hal seperti ini nggak terlalu sulit, deh?”

“Tau aja. Akukan udah terbiasa mengelana. Baru cuma di suruh nyari kamu di kota Insadong sih belum seberapa, kecuali kalau aku di suruh nyari jarum di tumpukan jerami.”

“Dasar nggak jelas…” aku mentertawainya.

“Tempatnya asik juga,” Edgar ke dalam untuk melihat-lihat,

“Kamu di kirimin mama uangkan?”

“Ia.”

“Kok nggak di pake dengan maksimal, sih? Mamakan sengaja ngasih lebih biar kalau ada keperluan mendadak kamu nggak repot. Makannya mie instant terus lagi!”

“Tau dari mana?”

“Kamu juga kerjakan? Aku nggak tau deh reaksi mama kalau tau hal ini.”

“Jangan kasih tau ke mama deh, plis. Kamukan tau, ini tuh impian aku banget. Bisa kuliah di Korea jurusan perfilman, terus tinggal di rumah loteng, dan bisa makan mie instant sambil menikmati city light di malam hari. Lagi pula mie instannya enak kok.”

“Apa coba bedanya?” heran Edgar.

“Ya bedalah. Perbedaannya itu, kalau dulu aku makannya di Indonesia, kalau sekarang makannya di Korea!”

Edgar mengangkat kedua bahunya, “Baru makan mie instant. Ya udah, sekarang kamu ikut aku!” ia langsung menarik tangannku.

“Nanti dulu! Mienya aja belum habis.”

“Masalah mie di lupain aja. Sekarang ada yang lebih penting dari pada mie instant.”

Oke, aku menuruti kemauannya.

Kami menuruni tangga dan melewati gang menurun yang tidak terlalu lebar. Setelah berjalan sekitar tiga ratus meter, jalan utama kota Insadong pun kami temui. Disini banyak ditemukan tempat belanja dan toko penjual barang seni tradisioal khas Korea seperti keramik atau kaligrafi. Aku menarik Edgar masuk ke salah satu toko penjual barang seni. Setelah puas melihat-lihat, aku mengajaknya ke toko lain untuk melihat-lihat juga, dan seterusnya sampai semua toko kami jajaki. Setelah lelah menyusuri toko satu per satu, kami beristirahat sejenak sambil menikmati jajanan yang ada di pinggiran jalan. Tiba-tiba Edgar memanggil dan menyuruhku menaiki bis yang baru datang beberapa menit lalu. Cuaca pagi ini begitu cerah. Bis yang kami tumpangi meluncur dengan cepat. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya kami sampai di suatu tempat. Tempat yang begitu indah, pikirku.

“Selamat datang di pulau Jeju!” teriak Edgar. “Ya, pulau ini terletak di semenanjung Korea dan merupakan tempat yang sangat terkenal di Korea. Terdapat di gunung Halla, gunung tertinggi di Korea Selatan. Wilayah yang paling hangat dan pada musim dingin sangat jarang turun salju!”

Deru ombak dan kencangnya angin laut menyambut kami.

“Ini adalah pulau Jeju! Salah satu tempat syuting drama korea kesukaan kamu itu!” tambahnya.

Aku tidak percaya, sungguh tidak mempercayainya. Tempat ini begitu indah. Padang rumput, hamparan padang bunga berwarna kuning, plus pemandangan pantainya sungguh mempesona, semuanya merupakan satu kesatuan yang sangat memanjakan indra penglihatan. Kami menyusuri tempat ini lebih mendalam, dan Edgar mengajakku ke padang bunga. Tidak ada kata-kata lagi selain, wow! Aku tidak percaya ini. Kalian pasti masih ingat adegan saat Cha Ga Eul dan So Yi jung sedang berbincang di padang bunga saat mereka di pulau Jeju dalam serial drama korea Boys Before Flowers? Saat ini aku di tempat itu! Sungguh tempat ini begitu indah. Aku terus saja melengkungkan senyum. Setelah puas melihat keindahan alam di pulau Jeju, termaksud melihat kebun jeruk (karena di musim gugur jeruk-jeruk yang ada di Seogwipo sudah siap untuk di petik) Edgar kembali mengajakku ke suatu tempat. Sebelum mencapai tempat itu, kami harus menyeberangi sungai Han dengan kapal feri selama sepuluh menit. Ketika kapal mendekati dermaga, sesosok patung perempuan mungil mirip little Mermaid tampak menyembul dari air di tepi danau.

“Kiran! Tunggu sebentar!” panggil Edgar setelah kami sampai di tempat tujuan.

Aku yang terlampau senang tidak menghiraukannya dan main selonong.

“Kiran!” Edgar memanggil dan langsung mengejarku. “Kamu harus tutup mata!” suruhnya.

“Tutup mata? Kenapa?” heranku.

“Pokoknya kamu harus tutup mata.” Edgar langsung menutup mataku dengan kain.

“Kenapa sih, Ga? Kok aku pake di suruh tutup mata segala?”

“Udah, nurut aja apa kataku. Nanti kamu juga tau.”

“Oke! Aku jadi penasaran nih. Tapi ngomong-ngomong, kapan aku boleh buka penutup mata ini? Dua jam, tiga jam, empat jam, apa satu tahun lagi?!” bawelku.

“Kami berisik banget, sih! Udah diem aja, sebentar lagi kita sampe kok. Nah, oke! Sekarang aku lepas penutup matanya, ya. Setelah hitungan ke sembilan puluh dua kamu boleh buka mata.” suruh Edgar.

“Iiiiihhh….kelamaan,” aku mencubit pinggangnya.

“Hehehe…oke, oke. Dalam hitungan ke tiga, kamu boleh buka mata. Satu…dua…dua setengah…dua koma delapan….dua koma sembilan…”

“Edgar! Kelamaan deh…”

“TIGA!”

Aku membuka mata dan,

Wow! Ini seperti mimpi. Aku berada di tempat impianku! Pulau Nami dengan sederetan pohon Metasequoia disaat musim gugur! Kembali lagi aku mengucapkan itu semua, AKU TIDAK PERCAYA! Apakah ini nyata?

Brug….! Aku memeluk Edgar dengan erat.

“Makasih! Aku suka banget sama kejutan kamu!” guguran daunnya menghiasi kebahagiaan kami.

Aku mematung di tengah-tengah sederetan pohon itu sambil memandangi guguran demi guguran daun yang telah menguning.

“Gw seneng banget! Ini seperti mimpi!”

Edgar membawaku ke penyewaan sepeda. Kemudian ia memboncengku dengan sepeda yang baru saja disewanya. Sepeda kami melintasi sederetan pohon raksasa yang sedang menggugurkan daunnya. Aku terus memandang langit. Hanya ini yang bisa aku ucapkan, sangat indah. Edgar mengajakku ke salah satu tempat lagi yang menjadi lokasi syuting Winter Sonata, bangku taman yang ada miniatur boneka salju. Kami lalu foto berdua disana!

“Kamu senang?”

“Ia. Aku seneng banget! Makasih ya Ga karena kamu sudah mengajakku kesini. Kamu tau? Ini adalah tempat yang ingin sekali aku kunjungi, ini adalah tempat kesukaanku!” aku memeluknya lagi.

“Aku tau itu.” ia mengelus kepalaku.

“Oh ia, gimana kabar buku kamu?”

“Sudah terbit. Lumayanlah angka penjualannya, bisa dibilang sukses. Kabar kuliah kamu gimana?”

“Seru! Aku enjoy banget sama kegiatanku sekarang. Kamu tau nggak, aku menjadi salah satu kru dalam pembuatan serial drama remaja. Karena itu tugas praktek, makanya aku serius banget ngejalaninnya. Selain untuk mendapat nilai terbaik, juga aku manfaatkan untuk mencari ilmu dan pengalaman.”

“Selamat ya.”

“Oh ia, Ga? Aku baru sadar. Setelah Bunda meninggal, aku kok jadi jarang ketemu Ciko, ya?”

“Kir?”

“Ya?” jawabku halus.

“Kamu jangan marah, ya?”

“Marah kenapa?”

“Masalah Ciko. Aku yang nyuruh dia untuk nerima kamu kerja disana.”

“Aku nggak tau harus ngomong apa ke kamu, Ga…”

“Kamu marah?”

“Aku kecewa, karena kamu seperti menganggap aku orang cacat yang perlu selalu di tolong.”

Edgar hanya diam.

“Aku tuh bisa usaha sendiri! Apa jangan-jangan, aku bisa masuk ke kampusku sekarang ini karena ulah kamu?!”

“Ng…”

“Tapi aku senang kok karena kamu udah bohongin aku. Karena disanalah aku menemukan cita-cita. Udah, tadi aku cuma bercanda kok. Hehehehehhe….!”

“Kiran! Awas ya kamu!”

Aku berlari menjauhi Edgar untuk menghindar segala kemungkinan yang akan terjadi padaku.

“Kir…Aku mau ngomong sesuatu…”

“Apa, Ga?”

“Kamu putus dengan Dito karena…perbuatanku…”

“A…aku tau kamu sayang banget sama dia! Tapi dia nggak pantes untuk kamu. Dia berengsek!”

Aku tersenyum, “Terima kasih atas semua kebaikan mu. Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan pernah mengenal yang namanya sakit hati. Tetapi untuk detik ini, cukup. Aku ingin berusaha sendiri, aku ingin membuktikan bahwa aku sanggup meraih impianku dengan bekerja keras. Aku tetap butuh kamu, aku sangat membutuhkan semangat kamu.”

“Masalah Ciko. Aku…aku sempat ribut dengannya. Karena…karena dia nyium kamu…”

“Ciko nyium aku? Kapan? Aku nggak pernah merasa dicium dia,”

“Di rumah sakit, waktu kamu tidur. Dia nyium kamu,”

“Terus?”

“Aku menghajarnya. Aku nggak terima kamu di gituin! Kamu cuma dimanfaatin, dia hanya menganggap kamu pelarian dari hatinya yang sedang sakit.”

“Lalu?”

“Dia sudah kembali ke wanita itu…”

“Alasan Gadis meninggalkan Ciko kerena apa?”

“Karena wanita itu, dia sudah tidak…tidak…”

“Tidak apa?”

“Tidak itu lagi,”

“Itu apa?” aku tidak mengerti.

“Itu loh, udah nggak…Itu…Kalau udah di pake namanya apa sih?”

“Oh…bekas! Bekas cowok lain, maksudnya?! Itu sih biasa, aku aja bekasnya Dito.”

“Aduh! Maksudku bukan itu. Udah nggak…nggak itu lagi…” tangannya membentuk huruf V.

“Oh! Udah nggak itu! Tapi Ciko hebat ya mau nerima wanita itu apa adanya. Sebenarnya Ciko sayang banget loh sama perempuan itu. Bagus deh kalau mereka bisa bersama lagi.”

“Kir?”

“Ya?”

“Apa kamu bahagia?”

“Aku bahagia.”

“Aku ikut senang kalau kamu bahagia.”

“Kalau ingat masalah-masalahku dulu, sepertinya aku tidak akan pernah mengenal yang namanya kebahagiaan lagi. Tapi sekarang aku tahu dan percaya, bahwa semua penderitaan atau masalah, dibaliknya pasti ada sebuah kebahagiaan…”

“Kir. Tentang studi kamu…”

“Terkecuali itu, aku benar-benar usaha sendiri. Tadi aku cuma bercanda. Kalau bukan karena Ciko juga, mungkin sampai sekarang aku tidak akan pernah tahu bakatku. Secara tidak langsung dia sudah membantuku mengejar cita-cita. Kamu tahu pengorbananku dalam meraih semua ini? Bangun pagi, tidur subuh, sorenya harus bekerja, belum lagi membantu Bunda di rumah. Sungguh pengorbanan yang tidak kecil. Apalagi saat mengetahui Bunda bukan ibu kandungku. Saat-saat itu adalah masa terberat bagiku…Entah kalau tidak ada kamu, aku masih sanggup melangkah atau tidak? Makasih ya, Ga. Terima kasih atas semua kebaikan dan perhatian yang sudah kamu beri ke aku selama ini. Aku bahagia dan beruntung sekali mengenal dirimu. Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mengirim orang-orang yang perduli terhadapku. Walaupun akhirnya menyakitiku, tetapi mereka sudah memberi kebahagiaan dan warna di kehidupanku. Aku tetap mensyukurinya… ”

“Aku juga senang bisa mengenal dirimu. Kamu adalah orang tercantik yang aku kenal. Tidak hanya cantik wajah, tetapi hatimu juga cantik. Aku banyak belajar dari kehidupanmu sehari-hari. Kamu adalah anak yang dewasa, anak yang baik, anak yang sayang terhadap keluarga, pemaaf, anak yang rajin, penuh semangat, pekerja keras, rajin beribadah, berfikir positif, selalu yakin, dan penuh optimis dalam mengejar cita-cita. Bukti dari semua semangat dan kerja keras yang sudah kamu korbankan membuahkan hasil! Kamu bisa kuliah di tempat dan jurusan yang kamu idam-idamkan. Aku tahu semua orang tidak sempurna, tetapi ketidaksempurnaanmu tertutupi oleh keindahanmu. Kamu selalu bisa membuatku jatuh hati. Oleh karena itu, aku menyebutmu Lovable Kiran. Kiran yang selalu bisa membuatku jatuh hati. Teruslah menjadi dirimu sendiri dalam mengejar cita-cita…”

Tidak ada orang di dunia ini yang sempurna. Tetapi kita, bisa menyempurnakan hidup ini dengan melakukan hal-hal yang positif untuk diri sendiri maupun orang lain. Walaupun hidup tak lepas dari masalah, yakinilah satu hal, bahwa semua itu PASTI akan membawa kita pada kebahagiaan. Tuhan memiliki jalan terbaik untuk hamba-hambanya. Jadi, pasrahkanlah semua hidupmu ke tangan-Nya, dan lakukanlah hal terbaik yang bisa kalian lakukan disetiap perjalananmu. Walau terasa berat, Itulah yang selalu aku pikirkan. Memandanglah kebawah, karena masih banyak orang yang memiliki permasalahan yang lebih berat dibanding kita. Jadi, harus tetap bersyukur, itulah kunciku. Terima kasih untuk semua orang yang sayang dan perduli terhadap Kiran, terlebih Edgar. Heeeee…

Kamipun berpelukan dibawah guguran dedaunan pohon Metasequoia di musim gugur, musim yang menurutku sangat indah.

TAMAT

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s